To be Continued

To be Continued
Tiga Puluh:Akhir



Hari ini aku merasa amat penat berada di rumah, dan karena hal itu aku pun memutuskan untuk pergi keluar rumah hanya sekedar untuk memanjakan diri. Tapi kemudian aku mendapat kabar dari Sherly yang mengatakan jika dia ingin bertemu denganku. Aku pun setuju dan kami memilih untuk bertemu di salah satu kedai makan yang ada di salah satu pusat perbelanjaan. Saat itu aku datang lebih dulu, tapi tidak lama berselang Sherly pun datang. Kali ini ia tidak datang sendiri seperti biasa, melainkan bersama dengan seorang pria yang memiliki perawakan tinggi dan berkulit putih. Dari jauh aku sudah tersenyum lebar padanya, karena aku yakin kali ini Sherly akan memberikan kabar gembira padaku. Setelah saling berjabat tangan, aku mempersilahkan mereka duduk di kursi. Tanpa berbasa-basi aku langsung menodong Sherly untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan hingga mengajakku bertemu seperti ini.


“ sabar lo Mba. Aku punya dua berita gembira dan satu berita buruk” kata Sherly


“hah? Gimana maksudnya?”


“oke, aku sampein berita buruk dulu. Berita buruknya aku akan berenti kerja”


“Apa? Sherly?” kataku dengan sangat terkejut


“sabar Mba, kabar baiknya aku akan menikah sama dia, dan karena itu aku memutuskan untuk berhenti bekerja”


Aku senang bukan main mendengar apa yang dikatakan oleh Sherly. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa menemukan pujaan hatinya. Memang sangat disayangkan Sherly harus berhenti bekerja, tapi bagiku itu bukanlah sesuatu yang harus menjadi penghambat bagi kebahagiaan Sherly.


“Mba ikut seneng dengernya. Terus beritamu yang satunya?”


“berita satunya, kasus yang kemarin sempet aku gantung sekarang udah selesai”


“apa?”


“semuanya sudah aku urus Mba, jadi Mba gak perlu turun tangan lagi untuk menyelesaikan satu kasus itu”


“serius kamu Sher? Mba udah kepikiran untuk terjun langsung”


“itu udah gak perlu”


Aku merasa sangat senang dengan berita baik yang disampaikan oleh Sherly. Rasanya duka yang selama ini aku rasakan hilang seketika setelah mendengar kabar menggembirakan ini. Sherly juga tidak lupa memperkenalkan calon suaminya itu padaku, dan menceritakan bagaimana awal mereka berjumpa.


Dari tempatku duduk, aku bisa mengetahui semua yang terjadi disekitarku termasuk apa yang sedang dilakukan oleh Rona. Dari sana aku tahu jika Rona datang ke tempat makan ini untuk mentraktir teman-temannya yang jumlahnya tidaklah sedikit. Sempat terbesit dari pikiranku tentang uang yang dimiliki Rona, apakah ia memiliki uang sebanyak itu? Dari orang tuanyakah uang itu berasal? Atau dari Mba Yayu? Tapi semua itu lantas sirna saat aku kembali mengingat perkataan Mba Yayu tentang keadaan orang tua Rona yang sangat sederhana, sedangkan Mba Yayu sendiri tidak mungkin memiliki uang sebanyak itu untuk diberikan kepada Rona.


Semua pertanyaan itu aku simpan dalam kepalaku hingga saat tiba di rumah nanti aku akan menceritakannya kepada Mba Yayu. Namun sungguh diluar dugaan. Ketika aku tiba di rumah, keadaan tidak seperti biasanya. Saat berada di depan pintu aku sudah mendengar teriakan dan jeritan yang cukup keras. Mendengar semua itu aku lantas berlari menuju sumber teriakan itu.


Saat itu aku melihat Mba Yayu dan Rona sedang bertengkar hebat. Mereka berdua sama-sama menangis histeris. Aku berusaha untuk memisahkan Mba Yayu dan Rona.


“Mba eling Mba” kataku


“biar! Biar aja De! Mba malu punya keponakan kaya dia. Dia udah lupa sama didikan orang tuanya. Bisa-bisanya dia nyuri uang di rumah ini Dek. Malu aku Dek malu!” teriak Mba Yayu


Aku terkejut mendengar apa yang diakatakan Mba Yayu, aku hanya bisa menatap penuh keheranan pada Rona, “mencuri uang siapa Mba?” tanyaku


“Uang Mas Indra, Uang Mba.. dia itu pencuri!! Semua ini karena Sonita. Dia dalang semua ini, dia yang sudah menghasut Rona!”


Sonita pun terkejut saat namanya disangkut pautkan dengan masalah ini. Dia berusaha untuk mengelak dan berusaha untuk melindungi dirinya dari segala tuduhan.


“sudah! Sudah! Sudah!” teriak Ibu secara tiba-tiba


“ini semua salahku, aku yang salah. Semua kekacauan di rumah ini karena aku. Aku yang sudah membawa Sonita kemari. Dia perempuan jahat, dia bukan saudara Mas Munir” kata Ibu


Kami semua terkejut dengan apa yang Ibu katakan, karena kami tidak pernah berfikir tentang siapa Sonita yang sebenarnya. Selanjutnya Ibu mengeluarkan semua isi hatinya, ia berteriak dan mengatakan siapa Sonita sebenarnya. Sonita yang semakin tersudutkan pun akhirnya mengaku jika kedatangannya ke rumah ini hanya untuk mengambil semua milik keluarga Ibu.


TAMAT