To be Continued

To be Continued
Dua Puluh Enam



Resmi sudah Bagus menjadi anak asuh kami. Izin dari kedua orang tuanya pun sudah kudapatkan yang dengan sepenuh hati membiarkan aku turut bertanggung jawab dalam mangasuh dan mendidik Bagus. Setelah putusan pengadilan, semua hal yang berhubungan dengan Bagus mulai kami tata termasuk urusan sekolah Bagus yang kami pindahkan ke Jakarta.


Aku dan Mas Hari dibuat kewalahan saat harus mengurusi semua kebutuhan sekolah Bagus. Hanya masalah satu ini saja kami dibuat kewalahan. Tapi semua pekerjaan itu kami kerjakan bersama dengan Mba Yayu dan Mas Indra yang tidak peduli sesibuk apapun mereka, pasti akan selalu menyediakan waktu untuk membantu Bagus dan segala keperluannya.


Beberapa hari sebelum Bagus masuk sekolah untuk pertama kali, aku dan Mas Hari, serta Bagus pergi bersama untuk membeli beberapa kebutuhan sekolahnya. Tapi sebelum itu aku sudah mendaftar barang-barang apa saja yang harus dibeli untuk keperluan sekolah Bagus.


Setelah menyantap makan siang di rumah, kami bertiga bergegas pergi menuju tempat yang menjual berbagai pernak-pernik sekolah di daerah BSD. Memang tempat yang dipilih cukup jauh dari kediaman kami, tapi mengingat kelengkapan barang-barang membuat kami memilih tempat tersebut ketimbang harus berbelanja di mall, yang sebenarnya juga menjual barang-barang keperluan sekolah cukup lengkap.


Ada satu hal yang baru aku ketahui beberapa hari terkahir ini, dan hal ini menjadi tugas yang harus aku lakukan saat bepergian dengan mobil bersama dengan Bagus. Entah kebiasaan ini sudah dimilikinya sejak dulu yang tiba-tiba kembali muncul setelah sekian lama, atau memang kebiasaan yang baru tercipta beberapa hari terakhir ini. Bagus selalu meminta untuk dibawakan camilan berupa buah-buahan yang sudah dipotong untuk tempat perjalanannya. Hal itulah yang terjadi saat itu, ketika kami hendak menuju BSD Bagus terus saja mengunyah buah-buah dari dalam kotaknya.


Itu bukan masalah bagiku, karena apa yang menjadi kebiasaannya itu bagiku tidaklah burukdan tidak akan mempengaruhi kesehatannya. “Bu, Ibu, nanti habis ini kita beli buah mangga lagi ya? buah mangga di rumah udah habis” kata Bagus


“ah habis gimana? Orang tadi ibu yang nyiapin kotak buahnya” kataku


“habis Ibu, tinggal berapa buah lagi di dalam kulkas”


“kan masih ada buah yanglain Kakak..”


“tapi Kakak suka mangga ini Ibu. Di rumah cuma tingga jeruk sama apel lagi”


“emang iya Kak? Ko tadi Ibu liatnya banyak, ada mangga, apel sama jeruk”


“iya, tapi tinggal berapa buah lagi” kata Bagus bersikukuh


“ya udah iya, nanti kita sekalian beli buah. Tapi buah aja ya Kak, nantikan kita harus beli keperluan sekolah Kakak juga”


Bagus memiliki kebiasaan yang sama denganku, kami sama-sama tidak bisa hidup tanpa camilan di rumah, karena itu aku akan selalu menyediakan camilan di dalam lemari khusus di lantai dua yang memang hanya dikhususkan untuk kami. Hanya saja yang berbeda di antara kami adalah, aku akan memakan apapun sebagai camilanku, sedangkan Bagus hanya memakan buah-buahan segar sebagai camilannya.


Tibalah kami di tempat tujuan kami. Bagus tampak begitu bersemangat bahkan sejak keluar dari dalam mobil. Dia berjalan dengan berani mendahului kami, kepalanya tidak henti menoleh ke kiri dan kanan mencari-cari sesuatu yang menarik perhatiannya. Begitu banyak buku-buku yang ternyata menarik perhatian Bagus, maklum saja Bagus memiliki hobi yang sama denganku yaitu membaca buku.


Aku tahu sebenarnya Bagus memiliki keinginan untuk membeli buku bacaan yang baru, karena tidak bisa dipungkiri jika ia juga memiliki kecenderungan untuk membeli buku bacaan baru meskipun baru beberapa hari kemarin aku membelikannya buku bacaan. Jauh sebelum ini aku dan mas Hari sudah menerapkan disiplin kepada Bagus, disiplin dalam hal apapun itu. Bahkan kami juga mengajarinya untuk bisa menahan keinginan untuk memiliki sesuatu, seperti yang saat ini sedang terjadi.


Aku sering mengatakan kepada Bagus, jika membeli sesuatu hanya karena keinginan semata itu bukanlah sesuatu yang baik, Bagus harus bisa memilah dan memilih mana keinginan dan mana kebutuhan. Jika Bagus membeli sesuatu karena keinginan maka semua itu bukanlah sesuatu yang baik untuknya. Dan jika Bagus tiba-tiba menginginkan sesuatu yang secara spontanitas terlintas di benaknya , aku akan memintanya untuk menunggu selama satu minggu terlebih dahulu. Apabila dalam waktu satu minggu tersebut dia masih menginginkan benda itu maka kami akan membelikannya, tapi jika tidak itu artinya keinginan membeli benda tersebut hanyalah sekedar keinginan bukan kebutuhan.


“Ibu, buku bacaan aku tinggal satu yang belum dibaca” kata Bagus


“oh ya...? kemarin-kemarinkan Ibu udah beliin beberapa novel, udah Bagus baca semua?”


“anu Ibu, novelnya susah Bagus baca. Ceritanya gak bagus” katanya sembari merajuk


“dari mana Bagus tahu kalau novel itu gak bagus kalau kamu sendiri belum baca bukunya”


“Bapak...” Bagus kembali merajuk kepada Mas Hari


Memang seperti itulah anak lelaki ini, jika aku tidak menuruti apa yang diinginkannya maka ia akan merajuk kepada Mas Hari seolah mencari pendukung untuknya.


“lain kali aja beli novelnya, sekarang kita cari barang-barang untuk sekolah dulu” kata Mas Hari sembari merangkul Bagus dan membawa berjalan lebih cepat


Aku tahu pasti Bagus sangat kesal karena ia tidak mendapat dukungan dari siapapun. Tapi untunglah Bagus tidak larut dalam rasa kesalnya cukup lama karena selanjutnya ia bisa kembali riang bersama dengan Mas Hari. Selanjutnya kami mulai mencari buku tulis, pena, pensil, dan segala pernak-pernik kebutuhan sekolah untuk Bagus. Kami bertiga sibuk mencari barang-barang.


“Ibu, bukunya yang ini aja ya? gambarnya bagus kakak suka” kata Bagus


“tapi itu bukunya tipis kakak, bakalan cepet habis” kataku


“tapi ini gambarnya kakak suka Ibu”


“kan nanti dikasih sampul cokelat Kak, jadi gambarnya gak keliatan”


“ya udah kak, kakak cari aja pena yang gambarnya sama” tukas Mas Hari


Aku memenangkan perdebatan kecil dengan Bagus. Meski kembali membuatnya kesal karena


keinginannya tidak aku turuti tapi Bagus tetap patuh dengan apa yang dikatakan olehku atau oleh Mas Hari. Setelah membeli beberapa buku, aku kembali mencari tas yang sesuai dengan kebutuhan Bagus. Sementara itu Bagus dan Mas Hari sibuk mencari bebarapa kebutuhan sekolah lainnya.


Satu persatu aku lihat tas-tas yang berjejer rapi. Aku lihat dengan seksama tas-tas tersebut sebelum


akhirnya memutuskan tas mana yang aku pilih. Satu, dua, tiga tas sudah masuk dalam pilihanku. Tas


yang bagian dalamnya cukup besar, sederhana, dan terkesan mewah. Ketiga tas tesebut memang sudah masuk ke dalam pilihanku hanya tinggal memutuskan tas mana yang akan dipilih oleh Bagus.


Selagi menunggu Bagus dan Mas Hari kembali, aku memilih untuk melihat beberapa tas lain yang


mungkin saja cocok untukku atau untuk adikku Ragil. Aku pun menyempatkan diri untuk membeli beberapa keperluan Bagus yang lainnya sesuai dengan daftar kebutuhan yang sudah aku buat sebelumnya.


Tidak lama berselang Bagus dan Mas Hari pun kembali menghampiriku dengan begitu banyak barang di kedua tangan mereka. Terbelalak aku melihat semua barang-barang itu.


“kenapa banyak banget?” tanyaku keheranan


“gak apa-apa, buat persedian nanti di rumah” kata Mas Hari


“ya sudah, sini dicek dulu biar tahu barang yang udah dan yang belum apa aja”


Satu demi satu aku memeriksa barang-barang tersebut dan sudah hampi semua kebutuhan sekolah


Bagus telah terpenuhi.


“Kak, coba liat deh tasnya. Tadi Ibu udah pilih tiga tas, kakak yang pilih mau pake yang mana”


“kakak mau pake semua” katanya sembari bergurau


“yee rakus. Minta Bapak sana boleh gak semua?” kataku


“Bapak?” kata Bagus


“satu saja” kata Mas Bagus tegas


Aku tertawa melihat kejadian itu. Melihat ekspresi wajah Bagus yang sengaja dibuat cemberut dan kesal olehnya sendiri.


“tuh kan kak. Ya udah buru liat dulu tasnya” kataku


untuknya, aku memutuskan untuk duduk sejenak bersama dengan Mas Hari yang juga duduk disampingku.


“kak dipake dulu tasnya” kata Mas Hari


Cukup lama Bagus memutuskan tas mana yang sesuai dengan keinginannya karena ketiga tas tersebut telah berhasil mencuri perhatiannya dan ia merasa berat jika harus memilih salah satunya.


“aduh kakak bingung antara yang ini sama yang ini”


Aku tertawa, “ayo kakak, cepet pilihnya” kataku sembari menggoda


“bingung kakak, Ibu. Kakak suka dua ini”


“ya udah ambil aja dua-duanya, biar bisa ganti-ganti” kata Mas Hari


Spontan saja aku terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Mas Hari yang kemudian hal itu membuat Bagus menjadi sangat girang karena akhirnya ia bisa memiliki kedua tas tersebut sekaligus.


“loh Mas ngapain dibeli semuanya, satu aja kan cukup? Kakak satu aja deh satu” kataku


Bagus lantas merajuk setelah mendengar laranganku untuk membeli dua tas secara sekaligus. Dia merayuku agar aku mengizinkannya membeli kedua tas tersebut. Anak laki-laki ini memang sangat mahir meluluhkan hatiku. Tapi memang sebanrnya aku tidak sungguh-sungguh melarang Bagus membeli kedua tas tersebut, aku hanya ingin mengajarkannya membeli barang sesaui dengan kebutuhannya saja bukan sesuai dengan keinginannya.


“alah ya udah deh terserah kakak aja”


“terima kasih Ibu”


Setelah semua kebutuhan Bagus terpenuhi kita semua mutuskan untuk berkeliling-keliling terlebih dahulu di tempat tersebut. Begitu banyak mainan dan barang-barang yang lucu di sana. Mulai dari mainan anak-anak, alat tulis, pernak-pernik hingga membuat diriku hampir kalapoleh semua itu.


“aku mau cari buku dulu ya” kataku di tengah perjalanan


“Ibu gak boleh beli buku. Kakak juga gak beli buku”


“Ibu beli buku untuk Ayu, kakak. Buku cerita dia udah selesai dibaca semua” kataku sembari memilih beberapa buku cerita untuk anak-anak


“kalau gitu kakak juga boleh beli buku?”


“engga boleh”


Aku kembali fokus pada buku-buku cerita tersebut. Setelah memilah dan memilih buku-buku tersebut dan setelah mendapatkan beberapa buku untuk Retnayu aku kembali menghampiri Bagus dan Mas Hari yang edang berada di gerai mainan.


“kak, mau beli ini gak?” tanya Mas Hari


“engga Pak, kakak gak suka itu” kata Bagus dengan ketus


“tapi ini bagus lo kak, ini mainan terbaru. Kakak juga belum punya”


“tapi kakak gak suka. Kakak mau beli buku aja”


Dari kejauhan aku memperhatikan perdebatan Bapak dan anak tersebut. Bagus memang berbeda dengan anak-anak seusianya. Bagus tidak begitu tertarik dengan mainan-mainan meskipun Mas Hari sering memaksanya untuk membeli mainan tapi tetap saja Bagus lebih memilih untuk membeli buku daripada mainan. Sebenarnya aku ingin membelikan buku yang diinginkan Bagus, tapi aku tidak bisa melakukan hal itu terlalu sering karena pada akhirnya itu tidak akan baik untuk Bagus sendiri.


“kakak. Kakak mau beli buku?” tanyaku


“iya..”


“denger Ibu ya..?”


“Iya Ibu, kakak gak beli buku sekarang” katanya dengan raut wajah yang sedih


Aku tertawa melihat reaksi Bagus yang demikian, “ish kakak, Ibu kan belum bilang apa-apa tapi ko gitu. Denger Ibu dulu”


“iya..”


“kakak boleh beli buku yang kaka mau, tapi setelah ini Ibu sama Bapak cuma beliin buku sebulan sekali aja untuk kakak. Kalau kakak mau beli buku lagi sebelum waktunya, berarti kakak harus beli pake uang jajajn kakak sendiri”


“kan uang jajan kakak selalu habis”


“ya Ibu gak tahu. kakak harus bisa nyisain uang jajan kakak kalau mau beli buku atau mau beli apapun”


“nanti disekolah kakak makan apa?”


“kan nanti Ibu siapin bekel makanan untuk kakak “


Bagus adalah seorang anak yang kritis. Jadi baik aku atau Mas Hari harus mampu mengimbangi dirinya yang sangat kritis itu.


“oke kakak?”


“oke..”


Bagus mulai berburu buku-buku yang ingin dibacanya. Sementar Bagus mencari-cari buku yang ingin dibelinya, aku dan Mas Hari menyambangi gerai maianan. Aku mencari beberapa barang yang bisa dimainkan oleh Retnayu dan Rangga yang sekaligus bisa merangsang saraf motoriknya dan mampu meningkatkan kecerdasannya.


“dek ini loh” kata Mas Hari sembari menunjukan sebuah boneka tangan


“apa itu?”


“boneka tangan. Bisa kan kamu maininnya?”


Aku memperhatikan boneka yang dipegang Mas Hari. “kamu bisa bawain cerita pake ini jadi lebih menarik buat anak-anak”


“ya udah aku beli ini aja buat anak-anak”


Aku mengambil beberpa boneka tangan yang berbeda bentuknya yang juga aku sesuaikan dengan buku cerita yang aku beli sebelumnya. Setelah mengambil beberapa boneka tangan itu, aku dan Mas Hari bergegas pergi menghampiri Bagus yang masih sibuk mencari buku entah dimana.


Tapi meski begitu, aku dan Mas Hari tidak begitu panik dan tetap berjalan santai menuju sebuah tempat yang kami yakin disanalah Bagus berada. Benar saja Bagus sedang asik memilih buku-buku yang ingin dibacanya.


“kakak udah dapet belum?” tanya Mas Hari


“udah Pak”


“ya udah ayo bayar. “