
sepuluh tahun lamanya hidup di sebuah panti asuhan sebelum akhirnya ia diadopsi oleh sebuah keluarga yang cukup berada. Sebuah keluarga yang memiliki segalanya dan tidak kekurangan apapun. Setelah diangkat anak oleh keluarga tersebut, kini Mona memiliki dua orang tua yang lengkap serta seorang kakak laki-laki, formasi keluarga yang sangat diidamkan banyak orang.
Menjadi anak bungsu dan menjadi kesayangan di keluarga itu, pasti hal itu yang akan muncul dalam benak kalian semua. Tapi sayangnya semua itu tidak terjadi pada Mona. Tiga tahun sudah ia tinggal bersama dengan keluarga barunya, namun selama itu pula Mona hanya merasakan sedikit kebahagiaan yang itu pun karena dipaksakannya, karena yang ia dapatkan selama ini hanyalah kesedihan dan luka.
Satu tahun terakhir hidup gadis kecil ini menjadi sangat memilukan. Entah apa yang terjadi pada keluarga angkatnya hingga membuatnya begitu menderita. Sikap mereka spontan berubah dari dulu yang saat pertama ia hadir sangat dicintai kini menjadi sangat dibenci. Semua luka yang ada di tubuh gadis malang itu tidak lain adalah hasil karya dari keluarga angkatnya yang tanpa segan memukul dan menyiksanya sedemikan rupa.
Tidak tahu apa alasan di balik semua tindak kekerasan itu, tapi yang pasti kesalahan kecil saja yang dilakukan Mona akan membuat kelyarga angkat murka seketika. Mereka akan memukul, menendangm mendorong, bahkan mengiris tubuh kecil gadis ini dengan senjata tajam. Tidak jarang pula karena kemarahan mereka yang tidak beralasan Mona sampai harus menahan lapar dan sakit tanpa bisa mengadu kepada siapapun.
“setiap hari Mama selalu neriakin aku. Mama bilang aku bodoh, tolol, dungu. Papa sama Abang juga begitu. Mereka pasti mukul aku kalau aku ngelakuin kesalahan atau ganggu mereka” tutur Mona
“tapi kadang, Abang tiba-tiba aja mukul aku waktu aku lagi tidur” katanya
Miris memang dengan apa yang terjadi pada Mona. Bukannya kebahagiaan yang ia dapat tapi malah luka disekujur tubuh dan bahkan di dalam hatinya. Aku tahu semua kejadian ini pasti akan berdampak buruk bagi psikis Mona. Semua itu bahkan sudah terlihat saat ini, Mona menjadi anak yang sangat terutup dan tidak percara diri. Aku merasa sangat marah dengan apa yang dilakukan oleh keluarga Mona pada gadis kecil ini. Aku lantas mempertanyakan adakah hati nurani mereka, lalu kenapa mereka bisa bertindak seperti binatang?
Melihat kondisi tubuh Mona yang penuh dengan luka, hatiku tergerak untuk menolongnya, untuk memberinya kebebasan dari segala macam tindak kekerasan yang dilakukan oleh orang tua angkatnya. Namun sebelum itu aku memastikan terlebih dahulu apakah Mona bersedia untuk memberikan keterangan ini kepada polisi.
“jangan, kasian Mama sama Papa” kata Mona
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam kepala anak ini, kenapa dia begitu baik dan tidak ingin orang tuanya berada dalam kemalangan meski sudah bertindak begitu kasar padanya. Tapi aku tidak menyerah begitu saja, aku kembali membuju Mona dan meyakinkannya jika apa yang dilakukannya adalah hal yang benar. Rupanya bujukanku itu tidak mempengaruhi Mona. Dia menangis histeris dan berlari meninggalkanku dan Mba Yayu yang saat itu duduk di sampingnya. Aku berusaha mengejar Mona bahkan hingga keluar gerbang, tapi gerakan anak itu sungguh gesit dan aku kehilangan jejaknya. Aku hanya bberharap dia berada di tempat yang menurutnya aman.
“gimana Dek?” tanya Maba Yayu
“gak kekejar Mba” jawabku dengan nafas yang tersenggal-senggal
Di saat yang sama Bagus pun datang dan melihat kami sedang berdiri bersama, “Bu, dimana Mona?” tanyanya
“anu Kak, Mona tadi udah pulang” aku berusaha menjelaskan sebaik mungkin kepada Bagus tapi lebih tepatnya menyembunyikan dari Bagus apa yang baru saja terjadi pada Mona.
“Kakak makan dulu sana, Mbok Sum udah masak makanan kesukaan Kakak”
Untung saja Bagus menuruti apa yang aku katakan padanya, ia segera bergegas pergi menuju dapur. Sementara itu aku dan Mba Yayu memilih untukmerebahkan diri di sofa dan membicarakan perihal masalah yang baru saja terjadi dihadapan kami.
“Dek, apa kamu mau diem aja Dek?” tanya Mba Yayu
Pertanyaan itu seperti petir di siang boling bagiku, terasa begitu sangat menyakitkan, “engga Mba. Aku gak mungkin diem aja. Tapi masalahnya Mona sendiri gak mau kalau sampai orang tuanya berurusan sama polisi” kataku
“bener juga sih. Terus gimana dong Dek? Mba gak tega liat dia kaya begitu. Kamu liat sendiri kan badannya tuh penuh sama luka lebam. Ya Allah sampe bediri bulu kuduk Mba liatnya” kata Mba Yayu
Aku hanya terdiam mendengar semua perkataan Mba Yayu, tapi yang sebanrnya adalah aku sedang memikirkan bagaimana cara untuk meyakinkan Mona agar mau terbebas dari masalah yang berat ini. Membujuk orang seperti Mona adalah hal yang sulit. Rasa sayangnya yang teramat besar telah membelenggunya untuk terbebas dari masalah yang cukup rumit ini.
Satu, dua , tiga hari tidak ada yang bisa aku lakukan. Mona seperti menghilang. Bahkan menurut cerita yang Bagus sampaikan, Mona kembali tidak masuk kelas selama tiga hari ini. Hal itu tentu menjadi pertanyaan bagiku, mungkinkan Mona mengalami tindak kerasan lagi sampai ia tidak bisa masuk sekolah selama tiga hari berturut-turut. Semakin lama memikirkan Mona semakin gelisah aku dibuatnya. Kegelisahan itu pun lantas aku ceritakan kepada Mas Hari yang lantas membuat hati Mas Hari pun tergugah.
Malam itu aku dan Mas Hari tengah berbincang bersama di ruang keluarga yang berada tepat di bawah tangga menuju lantai dua. Saat itu waktu menunjukan pukul setengah duabelas malam. Banyak hal yang kami bicarakan saat itu termasuk salah satunya adalah masalah mengenai Mona.
Tapi satu hal tiba-tiba saja terjadi dan mengejutkan kami yang sedang berduaan. Mang Ujang tiba-tiba saja membuka pintu dan berlari ke arah kami dengan terengah-engah.
“ada apa Mang Ujang?” tanya Mas Hari
“anu Pak, maaf. Di depan ada anak kecil nangis pak” kata Mang Ujang
Mataku terbelalak seketika, aku bangkit dari tempatku dan berlari ke luar. Hatiku berdebar saat Mang Ujang mengatakan jika ada seorang anak yang menangis di luar. Hatiku mengatakan jika anak itu adalah Mona. Benar saja dugaanku, ketika aku membuka gerbang rumah, aku melihat seorang anak sedang menahan tangisnya, dengan wajah tertunduk.
“Mona?” kataku
Perlahan wajah anak perempuan yang ada dihadapanku itu terangkat. Aku kembali terbelalak, mataku membesar saat aku melihat darah bercucuran dari wajahnya. Kuraih ia dan kubawa ia masuk ke dalam rumah.
Melihat hal itu Mas Hari dan Mang Ujang dibuat gelagapan. Bahkan mereka dibuat terpaku dan tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Mona menangis histeris menahan sakit di sekujur tubuhnya.
“Mona, sayang kenapa ini? Kenapa kamu sampe berdarah kaya begini?” kataku dengan penuh kekhawatiran
Tapi Mona masih urung untuk menceritakan kepadaku tentang apa yang terjadi. Ia memilih untuk tetap diam. Sementara itu Mang Ujang telah kembali dengankotak P3K yang sebelumnya kuminta, disusul pula oleh Mas Indra, Mba Yayu, Ibu, dan Sonita yang datang menghampiri kami karena mendengar teriakanku. Mereka semua dibuat terkejut dengan apa yang terjadi kepada Mona, mereka merasa ngeri, kasihan, dan marah.
Aku membersikan setiap luka baru yang ada di tubuh Mona. Aku mencoba menghentikan setiap pendarahan yang ada di tubuhnya. Tidak sedikit pula pertanyaan yang keluar dari mulut anggota keluargaku tentang apa yang sebenarnya terjadi, namun semua itu tidak beroleh jawaban apapun karena tidak ada satupun dari kami yang bisa untuk menjawab pertanyaan itu.
Mona meringis menahan sakit lantaran luka basah yang ada di tubuhnya terkena alkohol yang kuberikan. Matanya tidak henti mengeluarkan air mata. Selama beberapa lama aku fokus pada luka-luka yang ada di tubuh Mona. Sampai akhirnya dua orang tidak kukenal datang menghampiri kami bersama dengan Mang Ujang.
Aku manatap dua orang tersebut dengan tatapan yang snagat tajam, karena aku yakin sekali dua orang ini adalah orang tua angkat Mona. Tapi yang aneh di sini kedua orang tua ini nampak sangat khawatir dengan keadaan Mona, bahkan sang ibu nampak meneteskan air mata. Mereka berdua membujuk Mona untuk pulang bersama dengan mereka. Menyaksikan hal itu aku sama sekali tidak berkata-kata, hanya mataku saja yang memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana sikap kedua orang tua ini dan bagaimana sikap Mona. Dari gerak geriknya, aku tahu jika Mona sangat takut bersama dengan mereka tapi ia tidak memiliki kuasa untuk melawan. Termasuk saat kedua orang tua ini mengajaknya untuk pulang, dan ia pun menurut.
“kenapa Mona bisa terluka seperti itu?” tanyaku tiba-tiba saat mereka hendak berbalik meninggalkan kami
Selama beberapa lama mereka tampak gelagapan sebelum akhirnya mereka menjawab pertanyaanku, “ tadi sewaktu kami sedang bermain bersama di luar rumah, tiba-tiba saja ada orang yang tidak dikenal berlari ke arah kami dan memukuli Mona” kata sang Ibu
“orang lain?” tanyaku kembali
“Ia, dan, dan suami saya segera melawan sebelum terjadi sesuatu pada Mona. Tapi Mona malah berlari ke rumah ini. Kami permisi dulu, terima kasih karena sudah membantu Mona”
Aku benar-benar tidak bisa menahan amarahku jika mas Hari tidak memegang tanganku erat dan menahanku untuk tidak terpancing emosi. Aku hanya mampu memberikan tatapan dingin pada mereka yang mulai berjalan meninggalkan kami yang berada di dalam rumah.
Terdengar suara berbisik dari anggota keluargaku yang lain tentang kejadian buruk yang dialami oleh Mona. Mereka semua dengan begitu mudahnya percaya pada apa yang dikatakan oleh perempuan tersebut, tapi Aku, Mba Yayu dan Mas Hari yang sudah tahu perlakuan buruk mereka merasa sangat marah dan tidak bisa menahan kesabaran.
Sembari menggerutu, Mba Yayu pergi meninggalkan kami dan kemudian di susul oleh anggota keluarga yang lain yang bergegas kembali ke dalam kamar mereka masing-masing.
Saat yang tersisa hanya tinggal aku dan Mas Hari aku mulai meluapkan semua kekesalanku, “aku udah gak tahan Mas, aku udah gak bisa nahan ini. Mereka itu bukan manusia, mana ada manusia yang tega nyiksa anaknya kaya begitu. Pake bilang ada orang lain yang mukul Mona, lagi pula ngapain mereka bawa Mona keluar tengah malem kaya begini” kataku dengan kesal.
“Mas tahu maksud kamu Dek. Besok pagi kita bikin laporan ini ke polisi” kata Mas Hari
Tepat di keesokan harinya, setelah aku dan Mas Hari menjemput Bagus, kami pergi menuju kantor polisi untuk membuat laporal perihal kasus yang dialami oleh Mona. Pelaporan kami terhadap kasus ini lantas diproses dengan cepat oleh petugas kepolisian. Bahkan di hari yang sama pula petugas kepolisian hendak pergi menuju kediaman Mona.
Kami semua memutuskan untuk ikut serta bersama dengan petugas kepolisian itu, karena aku merasa jika akan lebih baik aku ikut untuk bisa merangkul Mona saat penangkapan keluarganya terjadi. Setelah beberapa lama kami berkendara akhirnya kami semua tiba di depan pintu gerbang kediaman Mona. Sama seperti saat pertama kami datang, gerbang rumah yang tinggi menjulang masih tetap tertutup rapat. Kami berusaha untuk memanggil pemilik rumah namun tidak ada jawaban dari dalam, yang karena hal itu pula dengan terpaksa pihak kepolisisan membuka paksa gerbang rumah itu dibantu oleh para warga yang mulai berdatangan.
Ketika gerbang besar itu terbuka kami semua bergegas masuk ke dalam rumah. bersama dengan Bagus yang terus kugenggam erat kami melangkah memasuki rumah yang tampak seperti rumah-rumah pada umumnya. Besar dan megah. Ada juga dua buah mobil berwarna hitam yang terparkir di garasi rumah tersebut. Petugas kepolisian kembali mengetuk pintu namun tetap tidak beroleh jawaban hingga dengan terpaksa kami harus mendobrak pintu rumah tersebut.
Tidak ada yang aneh di dalam rumah tersebut. Namun kita sama sekali tidak menemukan penghuni rumah tersebut meskipun sudah di panggil beberapa kali. Penggeledahan pun dilakukan oleh pihak kepolisian, sementara itu kami hanya bisa berdiam diri saling berdampingan. Tidak lama, dari penggeledahan itu sang tuan rumah beserta seorang pemuda berhasil diringkus oleh petugas kepolisian setelah sebelumnya bersembunyi di dalam kamar yang sama.
“di mana Mona?” tanyaku
Tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaanku. Hatiku semakinj kencang berdebar. Aku takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada gadis malang itu. Pertanyaan yang sama juga turut dilontarkan oleh salah seorang petugas kepolisian sebelum akhirnya salah seorang petugas lainnya berteriak memanggil atas mereka. Mendengar teriakan itu kami semua dibuat terkejut dan kemudian berbondong-bondong pergi menuju arah teriakan tersebut.
Kami menuju halaman belakang rumah tersebut, dan ketika kami tiba beberapa orang polisi berdiri di antara sesuatu yang mereka tutupi dengan selembar kertas koran.
“kami menemukan mayat seorang anak perempuan di balik pot bunga Pak” kata salah seorang petugas polisi
Kami semua terkesiap mendengar semua yang terjadi, dan dengan spontan aku memeluk Bagus dengan sangat erat. Aku dibuat tidak bisa berkata apapun, sedangkan Bagus sudah menangis histeris dalam pelukanku. Dadaku terasa sesak, dan semua ini terasa sangat menyakitkan. Mas Hari kemudian memberanikan diri untuk memastian mayat tersebut. Sungguh aku berharap itu bukalanlah Mona. Tidak lama setelah melihat mayat tersebut, Mas Hari kembali ke arah kami dengan wajah tertunduk dan mengangguk pelan sebagai tanda jika mayat itu benarlah Mona. Mas Hari segera memelukku dan Bagus. Tanpa sadar air mataku pun menetes.
Aku manahan rasa sakit yang teramat sangat ketika mataku melihat sebongkah mayat milik gadis kecil yang semalam datang padaku dengan berlumuran darah. Penyesalan tiba-tiba datang menghampiriku, seandainya saja aku tidak membiarkan Mona pulang bersama dengan dua orang manusia laknat itu mungkin saja dia masih hidup sekarang ini.
Kasus ini selanjurnya ditangani oleh petugas kepolisian, termasuk jenazah Mona yang akan dilakukan outopsi untuk mengetahui penyebabnya. Dengan duka yang mendalam kami pun memutuskan untuk kembali ke rumah, dan menenangkan diri setelah semua kejadian buruk ini.
Sungguh malang nasib gadis malang itu. Ia datang kepada keluarga barunya dengan harapan akan mendapatkan kasih sayang yang tidak ia dapatkan, tapi kemudian ia malah mendapati hal yang mengerikan seperti ini. Berita buruk ini lantas dengan cepat tersebar, bahkan para wartawan berita televisi pun tidak luput untuk meliput peristiwa malang ini. Peristiwa ini pun sempat membuat orang tua Bagus cemas, dan mereka sempat memintaku untuk mengembalikan Bagus pada mereka. Hal itu terjadi karena mereka merasa takut jika hal buruk itu juga terjadi pada anak mereka. Aku yang sudah terlanjur mencintai Bagus lantas menjelaskan dan meyakinkan mereka, jika aku akan memastikan Bagus tidak akan mengalami hal buruk seperti yang dialami Mona.