To be Continued

To be Continued
Dua Puluh Satu: Aku Anakmu, Aku Kakakmu, Aku Cucumu, Aku istrimu



Hari-hariku mulai berangsur membaik. Semua oerlahan kembali normal. Tidak ada lagi masalah, tidak ada lagi teror. Setiap hari aku habiskan waktu dengan bermain bersama dengan Retnayu dan Rangga. Saat sore hari, aku biasa mengajak mereka di taman kecil di halaman rumahku. Aku tidak pernah melarang mereka mengetahui hal-hal baru walaupun harus berkotor-kotor dahulu.


"Dek, ini lo bunganya" kataku sembari mengulurkan bunga pada Rangga


Tidak lama aku melihat seekor kadal berukuran kecil di sekitar rerumputan. Spontan aku memanggil Rangga dan Retnayu untuk melihat binatang tersebut.


Akan tetapi sesaat setelah melihatnya respon Retnayu tidaklah seperti yang aku inginkan. Dia menangis histrtis sembari memelukku. Dia memintaku untuk menggendongya.


"Kakak kenapa? Kakak takut Iya?"


"Takut" jawab Retnayu


"Kakak jangan takut. Ade Rangga juga berani. Tuh lihat. Kan ada Mami"


"Masuk Mami. Takutt" teriak Retnayu


"Iya oke, kita masuk. Rangga ayo sayang"


Aku membawa mereka berdua masuk ke dalam rumah. Retnayu dalam gendonganku, sedangkan


Rangga dalam genggaman sebelah tanganku yang lain.


"Kenapa?" tanya Mba Yayu


"Dia kaget lihat kadal kecil makanya nangis kaya gitu"


"Yalah yalah anak Ibu. Kenapa nangis kan cuma kadal"


"Kakak takut Ibu. Nanti dia gigit"


"Engga gigit. Kan dia kecil. Mami juga kan ada disana buat jagain kakak" kata Mba


"Dek, tolong kamu lanjutin pekerjaan Mba di dapur ya" sambung Mba Yayu


"Iya Mba"


Segera aku bergegas menuju dapur rumah untuk melanjutkan pekerjaan Mba Yayu memasak menu makan malam.


Saat itu tidak ada siapapun di dapur rumahku, hanya aku sendiri. Aku melanjutkan pekerjaan Mba Yayu membuat sup dan makanan lainnya.


Tetapi ketika aku sedang sibuk memasak tiba-tiba seseorang memegang bahuku dan menciumnya. Aku yakin itu adalah Mas Hari, aku tahu itu karena aroma tubuhnya yang khas.


"Sibuk?"


"Iya.."


"Ya sudah"


"Kenapa toh Mas? Kamu butuh sesuatu?"


"Mas butuh kamu. Gimana sih kok gak ngerti"


"Gimana aku gak ngerti kalau Mas gak bilang"


"Ah, ya sudah"


"Apa sih Mas?"


"Gak ada, kamu lanjutin aja ya. Oya, malam ini Mas mau pergi keluar, kamu gak usah nunggu Mas ya"


Aku terdiam sesaat, sebelumnya Mas Hari tidak pernah berkata seperti itu. Entah apa yang sebenarnya terjadi padanya.


"Mas kamu mau pergi kemana?"


"Ada pekerjaan yang harus Mas urus"


Mas Hari segera pergi meninggalkanku dengan pertanyaanku yang tak terjawab olehnya. Aku rasa saat itu memang Mas Hari akan pergi untuk urusan yang sangat penting, karena ia langsung pergi sesaat setelah mengatakan hal itu.


Malam itu kami menikmati makan malam tanpa Mas Hari, bahkan aku tidur tanpa Mas Hari kembali setelah sekian lama.


Jujur hatiku dan diriku merasa tidak nyaman ketika harus tidur seorang diri. Sudah cukup lama Mas Hari tidak pernah meninggalkan aku seperti ini. Terlebih, yang membuatku lebih kecewa adalah besok


hari ulang tahunku.


Aku berusaha sebisa mungkin untuk bersikap dan berfikir tenang tentang Mas Hari. Sampai tiba keesokan harinya. Pagi ini memang aku sengaja tidak segera turun ke lantai satu, melainkan bersiap dan merapihkan diriku terlebih dahulu baru kemudian setelah itu bersiap turun dan menemui anggota keluarga lainnya.


Aku menuruni satu demi satu anak tangga hingga aku tiba di lantai bawah. Akan tetapi pada saat itu aku tidak melihat siapapun di sana. Tidak ibu, Mba Yayu, anak-anak, atau yang lainnya. Aku merasa aneh dengan keadaan seperti ini karena biasanya rumah ini selalu ramai oleh suara orang-orang


rumah.


Satu persatu aku panggil mereka tapi tidak ada satupun yang menjawab panggilanku. Aku juga mencari mereka ke seleruh kamar bahkan aku kembali naik ke lantai atas untuk mencari Mba Yayu dan anak-anak. Aku juga berusaha menghubungi ponsel mereka tapi tetap tidak ada yang menjawab.


Aku yang hampir putus asa mencari keberadaan mereka yang tak kunjung ditemukan memilih


untuk merebahkan diri di permukaan sofa yang berada di bawah tangga.


Aku membuka majalah dan koran tapi yang kubuka bukanlah edisi terbaru dan aku sudah membaca semua itu. Aku beralih dengan memainkan ponselku. Membuka instagram dan mengamati kabar-kabar terbaru.


Di saat yang sama tiba-tiba Mba Yqyu datang, sontak aku pun segera menanyakan kemana semua orang pergi padanya.


"Aduh Dek, nanti aja deh kita bahas itu. Sekarang kamu temani Mba aja ya. Mba gak mau pergi sendiri soalnya Mba gak mau sendiri"


"Tapi Mba anak-anak dimana?"


"Udah kamu siap-siap aja sekarang. Cepet ya"


Aku bingung dengan sikap Mba Yayu, dia tidak pernah seperti ini apalagi mengajakku oergi. Selama ia tinggal bersama kami tidak pernah sekalipun ia pergi keluar bersama orang lain, selain dengan suaminya atau kami.


Aku kembali ke kamar untuk mengambil beberapa barang yang biasa kubawa pergi. Tanpa berganti baju, tanpa merapihkan make up, karena yang terlintas dalam kepalaku hanyalah keambiguan dari sikap Mba Yayu yang tidak bisa aku artikan.


Tidak sampai satu jam kami berdua bergegas pergi menuju tempat yang sebenarnya aku sendiri tidak tahu. Aku hanya mengikuti arahan Mba Yayu. Saatvia mengatakan belok kiri maka aku akan mengikutinya, saat dia mengatakan belok kanan aku juga mengikutinya, dan begitu seterusnya hingga kami tiba disebuah restoran bintang lima yang aku sendiri belum pernah mengunjunginya.


"Mba kenapa kesini?" tanyaku sesaat setelah turun dari mobil


"Kamu ikut Mba aja ya"


Aku melangkahkan kaki mengikuti langkah kaki Mba Yau. Kami masuk ke dalam restoran tersebut dan kemudian kami memasuki sebuah ruangan yang aku rasa itu adalah ruang vvip. Tapi kenapa Mba Yayu membawaku kemari?


Pertanyaan-pertanyaan yang berkumpul di kepalaku seolah sirna dengan satu jawaban sesaat setelah pintu ruangan itu terbuka.


Semua keluargaku berkumpul tanpa terkecuali. Baik keluarga dari sisi ayahku maupun dari sisi ibuku. Aku terkejut melihat keberadaan mereka dan kesedian mereka berkumpul di satu tempat yang


sama dalam waktu yang sama pula.


Air mataku spontan berlinang. Mba Yayu segera menggenggam tanganku dan membawaku menghampiri Mas Hari yang juga berada disana.


"Selamat ulang tahun isteriku, temanku, sahabatku..." kata Mas Hari


Aku memeluknya erat dengan air mata haru mengalir dari kedua mataku. Aku ucapkan terima kasih atas apa yang sudah ia lakukan untukku dengan membawa seluruh kekuargaku tanoa terkecuali.


Dengan ditemani Mas Hari aku berjalan menghampiri satu persatu keluargaku untuk menyapa mereka. Yang pertama kuhampiri adalah ayah dan ibuku, nenekku, ibu mertuaku, paman dan bibiku, barulah kemudian sanak kekuarga yang lain.


Hari itu begitu banyak orang berkumpul di sana untuk merayakan ulang tahunku. Bukan oerayaan yang mewah memang, tapu hanya sekedar makan bersama tapi itu sudah jadi sesuatu yang sangat membahagiakan bagiku.


Kejutan-kejutan kecil selalu aku dapatkan di setiap hari ulang tahunku, dan mas hari selalu melakukan itu. Tapi untuk kali ini Mas Hari menyiapkannya dengan sangat teliti dan ini adalah kejutan terindah yang aku dapatkan darinya.


"Selamat ulang tahun sayang.."


"Terima kasih bude"


"Semoga kamu bahagia selalu ya sayang"


"Aamiin"


Selain dari pada orang tua yang datang, juga banyak anak-anak yang turut hadir bersama orang tuanya. Tapi di antara tamu anak-anak tersebut yang paling muda adalah Retnayu dan Rengganis yang kini berada dalam gendonganku dan Mas Hari.


Itulah mereka. Sejak mereka tinggal bersama denganku, mereka menjadi semakin dekat padaku bahkan tidak jarang mereka tidak ingin lepas dari gendonganku.


Dan karena tidak banyak yang mengetahui Rernayu dan Rangga, banyak pula dari mereka yang mengira jika dua anak tersebut adalah anakku dan Mas Hari.


Kebahagiaan hari itu sangat terasa berarti bagiku. Bagaimana tidak, keluargaku termasuk keluarga yang sulit untuk berkumpul. Tapi berkat Mas Hari harapan yang semula hanya sekedar harapan kini telah terwujud.


"Katakan sesuatu untuk mereka" bisik Mas Hari


"Tentu. Sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih untuk kalian semua yang sudah berkenan untuk hadir. Dan terima kasih pula untuk suamiku yang sudah mewujudkan harapanku dengan mengumpulkan semua keluargaku. Aku sangat berterima kasih, karena aku tahu ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.


Aku di sini adalah Natalia seorang isteri, seorang anak, seorang cucu, seorang kakak, serta seorang keponakan bagi kalian.


Sebagai seorang anak, aku ingin mengatakan kepada Mamah dan Papah tentang ucapan terima kasihku yang teramat besar untuk diucapkan karena cinta dan kasihh sayang kalian yang tidak


terhingga yang kalian berikan untukku.


Di hari ulang tahunku, yang bertepatan pada hari ini aku baru menyadari betapa besar cinta dan pengorbanan kalian untukku dan dan adik-adikku. Kemarin aku pernah berfikir buruk tentang kalian. Kalian yang tidak pernah menyayangiku sepenuhnya, kalian yang pilih kasih terhadapku, kalian yang tidak pernah menghargai keputusanku, dan kalian yang selalu mengatur segala hal dalam hidupku.


Kemarin aku juga sempat berfikir betapa malangnya hidupku. Tidak mendapat cinta dari orang tuaku sepenuhnya. Aku selalu merasakan hal seperti itu selama beberapa tahun. Aku selalu merasa jika aku tidak benar-benar bahagia saat bersama dengan kalian, karena itu aku selalu mencari hiburan untuk diriku sendiri.


Aku selalu mencari seseorang yang mampu memberiku cinta yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, merasakan kasih sayang yang tidak aku rasakan sebelumnya.


Aku juga selalu berfikir, kenapa kalian selalu mengatakan sesuatu yang membuat patah semangatku, yang membuat hilang harapanku.


Mama, izinkan aku mengatakannya sekarang. Mengatakan tentang kekesalan hatiku saat mama selalu mengatakan masalah ekonomi yang kau alami. Selalu mengatakan kalau mama kekurangan ini dan itu.


Mama selalu mengatakan semua itu seolah aku hanya membutuhkan uang darimu. Seolah aku tidak membutuhkan hal yang lainnya darimu. Aku membutuhkan cinta dan kasih sayangmu yang lebih mama.


Saat aku ingin mengatakan kegembiraanku dan kesenangan yang aku alami, mama selalu memutuskan dengan kata-kata bijak yang sebenarnya tidak ingin kudengar. Aku tidak ingin kata-kata itu, aku hanya ingin kau ada, duduk dan mendengarkan apa yang ingin aku katakan. Aku hanya ingin berbagi cerita. Tapi kau, selalu menghentikannya, tidak peduli betapa inginnya aku membagi cerita denganmu.


Itu salah satu alasan kenapa aku tidak oernah dekat denganmu seperti yang lain. Mama selalu mengatakan semua masalah yang mama hadapi. Aku tahu, mama hanya ingin mencari teman bicara tapi bisakah sekali saja mama mendengarkan apa yang ingin aku katakan tanpa mengatakan apapun tentang keluh kesahmu.


Kemarin aku juga sempat merasa jika aku berdiri sendiri. Tidak ada tempatku mengadu, tidak ada tempatku mengutarakan kesedihan, kekesalan dan kegembiraanku.


Kemarin dan selama beberapa tahun aku selalu mencari sosok abang. Aku mencari sosok itu dari teman-temanku hanya agar aku mempunyai tempat mengadu, mempunyai tempat berbagi, serta mempunyai tempat berlindung.


Aku merasa hidupku kemarin sangatlah menyedihkan. Benar-benar sangat menyedihkan. Bahkan aku sempat mesasa jika aku todak memiliki kebahahiaan bersama dengan kalian.


Tapi di sini, semua orang tahu tentang kisah hidupku, dan saat ini aku menyadari jika hidupku tidak semenyedihkan kehidupan mama. Sama sekali tidak sebanding.


Mama yang sejak kecil hidup tanpa orang tua, hidup dengan orang lain. Menjalani kerasnya kehidupan. Jika dibandingkan dengan itu kesedihanku hanyalah penggalan kecil kehidupan kelamnya di masa silam.


Mama, betapa egoisnya aku yang hanya mementingkan hidupku sendiri. Sampai beberapa tahun yang lalu aku tidak menyadari betapa berartinya kalian, sampai pada suatu waktu aku menyadarai hal itu setelah aku melihat salah seorang temanku yang sangat mencintai ibunya.


Dia rela melakukan apapun demi kesembuhan ibunya dan tidak pernah sekalipun ingin mrnyusahkan dirinya. Dari dialah aku sadar tentang betapa berharganya kedua orang tua. Dia juga mengajariku tentang harta kekayaan yang paling berharga yang kupunya.


Tapi kini aku sadar betapa berharganya harta itu. Harta yang tidak pernah akan aku miliki untuk yang kedua kalinya. Kini aku sadar tentang penting dan bergarganya kalian dalam hidupku.


Kini aku hanya ingin menjadi anak yang mampu membuatmu bahagia dengan apa yang aku lakukan. Aku ingin menjadi puterimu yang penuh dengan cinta.


Untukmu papa, kemarin aku sempat mengira kau termasuk orang yang tidak berhati, tidak ada cinta ataupun kehangatan dalam dirimu. Aku melihat sikap dinginmu setiap saat, karena hal itu pula aku tidak sampai berani mengatakan apapun dan meminta apapun padamu.


Tapi lagi-lagi pikiranku salah tentangmu. Aku menyadari kesalahanku saat kau, papa rela menghabiskan waktumu yang panjang bersama denganku. Menemaniku saat aku pertama kuliah.


Di hari itu aku sadar tentang betapa besarnya kasihmu dan pengorbanan untukku. Untuk kali pertama aku berani mengatakan mengatakan seperti ini pada kalian.


Sebelumnya aku tidak pernah berani berucap apapun tentang perasaanku kepada kalian, seperti yang kalian tahu tidak pernah sekalipun aku menunjukan perasaanku dengan kata-kata. Tapi kali ini aku berani mengatakannya jika aku benar-benar menyayangi kalian.


Tapi aku berharap kalian tidak berharap aku menunjukan perasaanku ini dengan kata-kata. Karena aku tidak akan mampu melakukannya sampai kapanpun.


Aku di sini juga sebagai seorang kakak. Keinginanku hanyalah menjadi pelindung kalian, tempat mengadu, tempat bergantung. Aku ingin menjadi sosok kakak seperti khayalanku. Seorang kakak yang baik yang mampu mengayomi adik-adiknya.


Maaf jika selama ini aku belum bisa menjadi kakak terbaik untuk kalian. Selama ini aku hanya mampu mengatur dan mengganggu kebebasann kalian. Aku selalu mengatakan tidak pada apapun yang kalian hendak lakukan.


Tapi percayalah jika sebenarnya aku sangat menyayangi kalian, aku mencintai kalian, aku ingin melalukan apapun demi kebahagian kalian, qku ibgin memberikan semua hak yang duku belum


sempat kudapatkan kepada kalian.


Di sini aku juga seorang cucu dari nenekku. Sehak kecil dia yang sudah mengasuhku. Aku hiduo dalam buaiannya, aku tidur dalam gendongannya, aku menangis dalam pelukannya.


Semasa hidup aku hanya mengenal satu kakek dan nenek. Tapi kini yang tersisa hanyalah nenekku seorang. Wanita perkasa yang mengajarkan aku banyak hal.


Dari kakek yang kini sudah bahagia aku mendapat pengajaran tentang cinta kasih yang tulus tanpa pandang bulu, meski aku bukanlah cucu sedarahnya tapi dia mencintaiku dengan tulus.


Dia memberikan segenap cinta dan perhatian pafaku dan adik-adikku. Meski dia orang yang keras, tapi aku sangat mencintainya. Dia cinta pertamaku.


Begitu pula nenek. Dia mengajarkan aku tentang harga diri seorang wanita yang lebih tinggi dari apapun. Darinya aku belajar tentang pentingnya harga diri wanita. Dia tidak membiarkan siapapun menginjak-injak harga dirinya.


Nenekku wanita yang tangguh. Sekali waktu, pernah nenek mengatakan jika ia tidak pernah sekalipun merasa bahagia, dari dulu dia selalu berjuang untuk hidupnya dan anak-anaknya. Nenek aku harap sekarang nenek sudah bahagia karena aku." kataku sembari meneteskan air mata


"Nenek bahagia Neng. Liat Ia bahagia, nenek bahagia"


"Terima kasih. Ia akan berusaha untuk tetap bisa bikin nenek bahagia.


Tidak hanya seorang anak, kakak, dan cucu. Aku juga seorang isteri. Seorang isteri dari suaki yang amat sangat mencintaiku. Dia memberikan kebahagian untukku. Bagiku tidak ada celah keburukan tentangnya. Dia bukan hanya suami bagiku, tapi juga seorang kakak, sahabat, teman, dan guru untukku. Dia mengajarkan aku banyak hal tentang hidup, dia sabar membimbingku.


Tapi aku, belumlah bisa menjadi isteri yang baik untukku. Aku selalu saja mengeluh tentang banyak hal padanya. Aku selalu mempertanyakan tentang banyak hal tidak peduli apakah dia lelah atau lapar.


Mas, terima kasih karena sudah menjadi pembimbing terbaik bagiku, sudah sabar membimbingku. Aku bahagia memilikimu sebagai seorang suami"


Air mataku jatuh berderai tidak tertahankan. Aku terisak setelah menyampaikan semua hal yang selama ini kupendam. Mas Hari yang berada disampingku lantas memelukku dengan erat. Dia menenangkanku dengan pelukan hangatnya.


"Kamu isteri terbaik yang. Kamu sudah melakukan yang terbaik Dek. Mas bangga"


Satu persatu keluargaku memelukku untuk berbagi rasa denganku. Tangisku semakin menjadi saat orang tua dan nenekku datang untuk memelukku. Aku tidak bisa menahan kesedihanku lebih lama lagi.


Di saat yang sama aku juga melihat banyak orang larut dalam keharuan yang tercipta oleh kata-kataku. Mata mereka berkaca-kaca, bahkan ada yang sampai meneteskan air mata.


Selanjutnya kamu duduk bersama di sebuah meja makan yang panjang guna menikmati hidangan bersama. Kebahagiaan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya saat seluruh keluargaku berkumpul bersama demi diriku.


Keharuan yang semula tercipta kini berganti dengan kebahagiaan yang meliputi semua orang. Mereka tertawa dan bergembira bersama. Aku merasa mereka semua lupa dengan banyaknya masalah yang sedang mereka hadapi.


Hari itu berlangsung dengan penuh kebahagiaan, sampai tidak terasa jika hari sudah mulai sore dan acara hari itupun dengan sangat terpaksa berakhir. Seluruh keluargaku satu persatu pergi meninggalkan aku termasuk ibu dan nenekku yang memilih untuk pulang. Dengan keharuan serta kebahagiaan aku mengucapkan salam perpisahan kepada mereka.


Kini yang tersisa hanyalah aku dan Mas Hari sebagai penghuni terakhir di ruangan tersebut. Aku menggenggam erat lengan Mas Hari yang berada disampingku.


"Kenapa toh?" tanya Mas Hari


"Terima kasih Mas"


"Sama-sama. Kamu bahagia ndak?"


"Sangat, sangat bahagia. Tapi gimana caranya Mas ngumpulin keluargaku semua? Apalagi Pakde Yudi?"


"Oh rahasia.."


"Loh? Ko gak mau cerita Mas?"


"Kan rahasia, gimana toh kamu?"


"Tapi aku mau tahu Mas"


"Kalau gitu sampean cari tahu sendiri"


"mas..."


"Ayo pulang.."


Mas Hari berjalan di depanku. Tubuhnya yang berisi terlihat sangat lucu ketika ia mengenakan pakaian kemeja batik yang membuat perut buncitnya terlihat jelas. Aku berlari mengejar Mas Hari dan kemudian memelukya dari belakang sembari terus berjalan.


"Malu toh Dek dilihat orang"


"Biarin aja, aku gak peduli"


"Kamu itu.."


Mas Hari segera menarik tanganku dan kemudia merangkulku yang berjalan disampingnya. Selanjutnya kami bergegas pulang.


Kebahagiaanku tidak hanya sampai di situ, rupanya Mas Hari telah menyiapkan hadiah yang spesial bagiku.


Kejutan itu kuterima ketika malam hari saat aku hendak merebahkan diri di atas tempat tidur. Ketika itu Mas Hari yang tengah duduk di kursi memanggiku dan memintaku untuk menghampirinya.


Aku pun datang menghampiri Mas Hari dan kemudian duduk dipangkuannya. Duduk di atas pangkuannya merupakan hal yang sangat menyenangkan bagiku, karena dari sana aku merasa lebih dekat dengan suamiku yang kini tengah disibukan dengan pekerjaannya.


"Kenapa Mas?" tanyaku


"Ini buat kamu" kata Mas Hari sembari memberikan amplop cokelat


"Buatku? Aku buka ya"


"Buka aja"


Aku buka amplop cokelat itu dengan wajah santai bahkan cenderung datar. Aku keluarkan isi di dalamnya. Aku melihat dua buah tiket penerbangan menuju Bali.


"Mas...?"


"Kamu butuh liburan toh?"


"Mas Hari...."


Aku berteriak dengan penuh antusias sembari memeluk erat dan menciumi wajah Mas Hari berulang kali.


"Mas...."


Aku mengulangi hal demikian hingga berulang kali atau bahkan hingga Mas Hari merasa risih dengan kelakuanku.


"Wis toh Dek. Kamu kalau kesenengan pasti kaya gini"


"Ya harus, masa aku diem aja kalau lagi seneng Mas" kataku sembari memeluk serta mencium Mas Hari dengan gemas hingga berulang kali


"Terima kasih Mas"


"Sudah sana tidur"


"Mas?"


"Mas nanti nyusul karena masih ada yang harus Mas kerjakan"


"Kalau gitu aku juga mau nemenin Mas dulu"


"Gak usah, kamu kan cape jadi mending istirahat aja"


"Kenapa? Aku kan mau nemenin suamiku kerja. Lagi pula kalau dibandingkan aku, Mas Hari yang jauh lebih cape, iya kan?"


"Ya sudah, terserah kamu aja"


Aku beranjak dari pangkuan Mas Hari untuk menyimpan amplop cokelat itu baik-baik di dalam laci lemari make up ku. Sementara itu Mas Hari mulai sibuk dengan tumpukan berkas dan pekerjaannya.


Setelah aku menyimpan tiket penerbangan itu baik-baik, aku kembali menghampiri Mas Hari. Aku kembali duduk di atas pangkuannya.


"Kenapa kamu suka sekali duduk di sini?"


"Karena duduk di sini aku nyaman" kataku sembari memeluk dan mencium leher Mas Hari yang mempunyai aroma tubuh yang khas.


"Mas kerja aja, jangan peduliin aku ya"


Mas Hari tertawa mendengar perkataanku, "gimana bisa Mas kaya gitu Dek kamu kan ada di depan Mas"


"Ya udah Mas fokus aja"


Mas Hari mencoba fokus dengan pekerjaannya, sedangkan aku terus duduk dipangkuan Mas Hari sembari mengamati pekerjaannya atau mencium bahu Mas Hari.


Cukup lama kami sibuk dengan kegiatan kami masing-masing saat itu, sampai kemudian aku menarik tangan Mas Hari dan menjauhkannya dari tumpukan pekerjaan yang sama sekali tidak aku mengerti.


"Mas Hari..."


"Apa..?"


"Ayo tidur, aku ngantuk Mas"


"Ya sudah sana kamu tidur duluan nanti Mas nyusul ya"


"Mas Hari..." aku merengek seperti anak kecil sembari terus membujuknya dengan mencium pipinya berulang kali


"Ayo Mas, udah dulu kerjanya"


"Tapi kerjaan Mas masih banyak Dek"


"Besokkan masih bisa Mas, kalau engga nanti aku tidur di sini"


"Tidur aja" kata Mas Hari dengan nada datar


Aku memang sedikit kesal dengan sikap Mas Hari yang sibuk dengan pekerjaannya, tapi aku merasa enggan jika harus pergi tidur seorang diri, karenanya aku memilih untuk tetap berada di atas pangkuannya sampai aku tertidur.