
Hari ini aku dan Mas Hari akan pergi mencari tahu keberadaan orang tua Bimo dan Bimo sendiri. Sudah beberapa kali aku mencari tahu tentang Bimo dan bahkan aku meminta bantuan temanku untuk mengetahui segala sesuatu tentangnya. Sampai akhirnya aku mendapatkan fakta jika Bimo hanyalah seorang pengangguran yang banyak menghabiskan waktunya di jalanan, sedangkan orang tua Bimo tidak lain adalah seorang petani yang entah dimana keberadaanya.
“kami akan pergi, jadi baik-baik disini, semua makanan sudah aku siapkan. Oke?” kataku
“jika ada sesuatu cepat hubungi kami” kata Mas Hari
“oke, kalian pergi saja sana. Ingat, waktumutidak banyak lagi”
“aku tahu”
Aku dan Mas Hari segeramasuk ke dalam mobil. Kami mulai berkendara menuju kota Bogor.
Ketika dalam perjalanan, aku terus saja memegang ponsel untuk memastikan keberadaan temanku yang akan aku temeui lebih dahulu.
“gimana?” tanya Mas Hari
“dia udah nunggu kita ko Mas”
“mana tanganmu?”
“untuk apa?”
“mana?”
Aku mengulurkan tanganku dan tidak lama Mas Hari menyambutnya dan kemudian mencium tanganku.
“kenapa?” tanyaku
“ternyata udah lama kita gak perduaan”
Aku tersenyum, “Mas benar, kita sama-sama sibuk sampai jarang pergi berdua”
“Mas..”
“mmm?”
“terima kasih”
“untuk apa?”
“terima kasih karena selalu ada untukku, selalu ada untuk mendukungku”
“aku suamimu, apapun yang kamu lakukan, Mas pasti dukung selama itu baik”
Setibanya kami di kota hujan itu, hal pertama yang dilakukan adalah menemui salah seorang temanku yang sebelumnya sudah kumintai tolong untuk mencari alamat orang tua Bimo.
Kami membuat janji untuk bertemu di toko miliknya yang letaknya berada di tepi jalan, sehingga tidak sulit bagi kita untuk menemukannya
Ketika tiba aku memutuskan untuk pergi seorang diri menemui temanku, sedangkan Mas Hari tetap menunggu di dalam mobil.
“Ti, Resti...” panggilku
“eh Elu Ya. Sorry gak liat”
“gimana? Kamu dapet alamatnya?”
“iya, ini. Tapi kenapa? Kenapa Elu pengen banget tahu alamatnya? Ada masalah?”
“iya ada.aku jelasin lain kali aja ya”
“Ke sini sama siapa Lu?”
“samaMas Hari.Ya udah ya aku pergi dulu. Dan thank you banget ya Ti, maaf udah ngerepotin juga”
“iya gak apa-apa, Elu hati-hati ya”
“oke, daaah”
Aku kembali bergegas pergi meninggalkan toko milik temanku itu. Saat aku berjalan menuju mobi, aku melihat Mas Hari sedang berdiri bersandar di mobilnya. Entah apa yang aku lihatsaat itu, tapi suamiku itu terlihat sangat tampan.
Untuk beberapa saat aku memandanginya, sampai akhirnyadia melihatku dan kemudian menyerit. Aku tersenyum dan berjalan menghampirinya.
‘sudah dapat?”
“sudah” kataku sembari menahan senyum
“kalau begitu ayo”
Kami kembali masuk ke dalam mobil untuk selanjutnya menuju alamat yang diberikan temanku, kediaman orang tua Bimo.
Tempat yang akan kami tuju adalah tempat yang baru, baik aku ataupun Mas Hari sesekali bertanya tentang arah jalan yang benar kepada masyarakat sekitar. Kami masuk kesebuah pedesaan yang penuh dengan sawah disekelilingnya.
“Mas, yakin disini tempatnya?”
“menurut alamat dan apa kata orang sih benar ini alamatnya.”
“terus kitalewatmana? Kayaknya mobil gak bisa masuk deh”
“kayaknya gitu. Kalau gak bisa ya kitajalan. Ayo”
“Mas ini pematang sawah lo”
“takut?”
“ya bukan gitu, tapi...”
“ayo...” kataMas Hari sembari mengulurkan tangannya
Aku dan Mas Hari berjalan meninggalkan mobil dan kemudian berjalan melintasi pematang sawah yang sempit. Kami berdua berjalan di bawah teriknya sinar matahari.
Kami berjalan cukup jauh dan sesekali aku hampir terperosok ke dalam sawah.
“rumahnya yangmana toh Mas?”
“itu, kamu liatkan?”
“bambu?”
“kayaknya iya, karena itu Cuma satu-satunya rumah di sini”
“oke..”
Kami kembali melanjutkan perjalanan kami. Hingga sampai akhirnya kami berdua tiba di depan sebuah rumah berdinding bambu yang dianyam.
Aku mengetuk pintu rumah tersebut. Aku ucapkan salam. Hingga akhirnya keluarlah seorang wanita paruh baya dengan pakaian lusuhnya.
“iya...siapa ya?”
“saya Natalia Ibu. Apa benar ini rumah orangtua Bimo?”
“iya benar, saya ibunya Bimo. Ada apa ya?”
Kami dipersilahkan masuk ke dalam rumahnya yang sederhana itu.
“ada apa dengan anak saya?” tanyanya dengan nada penuh kekhawatiran
Aku berfikir tentang bagaimana aku harus memulai pembicaraan yang sensitif ini. Akan tetapi sebelum aku memulai pembicaraan itu tiba-tiba saja Bimo muncul mengejutkan kami dengan teriakannya. Tidak hanya berteriak ia juga memukul pintu yang membuat kami semua terperanjat.
“Bimo, ya Allah Bimo” teriak sang ibu
Entah apa yang sedang terjadi padanya tapi dia dengan berani mendorong sang ibu yang sedang berada dihadapannya. Melihat kejadian itu aku langsung berlari menghampiri sang ibu, sedangkan Mas Hari menahan Bimo.
“ibu gak apa-apa?” tanyaku
“ya Allah Nak, kanapa kamu kaya gini”
“ Bimo!” bentakku
“kau?kenapa kau ada di sini?oh Meldi? Sudah aku katakanjika aku tidak mengenalnya,aku tidak pernah menghamilinya!”
Kami semua tercengang. Keadaan Bimo yang sedang kecau membuatnya buka suara tanpa ia sadari.
“bagaimana kamu tahu kalau Meldi hamil? Aku belum mengatakan apapun” kataku kebingungan
“ku tidak melakukan apapun!” Bentaknya sembari hendak memukulku
Mas Hari yang sigap segera menahan pukulan Bimo yang hendak mengarah padaku.
“apa? hamil? Siapa?” kata ibu Bimo
“ibu, duduklah dulu akan aku ceritakan semua. Dan kau juga Bimo”
“sudah aku katakan jika aku tidak melakukan apapun” teriak Bimo
“diam, sekarang giliranku yang bicata” kataku
“apa kau sudah menghamili orang?” tanya sang ibu
“iya Bu, Bimo sudah menghamili gadis berusia lima belas tahun”
Sang ibu terkejut bukan main, sedangkan Bimo hanya bisa tertunduk.
“benar itu Nak?”
Bimo hanya diam.
“aku kemari ingin meminta pertanggung jawaban Bimo untuk Meldi”
“apa hubunganmu dengannya?” kata Bimo
“aku memang tidak memiliki hubungan apapun dengannya, tapi dia datang padaku dan meminta pertolonganku. Karena itu aku datang kemari untuk meminta pertanggung jawabanmu”
“ya Allah Gusti, kenapa kamu lakuin ini Nak? Ibu gak pernah ngajarin kamu yang aneh-aneh Nak. Ya Allah sekarang Ibu harus gimana? Ibu malu Nak” katanya
Hatiku hancur melihat tangis sang ibu yang menyesali perbuatan anaknya.
“kenapa Nak?”
“aku tidak sengaja Ibu!” teriak Bimo
“apa yang harus saya lakukan?” tanyanya
“mintalah Bimo untuk bertanggung jawab atas tindakannya”
“akan aku lakukan”
Bimo berontak. Dia menolak untuk bertanggung jawab.
“dia wanita bodoh! Dia mau melakukan apapun demi laki-laki. Dia wanita murahan!” teriak Bimo
Spontan aku menampar wajahnya karena aku tidak terima atas apa yang dikatakannya tentang Meldi.
“berani-beraninya kamu mengatakan hal itu? Dia sudah kau bujuk rayu, dia hanya gadis lugu yang seharusnya kau jaga”
“benarkah? Lalu bagaimana jika dia yang sukarela menyerahkan dirinya?”
“tutup mulutmu. Yang harus kau lakukan adalah bertanggung jawab. Dan dengar, jangan berani-berani kamu kabur karena aku tidak akan segan-segan melaporkanmu kepada polisi”
“kau....”
“ibu, tenanglah. Yang harus ibu lakukan hanyalah membuat Bimo mengerti dengan perbuatannya”
“akan aku lakukan itu Nak, aku akan membujuknya. Aku berjanji padamu”
“terima kasih ibu. Aku akan pulang. Lain waktu aku akan kembali lagi ke sini”
Aku terdiam di sepanjang pematang sawah. Aku masih memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Aku merasakan betapa hancurnya prasaaan wanita tersebut saat mengetahui anaknya sudah menghamili anak orang lain.
“kau tidak apa-apa?” tanya Mas Hari
“iya Mas, aku gak apa-apa. Aku yakin pasti perasaa ibunya hancur”
“tentu. Orang tua mana yang tidak hancur mengetahui anaknya sudah melakukan hal yang sangat salah”
“sekarang aku punya waktu kurang dari satu minggu lagi Mas untuk meyakinkan Pak Torik. Sampai sekarang dia masih keras kepala”
“iya Mas tahu itu”
Karena waktu yang diberikan Meldi hanya tinggal beberapa hari lagi maka aku memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta sampai aku bisa meyakinkan Pak Torik sebagai langkah terakhirnku.
“kalau gitu Mas juga tinggal di sini”
“tapi, gimana sama Meldi?”
“telpon aja dia, bilang kalau kita gak pulang”
“iya. Dia bisa jaga diri di sana”
“ya sudah, aku telpon Meldi”
Aku pun segera menghubunginya dan mengatakan jika aku dan Mas Hari tidak akan pulang selama beberapa hari.
“kau hati-hati di sana, kalau ada sesuatu cepat telpon aku” kataku
Setelah menghubungi Meldi, aku dan Mas Hari segera mencari hotel untuk tempat kami menginap.
Tidak sulit bagi kami menemukan hotel mengingat sudah begitu banyak hotel yang tersebar di sana. Setelah mendapatkan kamar kami segera merebahkan diri di atas tempat tidur. Aku merasa sanagt lega karena sudah seharian aku berjalan dan duduk saja di dalam mobil.
“mau makan sesuatu? Mas akan belikan”
“pecel ayam dan teh manis”
“oke..”
Mas Hari pergi mencari makan malam yang kuinginkan. Sementara aku berada di kamar seorang diri, aku berusaha memikirkan cara tentang bagaimana meyakinkan Pak Torik. Seorang ayah yang keras kepala dan aeolah tidak peduli.
Sulit aku mengerti tentang cara pikir Pak Torik, sudah berapa kali aku menemuinya dan sudah berapa kali pula aku mengatakan jika anaknya sangat membutuhkannya tapi tetap saja hatinya masih keras.
Di sisi yang berbeda Ibu Meli yang sudah luluh hatinya juga terus menghubungiku untuk menanyakan keadaan puterinya. Namun meski begitu dia masih belum berani untuk menghubungi Meldi secara langsung karena suaminya akan sangat marah jika tahu ia sedang menghubungi Meldi.
Mas Hari pergi cukup lama sehingga aku memilih untuk tidur tanpa menikmati makan malam.
Pagi hari ini, ketika aku membuka kedua mataku, aku melihat Mas Hari sudah duduk di sampingku dengan segelas susu.
“Mas...?”
“bangunlah, Mas bawain susu buat kamu. Maaf karena semalam Mas pergi terlalu lama”
“terima kasih”
“Mas juga beli beberapa baju, karena kita sama sekali gak bawa pakaian ganti”
“oh ya?”
“makan sarapanmu setelah itu pergi mandi”
“oke. Mas?”
“iya?”
“terima kasih untuk semuanya”
“sama-sama”
Hari ini aku berencana untuk pergi menemui Pak Torik, tapi rencanaku ini gagal karena saat dia melihat mobil kami datang di depan rumahnya ia langsung pergi menghindar. Kejadian seperti itu berlangsung sampai beberapa hari.
Sebenarnya aku sudah muak dengan sikap Pak Torik yang kekanak-kanakan. Dia sama sekali seperti orang yang tidak mau tahu dengan keadaan puterinya. Dia seolah menutup diri dengan semua itu.
Karena kekesalan itu aku memutuskan untuk datang lebih awal dari biasanya agar aku bisa bertemu dengan Pak Torik dan berbicara dengannya.
Benar saja ketika aku datang ke rumahnya, Pak Torik sedang menikmati sarapannya. Tapi saat dia melihatku datang dia segera beranjak untuk pergi meninggalkanku.
“tunggu Pak Torik. Sekarang Anda tidak bisa pergi kemanapun”
“siapa kau? Berani sekali kau melarangku di rumahku sendiri”
“apa Anda melakukan kesalahan? Apa Anda takut aku membongkat kesalahan Anda sampai Anda harus terus pergi menghindariku?”
“apa maksudmu?”
“sekarang demgarkan aku. Kau harus mendengar semua tentang Meldi”
“dengar apa lagi? Aku tidak mau tahu tentangnya”
“kenapa? Kenapa Anda seolah menutup mata dan telinga Anda untuk Meldi? Apa dia bukan puteri Anda? Apa Anda malu mengakuinya sebagai seorang anak? Ingatlah saat Meldi kecil, pasti dia selalu ada dalam gendongan Anda bukan? Lalu kenapa sekarang Anda melepas tangan Anda darinya?
Meldi datang ke rumah orang lain untuk meminta bantuan. Dia tidak datang pada ayahnya. Sekarang bukalah hati, pikiran, telinga, dan mata Anda. Lihat Meldi, lihat keadaannya. Dia tidak bisa menghadapinya sendiri.
Dia memang nakal, cerobih. Tapi Anda tahu kenapa dia melakukan itu? Dia ingin mendapat perhatian Anda. Perhatian yang sudah lama tidak dia dapatkan dari ayahnya. Dia mencari perhatian kepada orang lain hingga rela melakukan apapun agar dia tetap mendapat perhatian itu.
Dia anakmu, dia puterimu. Kenapa Anda tidak peduli padanya.pernah aku sekali mendengarnya menangis memanggilmu. Dia menyesali perbuatannya, dia sangat membutuhkan Anda. Tapi Anda tidak ada bersamanya.
Kembalikan ingatan Anda tentang Meldi kecil yang Anda jaga sepenuh hati. Sekarang dia sedang terpuruk seorang diri”
“anak itu sudah membuatku malu. Dia selalu saja membuat masalah dengan orang lain!”
“dia melakukan itu untuk mendapat perhatian Anda Pak! Kenapa Anda tidak mengerti juga?”
“Dek kendalikan emosikamu” kata Mas Hari
“tolong Mas, coba Mas jelaskan padanya. Aku harap Pak Torik bisa ngerti kalau ngomong sama kamu Mas”
“iya...”
“Anda akan pergi bukan? Mengerjakan pekerjaan Anda dan menghasilkan uang. Benar bukan? Lalu uang itu untuk siapa? Karena saya yakin jika orang tua bekerja keras itu semua semata-mata hanya untuk anak. Tapi sepertinya Anda tidak seperti itu, karena anak Anda sendiri sedang menangis memanggil Anda”
“jaga ucapanmu” kata Pak Torik
“itu benar, Anda sama sekali tidak memikirkan anak Anda”
“Pah dia benar. Sekarang sebaiknya kita jempul Meldi” kata Ibu Meli sembari terisak
“aku.. aku..”
“bagi seorang ayah, anak adalah segalanya. Dia akan mengulurkan tangannya untuk melindungi anaknya. Meski kita tidak seperti wanita yang jelas menunjukan perasaannya, tapi seorang ayah menunjukannya dengan melindungi anaknya” kata Mas Hari
Rupanya perkataan kami itu berhasil menyentuh hati Pak Torik, dia meneteskan air mata. Dia menyesali segalanya, bahkan dia juga menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi kepada Meldi. Mas Hari yang merasa kasihan lantas memeluknya sebagai pria kepada pria, sedangkan aku pun memeluk ibu Meli.
“sekarang sebaiknya kita ke Jakarta, kita jemput Meldi”
“iya benar”
“bagaimana dengan Bimo?” kataku
“Bimo?”
“Meldi sebelumnya meminta padaku agar ia bisa menikah dengan Bimo”
“tapi bagaimana kita bertemu dengannya? Kemarin saja dia pergi” kata ibu Meli
“aku sudah bertemu dengan keluarganya, dan dia berjanji untuk bertanggung jawab”
“antarkan aku kepadanya” kata Pak Torik
Tanpa mengulur banyak waktu, kita berdua bergegas pergi menuju kediaman Bimo. Aku dan Mas Hari harus kembali melewati pematang sawah yang panjang.
Sesampainya kami dikediaman Bimo, kami langsung disambut oleh sang ibu dan Bimo sendiri. Akan tetapi ketika melihat Bimo, emosi Pak Torik langsung tersulut. Dia berusaha untuk memukul Bimo, namun dengan cepat Mas Hari menahannya.
“tahan emosimu Pak” kata Mas Hari
“kau! Beraninya kau menyentuh anakku”
“maafkan saya” kata Bimo
“maafkan anak saya Pak, dia akanmempertanggung jawabkan perbuatannya”
“sudah hentikan. Sekarang sebaiknya kita pergi bersama untuk bertemu dengan Meldi”
Semua setuju untuk pergi menemui Meldi bersama di kediamanku.
“akhirnya Mas, akhirnya semua selesai”
“alhamdullilah”
Setelah cukup lama berkendara akhirnya kami tiba di rumah. sebenarnya aku merasa bahagia karena bisa menyelesaikan tugasku dan membantu Meldi. Aku bahagia, dan dengan rasa bahagia yang membunjah itu aku membuka pintu dengan penuh semangat untuk menunjukan kepada Meldi jika aku berhasil meyakinkan orang tuanya.
Akan tetapi ketika aku membuka pintu rumah, kami semua dibuat tercengang. Bagiku sendiri aku benar-benar terkejut. Aku melihat banyak bungkusan makanan ringan dan kaleng soda bertebaran.
Aku berjalan maju dengan wajah bingungku. Aku memoerhatikan setiap bungkusan itu.
“semua ini? Bagaimana?....” kataku
“dimana Meldi?”
“Meldi? Meldi. Apa? Meldi!” teriakku
Tidak lama Meldi pun datang dengan pakaian ketat yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
“Meldi, Nak...”
“kau yang memakan semua ini?” tanyaku dengan rasa curiga
“iya. Kenapa? Tidak masalah, nona tenanglah”
“tenang? Tapi.. kau..”
“aku sudah tidak hamil lagi” katanya dengan nada yang santai
Aku tercengang bukan main. Semua orang yang ada disana pun merasakan hal yang serupa. Bahkan aku mendengar jika ibu Meli terjatuh. Mendengar pernyataan itu aku langsung menampar wajahnya tanpa ragu.
“nona...”
“kenapa kau membunuhnya? Hah! Kenapa?”
“aku tidak tahan. Aku tidak mau. Lagi pula waktumu sudah lewat, kau terlambat nona”
“terlambat? Ini masih 29 hari bahkan sejak hari pertama aku melihatmu. Ini belum waktunya dan aku berhasil meyakinkan orang tua mu dan Bimo”
“Meldi..” kata Bimo
“aku membawa Bimo untukmu. Dia bersedia menikahimu karena bayi itu. Tapi sekarang kau sudah menjadi seorang pembunuh
Lihat ibumu dan ayahmu. Aku sama sekali tidak menyangka kau berani melakukannya dan bersantai seperti itu dirumahku”
“Mamah..Pah”
Pak Torik dan Ibu Meli memeluk anaknya dengan sangat erat, meskipun tidak bisa disembunyikan kekecewaan mereka karena Meldi telah membunuh seorang jabang bayi.
“sekarang pergi kau! Pergi bersama ibu dan ayahmu karena aku tidak mau menampung pembunuh sepertimu” kataku dengan kasar sembari membalikan badan
“Dek tenanglah”
“bawa dia pergi Mas. Keluarkan semua barangnya. Sekarang aku serahkan wanita ini kepada kalian, karena mulai saat ini aku tidak mau berhubungan ataupun melihatnya”
Aku menangis menyesali semua yang terjadi. Air mataku bercucuran. Aku yang merindukan kehadiran seorang bayi merasa sangat terluka atas apa yang sudah dilakukan oleh Meldi.
“nona, aku mau.....”
“pergi! Tinggalkan rumahku. Kalian bawalah Meldi pergi dari sini, segera”
Aku sudah tidak sanggup lagi berkata-kata. Tanganku mengepal menahan emosiku. Mas Hari mengambil barang-barang milik Meldi dan menyerahkannya kepada ayah dan ibunya. Dari pantulan cermin aku melihat kekecewaan yang tidak kalah besar dari Bimo dan ibunya.
“Nak, aku ucapkan terima kasih atas semua bantuanmu” kata ibu Meli
“aku tidak melakukan apapun. Pergilah”
Mereka melangkah meninggalkan rumahku hingga tidak satupun dari mereka berada di dalam rumah. aku menangis tersedu-sedu dan aku pun terjatuh. Aku meraung karena kepiluan hatiku.
“Dek ya Allah Dek”
“kenapa Mas? Kenapa dia lakuin itu? Kenapa dia bunuh bayi itu”
“sudah toh Dek, dia memiliki pikiran yang pendek dan banayak alasan yang kita gak tahu”
“Mas...”
Badanku gemetar karena amarah dan kesedihanku meski aku dalam pelukan Mas Hari. Selanjutnya Mas Hari membawaku ke dalam kamar, dia mebaringkan aku yang terpukul atas kejadian itu. Aku meminta Mas Hari untuk menemaniku.
“aku yang menginginkan seorang bayi tapi Allah tidak memberinya. Dia yang bisa mendapatkannya malah membunuhnya”
“semua sudah jadi takdir Allah Dek, kita semua gak ada yang tahu tentang rencananya. Sekarang sebaiknya kamu tidur”
“Mas..”
“Mas disini, temenin kamu. Tidurlah”
Kejadian hari itu adalah kejadian yang berat bagiku. Aku gagal menyelamatkan seorang bayi yang tidak bersalah. Aku merasa sangat terpukul karena kejadian yang baru terjadi itu.