
Hari ini aku dan Mas Hari menemani nenek mengantar pesanan kue untuk hari raya. Semula semua berjalan lancar, kami singgah di setiap rumah yang memesan kue kering.
Sampai saat seorang wanita memintaku untuk menjadi menantunya. Pernyataan itu membuatku ingin tertawa.
Mas Hari datang dengan membawa beberapa kue kering di tangannya.
"yeuh suamina" kata nenek
Aku tersenyum sembari melirik Mas Hari.
"duduk dulu sini A" kata wanita itu
"iya terima kasih" jawab Mas Hari dengan sopan
Tidak lama setelah itu, kami bergegas meninggalkan tempat itu. Ketika Mas Hari hendak menjalankan mobil tiba-tiba nenek memulai pembicaraan di antara kita.
"hampir aja si Lia di ambil mantu sama ibu tadi" kata nenek
Perkataan nenek membuat Mas Hari terkejut, sedangkan aku sontak tertawa terbahak-bahak.
"mau gak kamu Dek? " tanya Mas Hari
" boleh toh Mas? " tanyaku kembali
Kita semua tertawa terbahak-bahak bersama. Hari itu kita berkeliling ke berbagai tempat dari siang hingga sore hari.
***
Hari raya tiba. Ini adalah hari raya pertamaku sebagai seorang isteri. Pagi hari sebelum menunaikan shalat Ied...
" Mas, maafin aku ya" kataku
"sama-sama, Mas juga minta maaf ya"
Kami saling memeluk walau sesaat. Barulah setelah itu kita semua bersiap untuk menunaikan shalat Ied bersama di alun-alun kota.
Begitu sesak ramai orang-orang memenuhi alun-alun kota untuk shalat Ied bersama. Bagaikan tempat semua orang berkumpul.
Di sana aku berjumpa dengan orang-orang yang kukenal, dan juga dengan teman dekatku. Kita semua duduk berjajar membentuk sebuah syaf.
Seusai shalat Ied kita semua saling bermaaf-maafan kepada orang-orang yang berlalu lalang di sana. Hingga akhirnya aku kembali berkumpul dengan suami dan keluargaku yang lain.
Kita kembali ke rumah. Di rumah kita semua melakukan sungkem sebagai tradisi saat lebaran di kelargaku. Aku mencium tangan ayah, ibu, dan juga suamiku.
Aku merasa sangat bahagia dan bersyukur karena hatiku sudah sepenuhnya menerima Mas Hari sebagai suamiku dan bisa merayakan hari raya dengan penuh kebahagiaan.
Setelah saling bermaaf-maafan, kami semua bergegas pergi menuju kediaman nenek. Di sana kamu juga melakukan hal yang serupa, bahkan para tetangga pun turut hadir untuk saling mengucapkan permintaan maaf.
"Lia makan dulu, Hari makan" kata nenek
"iya Nek" kata Mas Hari
Keriuhan di rumah nenek kala itu semakin bertambah ketika acara pembagian THR. Tidak hanya para orang tua, tapi Mas Hari pun turun membagikan THR krpada adik dan sepupuku.
"lah, Lia gk dapet THR lagi" ejek ayahku
Aku hanya menyerengit saat mendengar itu, sedangkan orang-orang yang lain tertawa geli.
"kan udah gak lajang, makanya gak terima THR lagi" jawabku
Di tengah kegembiraan kami, tiba-tiba hal mengejutkan terjadi yang membuat kami semua tercengang. Sepupuku tiba-tiba mengatakan jika dia ingin menikah.
"yakin kamu? " tanyaku
" eh, jangan becanda deh" kata ibuku
"engga Teh, Depi beneran. Depi mau nikah ajaa " katanya
Aku terhenyak hingga memegang kepalaku. Mas Hari langsung menenangkanku dengan mengusap-usap punggungku. Untuk hal seperti ini nemang aku sangat tidak menyukainya, karena begitu banyak dampaknya.
" ehhh, kita duduk di dalam dulu aja kali ya" kata Mas Hari
"Dep, Depi kan masih muda kalau nikah nanti mau makan apa? "tanya ibuku
" itu bisa dipikirin nanti Bude"
"harus dipikirin sekarang lah, enak aja kamu ngegampangin" kataku dengan emosi
Semua orang sudah tersulut emosi saat itu, kecuali Mas Hari yang masih bisa bersikap tenang.
"De, apa alasan kamu untuk nikah muda?" tanya Mas Hari
"Depi pengen kaya Teteh, Depi juga takut kalau pacaran "
" pengen kaya aku gimana? Kamu tahu gak aku aja pernah stres karena ini. Apa kamu gak liat jeleknya nikah muda? Lagi pula aku nikah sama Mas Hao, umurku udah dua puluh tahun, lah kamu enam belas tahun aja belom" kataku
Depi yang berwatak keras langsung baik pitam. Dia berteriak dan mengatakan jika kekasihnya akan datang besok.
Semua orang tidak habis fikir dengan apa yang dipikirkan Depi. Kita semua tidak menyangka jika Depi akan bersikap demikian.
Aku benar-benar marah saat itu. Dengan tegas aku mengatakan jika aku tidak setuju.
"biarin aja lah Mah, dari pada bikin malu nanti" kata ibu Depi
"gak bisa gitu! Dia masih kecil, mau makan apa nanti. " kataku
Malam hari...
" apa yang mau kamu lakuin besok Dek?" tanya Mas Hari
"apa Mas? "
" maksud Mas kalau keluarga kekasih temanmu itu datang"
"gak ngerti deh Mas, apa yang bakal aku lakuin nanti. Mas tahukan, aku paling gak suka sama hal-hal yang kaya gini? "
" iya Mas tahu. Tapi Mas harap kamu gak sampe kebawa emosi"
"mudah-mudahan aja Mas"
***
Kelurga yang dimaksud Depi pun sampai dengan penuh kemewahan alakadarnya. Para tetua di keluargaku duduk bersama, termasuk Mas Hari yang sudah menjadi bagian keluarga.
Sementara aku memilih untuk berada di balik tirai pembatas yang ada di kediaman nenek.
"bagaimana ini, anak-anak sudah mau menikah tapikan mereka masih pada muda"
"tidak apa-apa Bu, urusan makan mah kita masih bisa tanggung" kata ibu pria tersebut
"begini loh Bu, maaf sebelumnya saya di sini mewakili keluarga. Kalau sebenarnya usia mereka
masih sangat muda. Depi belum sampai enam belas tahun dan Joni kuga belum genap delapan belas tahun. Secara hukum itu tidak diperbolehkan" kata Mas Hari dengan lembut
"kita kan bisa nikahkan secara agama saja dulu. Dan kalau urusan masih muda, itu bisa lah seiring dengan waktu "
Mas Hari berusaha memberikan pertanyaan-pertanyaan agar keluarga tersebut bisa memberikan jawabannya sesuai dengan pandangan mereka.
Aku yang kala itu berdiri di balik yorai bersama Depi langsung naik pitam.
" itu yang mau kamu nikahin? Nikah secara agama aja, makan dibayarin, semua mereka gampangin" kataku dengan berbisik
"kan keluarganya kaya Teh"
"gak masalah kayanya. Kalau orangtuanya udah gak ada mau makan apa kalian? "kataku
Depi hanya diam menghadapi aku yang mulai geram.
Begitu banyak pertanyaan yang diajukan Mas Hari, baik tentang keluarga maupun personal Joni. Dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan, sedikitnya aku telah mendapat gambaran mengenai Joni.
Setelah beberapa lama berbincang keluarga Joni pun bergegas pergi dan meninggalkan kediaman nenek tanpa jawaban apapun. Semua itu terjadi karena Mas Hari yang berhasil mengulur waktu.
Seusai keadaan sepi kembali, aku yang sedari tadi menahan emosi agar tidak meledak, kini tidak lagi mampu menahannya.
"itu yang bakal jadi suami kamu? " tanyaku
" kamu dengerkan apa jawaban mereka tadi? Gak masuk di akal Teth Dep. Mereka ngegampangin semua. Kalian nikah bukan soal hidup berdua, makan, punya anak" lanjutku
"kamu gak liat gimana stresnya aku pas awal nikah? Kamu gak belajar dari situ. Aku aja yang nikah umur segini masih bisa stres, apalagi kamu? "
Aku tersulut emosi. Mas Hari kembali berusaha menenangmanku.
" aku kesel lo Mas"
"iya, tapi kita bisa ngobrol baik - baik"
Saat itu emosiku belum juga mereda, sampai harus membuat Mas Hari membawaku menjauh dari orang-orang.
"Dek, kamu hak boleh gitu. Depi masih labil, dia butuh penjelasan. Kita harus jelasin baik-baik gak penuh emosi. Kalau kita juga emosi dia malah tambah membangkang. Iya toh? "
Aku terdiam mendengar perkataan Mas Hari. Dia memelukku untuk membuatku lebih tenang.
Setelah berhasil memilih waktu yang tepat, aku dan Mas Hari berusaha memberikan penjelasan mengenai pernikahan dini, terutama dampaknya.
Kita bertiga duduk bersama di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai pengunjung. Perlahan - lahan aku dan Mas Hari memulai pembicaraan.
"Dep, bukan kita mau ngelarang Depi untuk ambil keputusan sendiri. Tapi kita sebagai keluarga
Depi juga harus ngasih penjelasan dulu sebelum Depi ambil keputusan apapun nantinya" kataku
"Depi, secara hukum umur kalian belum dibolehkan untuk menikah. Perempuan minimal enam belas tahun dan laki-laki sembilan belas tahun. Kalau kalian menikah secara hukum itu gak bisa, bahkan kalau dipaksakan keluarga Depi akan terancam hukuman penjara" Kata Mas Hari
"soal nikah secara agama. Sebenarnya bisa tapi kurang baik. Maksudnya gini, kalau nikah secara agama aja kamu gak akan dapat buku nikah dan kalau punya anak dia gak bisa biki akte lahir, dan itu susah nantinya" kataku
Depi hanya diam mendengar penuturan kami.
"pernikahan gak cuma tentang hidup bareng dan meminimalisir membuat malu keluarga karena hal-hal yang tidak diinginkan. Tapi pernikahan itu bertujuan untuk membangun sebuah keluarga "
kata Mas Hari
" banyak yang harus dipikirin untuk hal yang satu ini. Udah banyak tetangga Depi yang nikah muda, yang punya anak di umur muda, banyak juga yang cerai" kataku
"ada banyak hal yang harus kita bahas, dan ada banyak pula pertanyaan yang mau Tetah tanyain ke Depi tentang Joni, boleh?
"iya Teh.. "
" pertama, Depi tahu gimana kesehariannya dia? Sikapnya, emosinya, pergaulannya? "
"Depi belum begitu tahu, karena kan kita baru kenal"
Aku terbelalak. "kamu belum kenal tapi mau nikah sama dia? Kenapa?"
"Depi udah sayang banget sama dia Teh, bener"
"ngerti ko Dep. Teteh juga pernah ngalamin. Di usia-usia kamu ini suka sama lawan jenis itu wajar. Tapi gak harus untuk menikah. Kalian bisa kan saling kenal dulu"
"sebelum menilah, Depi harus tahu dulu latar belakang keluarganya, pergaulannya, pendidikannya. Bukan cuma sekedar sayang dan suka aja"
"perlu juga Depi tahu kalau pernikahan dini itu banyak dampak negatifnya" kata Mas Hari
"coba Depi pikir-pikir Dulu, jangan karema grasak grusuk nanti malah nyesel" sambung Mas Hari
"lihat Teteh waktu kemarin-kemarin, Teteh stres bahkan hampir Depresi, belum lagi dampak yang lain"
Ditengah pembicaraan itu, aku merasa Depi sudah tidak lagi fokus mendengarkan apa yang aku dan Mas Hari katakan.
Merasa sudah tidak kondusif aku memilih untuk mengakhiri permbicaraan kali ini.
"kita pulang aja ya Mas" kataku
"Teh, Depi gak ikut pulang bareng Teteh ya"
"Kenapa? "
"Depi mau pergi main sama Joni"
"oh, ya udah "
Aku dan Mas Hari berjalan di belakang Depi, sedangkan Depi sendiri sudah pergi lebih dulu.
Dari balik jendela kafe aku melihat Joni dengan santainya merangkul Depi dan membawanya ke arah motor miliknya.
Aku menyerit melihat itu, aku merasa hal seperti itu tidak seharusnya dilakukan oleh anak-anak di usia mereka, bahkan di tempat umum.
"kenapa toh Dek? " tanya Mas Hari
" itu lo Mas, aku gak habis pikir sama mereka" kataku
"ya udah, jangan terlalu kamu pikirin itu. Udah yo, kita pulang"
Ketika kami sudah berada di dalam mobil, Mas Hari mengajakku untuk tidak langsung pulang.
"temani Mas pergi ke pantai, mau engga Dek?"
"sekarang Mas? "
" iya, Mas mau recarge energy"
"ya udah ayo"
Mas Hari melajukan mobil menuju arah pantai yang tentu saja melewati kediamanku yabg berada di tepi jalan.
Namun ketika sampai persimpangan aku tiba-tiba saja meminta Mas Hari untuk menepikan mobilnya.
"aku mau beli makanan dulu di mini market, karena nanti gak ada yang jualan" kataku
Setelah menepi aku langsung bergegas keluar dari dalan mobil dan menuju mini market. Rupanya Mas Hari pun ikut turun dan masuk bersamaku.
Aku berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil beberapa botol minum, sedangkan Mas Hari ke arah makanan ringan.
Setelah aku mengambil beberapa botol aku langsung menghampiri Mas Hari.
"cari apa Mas? "
" cari keripik kentang untuk nanti malam"
"yang favorit Mas kosong kayaknya, biasanya di sini"
"oh gitu, ini aja kalau gitu. Kamu cuma beli itu Dek? "
" iya Mas, tinggal beli roti aja "
Seusai memilih beberapa makanan ringan dan minuman, kita beralih menuju kasir.
" Mba, rokoknya satu" kata Mas Hari
Aku terkejut mendengar hal itu, karena selama ini aku tidak pernah melihat Mas Hari sebagai seorang perokok.
"buat apa Toh Mas? "
" untuk yang di sana"
Aku terdiam karena memang Mas Hari sangat dekat dengan dunia mitos dan mistis. Setiap minggu dia pasti menyempatkan diri untuk melakukan kebiasaannya itu.
Cukup jauh kami menelusuri tepian pantai untuk mencari tempat yang sesuai dengan kriteria Mas Hari. Tempat yang sunyi, tidak terlalu ramai, dan tenang.
Sebenarnya mencari pantai dengan keadaan seperti itu cukuplah sulit, mengingat hari ini baru beberapa hari setelah hari Raya.
"penuh semua Mas" kataku
"pasti ada tempat yang kosong Dek"
"coba Mas lurus aja, semoga ada yang kosong di sana"
Kami tidak menyerah, kami terus menelisuri sepanjang tepian pantai yang tidak berujung.
Setelah hampir satu jam menelusuri tepian pantai, akhirnya Mas Hari memilih sebuah tempat yang benar-benar sunyi. Tidak terlihat ada seorangpun di sana.
Sebuah pantai dengan pepohonan yang rimbuan dan batuan yang besar. Angin terasa sangat menyejukan di sana. Mas Hari segera melakukan ritual kebiasaannya. Dia membakar tiga batang rokok dan kemudiam meletakannya.
Sebenarnya aku merasa sangat ngeri dengan tindakan seperti itu. Sementara Mas Hari melakukan ritual yang biasa dilakukan sebelum melakukan recharge energy, aku memilih untuk mencari tempat yang nyanan untuk bersantai dan menikmati sunset yang sebentar lagi akan tiba.
Akhirnya aku memilih duduk di atas sebuah batu yang datar, yang nenghadap ke langsung ke laut.
Tidak berapa lama, Mas Hari mulai membuka pakaiannya, dan hanya menggunakan celana pendek serta bertelanjang dada. Tidak seberapa jauh dari tempatku dia mulai menceburkan diri ke dalam air laut.
Jika sudah demikian, aku sama sekali tidak berani untuk mengganggu dirinya dan karena itu aku memilih untuk menikmati makanan ringan yang sebelumnya kami beli hingga matahari mulai terbenam.
Ketika hari mulai gelap aku mulai turun dari atas batu. Aku merasa mulai tidak nyaman dan merasa ngeri. Aku melihat ke arah Mas Hari, namun dia belum juga usai merendam dirinya di air laut.
Aku tiba di depan mobil, segera aku masuk ke dalamnya. Tidak lama setelahnya, Mas Hari pun tiba. Kami bergegas untuk pulang.