
Mas Hari mengikutiku masuk ke dalam kamar.
“kamu kenapa toh Dek? Kamu gak seneng sama hadiah dari Mas?”
“kata siapa aku gak seneng?” kataku datar
“Mas tahu kalau kamu gak seneng. Kamu gak banyak bicara sejak tadi. Kalau misalnya kamu gak suka ya bilang, gak perlu kamu diem-diem kaya gini”
Aku menarik nafas, “iya aku gak suka. Aku gak suka rumah itu, aku gak suka hadih itu, aku gak suka” kataku dengan ketus
“kenapa? Kamu gak biasanya kaya gini? Kalau ada masalah kamu cerita. Kenapa kamu jadi orang yang mempermasalahkan hal sepele kaya gini”
“hal sepele? Hal sepele yang mana? Kehilangan kakek? Kehilangan Mey? Kehilangan anak-anak dan
Rumah Bimbingan? Atau, tindakan kamu yang menceritakan masalahku kepada keluargaku? Mas, kamu tahu kan, aku tidak pernah suka membagi masalahku dengan keluargaku. Entah itu ibuku, ayahku, ataupun nenekku. Tidak pernah. Dari dulu aku lebih suka menyelesaikannya sendiri, aku tidak pernah membagi semua hal itu dengan mereka. Cuma kamu satu-satunya orang tempat aku mengadu, tempat aku berbagi tentang semua masalahku, satu-satunya orang yang aku mintai pendapat. Cuma kamu. Tapi ternyata kamu masih belum ngerti aku”
“Dek....”
“aku tidak terbiasa untuk berbagi dengan mereka apapun yang terjadi. Jadi tolong jangan pernah berusaha untuk merubahnya”
“harus berubah”
“Mas!.....sampai kapan pun aku tidak akan bisa melakukannya”
“kenapa? Kamu tidak pernah mengatakan alasannya”
Aku mentap Mas Hari.
“kamu harus mengatakan semuanya agar aku mengerti semuanya”
“akan aku ceritakan semuanya”
Aku duduk di kursi yang berada di dalam kamarku, dan aku mulai menceritakan semua hal yang tidak pernah aku ceritakan pada siapapun seumur hidupku. Kenangan yang hanya kusimpan sendiri.
“kamu sudah tahu kalau sejak usiaku satu tahun, nenek sudah membawaku bersama dengannya. Dan kamu tahu jika nenek dan kakek tidak memiliki anak, nenek hanya memiliki papah, dan bibiku
adalah anak angkat mereka.
Sejak saat itu aku lebih banyak menghabiskan waktuku bersama dengan mereka. Karena hal itu aku jadi tidak begitu dekat dengan orang tuaku, termasuk ibuku.
Aku sangat merasa iri pada teman-temanku yang bisa sangat dekat dengan ibunya. Mereka berjalan bersama, berbicara bersama, saling berbagi cerita tentang keluh kesah mereka. Aku sangat ingin semua terjadi padaku. Aku merindukan itu. Aku menginginkan itu semua terjadi padaku”
Aku berhenti sejenak dan menangis.
“sejak kehadiran Rayhan, aku merasa jika mamah telah pilih kasih. Dia lebih Rayhan dari pada aku. Bahkan aku sempat berfikit kalau aku bukan puterinya melainkan puteri nenekku.
Dulu saat aku sakit, aku lebih suka berada dirumah nenek dari pada bersama mamah. Mereka rela
terbangun ditengah malam hanya karena aku. Saat au kecelakaan, nenek dan kakek lebih panik dari pada orang tuaku, bahkan kakek memintaku untuk pergi bersamanya.
Saat aku sakit perut ditengah malam, nenek rela berjaln kaki sendiri ke rumahku hanya untuk mengetahui keberadaanku.
Saat aku tinggal berssama nenek dan kakek, ada tiga ritual malam yang selalu aku lakukan. Dibuatkan susu, dikipasi, dan dinyanyikan oleh kakek. Aku sering tidur dengan kakek hingga aku tamat
sd.
Kau tahu, sejak aku sd aku lebih sering tidur di rumah nenek dan paginya kakek akan mengantarku ke rumah dengan motornya.
Kau tahu, sampai dengan sekarang aku tidak pernah benar-benar merasa nyaman dengan mamah. Aku merasa ada jarak di antara kami. Aku tidak bisa lepas mengeluarkan semua isi hatiku padanya.
Ketika aku ingin melakukan itu, mamah selalu menyela pembicaraanki. Dia menghentikannya. Dan aku tidak tertarik lagi untuk bicara dengannya sampai dengan sekarang. Aku tiak pernah bisa bersama dengan mamah tanpa perdebatan lebih dari lima jam.
Aku merindukan seorang ibu yang akan memegang tanganku saat aku dalam masalah, ibu yang akan merangkul untuk menenangkan aku. Satu kejadian yang membuat bisa berfikir lagi tentang mamah adalah saat aku dalam masalah dan aku hilang kendali, itu semua karenanya. Bahkan aku tidak bisa berkata apapun hari itu, adikku yang menceritakan semua hal yang terjadi padaku. Kau tahu siapa yang menengkan aku saat itu? Papah, papah yang menengkan aku, bukan mamah. Aku selalu bertanya kenapa mamah tidak mau membelaiku malam itu? Kenapa harus papah yang sejak kecil aku sangat tidak menyukainya karena sikapnya yang keras padaku?
Aku selalu merasanya nyaman saat aku bisa menemukan teman-temanku. Teman-teman yang sekarang masih peduli padaku. Aku selalu bahagia ketika aku bisa menghabiskan waktu bersama dengan mereka. Aku lupa dengan semua masalahku. Aku hanya merasa bahagia bersama dengan mereka. Dan aku sedih saat mereka pergi.
“ada dua orang yang sangat berharga dalam hidupku, yang sudah mengajarkanku hal penting dalam hidup. Mereka nenek dan kakekku. Nenek mengajariku tentang pentingnya harga diri seorang wanita. Harga diri yang selalu dia junjung tinggi. Dia tidak akan membiarkan harga dirinya diinjak orang lain. Dia rela kehilangan apapun dari pada harga dirinya diinjak orang.
Kakek mengajariku tentang cinta kasih yang tulus. Cinta kasih tanpa pamrih. Dia bukan kakekku, tapi dia mencintai aku, dan adik-adkku dengan sangat tulus. Dia meberikan cintanya yang begitu besarpadaku. Dia tidak peduli siapa aku, dia tidak peduli darah yang mengalir pada diriku. Dia memberikan segalanya utukku, untuk kebaikanku.
Karena itu, aku tidak akan membuat mereka mendengar atau mengetahui masalah apapun yang sedang aku alami. Tidak akan pernah. Aku hanya akan berbagi kebahagiaanku saja pada mereka”
Air mataku telah mengalir membasahi semua pipiku. Mas Hari langsung mrmrlukku dengan erat setelah mendengar semua penuturanku itu. Sebuah luka lama yang terpakasa aku buka kembali.
“maafkan Mas, Mas tidak mengerti kamu sepenuhnya. Maafkan Mas”
Mas hari mencium tanganku. Dia menangis. Entah karena dia menyesali perbuatannya atau karena merasa kasihan padaku.
“Aku mencintai mereka dengan caraku. Tanpa pernah aku bisa tunjukan ataupun aku katakan. Demi Allah, aku mencintai mereka”
“ya Allah maafkan aku. Kenapa kamu gak pernah cerita sebelumnya kalu kamu mengalami semua ini? Mas tidak menyangka kalau kamu serapuh ini. Ya Allah”
“cintaku telah pergi. Pilarku telah hilang satu. Sekarang hidpku tidak lagi seimbang. Kakek tidak ada lagi bersamaku. Cintaku telah kembali kepada Allah. Ya Allah, aku merindukannya, sangat merindukannya. Tolong jaga cintaku, beri dia tempat terindah di surga-Mu.
Aku merindukannya. Merindukan cintaku. Merindukan genggaman mamah, belaian papah, dan gendongan nenek. Aku, tidak akan pernah lagi mendengar suara lantunan ayatsuci yang dibacakan oleh kakek, tidak akan lagi mendegar nyanyiannya. Aku merindukannya”
“sudah cukup, jangan katakan lagi. Aku mohon”
“kamu tidak mengerti tentang arti nenek dan kakekku. Mereka segalanya bagiku. Aku merindukan cinta mereka, aku merinduakn celoteh mereka, aku merindukan pukulan mereka.
Hal lain yang tidak pernah katakan padamu. Aku, pernah membentak mamah karena perkataannya. Saat itu aku melihat dari mamah. Dia jauh lebih berani, bahkan aku sempat hampir tidak mengenalinya lagi. Dia berani membicarakan hal buruk tentang nenek dan kekek.
Kau tahu, saat mendengar itu bagaikan sebuah belati menancap di jantungku tapi aku tak kunjung mati meski ribuan belati menancap.
Aku tidak suka itu. Aku merasa perbuatan mamah sudah melewati batasan. Aku membentaknya. Aku mengatakan ‘semarah apapun dan sekesal apapun mamah pada nenek atau kakek tolong jangan katakan itu didepanku. Karena aku tidak akan terima. Demi Allah itu sangat menyakitkan untukku. Saat mamah tiak bisa menahanya utnuk mengatakan hal apapuntentang mereka di depanku. Tolong ingat jika merekalah yang telah menjagaku sejak aku kecil, mereka yang telah merawatku. Mereka juga sudah banyak membantumu’
Sejak itu aku tidak pernah suka lagi berbincang tentang hal apapun pada mamah.
Saat aku ingin berbicaraserius, dia akan langsung meninggikan suaranya, dia membuatku tertekan dengan perkataannya. Aku ciut. Aku jadi tidak ingin mengatakan apapu lagi”
“sudah hentikan. Hentikan bicaramu. Tolong hentikan dan maafkan aku”
“mamah tetap tidak mengerti. Pernah suatu ketika, dia tiba-tiba berteriak tanpa alasan yang jelas. Yang aku tahu, dia hanya merasa lelah karena perkerjaan yang berat. Jika saja dia mengatakannya maka aku akan membantunya. Tapi dia tidak mengatakan apapun. Dia merahiku dan adikku. Dia berubah seperti monster kingkong yang memukuli dadanya. Aku hancur melihat dia bersikap seperti itu tapi aku tidak bisa menghentikannya.
Bude yang menenangkannya. Aku tahu mereka menangis bersama. Tapi adakan orang yang menayai tentang perasaanku? Tidak ada. Tidak ada satupun. Mereka akan menyalahkanku. Mereka akan mengatakan jika aku anak yang tidak baik, yang tidak mau membatu orang tua, yang malas, yang selalu menyusahkan.
Aku ingin berteriak kepada mereka, adakah di antara kalian yang menyakan tentang perasaanku? Tentang keadaanku. Adakan yang bertanya tentang sisi pandangku? adakah yang bertanya tentang apa yang kuinginkan? Adakah yang datang untuk menenangkanku juga? Tidak ada Mas, tidak satupun yang datang padaku.
Aku hanya diam di dalam kamar, sendiri. Berbicara sendiri membagi keluh kesahku pada diriku sendiri. Tidak ada keluarga yang datang untukku. Saat aku ingin berbagi tentang masalahku tidak ada ada orang yang tepat utukku ajak berbagi. Aku sempat berfikir untuk berbagi dengan temanku. Tapi, jika orang tuaku tahu aku melakukan itu maka aku akan mendapat masalah lebih besar. Mereka akan mengatakan jika aku telah membuat malu keluarga dengan membicarakan aib keluarga. Lalu kemana aku harus bercerita. Hanya kapada Allah aku mengadu, aku menangis, aku membagi keluh kesahku, membagi kesedihan hatiku.aku tidak punya seorangpun untuk berbagi”
“hentikan sudah cukup! Cukup”
Mas hari memelukku erat dan tidak membiarkan aku utnuk berkata-kata lagi. Dia menutup mulutku agar aku tidak lagi menceritakan semua hal tentang masa laluku yang berat untukku.
“sudah hentikan. Ini semua salahku. Aku tidak mengerti dirimu. Maafkan aku”
“bagaimana ini bisa jadi salahmu? Kamu tidak tahu apapun tentang masa laluku, kamu tidak bersalah. Aku yang tidak menceritakan semua ini padamu”
“tidak tidak. Aku yang salah. Seharusnya aku menyadari itu. Tidak seharusnya kamu menceritakan semua ini. Aku mohon maafkan aku. Maafkan atas semua kesalahanku”
“Mas, aku hanya memilikimu. Hanya kamu satu-satunya orang tempatku berbagi keluh kesahku dan semua masalahku”
“aku tahu. aku tahu itu. Sekarang hentikan semua ini. Jangan buat dirimu mengingat semua kenangan masa lalumu yang berat itu. Kini aku berjanji padamu utuk selalu menerima semua keluh kesahmu dan selalu siap untuk berbagi setiap masalahmu”
Aku memeluknya erat. Dalam hatiku, aku sangat bersyukur karena Allah telah mengirimkan orang sebaik dirinya. Dialah suami terbaik dan terindah sepanjang hidupku.