
Kami berdua kembali dengan penuh kebahagiaan. Sinar wajah kami tampak jauh lebih setelah kami bisa menghabiskan waktu berdua bersama. Untuk diriku sendiri, aku merasa jauh lebih bahagia dan merasa jika hidupku tidak memiliki masalah apapun. Terkhusus hubunganku dengan suamiku, aku merasa jika hubungan kami menjadi semakin dekat, jauh lebih dekat dari pada sebelumnya.
Selepas mendarat di bandara Soekarno-Hatta kami segera pergi kediaman kami. Rasa rinduku tiba-tiba saja membuncah kepada Retnayu dan Rangga. Entah bagaimana kabar mereka selama aku tidak ada disamping mereka.
Kedatangan kami ini segera kami beritahukan kepada orang-orang di rumah, khususnya untuk Retnayu dan Rangga. Dan ketika kami tiba kami sudah disambut gembira oleh seluruh anggota keluarga, khususnya Retnayu dan Rangga.
Aku berlari menghampiri Retnayu yang sebelumnya menangis histeris tidak ingin berpisah dariku. Aku menggendong Retnayu yang langsung memelukku erat, setelah itu aku menghampiri Rangga, menciumnya hingga berulang kali.
Sembari menggendong Retnayu aku menghampiri Mba Yayu, Ibu, dan Mas Indra. Dan begitu pula dengan Mas Hari yang wajahnya penuh dengan roman kebahagiaan.
“lah alah, anak-anakku wis mulih. Ibu berharap kalian terus bahagia ya Nak..”
“aamiin Bu...”
Kami semua bergegas masuk ke dalam rumah. akan tetapi langkah kami tiba-tiba terhenti dan mataku dibuat terpana. Seorang wanita yang mungkin seusia denganku berdiri di hadapan kamu.
Jujur aku sendiri tidak tahu siapa dia. Dari keluargaku, aku tidak mengenalnya dan begitu pula dari keluarga Mas Hari, aku mengenal betul siapa saja anggota keluarganya. Tapi wanita ini sama sekali tidak aku ketahui.
Kami terdiam, lalu tiba-tiba ibu berkata tentang dirinya, “dia sepupu dari istri Pade Munir. Dia akan tinggal di sini selama beberapa hari sampai dia mendapat pekerjaan di Jakarta”
Aku melirik ke arah ibu tanpa menolehkan sedikitpun kepalaku. Aku terdiam mendengar perkataan ibu.
“kamarmu....” kataku
“kamarku di lantai atas” tukasnya
Aku terkejut bukan main dengan kelancangannya. Dalam pikiranku, bagaimana bisa ia tinggal di lantai atas, jika lantai atas hanya kuhususkan untuk keluargaku.
“lantai atas?”
“iya. Di sana masih ada kamar kosong dan juga kamarnya besar”
Aku menatap tajam wanita yang kemudian aku ketahui namanya adalah Sonita. Aku juga menatap Mba Yayu dan Mas Indra. Dalam tatapan mataku, aku mempertanyakan alasan mereka membiarkan orang lain tinggal di kamar atas terlebih lagi tanpa izinku.
Tanpa banyak berkata-kata dan dengan wajah dingin aku naik ke lantai atas bersama dengan Retnayu yang masih dalam gendonganku. Hatiku tiba-tiba saja kesal mendapati hal seperti ini di rumahku sendiri. Mereka semua sebenarnya tahu peraturan dir uamh itu, jika yang berhak naik ke lantai atas hanyalah keluarga inti, dan siapapun yang tinggal di sana haruslah atas izinku atau Mas Hari.
Langkahku segera diikuti oleh Ms Hari, dan Mba Yayu. Ketika berada di dalam kamar aku berusaha mengalihkan perhatianku kepada Retnayu. Aku meberikannya beberapa hadiah yang sengaja kubelikan untuk Retnayu.
“Dek, Mba mau bicara sebentar” kata Mba Yayu
Aku melirik datar Mba Yayu. Aku sebenarnya tahu apa yang akan dikatakan Mba Yayu tapi aku berusaha untuk mengendalikan emosiku.
“Mbok Sum...” kataku
Tidak lama Mbok Sum datang, “tolong bawa Retnayu”
“baik Bu...”
Di saat yang sama Mas Indra pun datang dan ikut bergabung dalam pembicaraan ini.
“Dek, Mba minta maaf karena kita udah mempersilahkan Sonita untuk tinggal di sini. Sebenarnya Mba mau nelpon kamu tapi Mba gak mau ganggu liburanmu” kata Mba Yayu gugup
Aku merasa jika sesuatu yang tidak beres sudah terjadi, sehingga Mba Yayu begitu ketakutan saat mengatakan hal itu padaku.
“sebenarnya kita juga gak tahu kalau dia akan datang. Tiba-tiba Ibu bawa dia kemari” kata Mas Indra
“Ibu...?” tanyaku
“Ibu? Ibu bilang dia sepupu dari isterinya Pade Munir Mas. Tapi aku gak pernah tahu” tukas Mas Hari
“Mas juga sama Ri.. awalnya kita bingung, tapi ibu bilang dia lama tinggal di luar negeri dan baru
sekarang kembali dan cari kerja di Jakarta”
Aku terdiam mendengarkan perkataan mereka. Jika mereka juga tidak mengenal siapa Sonita, lalu bagaimana denganku?
“tapi kenapa dia tinggal di lantai dua?” tanyaku
“Mba...”
“kalian tahu lantai dua hanya untuk anggota keluarga inti. Di lantai ini semua milik keluarga. Maksudku, bukan aku gak nerima dia, tapi kenapa harus di lantai dua”
“sebenarnya....” kata Mba Yayu
“sebenarnya ibu yang nempatin dia” tukas Mas Indra
“ibu...?”
“iya Dek”
“Mba, selama aku pergi Mba yang bertanggung jawab di rumah ini. Mba tahu apa aturan di rumah ini, sama seperti aku”
“maafin Mba Dek”
Aku semakin tidak mengerti dengan pembicaraan kami. Kenapa mereka merasa sangat takut untuk mempersulit Sonita di rumah sendiri.
“aku mau ngomong sama ibu..” kataku
“Dek..” kata Mas Indra
“Mas, biar Lia saya yang urus. Dia keras kepala dan akan tetap pada pendiriannya” kata Mas Hari
“tapi dia akan bikin masalah sama ibu”
“di rumah ini dia yang memiliki aturan, dia yang mengatur semuanya Mas. Bahkan saya tidak berani untuk mengubah aturannya. Mas juga tahu itu. Saya akan susul Lia, saya tidak ingin dia tersulut emosi”
Langkahku yang pasti segera membawaku ke dalam kamar ibu. Namun ketika aku sampai, aku melihat ibu dan Sonita sedang berbincang bersama.
“ibu, ada yang mau aku bicarakan berdua” kataku
“tentu, aku akan menunggu diluar”
“kamu pergilah keluar” kataku dengan nada datar
“ada apa Ndok?” tanya ibu
Di saat yang sama Mas Hari pun datang.
“ibu meminta dia untuk tinggal di lantai atas?” tanyaku
“i..iya Ndok. Ibu kira dia akan lebih nyaman ada di sana”
Aku langsung terhenyak mendengar jawaban ibu. Dari jawabannya aku mengerti satu hal jika ibu belum sepenuhnya mengerti dengan aturan rumah ini.
“ibu...” kata Mas Hari
“maaf sebelumnya, tapi Ibu tahu bukan kalau lantai atas hanya untuk keluarga inti”
“iya Nak, tapi..”
“Bu, kami tidak melarang dia untuk tinggal di sini, terlebih dia adalah sepupu Pade Munir. Tapi dia seharusnya tidur di kamar tamu saja ibu” kata Mas Hari dengan sangat hati-hati
“ibu, maafkan aku kalau keputusan ini tidak sesuai dengan keinginan Ibu. Tapi di rumah ini memang hanya keluarga terdekat yang bisa naik ke atas, Bu” kataku dengan lembut”
“ibu mengerti Ndok, tapi tolong jangan usir dia nggih?”
Aku dan Mas Hari berusaha meyakinkan ibu setuju dengan peraturan rumah. agar ibu setuju pula untuk memindahkan Sonita ke kamar tamu. Setelah meyakinkan ibu cukup lama akhirnya ibu pun setuju.
“Ibu, maafkan aku, aku sudah memnbuat ibu kecewa dengan keputusanku. Yolong maafkan aku Ibu”
“tidak Ndok, ibu yang salah karena sudah mengambil keputusan di rumahmu”
“tidak ibu, ini juga rumamu, hanya saja aku tidak ingin ada orang lain yang naik ke lantai dua rumah ini selain keluarga dekat ibu”
“Ibu paham Ndok, ibu paham dengan keinginanmu”
Jujur, aku merasa bersalah kepada ibu karena sudah mengambil keputusan ini. Tapi itulah aku, aku tidak ingin peraturan yang kubuat dilanggar begitu aja, apalagi oleh orang yang sama sekali tidak aku ketahui.
Selanjutnya aku dan Mas Hari pergi menemui Sonita yang sedang berada di kamarnya.
“oh hai..gimana, udah selesai ngobrolnya?” katanya dengan santai
Aku megangguk, “sudah”
“ngobrolin apa aja?”
“ngobrolin suapaya kamu pindah kamar” kataku dengan tegas
Dia terdiam sejenak, “kenapa?”
“di rumah ada peraturan bahwa yang boleh tinggal di lantai atas cuma keluarga dekat”
“lalu aku?”
Aku mengangkat bahu, “kamu hanya akan pindah kamar, bukan pindah rumah”
“tapi ibu yang...”
“ibu juga setuju”
Dia menatapku tajam.
“di rumah ini semuanya harus berjalan sesuai dengan aturanku. Sekarang kemasi barangmu dan
pindah ke kamar tamu. Atau perlu kubantu?”
“tidak perlu” katanya dengan ketus
“ibu bilang, kamu akan pindah setelah dapat pekerjaan. Semoga kamu bisa cepat dapat pekerjaan”
“supaya aku cepat pergi dari sini?”
“supaya kamu tidak menganggur lebih lama. Mbok Sum akan bantu kamu” kataku
Aku pergi meninggalkannya sendiri di dalam kamar. Aku segera kembali masuk ke dalam kamarku. Mas Hari datang menghampiriku dan mencium kepalaku, aku balas dengan memeluknya erat.
Ketika malam menjelang kami semua berkumpul di meja makan. Seperti biasa aku dan Mba Yayu yang menyiapkan semua menu makanan malam ini.
Kami semua duduk di tempat kami masing-masing, malam itu banyak lauk yang sengaja dibuat. Termasuk yang tersaji di atas piringku sendiri juga cukup beragam, mulai dari capcay kesukaanku, ayam goreng, terong balado dan sayur asem. Semua tersaji dengan begitu rapi.
Kami menikmati makan malam dengan sangat lahap, tidak banyak yang kami perbincangkan malam itu, semua orang memilih untuk banyak berdiam diri dan hanya menikmati makanan mereka saja. Seperti biasanya, ketika aku selesai menikmati makanan, aku akan menyisakan daging ayam utuh yang hanya sedikit bagiannya terpisah dari bagian lainnya. Setelah itu aku kembali masuk ke dalam kamar.
“Mas...”
“iya..”
“aku ngerasa gak enak sama ibu”
“kenapa toh?”
“karena maslaah Sonita”
“wis toh, kamu gak salah, ibu juga gak salah, ini kan cuma salah paham Dek”
“tapi aku tetap gak enak Mas”
“ ya sudah kalau gitu, sekarang kamu temui ibu, bilang apa yang sekarang kamu rasain. Dengar ibu
baik-baik baru setelah itu simpulkan” kata Mas Hari dengan tenang
Aku terdiam selama beberapa saat, baru setelah itu aku memutuskan untuk menemui ibu di kamarnya.
Saat itu ibu sedang seorang diri, aku perlahan masuk dan kemudian menginci pintu kamar ibu dari dalam.
“kenapa Ndok?” kata ibu dengan lembut
Aku menghampiri ibu dan kemudian duduk disampingnya. Aku perlahan mulai mengatakan apa yang sedang aku rasakan dan ibu mendengarkannya dengan sangat tenang.
“wis toh, ini semua bukan salah siapa-siapa Ndok. Kamu jangan terlalu mikirin itu nggih?”
“iya Bu..”
“sekarang ceritain ke Ibu liburan kamu kemarin”
Sontak aku tersipu malu dengan permintaan Ibu. Aku malu jika harus menceritakannya pada ibu.
“malu kamu Ndok sama ibumu sendiri?”
“aku tersenyum”
“kalau gitu ceritain semua hal tentang Hari yang gak ibu tahu”
Aku merebahkan diri dipangkuan ibu, dan ibu langsung membelai kepalaku yang ada di atas pangkuannya.
“Mas Hari.. aku gak tahu harus ngomong apa Bu, dia laki-laki yang baik, yang sabar. Tapi Bu...”
“kenapa?”
“ada sesuatu yang mengganjal buatku Bu”
“apa itu, cerita sama ibu”
“aku merasa kalau aku sebagai isterinya belum bisa bikin Mas Hari bahagia Bu”
“kenapa kamu ngomong gitu?”
“selama ini, Mas Hari selalu nurutin apa yang aku mau, dia ngelakuin apa aja untuk kebahagian aku.
Tapi aku, aku belum bisa ngasih apa-apa ke Mas Hari Bu”
“kenapa kamu punya pikiran kaya gitu Ndok? Ibu tahu Hari, Hari juga sering cerita sama Ibu kalau
dia sangat bahagia punya isteri seperti kamu. Kamu itu isteri yang pintar, cantik, berhati lembut, banyak menolong orang. Itu semua sudah biin Hari bahagia.
Kamu tahu Ndok, dulu dia pengen punya isteri kaya gimana? Dulu, dia kepengen punya isteri yang cantik, yang nurut sama suami, dan yang penting dia kepengen punya isteri yang banyak dicintai orang lain karena kabaikannya. Dan itu semua dia dapatkan darimu, Ndok”
“tapi aku belum bisa ngasih Mas Hari keturunan Bu”
“Cah Ayu, jangan begitu. Masalah yang satu itu Tuhan saja yang tahu. kita semua gak ada yang tahu. Ibu baham gimana perasaanmu Ndok, perasaan seorang isteri yang ingin memberikan seorang anak pada suaminya. Tapi percayalah Ndok, kalau penantianmu dan usahamu selama ini akan membuahkan hasil yang indah kelak”
Aku mendengarkan semua wejangan yang diberikan ibu padaku. Dari pembicaraan itu pula aku sadar jika apa yang aku pikirkan barusan tidak benar-benar terjadi. Inilah salah satu cara Mas Hari saat aku sedang gelisah memikirkan pendapat orang lain tentang diriku.
Cukup lama aku berada di dalam kamar ibu, bercerita dan berbagi pengalaman hingga tidak terasa jika waktu menunjukan pukul sembilan malam.
“ibu, ini sudah malam. Aku mau kembali ke kamar Bu”
“iya Ndok. Jangan kamu pikirin yang aneh-aneh lagi ya Cah Ayu”
“iya Bu. Ibu istirahat ya”
Aku membuka kunci dan kemudian melangkan meninggalkan kamar ibu. Aku kembali naik ke lantai dua dan kemudian masuk ke dalam kamar.
Ketika itu, aku melihat Mas Hari sedang bersantai di atas tempat tidur dengan mengenakan sarungnya. Aku menghampirinya dan kemudian berbaring disampingnya.
“Gimana? Ibu Ndak marah kan?:
“engga Mas..”
“sekarang jangan kamu punya pikiran yang aneh-aneh lagi ya”
“iya”
Aku merangkul Mas Hari dan meletakan kepalaku di atas dadanya.
“Mas, kenapa aku sebelumnya gak pernah liat Sonita?”
Aku terdiam..
“kenapa toh?”
“engga Mas, aku cuma kepikiran aja”
“udah toh jangan mikirin yang aneh-aneh. Biarin aja”
***
Hari-hari berganti dengan begitu cepat, begitu juga dengan kesenanganku yang semakin cepat berganti dengan kekesalan kepada Sonita yang setiap hari semakin menjadi. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan oleh Sonita, karena sudah hampir dua bulan ia tak kunjung mendapatkan pekerjaan seperti yang dikatakannya. Ditambah pula ia hampir tidak pernah keluar rumah setiap hari.
Sejak kedatangannya, aku memang merasa kurang nyaman. Banyak pertanyaan muncul tentangnya. Siapa dia? Sedang apa dia di sini, samapai kapan dia di sini? Semua itu muncul begitu saja dikepalaku tanpa pernah memperoleh jawaban.
Tapi terlepas dari itu semua, dia memang wanita yang mudah bergaul. Dia bisa berbincang santai dengan siapapun. Hanya saja yang membuatku kurang nyaman dengannya adalah sikapnya yang terlalu berlebihan di rumahku, seolah dialah pemilik rumah yang sebenarnya.
Ketidaknyamananku padanya sebisa mungkin kutahan. Aku berusaha untuk tidak mengatakannya kepada siapaun, termasuk kepada Mas Hari yang memang pada saat-saat itu sangat disibukan dengan pekerjaannya yang tidak kunjung usai.
Suatu hari saat baru saja terbangun dari tidur bahkan pada saat itu Mas Hari pun belum terbangun dari tidurnya aku bergegas pergi menuju kamar mandi. Aku berinisiatif untuk melakukan tes kehamilan dengan tespek yang sudah kubeli sebelumnya lantaran aku merasa jadwal datang bulanku sudah terlewat hampir satu dua minggu lama.
Dengan perasaan gugup sekaligus penasaran aku mulai membuka tespek yang kepegang dan kemudian mencelupkannya selama beberapa saat ke dalam urinku sendiri yang sebelumnya sudah kutampung.
Selanjutnya aku menunggu sembari berharap dan bedoa di dalam hati agar hasil yang muncul adalah yang aku harapkan selama ini. Dan ketika waktunya tiba aku memberanikan diri melihat hasilnya. Tapi ternyata harapanku belum juga terwujud. Hasilnya negatif.
Aku berusaha untuk menenangkan diriku dan mengabaikan hal ini. Aku tidak ingin hanya karena hal ini keadaanku bertambah buruk dan hal itu akan tambah mempersulitku memiliki momongan.
Aku menarik nafas untuk menenangkan diriku. Aku letakan tespek itu disampingku dan membilas tamganku sebelum akhirnya aku meninggalkan kamar mandi. Aku berusaha sebaik mungkin untuk bersikap sewajarnya. Aku kembali menghampiri Mas Hari yang kala itu masih tetap tertidur pulas.
Aku duduk disampingnya perlahan, kemudian aku membelai wajahnya. Di saat yang sama aku juga berkesempatan untuk menatap wajahnya lekat-lekat sebelum akhirnya dia terbangun dari tidurnya. Kami berdua saling melemparkan senyum kemudian aku mencium wajahnya dengan hangat. Mas Hari menggenggam erat tanganku yang diletakan di atas dadanya. Tak lama Mas Hari pun beranjak dari tempat tidur.
Itulah salah satu kebiasaanku saat harus membangunkan Mas Hari. Hal itu aku laukan agar Mas Hari bisa terbangun dari tidurnya dengan perasaan tenang, mengingat Mas Hari akan sangat buruk kondisinya jika ia terbangun dengan suasana yang tidak mengenakan.
Mas Hari bergegas pergi ke dalam kamar mandi sementara aku membereskan tempat tidur lalu kemudian keluar kamar untuk membuatkan teh pagi kesukaan Mas Hari. Pagi itu hanya ada aku sendiri yang membuat teh, aku berfikir Mba Yayu terlalu lelah sampai dia tidak bangun pagi seperti biasanya.
Di saat yang sama Mas Indra keluar dari dalam kamarnya dan kemudian menyapaku.
“Dek..”
“Mas Indra. Mba Yayu dimana?”
“dia masih tidur”
“Mba Yayu mungkin kecapean Mas”
Aku kembali masuk ke dalam kamar dengan dua cangkir teh di atas nampan yang kubawa. Aku meletakan teh tersebut di atas meja dan melirik ke arah Mas Hari yang berdiri di depan jendela kamar sembari memegang kedua tangannya dibelang. Dia membelakangiku.
Aku menghampirinya dan dari arahku, aku melihat Mas Hari memegang tespek yang tadi kugunakan tadi. Aku memejamkan mata dan gugup seketika karena keteledoranku sendiri. Mas Hari berbalik ke arahku dan menatapku tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Aku merasa sangat teledor karena tidak langsung membuang tespek tersebut. Aku sanagt yakin suasana hati Mas Hari saat ini pasti kacau karena aku.
Aku mengamati dadanya yang bidang dengan hati berdebar, kemudian aku meletakan kepalaku di dadanya. Selama beberapa saat Mas Hari membiarkan aku begitu saja meski air matau sudah menetes berulang kali. Barulah kemudian Mas Hari melingkarkan tangannya di tubuhku dan mencium kepalaku, tapi tetap tidak sepatah katapun terucap dari mulutnya.
“udah...” kata Mas Hari
Aku memaksakan bibirku untuk tersenyum pada Mas Hari yang aku tahu sekali jika ia juga sedang memaksakan dirinya untuk tetap bersikap santai seolah tidak terjadi apapun. Mas Hari juga berusaha mengendalikan suasana agar berubah menjadi lebih baik. Ia mengajakku untuk meminum teh yang tadi kubawa dan memperbincangkan banyak hal.
“gak cantik kalau matamu sembab Dek” kata Mas Hari
Aku tertawa dan menyembunyikan wajahku dalam pelukannya. Selalu ada cara bagi Mas Hari untuk menghilangkan kesedihan dalam diriku. Aku juga merasa dia menyimpan seribu satu cara untuk bisa membuatku melupakan kesedihan yang sedang kualami.
Selanjutnya kami berdua berbincang bersama selama beberapa saat sebelum kami memutuskan untuk bersiap-siap sebelum pergi menuju acara diskusi dan peluncuran buku Mas Hari dan teman-temannya. Hari ini aku juga tidak bergabung untuk membantu Mba Yayu membua sarapan, karena aku berfikir ada banyak hal yang harus aku siapkan untuk acara penting dalam perjalanan hidup Mas Hari.
Selagi Mas Hari bersiap-siap di dalam kamar mandi, aku segera menyiapkan pakaian yang cocok untuk dikenakan Mas Hari pada acara itu. Aku memilih kemeja batik berwarna cokelat yang snada dengan pakaianku, selain itu aku juga menyiapkan segala perlengkapan untuknya, seperti dompet, sapu tangan, ponsel, dan jam tangan.
Disela kesibukanku itu, tiba-tiba saja ponselku berdering. Nama yang muncul di layar ponselku membuatku terkejut, Sherly. Segera aku menjawab panggilan itu, karena aku berfikir jika panggilan itu cukup penting dan juga mengenai kasus yang sedang Sherly hadapi.
“hallo Sher..?” kataku sembari bergegas pergi keluar kamar
“Mba..”
“iya...”
Sherly mengatakan banyak hal perihal kasus yang sedang dihadapinya. Ia mengatakan jika kasus yang aku berikan dan kini sedang ditanganinya adalah kasus yang cukup sensitif karena kasus ini berhubungan dengan orang tua dan anak.
Sherly dengan tegas mengatakan jika ia tidak bisa menangani kasus yang cukup sentimentil seperti ini karena hak itu akan mempengaruhi dirinya dan akan bersikap berat sebelah.
“Sher, Mba mohon kamu tenang dan tolong kamu selesaikan kasus ini”
Nada suara Sherly sontak berubah sesaat setelah aku mengatakan hal demikian. Sebenarnya aku belum tahu secara pasti kasus apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Sherly menolak kasus seperti ini. Aku tidak sempat mendapatkan jawabannya karena ia terlebih dahulu menutup telponnya.
Hatiku tiba-tiba menjadi tidak tenang karena membiarkan status kasus ini terombang-ambing. Tapi hari ini aku memutuskan untuk tidak membuat suasana hatiku kacau karena alasan apapun. Hari ini aku hanya ingin terlihat senang dan bahagia saat menemani Mas Hari.
Untuk menghilangkan suasana hati yang kacau, aku memutuskan untuk pergi ke dapur dan melihat menu sarapan apa yang sedang dibuat oleh Mba Yayu dan Mbok Sum.
Aku mulai menuruni anak tangga yang cukup banyak jumlahnya dan berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya tiba di dapur rumah. pada saat itu aku memang melihat Mba Yayu dan Mbok Sum sedang memasak, tapi satu hal yang membuatku tercenung. Sonita ada bersama mereka, ddan membantu menyiapkan sarapan.
“Dek? Kamu butuh apa?” tanya Mba Yayu
“engga ada Mba, aku Cuma mau liat aja. Maaf ya aku gak bisa bantu hari ini”
“gak apa-apa, kenapa kamu jadi sungkan gini Dek?”
Aku tersenyum. Tiba-tiba Sherly menyodorkan segelas kopi ke arahku, “kopi untuk Mas Hari sudah siap, biar aku antar” katanya
Tanpa menunggu jawabanku dia langsung bergegas pergi. Melihat sikapnya yang demikian membuatku ingin menghentikan langkahnya, tapi niat itu kemudian aku urungkan lantaran akan terlihat jelas di depan orang lain nika aku tidak menyukainya.
“iya..” kawabku setelah Sonita meninggalkan dapur
Mba Yayu mengalihkan perhatianku, dan membuatku terjebak untuk berbincang-bincang bersama dengannya hingga beberapa lama.
“Mbok Sum, tolong anterin buah buat saya ke kamar ya, saya gak makan nasi hari ini”
“Lagi? Kamu udah jarang sarapan lo Dek”
“gak apa-apa Mba, aku bisa tahan sama buah ko. Oh ya Mbok, tolong siapin buah di kotak makan juga ya, biar bisa saya bawa”
“inggih Bu”
Setelah mengatakan demikian, aku bergegas untuk kembali ke dalam kamar. Pada saat yang bersamaan ketika aku sampai, Sonita pun bergegas keluar dari dalam kamar. Dia sama sekali tidak menyapu melainkan hanya berjalan melewatiku.
“Dek...” kata Mas Hari
Aku segera melirik ke arah Mas Hari. Tapi ada satu hal yang membuatku terkejut ketika melihat Mas Hari saat itu. Ia sama sekali tidak mengenakan pakaian yang aku pilihkan. Aku bingung dengan hal itu tapi aku memilih untuk tidak mengatakan apapun mengenai baju itu. Jika difikirkan Mas Hari tidak pernah menolak pakaian yang aku pilihkan, tapi kali ini dia melakukannya, entah ia tidak menyukai pakaian pilihanku atau seseorang sudah menukarnya.
Aku hampiri Mas Hari dan aku membantunya merapihkan kemeja yang sudah dikenakannya.
“Mas turun duluan aja buat sarapan ya”
“kamu gak makan lagi?”
“iya”
“jangan terlalu sering kaya gitu”
“aku udah minta Mbok Sum untuk bawain buah ko Mas”
Mas Hari menghela nafasnya, “oh ya, Sonita juga akan ikut sama kita”
Aku terkejut mendengar perkataan Mas Hari. Sebenarnya hal ini snagat tidak aku inginkan karena akan sangat mengangguku. Tapi demi Mas Hari yang terlihat senang dengan keikutsertaannya, aku terpaksa melontarkan senyuman sebagai tanda setuju.
“Mas tunggu di bawah ya”
Mas Hari segera melenggang meninggalkan kamar, sedangkan aku memilih untuk duduk sesaat di atas tempat tidur sebelum bersiap-siap.
Beberapa saat kemudian, aku telah selesai berdandan dan mengenakan pakaian yang baru untuk menyesuaikan dengan pakaian Mas Hari. Aku segera turun meninggalkan kamar untuk menyusul Mas Hari yang mungkin sudah selesai menyantap sarapannya.
Benar saja, ketika aku turun, semua keluarga sudah tidak ada di meja makan melainkan sudah berumpul di ruang tengah termasuk Sonita yang berdiri di samping Mas Hari.
“Cah Ayu..” kata Ibu
Aku segera melontarkan senyuman kepada ibu.
“cantik temen koe Ndok”
Aku tersipu dengan pujian yang dilontarkan ibu di depan semua orang.
“Bu, buahnya..” kata Mbok Sum yang tiba-tiba datang
“terima kasih”
“sudah siap?”
“sudah Mas”
“kalau gitu ayo. Bu, kita pergi dulu ya” kata Mas Hari
“iya hati-hati kalian ya” kata ibu
Aku segera melangkah mengikuti Mas Hari yang lebih dulu melangkah meninggalkan sanak keluarga yang lain.
“Nita, Mang Ujang yang akan nganter kamu ya?”
Sonita sontak terkejut mendengar perkataan Mas Hari dan begitu pun aku sendiri. Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang akan dilakukan oleh Mas Hari.
“loh terus Mas Hari gimana?” kata Sonita
“saya akan pergi sama Lia di mobil satunya”
Aku segera melirik ke arah Mas Hari. Bagi yang melihatku pasti menyadari jika tatapanku kali ini adalah tatapan bahagia, sedangkan tatapan yang dilontarkan Sonita adalah tatapan kekecewaan serta kedongkolan.
Akhirnya mau tidak mau Sonita pun pergi bersama dengan Mang Ujang, sedangkan kamu kami duduk berdua di dalam mobil.
“kenapa toh? Ko gitu mukanya?”
“aku bingung aja Mas”
“kenapa?”
“kenapa Sonita gak pergi sama kita? Kenapa harus sama Mang Ujang”
“oh itu, karena Mas lagi pengen pergi bareng kamu aja”
Aku tersenyum mendengar jawaban Mas Hari. Bagaimana pun aku merasa sangat senang untuk hal yang satu ini.
Setelah beberapa lama berkendara kami akhirnya tiba di tempat acara peluncuran buku dan diskusi. Banyak orang yang datang untuk ikut serta di dalamya, dan tentu mayoritas wanita di sini. Aku, Mas Hari, dan Sonita lantas disambur oleh Mas Genta dan Mas Nur yang sudah datang lebih dulu.
Mereka menyambut kami dengan hangat, bahkan aku yang sudah lama mengenal mereka diperlakukan seperti teman dan adik mereka sendiri. Selanjutnya mereka membawa kami menuju tempat yang sudah di siapkan. Tapi karena acara belum dimulai, panita acara terlebih dahulu membawa Mas Hari, Mas Genta, dan Mas Nur ke belakang panggung, sedangkan aku dan Sonita sudah duduk di kursi paling depan bersama dengan para penggemar mereka.
Tidak lama menunggu, akhirnya acara pun dimulai. Ketiga sekawan itu pun duduk di depan kami dengan gagah.
Begitu banyak orang yang sangat berantusias mengikuti acara tersebut, terlebih mereka semua membawa dua buah buku tulisan Mas Hari dan teman-temannya. Bisa dikatakan acara yang berlangsung sekitar dua jam itu berjalan dengan mulus dan tidak berat sebelah. Artinya ada timbal balik antara penulis dan pembaca yang membuat acara tersebut berlangsung sangat hangat.
Tidak hanya pembaca lainnya yang melontarkan pertanyaan, aku pun turun melontarkan pertanyaan yang sempat membuat sesi diskusi memanas sebelum akhirnya Mas Nur yang menengahi perdebatanku dengan Mas Hari da Mas Genta.
Sebenarnya pertanyaan yang aku ajukan saat itu hanyalah sebuah pertanyaan pemancing bagi para pembaca lainnya tentang seberapa penting budaya bagi kita semua. Untung saja pertayaan yang aku ajukan tidak membuat para penggemar mereka murka karena sikapku yang terlalu kritis.
Sampailah kita semua dipenghujung acara. Seperti acara-acara sebelumnya, Mas Hari dan kawan-kawan akan mengadakan sesi foto bersama dengan para penggemarnya. Para penggemar mereka berbaris dengan sangat rapi untuk bisa berfoto bersama dengan idola mereka. Sementara itu, aku tetap duduk di kursi sembari menunggu acara foro bersama itu selesai.
“Dek Lia” kata Mas Nur
Sontak aku menoleh padanya
“Sini, kita foto bareng..”
Aku terkejut mendengar ajakan itu,karena sebelumnya aku tidak pernah melakukan hal seperti ini. Aku segera melangkah menghampir Mas Nur dan yang lainnya.
“ini, saya kenalkan wanita yang setia mendukung kami dan selalu ada di belakang layar” kata Mas Nur
“Mas Nur..” kataku
“emangnya Mba ini siapa?” kata salah seorang penggemar
“isteri dari Hari”
Aku memejamkan mata seketika setelah mendengar perkataan Mas Nur. Aku merasa aku akan mendapat kritikan pedas netizen yang patah hati.
“oh ini isterinya. Kita cuma tah kalau Mas Hari punya isteri tapi gak tau siapa” kata salah seorang penggemar
“ya ini..” kata Mas Genta
Untunglah respon para penggemar mereka tidak semenakutkan yang ada dipikiranku. Mereka bahkan menyambutku dengan tangan terbuka dan kami bisa saling berbincang serta bergurau bersama.
Setelah sesi foto usai dan acara pun benar-benar usai kami semua berkumpul bersama di satu tempat yang tidak jauh dari tempat acara itu berlangsung.
“gimana kalau kita ngobrol-ngobrol dulu” kata Mas Genta yang saat itu juga datang dengan kekasihnya
“boleh, ayo. Gak apa-apa kan Dek?” tanya Mas Nur
“gak apa-apa ko Mas Nur”
“tapi kayanya masih banyak penggemar suamimu yang nunggu”
“apo toh Mas” kata Mas Hari
Aku hanya tersenyum. Setelah setuju dengan ajakan Mas Genta kita semua bergegas pergi meninggalkan tempat acara. Benar saja, masih banyak para penggemar mereka yang berdiri menunggu kedatangan idola mereka. Sebenarnya hal ini adalah hal yang lumrah, mereka dan para penggemarnya akan selalu berbincang bersama secara terbuka di tempat yang terbuka pula. Biasanya, aku tidak pernah ikut dalam hal yang satu ini karena aku selalu memilih untuk pulang. Tapi kali ini aku memilih untuk ikut serta bersama dengan mereka. Begitu pula dengan Sonita.
Tapi hari ini kami memilih untuk berbincang di salah satu restoran mengingat sudah waktunya jam makan siang bagi kami semua. Rombongan yang ikut bersama kami tidaklah sedikit, sehingga membuat satu ruangan di dalam restoran yang kami pilih seketika dipenuhi oleh orang-orang yang datang bersama kami.
Sembari menikmati menu makan siang, kami juga turut berbincang bersama tentang banyak hal, bahkan tidak sedikit perbincangan yang terjadi membuat kami semua tertawa bersama. Tidak sedikit pula pertanyaan yang dilontarkan para pengemar ditujukan padaku tentang kehidupanku dan Mas Hari atau tentang awal mula pergtemuan kami berdua.
Kebersamaan itu membuat kami bahagia, membuat kami tertawa riang bersama. Tapi semua yang kami rasakan sepertinya tidak turut dirasakan oleh Sonita, karena beberapa kali aku meliriknya tidak tampak kesenangan dan kebahagiaan diwajahnya.
Setelah cukup lama kami berbincang dan menghabiskan waktu bersama di dalam restoran tersebut, kami memutuskan untuk segera mengakhiri pertemuan tersebut. Satu persatu dari para penggemar itu pun meninggalkan restoran tersebut.
Akan tetapi aku, Mas Hari, dan teman-temannya memiliki rencana lain untuk menghabiskan waktu bersama setelah acara pertemuan dengan penggemar ini usai. Aku yang sedari tadi menyadari suasan hati Sonita yang tidak baik memutuskan untuk menanyakan rencananya selanjutnya.
“kami mau pergi ke acara lain, kamu mau ikut atau...?” tanyaku
“aku pulang” katanya dengan ketus
“oh oke”
Segera Sonita pun menghampiri Mas Hari dan teman-temannya untuk berpamitan karena ia juga memilih untuk pulang.
“Mas maaf ya, aku kayalnya gak bisa lanjut ikut kalian, karena badaku kurang enak”
“gak apa-apa” kata Mas Hari
“tapi selamat ya Mas, acaranya berjalan lancar” katanya sembari mencium pipi Mas Hari
Sontak aku terkejut melihat hal itu. Aku sama sekali tidak menyangka jika ia berani melakukan hal itu di depan banyak orang.
“terima kasih. Kamu hati-hati di jalan” kata Mas Hari
Untuk sesaat aku dibuat bersikap aneh setelah menyaksikan hal itu, tapi kemudian aku berusaha untuk bersikap sewajarnya tanpa memperlihatkan perasaan kesalku pada Sonita.
Sebenarnya hal seperti itu diam-siam sudah sering kulihat. Dari cara Sonita bersikap, aku merasa jika ia menaruh perhatian yang lebih kepada Mas Hari. Dia selalu berusaha untuk berdekatan dengan Mas Hari. Tapi meski begitu, aku memilih untuk tetap menahan kekesalanku selama Mas Hari sendiri tidak merespon semua sikap Sonita padanya.
Sonita selalu mencari kesempatan untuk bisa berdua bersama Mas Hari. Dia sering mencuri kesempatan saat aku sedang pergi atau sedang melakukan sesuatu, amaka dia akan menemui Mas Hari dengan berbagai alasan.
Selain terang-terang menunjukan perhatiannya kepada Mas Hari, ia juga terang-terangan menjukan rasa tidak sukanya padaku. Dia selalu melangkahi ataupun dengan sengaja melewati batasan dan aturan yang kubuat di rumah.