
Selama enam jam penuh Winda berbincang dengan Pak Susilo mengenai kasus kekerasan dalam rumah tangga yang di alaminya. Tapi selama itu pula tidak satupun dari kani yang bisa menemuinya.
"Hari, dia harus segera melakukan visum sebagai salah satu bukti yang kuat atas kekeras yang menimpanya"
"Baikah, aku akan mengantarnya untuk visum"
"Segera berikan hasil visum secepatnya"
"Tentu. Terima kasih sudah berkenan untuk datang"
"Iya, kami permisi"
Hari itu terasa sangat melelahkan untukku. Bahkan karena hal itu aku bahkan tidak sempat bermain bersama dengan Retnayu dan Rangga. Ketika malam tiba aku memutuskan untuk menghubungi Sherly, aku juga mengundangnya datang besok untuk membicarakan masalah kasus yang akan aku serahkan padanya. Barulah setelah aku membujuknya akhirnya dia setuju untuk datang dan membicarakan perihal kasus ini denganku.
Pada saat yang sama aku melihat Mas Hari baru saja selesai membersihkan dirinya. Aku berjalan menghampirinya dan kemudia memeluknya dari belakang.
"Kenapa Dek?"
"Diam dulu Mas. Aku cuma pengen meluk kamu aja sebentar"
"Yo wis"
Aku merasa jika hal seperti ini sudah lama tidak aku lakukan. Aku yang sibuk dengan pekerjaanku membuatku tidak bisa berbagi waktu lebih banyak dengan suamiku sendiri. Aku merasa bersalah atas itu. Mas Hari pun memegang tanganku yang melingkar di dadanya.
Tidak lama setelahnya diq berbqlik dan menggendongku.
"Mas..." kataku terkejut
"Kenapa? Sudah lama banget kita gak berduaan"
Aku menatap Mas Hari dan kemudian mencium keningnya.
"Aku janji, mulai sekarang aku akan lebih punya banyak waktu untuk kamu Mas"
"Janji...?"
"Aku janji Mas..."
Di hari selanjutnya aku pergi membawa Winda menuju rumah sakit untuk melakukan proses visum sebagai bukti. Hari ini aku hanya pergi berdua bersama denganya lantaran Mas Hari harus bekerja hari itu.
Selagi Winda melakukan prosedur Visum dengan dokter yang menanganinya, aku hanya bisa duduk meunggu di ruang tunggu. Tidak banyak yang bisa aku lakukan selain memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang atau hanya memperhatikan dan memainkan ponselku saja.
Namun pada saat itu tiba-tiba aku dibuat terkejut sesaat setelah memeriksa pesan masuk pada ponselku.
Seseorang dengan nomor yang tidak dikenal olehku mengirimkan sebuah gambar. Gambar itu tidqk lain adalah gambarku sendiri yang sedang duduk di ruang tunggu. Artinya foto itu baru saja diambil.
Aku langsung melihat kesekelilingku untuk mencari tahu siapa gerangan yang sudah mengambil fotoku. Tapi todak ada satupun orang yang mencurigakan saat itu.
Tidak lama setelah berselang sebuah pesan singkat masuk ke ponselku.
"Jangan pernah ikut campur jika tidak ingin orang tua dan adikmu celaka"
Pesan yang sangat mengerikan. Aku berisaha untuk menelponnya tapi sama sekali tidak bisa. Aku tidak bisa menghubunginya. Pesan singkat yang lain kemudian datang.
"Jangan coba-coba membertitahu orang lain jika ingin mereka selamat"
Bahkan nomor itu juga mengirimkan gambar keluargaku yang sedang berkumoul di rumah. Aku terduduk lemas. Jantungku berdegup dengan kencang. Aku sama sekali tidak mengerti tapi aku merasa takut.
Segera aku menghubungi ibuku. Aku menanyakan keadaannya dan anggota keluarga yang lain.
"Kita gak apa-apa. Emangnya kenapa?"
"Gak ada Mah. Ia cuma mau nanyain keadaan kalian aja. Oya, jangam biarin Rehan sama Ragil main jauh-jauh dulu ya"
Aku memitis sambungan telpon itu. Aku merasa jika tubuhku sudah mengekuarkan keringat dingin hingga membuatku lemas.
Tapi satu hal yang membuatku tidak mengerti adalah kalimat "jangan ikut campur". 3ntah apa yang dia maksud dengan itu. Tapi entah kenapa aku merada jika ini ada hubungannya dengan suami Winda.
Meski awalnya aku merada takut, tapi aku kembali memfokuskan diri dan tidak begitu memusingkan pesan singkat itu. Aku hahya bisa mensugesti dikirku sendiri jika orang yang malakukan itu adalah orang iseng yang tidak bertanggung jawab.
Beberapa lama sudah berlalu. Winda oun selesai dengan prosedurnya, aku segera membawanya pergi meninggalkan rumah sakit itu.
Dalam perjalanan aku melontarkan pertanyaan tentang kehidupannya dan suaminya.
"Dia orang yang super tempramen Ya. Gua gak nyangka banget"
"Lu nikah sama dia karena cinta atau ada unsur yang lain?"
"Maksud Lu?"
"Jawab aja Da. Gua cuma mau tau"
"Sebenernya, Gua gak cinta sama dia"
"Terus kenapa Lu mau nikah sama dia?"
"Dia ngancem Gua Ya"
"Hah? Serius Lu?"
"Kita pacaran tapi jujur waktu itu Gua jadiin dia cuma plampiasan. Gua gak serius. Tapi ternyata dia gak mau ngelepasin Gua waktu Gua minta putus. Bahkan dia maksa Gua untuk nikah sama dia. Dia bilang kalau Gua gak mau nikah keluarga Gua bakalan celaka. Gua takut Ya makanya Gua setuju buat nikah sama dia"
"Lu gak lapor polisi atau gimana gitu?"
"Gak bisa. Dia ngancem Gua. Bahkan dia tau alamat rumah keluarga Gua. Padahal Gua gak ngadih tahu. Dia kirim foto mereka. Gimana Gua bisa ngadu. Gua gak tahu mau cerita ke siapa waktu itu. Karena Gua ngerasa dia ada di mana-mana, dia tahu Gua pergi kemana, sama siapa, ngomongin apa"
Sesaat aku kembali teringat dengan pesan singkat yang baru saja aku terima. Tipe yang sama seperti yang dilakukan kepada Winda. Mamah....
"Gua gak nyangka Da..."
Pluungg....
Pesan singkat kembali muncul di layar ponselku. Aku membukanya, pesan itu berasal dari nomor yang sama. Nomor itu mengirimkan gambar bagian belakang mobilju yang sedang berjalan.
Spontan aku menghentikan mobilku. Untung saja saat itu sedang tidak begitu banyak kendaraan yang melintas. Aku melihat ke belakang tapi aku tidak menemukan mobil lain atau kendaraan apapun yang berhenti dibelakangku.
"Kenapa Ya?"
Aku terkejut, "gak apa-apa. Gua cuma tiba-tiba gak enak badan aja"
"Mau gantian nyetir?"
"Gak usah. Gua masih bisa ko"
Aku kembali melanjutkan perjalananku menuju rumah. Dan ketika kami toba aku langsung bergegas masuk tanpa memperdulikan Winda.
Aku segera pergi menuju kamarku. Aku menutup pintunya dan kemudian duduk di atas tempat tidurku. Aku memikirkan tentang pesan singkat yang baru kuterima dan siapa sosok dibaliknya.
Di saat yang sama ponselku kembali berbunyi. Sebuah gambar kembali dikirkan oleh nonor itu. Gambarku dan Winda yang baru keluar dari dalam mobil.
"Jangan ikut campur!"
Aku terpana. Aku berlari keluar kamar dan kembali ke lantai satu. Aku meminta Mang Ujang Ujang ubtuk menutup pagar rapat dan tidak membiarkan tamu tidak dikenal masuk tanpa izin dariku. Setelah iti aku berlari ke kamar Winda, aku memintanya untuk tidak pergi kemanapun.
"Ya lu gak-apa kan? Lu panik amat"
"Gua gak apa-apa"
Segera aku meninggalkan Winda. Tapi langkahku kembali terhenti saat Mba Yayu memanggilku.
"Dek? Kamu kenapa?"
"Aku gaka apa-apa Mba"
"Yakin kamu?"
"Iya. Aku ke atas dulu ya"
Kembali aku melanjutkan langkahku. Aku kembali mengurung diri di dalam kamar. Aku menutup rapat pintunya, bahkan aku membatalkan janji temu dengam Sherly hari itu.
Aku menghabiskan seharian di dalam kamar. Tanpa keluar dan hanya berbaring memikirkan semua hal tentang nomor dan ancaman itu. Bahkan ketika malam kembali menjelang aku juga tidak ikut menikmati makan malam bersama dengan yang lain, meski sudah banyak yang datang membujukku.
"Dek..."
Suara Mas Hari tiba-tiba terdengar. Aku segera membuka kedua mataku.
"Kamu sakit? Kata Ibu kamu juga gak makan malam sama mereka. Ada apa?"
"Aku gak apa-apa Mas. Aku cuma gak enak badan aja"
"Gak mau cerita sama Mas mu?"
"Aku cuma meriang aja Mas"
"Terus kenapa kamu minta Mang Ujang untk nutup pagar?"
"Mas, kan memang seharusnya kaya gitu"
"Ya sudah. Sekarang kamu makan ya? Mas sudah bawakan makan malam untukmu"
Mas hari menghidangkan makan malam yang dibawanya di depanku. Tapi saat itu aku sama sekali tidak berniat unntuk makan. Bahkan selera makanku pun tidak ada.
"Ayo dong dimakan"
Dengam sangat terpaksa aku memakan makanan itu, meski hanya sedikit yang bisa kutelan. Di waktu yang sama pula sebuah pesan kembali muncul di layar ponselku beserta dengan isinya.
"Dia milikku"
Aku hanya melirik pesan itu dan kemudian segera membalikan ponselku. Aku kembali bersikap seperti biasa seolah tidak ada yang terjadi karena aku takut Mas Hari menyadarinya.
"Udah Mas, aku mau tidur aja"
Selama beberapa saat Mas Hari menatapku.
"Ya sudah. Sekarang kamu tidur"
Aku segera merebahkan diri dan kemudian membalikan badanku membelakangi Mas Hari. Hari yang menyeramkam baru saja aku lalui. Entah apakah esok semua ini akan menjadi mimpi burul belaka atau bekelanjutan.
Keesokan harinya, aku minta Sherly untuk datang ke rumah pagi ini. Dan ketika jam menunjukan pukul sepuluh pagi Sherly tiba dirumahku.
Dia seorang wanita yang cantik dan juga pintar. Bahkan banyak orang yang menagtakan jika Sherly adalah jiplakanku dalam hal mengurus kasus. Memang benar, dia memang sangat pintar dan cekatan.
Dulu aku sendirilah yang membimbing Sherly dalam menangani sebuah kasus, karena alasan itu pula kini kemampuannya tidak jauh beda denganku. Bahkan aku merasa dia jauh lebih unggul dariku.
"Hallo Mba apa kabar?" kata Sherly
"Aku baik. Gimana sama kamu sendiri?"
"Aku baik banget Mba"
"Oy Sher, kamu tahu kan alasanku minta kamu datang?"
"Iya Mba. Tapi kenapa Mba mau ngundurin diri sih?"
Sembari berbincang aku membawa Sherly ke samping rumah, tepi kolam renang untuk berbicara lebih privasi.
"Aku udah cape Sher, sekarang aku cuma mau di rumah aja. Ngurus keluarga. Sekarang aku gak mau terlalu sering keluar rumah ngurusin kasus lagi"
"Ihh tapi kan sayang Mba, Mba tu udah dikenal banyak orang"
"Ya sekarang giliran kamu Sher, kamu yqng harus gantiin Mba. Ini berkas kasus yang dikasih bos kemarin. Mba tahu kenapa dia ngasih kasus ini ke Mba, dia mau supaya Mba ngak ngundurin diri"
"Terus.."
"Mba mau kamu yang nanganin kasus ini ya. Mba udah gak bisa mikir lagi, Mba udah banyak masalah yang harus diurus"
"Sok sokan masalah. Padahal baik-baik aja"
Aku tersenyum mendengar celotehannya.
"Terus gimana sama bos nanti?"
"Eeh kamu kan dibawah asuhan Mba, berarti kanu juga berhak untuk kasus ini. Kalau bos marah biar Mba yang urus. Kamu cuma perlu selesaikan kasus ini aja"
"Mba udah sempet baca?"
"Belum, gak minat Mba bacanya"
"Diih...?"
"Ya udah ah. Mba cuma mau itu dari kamu. Kamu baca dulu kamu pelajari dulu. Kalau ada yang gak kamu ngerti kamu bisa tanya Mba"
"Nanti Mba kadih referensinya..." tukasnya
"Ya memang harus gitu. Kamu harus banyak baca"
"Ya udah, nanti aku pelajari dulu ya. Sekarang aku pulang nih"
"Buru-buru amat? Mau jalan sama pacar?"
"Pacar dari mana?"
"Ya udah kalau gitu disini aja dulu. Kita makan siang bareng"
"Baru jam berapa Mba. Tapi ya udahlah, ada banyak hal yang mau aku tanyain juga"
"Apa...?"
"apa aja"
"Ya udah. "
"Dek..."
Tiba-tiba terdengar suara Mba Yayu memanggilku.
"Iya Mba, ada apa?"
"Boleh minta tolong jagain Rangga? Mba mau ngurus Ayu, dia demam"
"Demam? Sejak kapan?"
"Sejak tadi pagi, Mba mau bawa dia ke rumah sakit"
"Oh ya udah. Minta Mang Ujang aja anterin ke sana. Rangga biar aku yang jagain"
"Terima kasih ya. Rangga sebenernya masih tidur di kamar Mba"
"Oh iya"
"Mba pergi dulu ya"
"Hati-hati Mba..."
Mba Yayu segera pergi sembari menggendong Retnayu.
"Rangga, Ayu?"
"Mereka keponakanku?"
"Hee?"
"Keponakannya Mas Hari. Masih kecil-kecil. Jadi aku sering bagi tugas sama Mba Yayu"
"Oh gitu"
Kami berdua bergegas pergi menuju lantai dua. Sembari berbincang kami melangkahkan kaki menaiki satu persatu anak tangga yang cukup banyak.
"Mba, aku pegen tahu alasan Mba berenti kerja, selain pengen jadi isteri yang baik. Lsrena aku yakin ada faktor lain gitu"
Aku menyeringai, "sejak aku kehilangan kakekku, Rumah Bimbingan, dan Mey semangatku bekerja udah berkurang. Kamu tahukan dulu aku gimana? Semua kasus aku tangani, tapi sejak itu aku pilih-pilih bahkan kadang aku lebih banyak milih kasus yang datang langsung bukan dari kantor"
"Gak pernah Mba pergi ke Rumah Bimbingan lagi?"
"Jarang. Aku takut lihat anak-anak itu. Aku pasti gak akan bisa jawab pertanyaan mereka"
"Mereka pasti kangen banget sama Mba"
"Entahlah. Aku cuma bisa berharap kalau mereka semua tetap bahagia sekarang"
"Aamiin, oya Mba.."
"Apa?"
"Tadi sebenernya aku lihat cewe sebelum naik tangga. Dia siapa? Mukanya bonyok, bukan hantukan?"
"Hantu palamu. Dia temanku Winda. Dia korban KDRT, udah beberapa hari ini dia ginep disini. Dia gak berani pulang.
"Mba, udah lapor polisi."
"Udah, cuma tinggal proses aja. Tapi ya itulah suaminya Psikopat"
"Maksudnya..?"
Aku terdiam sesaat, "udahlah lupain, gak baik ngomongin dia"
"Ehh Mba, kebiasaan selalu berenti di tengah jalan" katanya dengan kesal
"Sekarang ceritain gimana hubunganmu sama pacarmu?"
"Ish Mba ini. Pacar dari mana coba? Gebetan aja kagak gablek"
"Itu Reno. Kamu jangan phpin dia dong Sher"
"Kemayu gitu, ihh ogah"
"Jangan gitu, gak baik. Nanti kamu malah suka sama dia gimana"
"Gak akan pernah! Mba..."
"Mmm"
"Aku mau tany yang lebih pribadi boleh?"
"Asal gak neko-neko aja"
"Gak akan"
"Ya sudah, apa?"
"Gimana rasanya atau faktanya waktu Mba nimah pertama kali?"
"Emang Mba nikah berapa kali? Gak gampang jalaninnya. Awal-awal Mba srmpat hampir depresi"
"Hah? Iya Mba?"
"Karena kaget sama perubahan keadaan sih. Kamu gak ada niatan cepet nikah?"
"Ah belom kepikiran"
"Mau sampe kapan? Umurmu wis tuir."
"Belum ada yang pas Mba"
"Kamunya aja kali yang banyak milih"
"Haruslah. Harus selektif dalam hal kaya gini"
"Ya udah, terserah kamu"
Ditengah perbincangan kami tiba-tiba suara tangis Rangga terdengar. Segera aku menghampirinya.
Ketika aku tiba, aku melihat wajah Rangga sudah memerah karena tangisannya. Segera aku menggendongnya untuk menenangkannya dan aku pun membawanya keluar.
Melihat kehadiran Rangga, spontan Sherly langsung berteriak, karena memanh ia sangat menyukai anak kecil terutama yang masih seusia Rangga.
"Lucu banget Mba,"
Rangga sudah mulai tenang, karena kini mulutnya sudah tersumbat oleh botol susu.
"Ya ampun Mba gemes aku..." katavSheroy sembari memainkan tangan Rangga
Dia terlihat bagaia saat itu. Tidak henti-hentinya Sherly menggoda Rangga yang sedang meminum susu. Bahkan setelah selesai pun fokus Sherly tetap tertuju pada Rangga.
Plunggg....
"Lepaskan dia. Jangan ikut campur atau keluargamu MATI"
Spontan aku melempar ponselku. Wajahku berubah pucat seketika.
"Kenapa Mba?"
"Gak. Aku gak apa-apa. Cuma ada orang iseng ngirim jumpscare aja"
"Oh gitu"
Seperti hari sebelumnya aku berusaha untuk mengendalikan diriku. Aku berusaha menutupi ketakutanku, meski sebenarnya aku tidak bisa karena orang tersebut berani mengancam keluargaku.
Sebenarnya aku ingin menceritakan masalah ini kepada Mas Hari, tapi aku tidak berani melakukannya karena aku takut jima irang tersebut berani melukai keluargaku.
"Mba, kayaknya aku harus pamit duku deh"
"Loh ko buru-buru banget? emang mau kemana?"
"Biasalah, aku juga udah lama banget disini"
"Ya udah. "
Sherly sudah pergi mrninggalkan rumah. Kini hanya ada aku dan Rangga yang ada dalam gendonganku.
Lantaran merasa jenuh hanya berdua bersama dengan Rangga, aku pun memilih untuk turun ke lantai satu bersama dengan Rangga.
Aku mengunjungi ibu yang sedang berada di dalam kamar.
"Temanmu sudah pulang?"
"Sudah Bu.."
"Mba Yu mu sedang pergi ke rumah sakit sama Retnayu. Ibu jadi khawatir sama Retnayu"
"Ibu gak usah khawatir. Insyaallah Retnayu baik-baik aja"
"Mudah-mudahan Gusti. "
Aku membiarkan Rangga berkeliaran di dalam kamar ibu yang luas. Dia sama seperti anak yang lainnya yang seusia dengannya. Dia tumbuh menjadi anak yang aktif dan pintar.
Ditengah kebersamaan kami, tiba-tiba pintu kamar terketuk. Aku membukanya yang tidak lain adalah Winda.
"Kenapa Da?"
"Gua jenuh ya, sepi di dalam kamar terus"
"Oh gitu.."
"Yo wis, sini Ndok, kita ngumpul bareng. Rumah memang lagi sepi"
Winda pun bergabung bersama kami. Aku nelihat dia berjalan ke arah Rangga dan kemudian bermain bersamanya. Akan tetapi melihatnya tertawa membuat hatiku sakit.
Entah kenapa denganku, tapi sejak teror yang aku terima yang melibatkan kekuargaku membuatku semakin tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku terlibat dalam masalah ini.
"Bu, hari ini aku mau pergi belanja bulanan, aku juga mau bawa Rangga. Ibu mau titip sesuatu?"
"Engga Cah Ayu. Ibu gak mau apa-apa sekarang"
"Atau Ibu mau makan apa?"
"Ibu mau sayur asem bikinan kamu sama tempe penyet"
"Ya sudah, nanti aku sekalian beli bahan bahannya"
"Kamu pergi bawa Mba Yati biar gak repot nanti"
"Iya Bu."
"Ya Gua ikut ya"
"Jangan. Jangan Da, selama polisi masih ngurus kasus Lu, Lu haris tetap disini suapaya suami Lu gak liat Lu"
Winda terdiam. Jujur itu adalah nada suara terkasar yang pernah aku ucapkan kepada Winda semenjak ia berada di rumahku.
"Maaf Da, Gua gak tahu kenapa sama Gua"
Aku segera menggendong Rangga dan membawanya keluar. Aku meminta Mba Yati untuk bersiap, dan begitu pula denganku.
Tidak berselang lama kami pun sudah siap. Aku dan Mba Yati segera masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Mang Ujang menuju superkarket terdekat.
"Kita beli apa Bu? Keperluan dapur masih banyak"
"Kita beli apa aja disana"
Ya, pergi berbelanja sebenarnya adalah alasanku saja untuk menghindari Winda. Aku benar-benar tidak sanggup melihat wajahnya.
Untung saja jalanan kota jakarta tidak begitu padat sehingga kami tidak perlu berlama-lama berada di dalam mobil.
Setibanya kami di super market Mba Yati langsung mengambil sebuah troly, sedangkan aku menggendong Rangga yang kini kembali tertidur.
Kami mulai menyusuri setiap lorong. Barang pertama yang kami beli adalah buah dan sayur, laku kemudian beralih ke bahan yang lainnya.
Tidak lama setelahnya Rangga kembali terbangun. Awalnya dia bingung dengan keadaan sekitar yang ramai tapi kemudian dia mulai bisa mengkondisikannya. Dia mulai melirik setiap makanan gang ada di kiri kanannya.
Aku juga membuatkan Rangga berjalan sendiri, sedangkan aku mengikutinya di belakang ataupun disampingnya.
Kelucuannya benar-benar menjadi obat untukku. Seketika kesedihan hatiku terobati setelah melihat tingkahnya.
Dia memegang setiap makanan dan kemudian terdiam sejenak tapi kemudian meninggalkan makanan itu.
Setelah mulai merasa lelah, Rangga mulai nerengek meminta untuk kembali berada dalam gendongan. Aku menggendongnya dan kami mulai menelusuri kembali setiap lorong membeli beberapa keperluan.
Ditengah keasikan kami yang berbelanja, bahkan tidak hanya berbelanja keperluan dapur, tiba-tiba ponselku berdering yang tidak lain adalah telpon dari Mas Hari.
"Drk kamu dimana ko rame?"
"Aku lagi di supermarket Mas sama Rangga"
"Udah selesai?"
"Belum sih Mas, rencana aku mau cari baju buat Rangga. Kalau kamu udah selesai kerja kamu datang Mas"
"Yo Wis, sekarang Mas kesana"
"Kalau gitu nanti aku kirim tempatku nunggu ya"
Aku kembali menutup panggilan itu.
"Mba Yati, Mba pulang aja sama Mang Ujang sekalian bawa semua belanjaannya. Nanti kalau ibu tanua, bilang aja aku pulang sama Mas Hari"
"baik Bu. Kakau gitu saya puoang sekarang Bu"
"Iya, hati-hati ya"
Kini yang tersisa hanya aku dan Rangga. Untung saja hari ini dia tidak rewek. Kami berdua oun bergegas mencari tempat untuk beristirahat sembari menunggu kedatangan Mas Hari.
Selagi menunggu itu aku hambiskan dengan bermain bersama Rangga yang kini tengah asik bermain ditempat permainan anak. Anak kecil itu sangat gembira. Bahkan dia menyeringai tiada henti.
Setelah sekitar tiga puluh menit berlalu, Mas Hari pun tiba. Dia langsung menghampiriku yang sedang duduk disamping tempat permaianan. Dia memeluk dam menciumku dengan penuh kehangatan.
"Mana Rangga?"
"Itu di dalem. Dia gak mau keluar"
Mas Hari tertawa, "sekarang mau cari apa lagi?"
"Aku mau cari baju buat Rangga sama Retnayu. Kayaknya lucu deh"
"Ya udah ayo"
"Mas gak mau minum dulu gitu?"
"Gak usah"
"Iyalah, biar isterinya bisa cepet selesai brlanja terus pulang"
"Dih, Mas gak bilang gitu ya. Kamu aja punya pikirannya gitu"
"Lah emang toh?" kataku sembari tertawa
Mas Hari segera meraih Rangga dan membujuknya untuk keluar. Tentu saja Rangga histeris saat itu karena dia enggan meninggalkan permainannya.
Kini Rangga sudah berada dalam gendongan Mas Hari. Meski masih terisak tapi setidaknya dia sudah jauh lebih tenang dari pada sebelumnya.
Kami bertiga mulai menelusuri banyak toko anak-anak. Aku masuki setiap toko tersebut untuk menemukan pakaian yang cocok untuk Rangga.
"Mas bagus yang mana? Merah atau Hitam?"
"Yang merah aja, Rangga kan putih"
"Ya udah, aku ambil yang merah ya Mba."
Aku kembali melihat semua baju anak-anak yang tergantung.
"Mas untuk Retnayu yang mana? Aku bingung saking banyaknya"
"Ambil aja baju yang enak bahannya terus bisa dipakai banyak acara"
Aku segera mengambil beberapa pasang oakaian untuk Retnayu dan Rangga. Tidak hanya itu aku juga membelikan beberapa aksesoris rambut untuk Retnayu, serta sepatu untuk mereka.
"Dek, coba dulu sepatunya. Adeknya disini dulu Mami capek ngejarnya"
Aku menjadi maruk saat harus membeli pakaian dan aksesoris untuk anak-anak. Setelah mendapatkan semua, aku pun memilih untuk pulang, hari pun sudah mulai sore. Ditambah lagi Rangga yang sudah mulai bosan.
"Mas dengar Retnayu sakit?" tanya Mas Hari saat kami dalam perjalanan
"Iya, dia demam makanya Mba Yayu bawa dia ke rumah sakit"
"Semoga aja dia gak apa-apa"
"Aamiin..."
Sepanjang hari itu terasa sangat melelahkan tapi juga sangat menyenangkan bagiku karena aku bisa pergi bersama Mas Hari dan Rangga, hanya saja Retnayu yang tidak ikut membuatku sedikit sedih.
Saat kami tiba aku segera mrnghampiri Retnayu dan memberikan semua barang-barang miliknya. Tapi karena kondisinya yang sedang tidak baik membuatnya sangat tidak bersemangat dengan belanjaan dan aksesoris yang aku berikan untuknya.
Pada saat malam tiba, ketika aku dan Mas Hari hendak tertidur tiba-tiba pintu kamar kami seperti ada yang mengetuk dan berulang kali sesorang memanggil namaku.
"Loh Mba Yayu kenapa?"
"Maaf ganggu Dek. Tapi Retnayu nangis terus, dia pengen tidur sama Mami"
"Ya ampun. Sekarang dimana?"
"Di kamar sama Mas Indra"
Aku segera prrgi menuju kamar Mba Yayu dan melihat Retnayu yang terisak.
"Ayu sayang kenapa? Kenapa nangis? Mau tidur sama Mami iya?" kataku
Aku segera mengambil alih gendongan Retnayu dari Mas Indra.
"Ya udah, malam ini Retnayu tidur sama Mami, tapi jangan nangis lagi dong ya?"
"Maaf ya Dek, jadi ngerepotin" kata Mba Yayu
"Gak apa-apa Mba, aku bawa Rernayu ke kamar ya? Kalian tidur aja"
Aku membawa Retnayu ke dalam kamarku dan membaringkannya di atas tempat tidurku.
"Kenapa toh?"
"Dia pengen tidir sama aku Mas"
"Ya Allah sampe segitunya. Udah cup Mami kam udah disini"
"Udah ya, sekarang Ayu tidur, Mami temenin disini"
Aku membelai kepalanya dan berusaha membuatnya tenang. Tidak lama berselang akhirnya dia pun bisa tertidur pulas .
***
Beberapa hari sudah berlalu. Keadaan rumah sudah banyak berganti suasana, bahkan kini Retnayu sudah kembali puluh. Akan tetapi kondisiku sendiri semakin tertekan. Teror terus saja menghantuiku.
Hari ini peneror itu mengirimkan foto nenek dan adikku yang sedang bekendara motor.
"Usir dia pergi. Atau mereka celaka saat ini juga" katanya
Aku yang panik dan ketakutan berusaha untuk menghubungi peneror itu. Aku berusaha menelponnya tapi sama sekali tidak bisa.
Dengan kepanikan dan ketakutan yang luar biasa aku berlari meninggalkan kamarku dan pergi menuju kamar Winda.
Tanpa berbasa basi aku mengusirnya pergi.
"Ya, Gua harus kemana?" katanya lirih
"Lu bisa pulang ke rumah orang tua Lu Da. Tapi yang jelas Lu gak disini lagi"
"Ya gimana kalau suami Gua liat Gua?"
"Mang Ujang akan nganter Lu pulang. Lu pasti aman"
"Ya please jangan usir Gua Ya"
"Winda! Gua udah bioang Gua gak mau liat Lu lagi. Sekarang Lu pulang"
Keributan yang aku ciptakan mengundang selurih anggota keluargaku datang menghampiri. Sekilas aku melihat mereka terkejut dengan apa yang aku lakukan, terutama Mas Hari.
"Dek, kamu apa-apaan sih?"
"Lu bisa pergi sekarang Da. Lu tinggalin rumah Gua sekarang juga"
"Ya kenapa Lu kaya gini Ya?"
Ibu yang merasa iba kepada Winda langsung menghampiri dan memeluknya. Ibu menenangkan Winda yang terisak dan mungkin sakit hati atas perlakuanku.
Jujur aku tidak tahan dengan keadaan itu. Sama seperti Winda, aku pun merasa sakit tapi sepertinya akulah yang lebih tersiksa saat itu.
Aku pergi meninggalkan tempat itu dan kembali menuju kamar. Aku terdiam memikirkan apa yang baru saja terjadi. Disaat yang sama aku berusaha untuk mengirimkan pesan kepada peneror itu jika aku telah menuruti keinginannya. Semua itu aku lakukan agar peneror itu tidak melukai nenek dan adikku.
"Dek kenapa kamu? Tega kamu ngusir Winda kaya gitu? Kenapa? Kenapa kaku sekarang berubah? Duku kamu care banget sekarang apa? Mas gak nyangka kammu bisa ngelakuin ini. Mas kecewa sama kamu"
Mas Hari terus menyudutkan aku dengan pertanyaan dan penyataannya, sedangkan aku hanya bisa terdiam.
"Kamu gak liat gimana Winda tadi? Dia hancur. Teman yang jadi pegangannya sekarang ikut mencampakan dia. Jujur Dek Mas sama sekali gak habis pikir sama kamu."
Aku meneteskan air mata.
"Mas perhatikan kamu juga semakin menjauh dari Winda akhir-akhir ini. Ya. Memang kamu sudah berhenti bekerja, tapi bukan berarti kamu bisa mencampakan orang seperti itu. Kalau kamu emang gak niat bantu orang gak usah!"
"Kamu gak ngerti aku Mas. Kamu gak tahu apa-apa"
"Jelas Mas gak tahu, kalau kamu gak cerita apa-apa. Sekarang apa? Mau ngeles kamu?"
"Mas...udah cukup. Kamu gak tahu permasalahannya jadi tolong jangan nyudutin aku terus"
"Ya apa permasalahannya sekarang? Coba kamu jelasin biar Mas ngerti"
"Aku gak bisa Mas"
"Kenapa gak bisa?"
Aku terdiam seribu bahasa. Aku tidak bisa lagi menanggapi perkataan Mas Hari.
"Dek, jawab"
Disaat yang sama ponselku berdering. Nomor tidak dikenal muncul tapi aku tahu itu nomor siapa. Entah apa yang terjadi aku menjadi gelagapan saat hendak menjawab panggilan itu.
Mas Hari yang ada di hadapanku dengan kemarahannya menjadi curiga dan langsung merebut ponselku.
"Mas jangan"
Mas Hari hanya mengangkat tangannya menandakan agar aku diam. Tanpa bisa menolak atauoun memberontak lagi aku mengalah. Mas Hari menjawab panggilan itu tanpa bersuara apapun. Dia hanya mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh lawan bicaranya disebrang sana.
Aku melihat raut wajahnya berubah. Dia menatapku. Tidak lama kemudian dia menutup panggilan itu.
"siapa dia? Kenapa dia ngomong kaya gitu"
"Mas...."
"Jawab Mas..."
Tanpa punya pilihan lain aku memberanikan diri untuk menjawab.
"Dia orang yang neror aku Mas. Dia yang bikin aku ngusir Winda"
Spontan aku menangis dan tidak bisa menahannya lagi. Aku terisak.
"Aku takut Mas, dia ngancem aku kalau dia akan ngelukai keluargaku. Aku...aku gak tahu harus gimana Mas" kataku gelagapan
"Bahkan hari ini dia mengirmkan foto nenek sama Rehan. Dia bioang kalau dia akan bikin mereka celaka kalau aku gak usir Winda sekarang juga Mas. Aku bisa apa?" lanjutku
Mas Hari spontan langsung memelukku. Dia menenangkanku dengan pelukannya yang erat dan ciuman berulang dikepalaku.
"Ya Allah Dek, kenapa kamu gak bilang dari awal toh Dek. Mas gak tahu kalau kamu ngalamin masalah sebesar ini."
Selama beberapa lama aku mencurahkan seluruh perasaanku dqn ketakutanku dengan terisak dihadapan Mas Hari. Barulah setelah itu Mas Hari mengambil keputusan jika ia akan melaporkan hal ini kepada polisi.
"Jangan Mas"
"Udah kamu tenang aja ya"
Aku menggenggam tangan Mas Hari dengan erat. Sementara itu sebelah tangannya mencoba menghubungi Pak Susilo untuk melaporkan hal ini. Mas Hari juga meminta agar peneror tersebyt segera ditangkap tanpa harus ia melapor ke kantor polisi.
Untung saja Pak Susilo mengerti dengan kondisiku. Aku yang madih takut terus saja menggenggam erat tangan Mas Hari. Sementara itu kami tetap membiarkan Winda pergi dari rumah.
Menurut Mas Hari, peneror itu akan pergi menuju kediaman orang tua Winda dan akan bertemu dengan Winda di sana. Karenanya ia meminta Pak Susilo untuk mengikuti Winda.
Tentu saja Mas Hari juga tidak membiarkan aku tetap berada di dalamm kamarku. Dia mengajakku untuk mengikuti Winda. Kita berdua pergi menyusul Winda dengan mobil yang lain.
Dalam pikiranku saat itu adalah keluargaku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi sama mereka jika peneror itu sampai tahu rencana Mas Hari. Aku tegang dan takut sepanjang perjalanan.
Setelah cukup lama berkendara akhirnya kamu tiba. Ternyata benar dugaan Mas Hari, peneror itu ada disana. Dia tidak lain adalah suami Winda sendiri. Kami yang saat itu datang hampir bersamaan tentu melihat tindakan suami Winda saat pertama kali bertemu dengannya.
Dia menarik dan menampar wajah Winda. Tindakannya ini membuat orang tua Winda terkejut melihatnya. Begitu juga aku.
Tapi Pak Susilo dan polisi setempat bekerja dengan cepat. Mereka menangkap suami Winda, dan barulah pada saat itu aku berani kuncul dihadapan peneror itu.
"Kau" kata peneror itu padaku
Tentu, mendapat perlakuan seperti itu membuatku merasa takut. Aku langsung memegang erat lengan Mas Hari yang ada disampingku.
"Beraninya kau mengadu kepada orang lain"
"Dan kau berani mengancam isteriku" tukas Mas Hari
Winda spontan melirik ke arahku sesaat seteoah ia mendengar perkataan Mas Hari.
"Bawa dia Pak. Dia sudah melqkukan pengancaman kepada isteri saya."
"Dan juga padaku" tukas Winda
"Dia mengacam akan melukai keluarga saya" lanjut Winda
"Begitu juga denganku. Dia mengancam akan melukai keluargaku jika aku tidak melepaskan Winda" kataku memberanikan diri
Segera para polisi itu membawa lelaki tak bermoral itu dari hadapan kami. Sesaat setepahnya Winda menghampiriku dan memelukku. Dia meminta maaf karena sudah menaruh dendam dan kekesalan padaku.
"Gua yang harusnya minta maaf Da. Gua takut karena itu Gua ngusir Lu"
"Kenapa Lu gak bilang Ya kalau dia juga ngancem Elu. Gua minta maaf Ya, karena Gua Lu jadi ngalamin hal kaya gini"
Aku memeluk erat sahabatku itu. Aku merasa lega setelah suaminya itu ditangani oleh polisi.