To be Continued

To be Continued
Lima



Kali ini aku harus berjuang sendiri meyakinkan sepupuku tentang niatnya untuk menikah, karena Mas Hari harus kembali bekerja hingga harus pergi ke luar kota.


Selama beberapa hari aku pribadi memperhatikan gerak-gerik dan prilaku Joni yang memang selalu berada di kediaman nenekku. Aku memperhatikan secara diam-diam.


Sampai akhirnya aku mendapatkan celah untuk berbicara kepada Joni mengenai perilakunya yang selama ini memang tidak mengenakan bagiku.


Kala itu, dengan kasar Joni menarik tangan Depi sembari memelototi. Aku yang menyaksikan hal itu lantas berteriak kepadanya.


"jangan kasar dong jadi orang. Kasar banget sih. Lepasin gak dia! " kataku


Joni hanya diam dengan terus menatap mata Depi.


" lepasin gak? " bentakku


Joni melepaskan genggaman tangannya dengan menghempas kasar tangan Depi.


" awas dia mun teu daek ngadenge! " kata Joni.


" eh! Berani kamu bentak dia! Siapa kamu berani kaya gitu? Belum juga jadi suami udah berani kaya gitu. Gimana kalau udah? Bisa main tangan kamu? "


Joni tidak menghiraukan kata-kataku.


" sekarang pergi. Gak usah datang-datang lagi. Kalau kamu mau nikah samabdia ubah dulu sikap kamu, yang sopan " bentakku


Aku tidak segan mengusir Joni hingga membuat orang-orang di rumah datang menghampiri untuk tahu apa yang terjadi. Sementara itu Depi langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya dengan emosi.


" cowo kaya gitu mau kamu jadiin suami? Bisa mati kamu! " teriakku dengan emosi


Kali itu emosiku kembali tersulut dan aku tidak bisa mengendalikannya. Aku berteriak lantang kepada Depi.


" kalau emang lu mau kawin sekarang biar gw cariin, dari pada lu harus sama itu laki "


Aku mengeluarkan semua kekesalanku kepada siapapun yang ada di sana. Aku dengan tegas mengatakan jika aku tidak setuju laki-laki itu menjadi bagian keluargaku.


Di tengan suasana yang memanas tiba-tiba Depi keluar dari dalam kamarnya dengan teriakan yang membuatku semakin emosi.


"emang gak pernah ada yang suka sama Depi. Depi emang selalu aja salah, gak pernah bener, Teteh Lia yang paling bener, gak pernah salah, maha benar" kata Depi


"maksud kamu apa? Jaga omonganmu ya " kataku


" Teh Lia aja kalian bolehin nikah muda, tapi kenapa Depi gak boleh? Kalian emang lebih sayang Dia!"


" eh denger ya, kasus kita beda. Dari segi apapun kita beda. Dan Mas Hari udah dewasa, punya penghasilan, sedangkan Joni? Kamu tahu sendiri kan"


"kamu gak liat contoh di luar sana yang nikah seusia kamu, banyak dari mereka yang cerai" lanjutku


"udahlah Teh, gak usah capek-capek ceramah, karena Depi tetap bakal nikah sama Joni. Dan apa yang udah Teteh lakuin ke Joni itu keterlaluan"


"dia kasar sama kamu sayang. Sekarang aja dia berani kaya gitu gimana nanti"


"itukan urusan Depi nanti sama dia. Gak akan Depi ngerepotin Teteh lagi. Kalau udah nikah Depi keluar dari rumah ini, gak akan Depi nyusahin lagi! "


Semua orang terpana dengan apa yang baru saja diungkapkan Depi. Bahkan ibu dan neneknya menangis menyaksikan pertengkaran kami.


Ketika aku melihat nenek meneteskan air mata, hatiku hancur. Aku tidak bisa melihat wanita yang selama ini mengasihiku harus menangis karena orang lain.


"kalau Depi gak sama dia, mending Depi mati! "


Aku terhenyak menyaksikan sepupuku yang mampu berkata demikian.


"pokoknya sekarang terserah kamu, mau nikah atau engga itu urusan kamu. Tapi kalau sampe kamu kenapa-kenapa gak usah ngadu-ngadu, kamu tanggung sendiri" lanjutku


Aku pergi meninggalkan kediaman nenek dan tanpa sadar aku meneteskan air mata. Hatiku hancur.


Aku merasa, diriku telah gagal menjauhkan saudaraku dari tindakan yang sangat tidak baik bagi masa depannya.


Sementara itu, di kediaman nenekku semua orang menangis tersedu-sedu menyesali apa yang baru saja dikatakan oleh Depi.


Semua tidak ada yang berani berkata apapun tentang masalah ini, mereka lebih memilih untuk diam.


***


Di saat yang sama dengan kepergianku, Depi pun pergi meninggalkan kediaman nenenk untuk menemui Joni di kediamannya.


"Joni.. Jon.. Keluar Joni" Kata Depi sembari terisak


Depi terus menerus memanggil Joni dan menggedor pintu rumahnya. Tidak peduli dengan para tetangga yang terus menatapnya dengan keanehan.


Tidak lama setelah itu, Joni pun keluar dari rumahnya dengan wajah yang ketus dan masih memendam amarah.


"Joni, aku minta maaf Joni" kata Depi


Depi berusaha meluluhkan hati Joni yang sedang terbakar emosi. Dia bahkan tidak segan untuk berlutut meminta maaf kepada Joni dan berjanji tidak akan membuat perasaan Joni kembali terluka.


***


Malam ini aku memutuskan untuk tidak pulang ke rumah, dan memutuskan untuk bermalam di sebuah hotel yang tidak jauh dari rumah.


Barulah saat malam tiba aku melihat sudah berpuluh-puluh panggilan tak terjawab dari Mas Hari.


Segera aku menghubungi Mas Hari kembali melalui video call.


"Mas... "


" lo kamu dimana toh Dek? "


" aku di hotel Mas"


"hotel, kamu pergi kemana? "


" aku gak kemana-mana Mas, aku di hotel dekat rumah"


"kenapa Dek? "


Aku menceritakan semua yang baru saja aku alami, bahkan aku menangis tersedu-sedu dan merasakan sesak di dada yang teramat sangat.


" aku merasa aku gagal Mas, aku gak bisa meyakinkan saudaraku kalau apa yang dia mau itu gak tepat" kataku sambil menangis


Sepanjang malam aku terus menangis sembari video call bersama Mas Hari, bahkan aku sampai tidak menyadari jika aku tertidur ditengah panggilan masih berlangsung.


Selama beberapa hari aku berusaha tidak memikirkan perkara yang kemarin sempat memanas. Bahkan selama beberapa hari itu pula aku tidak datang ke kediaman nenekku.


Barulah setelah beberapa hari berlalu aku datang kembali ke kediaman nenekku. Namun ketika aku tiba, aku benar-benar dibuat terkejut karena orang tua Joni datang untuk melamar.


Aku berjalan dengan tatapan penuh rasa tidak menyangka, terlebih tidak ada satu orang pun yang memberitahuku.


"boleh kita bicara sebentar? " tanyaku setelah acara pertunangan hampir usai


" iya boleh" jawab ibu Joni dengan riang


Aku duduk di hadapan mereka.


"aku punya satu pertanyaan utama untuk Depi dan Joni. Waktu kecil apa yang menjadi cita-cita kalian? " tanyaku dengan nada putus asa


Untuk beberapa saat mereka terdiam. Mungkin mereka sedang berusaha mengingat cita-cita mereka dahulu.


" dulu, saya pengen jadi polisi" kata Joni


"Depi pengen jadi guru"


Aku tersenyum.


"kenapa kalian gak kejar cita-cita kalian? "


Mereka terdiam.


" kalau kalian mau kejar, kalian pasti bisa. Ditambah keluarga kalian saya rasa masih mampu menopang kalian"


"kalian gak sayang kehilangan cita-cita kalian? Karena yang aku tahu di sini susah cari sekolah yang nerima murid yang menikah. Kalaupun ada kalian pasti gak fokus. Tapi karena kalian udah ambil keputusan sendiri aku udah gak bisa ngomong lagi. Segala konsekuensi kalian tanggung. Dan mulai saat ijab kabul nanti tanggung jawab keluarga sudah tidak sepenuhnya atas kamu Depi, karena suami kamu yang akan bertanggung jawab atas kamu nantinya. Tapi kalau kamu ada apa-apa, jangan sampai kamu ambil keputusan yang buru-buru. Coba kalian diskusikan sama orang tuabdan keluarga, dan kalau kamu mau, kamu bisa cerita sama aku. Dan satu pesanku, kelak jangan sampai anak kalian kehilangan cita-cita. " kataku


Semua mata tertuju padaku yang mulai merah padam karena kesedihan. Nenekku sudah tidak kuasa menahan air matanya, karena aku mendengar suaranya terisak.


Aku segera bangkit meninggalkan mereka dan berjalan ke arah nenekku.


" Lia gagal dan kalian nyerah sama ancaman Depi. Kalian korbanin masa depannya demi keinginannya. "


" maafin Nenek Neng... "


" gak apa-apa, tapi kalian harus tegas kali ini bahwa setelah menikah Depi gak boleh tinggal di sini supaya dia sadar sepenuhnya tentang hidup yang gak harus bergantung sama Nenek" kataku


"Joni, jangan kamu macam-macam sama Depi. Jangan sampai kamu main tangan sama Dia, karena aku gak akan tinggal diam. Aku selalu ada di belakang dia" kataku dengan lantang


Satu minggu setelahnya, pernikahan Depi dan Joni berlangsung. Tidak tanggung-tanggung, mereka pun mengadakan pesta yang cukup mewah.


Pagi hari sebekum acara dimulai kita semua bersiap-siap msngenakan pakaian terindah, termasuk aku dan Mas Hari yang sejak kemarin menyempatkan diri untuk pulang.


Hari itu suasana hatiku tidak cukup baik. Bahkan ketika aku membantu Mas Hari dengan pakaiannya wajahku sama sekali tidak terasa senang.


Mas Hari menatapku, dan ketika aku menyadarinya air mataku langsung jatih dalam pelukan Mas Hari.


"aku gagal Mas.... "


" sudah toh Dek, kamu sudah melakukan yang terbaik, meski hasilnya tidak sesuai dengan yang kamu inginkan. Itu semua keputisan mereka, mereka sudah ngambil keputusan, iya toh. Sekarang kamu harus ikhlas, terima dengan hati ikhlas " kata Mas Hari


Aku segera menghapus air mataku, tersenyum walau terasa sangat memaksakan.


Acara akad nikah berlangsung hikmad di kediaman nenekku. Aku dan Mas Hari duduk mendampingi nenek dan kakekku sedikit agak jauh dari pengantin.


Aku berusaha untuk menikmati pesta dan kebahagiaan itu, serta melupakan masalah yang sudah berlalu.


Pesta berlangsung dengam cukup meriah. Banyak tamu undangan yang hadir, terutama teman dari masing-masing keluarga.


Aku dan Mas Hari cukup menikmati pesta tersebut, meski ada beberapa orang yang juga terkejut mengetahui aku sudah bersuami setelah mereka bertanya padaku.