To be Continued

To be Continued
Tiga



Sepanjang malam aku mendengarkan penuturan ibu mengenai perjuangan Mas Hari untuk mengetahui keadaanku.


“ingat Neng, masalah ini cukup Mamah yang tahu. jangan sampai orang lain tahu. Kalau Lia cerita masalah pernikahan Lia ke orang lain, sama artinya Lia mempermalukan suami Lia sendiri. Ya sayang ya. Baik-baik sama Hari. Pikir lagi alasan ia nikah sama dia, alasan Lia suka sama dia” kata ibu


Perkataan ibu terus berputar di kepalaku. Aku mencoba menurutiapa yang dikatakan ibu, menngingat alasan aku menikah dengannya dan juga memutar video miliknya yang membuat aku jatuh hati padanya.


Selama beberapa hari aku melakukan hal itu, bahkan ibu juga mengetahui tindakanku itu. Selama kondisi perasaanku sedang buruk karena hal itu, aku tidak begitu banyak berbicara meskipun dengan orang tuaku sendiri. Bahkan aku cenderung mengurung diriku agar tidak mendengar pertanyaan mengenai suamiku.


Beberapa hari berlalu, aku masih terus memutar video suamiku yang beredar di youtube. Ketika aku sedang memperhaikan tayangannya tiba-tiba saja Mas Hari Muncul dari pintu. Ibu menyambutnya dengan gembira bahkan memeluknya. Akan tetapi, aku hanya memberikan respon yang datar.


Ibu tersenyum padanya, seolah memberikan semangat padanya.


“Dek” sapanya


Aku hanya menatapnya dan sedikit memberikan senyuman padanya. Dia berdiri di hadapanku selama beberapa lama, sampai akhirnya aku menyadari jika dia menungguku untuk mengantarkannya ke dalam kamar.


Aku mendahuluinya berjalan. Ia meletakan barang-barang bawaannya sementara aku berdiri di balik pintu.


“gimana kabarmu Dek?” tanyanya


“baik Mas” jawabku singkat


“tapi kamu ko kelihatan lebih kurus Dek?”


Aku menatapnya tajam, dan berlalu meninggalkannya tanpa sepatah katapun. Di saat yang bersamaan ibu muncul dihadapanku. Sementara aku berlalu, ibu menghampiri Mas Hari.


“sabar ya Hari, Lia mungkin lagi bingung sekarang. Tapi Mamah yakin, Lia pasti sadar sama apa yang dia lakuin sekarang. Mamah Cuma minta supaya Hari sabar ngadepin Lia” kata ibu


“nggih Mah. Saya tahu sekarang Lia lagi kalut sama keadaan”


Di hari selanjutnya aku memutuskan untuk pergi ke kediaman nenek yang tidak begitu jauh dari kediaman ibu. Di sana aku seolah masuk ke dalam kawasan yang jauh dari kata modern. Bukan karena teknologi dan fasilitas, tapi mengenai pola pemikiran masyarakatnya.


Tidak seperti dugaanku, di sana aku diserbu banyak pertanyaan dari para tetangga nenek yang menanyakan tentang kehidupan pernikahanku.


“Mas Hari baik ko, dia juga sering banget nelpon, padahal dia sendiri sibuk kerja” kataku


Aku mengatakan seperti itu karena aku mengingat perkataan ibuku yang memintaku untuk tidak menceritakan permasalahan rumah tanggaku pada orang lain. Bahkan karena hal itu aku berusaha untuk bersikap seperti tidak pernah ada masalah.


“kalau udah gini mah tinggal punya anak kan? Suami kerja dapet duit. Neng mah tinggal enak-enaknya ya”


“tapi Neng bisa engga nanti ngurus anak ya, masih kecil nanti udah punya anak”


“ tapi gak apa-apalah, kan suaminya ada, banyak duit lagi. Tinggal uncang-uncang aja Neng mah ya”


Bertubi-tubi mereka mengujaniku dengan semua perkataan mereka. Aku hanya berusaha


tersenyum meski sebenarnya aku sangat kesal dan ingin membalas semua perkataan mereka.


“seneng lah punya suami banyak duit”


“permisi dulu ya, mau ke dalam” kataku dan bergegas pergi


Di dalam rumah aku berusaha mengendalikan emosiku. Tidak lama berselang Mas Hari datang menyusulku. Dia menyadari tatapan tajamku kepadanya. Dia menghampiriku.


“kita pulang ke rumah Mamah” kataku ketus


“tapi Mas baru sampai, gak baik kalau langsung pulang Dek. Setidaknya Mas nyapa dulu keluargamu”


“Terserah”


“Mas minta kamu tetap di sini. Temani Mas” katanya tegas


Aku diam dan menatapnya. Dia menggiringku keluar untuk menemui keluargaku yang lain. Aku berusaha sebaik mungkin untuk bersikap normal. Sampai pada suatu waktu datang seorang wanita setengah baya bertamu ke kediaman nenekku.


Rupanya dia tidak luput dari kabar pernikahanku. Dengan santai dia mengeluarkan banyak kata-kata yang menurutku terlalu berlebihan. Namun satu kalimat yang keluar dari mulutnya membuat emosiku tersulut.


“kunaon nikah muda keneh Neng? Cuan bisi tekdung Mak”


Áku dan Mas Hari terkejut. Hampir saja aku berteriak padanya, namun Mas Hari langsung menenangkanku dengan menggengam erat tanganku.


“Allhamdulilah kita tidak pernah berbuat seperti itu. Saya menikahinya karena saya memang menjadikannya isteri saya, bukan karena perasaan harus bertanggung jawab karena hal itu” kata Mas Hari


Wanita tua itupun seolah terbungkam dengan apa yang dikatakan Mas Hari.


“kalau begitu kami permisi dulu” kata Mas Hari dengan sopan


Aku dan Mas Hari pun memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah yang kala itu sedang kosong aku memakinya dengan sejuta luapan emosi.


“dengar Mas? Aku bahkan gak Cuma denger itu. Banyak orang yang bilang ini itu sama aku. Capek tahu mas aku dengernya. Ada yang bilang aku tekdung, matre, inilah itulah. Kamu ngerti gak sih”


“Dek, mas ngeri apa yang lagi kamu omongin”


“ngerti apa toh? Kamu gak ngerti apa-apa. jujur, aku takut sama kamu Mas, kamu kaya monster, kamu terus ngikutin aku. Aku takut sama kamu!” teriakku


Aku berlari dan membanting pintu kamarku kuat-kuat. Aku menangis tersedu-sedu, tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada suamiku.


Selama berhari-hari aku memikirkan apa kata orang lain. Aku terus berbaring sepanjang hari di kamar. Tidak tentu apa yang sedang aku pikirkan. Perkataan orang-orang sebelumnya selalu saja berada di pikiranku.


Selagi aku mengurung diriku dari orang-orang luar, Mas Hari berusaha untuk mendekatkan dirinya pada keluargaku. Dengan tulus dia membantu nenek ataupu kakekku. Dia tidak ragu untuk membersihkan kotoran kakekku yang sudah berusia lanjut.


Seperti yang terjadi pada hari itu. Ketika aku, Mas Hari, dan orang tuaku sedang berada di kediaman nenek. Hari itu pula seorang dari anak kakekku datang mengunjunginya. Nenek yang saat itu sedang penuh semangat menceritakan tentang pernikahanku dan Mas Hari. Namun respon yang diberikan wanita-anak kakek membuatku lemas seketika, yang memang pada saat itu kondisiku sedang tidak baik.


Banyak hal lagi yang dikatakan wanita itu yang berhasil membuatku lemas. Aku hanya bisa duduk bersandar sembari berusaha mengendalikan nafasku yang terasa semakin habis. Tapi, karena tidak tahan bersama dengan wanita itu aku berusaha untuk bangkit dan meninggalkannya.


Aku masuk ke dalam kamar nenek dan menutupnya. Di dalam sana air mataku jatuh bercucuran dengan urat leherku yang mengeras.


Tiba-tiba nenek datang.


“Kenapa Neng?” tanyanya dengan nada panik


“Lia gak suka sama apa yang diomonginya, rasanya pengen ia gampar tapi dia anak kakek”


Aku mengatakan tentang perasaanku yang kalut.


“Hari, sini sebentar”


Nenek memanggil Mas Hari yang membuatku menjadi semakin lemas.


“Kamu temenin Lia ya, di sini. Udah kamu di sini aja” kata nenek


Mas Hari mengindahkan perkataan nenek. Setelah nenek pergi ia berjalan menghampiriku dan memegang memegang lututku yang tergantung karena tempat tidur yang tinggi.


Aku menatapnya tajam dengan mata yang berkaca-kaca.


“aku capek, aku mau pulang. Bawa aku pulang atau aku gak bisa ngendaliin emosiku” kataku dengan nada datar


“Yo wis, kita mulih”


Kami meninggalkan tempat nenek. Semenjak kejadian itu kondisiku semakin menurun. Aku hanya bisa berbaring di atas tempat tidurku selama beberapa hari.


Awalnya aku hanya merasa pusing dan mual, tapi lama kelamaan aku sampai memuntahkan semua yang aku makan. Tidak sedikitpun makanan yang berhasil melunjur ke dalam perutku.


Malam hari, ketika semua orang sudah tertidur termasuk Mas Hari yang sudah pulas di sampingku tiba-tiba saja aku tersentak bangun. Kepalaku , bahkan seluruh tubuhku terasa sakit dan rasanya aku akan mengeluarkan sesuatu dari dalam perutku.


Untung saja Mas Hari langsung terbangun dan melihat keadaanku yang demikian. Dia berlari keluar untuk mengambil kantung pelastik hitam dan ia pun membantu memijat bagian punggungku. Keringat dingin keluar dari tubuhku malam itu.


Mas Hari terlihat panik saat itu, dia mencoba melakukan yang terbaik untukku. Karena kondisiku tidak kunjung membaik Mas Hari membangunkan ibu. Dengan sigap ibu melakukan pertolongan padaku. Dia mengerok bagian pungungku hingga timbul gari-garis merah kehitaman.


Air mata karena berusaha mengeluarkan isi perutku yang tidak tentu itu tidak terbendung. Aku terisak karena kondisi tubuhku. Setelah ibu selesai mengerok bagian punggungku dia langsung membuatkan teh manis hangat untukku.


“apa gak perlu ke dokter Mah? Kasian Lia” kata Mas Hari


Aku menolak dengan berusaha menggelengkan kepalaku walau terasa sakit.


“temani aja dia”


Ibu kembali ke dalam kamarnya, semua perlahan kembali normal. Setelah semua meninggalkan kami aku berusaha untuk membuat diriku nyaman dengan posisiku, namun tak kunjung berhasil.


Mas Hari duduk di sampingku dan entah dengan dorongan siapa dia meletakanku di dalam pelukan tubuhnya yang berisi dengan banyak daging dan lemak, namun padat. Entah karena apa aku merasa nyaman dalam posisi seperti itu dan aku pun bisa tertidur nyenyak.


Sakitku yang sudah beberapa hari itu membuat beran badanku menurun drastis, dan selama itu pula Mas Hari sibuk mengurusku.


Siang harinya ibu datang.


“lihat Lia? Gimana sayangnya Hari sama kamu? Gimana khawatirnya dia sama kamu? Apa lagi yang kamu butuh? Buka mata Lia sayang, jangan terus kaya gini?”


“Mah, Lia lagi gak mau bahas ini. Lia sakit jugaa karena masalah ini”


“terus mau sampai kapan Lia? Kamu bukan anak-anak lagi. Gak akan kamu nemu laki-laki kaya Hari. Mamah udah capek ngomongin ini sama kamu yang keras kepala. Tapi Mamah gak mau masa depan kamu hancur sayang. Jangan bikin masa depan Lia hancur, nikah cukup sekali lia. Kamu udah dewasa” kata mamah


Benar apa yang ibu katakan. Tidak seharusnya aku bersikap seperti ini pada Mas Hari, tapi aku juga belum bisa menerima dia sepenuhnya dalam hidupku. Sejak saat itu aku mulai mencoba membuka pikiranku agar aku bisa menerima kenyataan tentang aku dan dirinya.


Saat malam kembali menjelang, setelah aku tertidur pulas tiba-tiba aku kembali terbangun. Kali ini bukan karena kondisiku yang tidak baik. Tapi karena Tuhan membangunkanku secara tiba-tiba.


Ketika itu aku berkesempatan menatap wajah suamiku lekat-lekat dengan cukup lama. Aku menatap setiap bagian wajahnya. Tidak kusangka air mataku menetes membasahi wajahku. Di saat yang sama pula aku benar-benar merasa bodoh dan bersalah karena sudah bersikap buruk padanya selama ini.


Aku telah buta karena tidak melihat ketulusan dan kebaiannya. Selama ini aku hanya diselimuti oleh ketakutan yang kubuat sendiri, sebuah ketakutan yang tidak beralasan.


“Tuhan, aku sudah bersalah padanya. Aku menyesal Tuhan. Aku tidak ingin kehilangan dia” gumamku dalam hati


Aku memeluk tubuhnya yang sedang terbaring tiba-tiba, sontak hal itu membuatnya terbangun dan terkejut dengan apa yang aku lakukan.


“Dek kamu kenapa toh? “ katanya


“Mas, maaf..maaf” kataku dalam pelukannya


Dia menarik tubuhku dan menatapku lekat-lekat.


“ku kasar Mas, aku salah” kataku


Dia memelukku erat tanpa sepatah katapun terucap sebelumnya.


“gak apa-apa Dek. Mas ngerti, Mas Cuma bisa bersyukur kalau kamu udah membuka diri kamu untuk Mas” katanya dengan lembut


“Mas berterimakasih sama Gusti Allah, karena akhirnya doa Mas terkabul” sambungnya.


Malam itu aku benar-benar mengaku bersalah atas apa yang aku lakukan padanya. Benar seperti yang ibu katakan tentang kebaikannya, dia sama sekali tidak marah dengan apa yang telah aku perbuat padanya.


***


Itu adalah kisahku di awal masa pernikahanku. Ketika aku labil dengan pernikahanku, ketika aku takut padanya, ketika aku merasa seperti di teror, aku mendapat tekanan dari lingkunganku yang mempertanyakan alasan dari pernikahanku. Bahkan semua itu hampir membuatku depresi jika aku tidak cepat menyadari sesuatu hal yang selama ini aku lakukan adalah salah.