
Sehari setelah kedatanganku, aku langsung pergi menuju Rumah Bimbingan untuk bertemu dengan orang tua Mey.
Ketika aku tiba di sana, rupanya mereka sudah tiba lebih dulu ketimbang aku. Aku menemui mereka dan dengan penuh curiga melontarkan pertanyaan kepada mereka tentang Mey.
Mereka bisa menjawab pertanyaanku dengan benar, bahkan mereka mampu menunjukan foto-foto
kecil Mey. Aku merasa hancur dan bahagia. Hancur karena akan kehilangan Mey dan bahagia karena Mey bisa kembali kepada kedua orang tuanya.
“tolong pertemukan kami dengan anak kami Melinda. Kami sangat merindukannya”
Aku terdiam sejenak, entah apa yang sedang aku pikirkan.
“sebelum itu aku minta agar kalian menjaga Mey dengan lebih baik. Jangan sampai kejadian sebelumnya terulang”
“tentu saja. Tolong jangan mempersulit kami bertemu dengan anak kami. Sudah lama kami menantinya”
“baiklah, kalian tunggu disini”
Aku segera pergi keluar untuk menjemput Mey yang saat itu bersama dengan Mas Hari. Aku tidak
segera membawa Mey saat itu. Aku memeluk dan menciumnya terlebih dahulu sebelum aku benar-benar kehilangan puteri kecilku.
Setelah puas memeluk dan menciumnya, aku segera menggendongnya untuk selanjutnya aku pertemukan dengan orang tuanya.
“Melinda...” kata si ibu
Sesaat Mey terdiam bahkan cenderung tidak ingin wanita tersebut menyentuhnya, namun lambat laun Mey mulai mengingat kedua orang tuanya.
“Mamah...”
“iya sayang ini Mamah”
Mey dan ibunya langsung berpelukan.
“Tuhan kenapa sakit bagiku menyaksikan semua itu. Aku tidak bisa kehilangan lagi Tuhan, dia puteriku” kataku
“Mey....” lirihku
Tanpa menoleh Mey terus berada dalam pelukan orang tuanya. Mereka larut dalam keharuan setelah sekian lama berpisah. Ini terakhir kalinya aku bertemu dengan Mey. Mereka segera membawa Mey pergi menjauh dariku.
Sebisa mungkin aku menahan air mataku saat Mey berada di depanku. Namun setelah Mey lenyap dalam pandanganku barulah aku menagis sejadi-jadinya.
“Mas. Mereka membawa Mey. Mereka membawa puteriku” kataku
“sudah sudah. Mey sudah kembali kepada orang tuanya”
“aku juga ibunya, Mas. Ya Tuhan kenapa kau ambil puteriku dariku juga.”
“Dek, gak baik bilang gitu”
“kenapa Mas, kenapa semua orang yang aku sayang pergi. Kakek, dan sekarang Mey”
“Tuhan lebih sayang kakek, karena itu Dia memanggilnya”
“lalu Mey?”
“bagaimana pun Mey akan lebih bahagia dengan orang tuanya”
Aku kacau kali itu. Aku merasa hidupku sudah hancur. Namun rupanya masalahku tidak hanya sampai disitu saja, karena Tuhan masih mengujiku dengan masalah yang lebih besar.
Rumah Bimbingan juga akan lepas dariku.
Ya. Kepemilikan Rumah Bimbinganku digugat oleh orang tua Mey. Bahkan dihari yang sama setelah mereka bertemu Mey, beberapa orang polisi datang untuk mengabil milikku. Mereka berpendapat jika aku menyalahgunakan Rumah Bimbingan tersebut.
“maaf, kami harus mengambil hak kepemilikan Rumah Bimbingan ini”
“kenapa? Apa hak kalian melakukannya?”
“karena Anda telah melanggar batasan Anda”
“batasan apa?”
“Anda telah mempersulit orang tua bertemu dengan anaknya. Anda sudah menyembunyikan anak kami”
“apa? aku tidak mengerti.”
“intinya, anda tidak berhak lagi mengelola Rumah Bimbingan ini”
“Mas?”
“maaf ibu, bapak. Bisa kita bicara di dalam? Akan lebih baik jika kita bicarakan masalah ini di dalam saja. Mari...” kata Mas Hari
Kami semua bergegas masuk kembali ke dalam ruang kerjaku. Hatiku berdebar berada dalam situasi seperti itu.
“kami datang kemari untuk mengambil hak kepemilikan dari Rumah Bimbingan ini”
“kenapa? Apa alasannya hingga kalian ingin mengambil hak kepemilikan dari Rumah Bimbingan ini?”
“kami mendapat laporan jika Anda telah menyalahgunakan anak-anak yang ada di rumah ini”
“Menyalahgunakan anak-anak? Aku mengeksploitasi mereka?”
“buktinya, kami harus menunggu lama untuk bertemu dengan anak kami karena dia membawa anak kami kelur kota”
“astaga. Mey tidak ingin saya tinggalkan karena itu saya membawanya. Dan saya tidak pernah melakukan eksploitasi anak dalam bentuk apapun. Saya menyayangi mereka dan memperlakukan mereka seperti anak saya sendiri”
“bohong! Tentu Anda akan banyak berdalih untuk menyelamatkan diri Anda”
“Ya Tuhan. Masalah ini akan saya bicarakan terlebih dahulu dengan pengacara saya” katau dengan nada suara lemas
“maaf Bu, tapi pengadilan telah memutuskan bahwa anak-anak yang berada di rumah ini dan kepemilikan rumah ini diserahkan kepada pemerintah”
Sontak pernyataan itu membuatku amat sangat terkejut. Aku nanap dibuatnya. Tidak bisa lagi aku berkata dan mempercayai apa yang sedang terjadi dihadapanku.
Aku lantas bersandar di sandaran kursi. Mas Hari segera menggenggam tanganku.
“maaf tapi putusan pengadilan memang seperti itu adanya, karema masalah ini telah bergulir cukup lama dan pihak Bapak dan Ibu tidak merespon apapun”
“apa? bagaimana bisa? Kami tidak pernah bermasalah dengan siapapun juga mengenai rumah ini. Jadi bagaimana bisa itu terjadi?” kataku dengan panik
“kami tidak tahu. Tapi yang pasti ibu sudah tidak memiliki hak terhadap Rumah Bimbingan ini lagi”
Aku lemas. Aku sudah tidak sanggup melakukan apapun sekarang. Kakek telah pergi. My meninggalkanku dan sekarang anak-anak asuhku juga lepas dariku.
Orang-orang tersebut pun pergi. Sementara itu tanpa aku sadari air mataku mulai menetes. Seketika aku kehilangan semangat hidupku.
“Dek...”
“Ibu...”
“mereka...pergi.. Tuhan mengambil semuanya dariku. Apa aku sudah melakukan hal yang salah. Anak-anakku pergi” kataku dengan terbata-bata hingga akhirnya menangis tersedu-sedu
Mba Ros dan Mba Tut menjadi cemas, sedangkan Mas Hari berusaha menguatkan aku dengan terus menggenggam tanganku.
“mereka semua pergi Mas. Kenapa mereka pergi dariku? Aku akan melakukan apapun asal mereka kembali padaku” kataku sembari menangis
Mas Hari lantas memelukku erat, “sudah, tenanglah”
“aku ingin anak-anakku Mas. Ya Allah, kenapa Kau ambil mereka semua dariku?”
“jangan bilang begitu”
“kembalikan mereka. Mba Ros, Mba Tut tolong kembalikan anak-anakku. Aku.. aku yang merawat mereka, kenapa mereka mengambil anak-anakku? aku memenuhi semua keinginannya. Aku Ibu mereka. Aku... aku...Ahhhh!”
Aku tidak lagi bisa mengendalikan emosiku sendiri, dan keadaan itu membuatku tidak sadarkan diri.
Barulah setelah aku sadar kembali perasaanku mulai terasa jauh lebih tenang, meskipun kesedihan masih tetap aku rasakan.
“kita pulang..?” kata Mas Hari
Aku menyetujui apa yang dikatakan Mas Hari tanpa harus mengatakan sepatah katapun. Aku hanya bisa berjalan lemas dan memegang erat tangan Mas Hari yang berjalan disampingku.
“kalian jagalah anak-anak” kata Mas Hari
“tapi, apa yang harus kami katakan jika anak-anak bertanya tentang ibu?” tanya Mba Ros
“katakan apapun agar mereka bisa mengerti. Aku percayakan semuanya pada kalian”
“baik Pak..”
Aku tidak bisa mengatakan sepatah katapun saat itu. Sungguh perasaan ku tidak bisa aku katakan dalam untaian kata-kata. Hanya, orang-orang yang mampu menghayati saja yang bisa mengerti dengan apa yang sedang aku rasakan saat ini.
Sepanjang jalan menuju rumah aku hanya bisa terdiam dengan pikiran yang terus berkelana.
“aku sudah kehilangan semuanya. Aku kehilangan semua.” Ujarku dalam hati
Aku kembali meneteskan air mata. Aku kembali terisak.
“menangislah untuk kali ini, dan ingat kau masih memiliki aku” kata Mas Hari dengan lembut
“kenapa Allah mengambil semua hal berharga dalam hidupku?” katku dengan lemas
“karena Allah tahu yang terbaik bagi hambanya. Apa yang terjadi padamu sekarang, pasti Allah punya rencana yang indah untukmu kelak”
“kakek, Mey, sekarang anak-anakku, semua tidak ada yang tersisa lagi untukku. Demi Allah hatiku sakit Mas”
“ingatlah Allah selalu bersamamu”
Tidak lama setelah itu, kami pun tiba di rumah. Mas Hari langsung mengantarku masuk ke dalam kamar dan merebahkan aku di atas tempat tidur.
“mau makan sesuatu?” tanyanya
“tidak”
Aku memejamkan mataku sesaat berharap aku bisa tertidur. Tapi rasa sakit di hatiku yang teramat besar membuatku kembali merasa sakit.
Selama beberapa hari aku berada dalam kabut kesedihan. Hal itu membuatku sanagt terpuruk dan tidak mampu melakukan apapun yang biasa aku lakukan.
***
Hari itu, aku duduk di sofa dengan layar televisi yang menyala. Tapi sungguh, aku tidak tahu apa yang sedang disiarkan saat itu.
“Dek...”
Aku menoleh karena terkejut
“keluargamu akan datang kesini”
“kenapa?”
“sekedar berkunjung”
“kapan?”
“hari ini, eh.. tepatnya nanti malam”
“Mas ko gak bilang aku dari sebelumnya? Stok makanan habis”
“kalau begitu kita pergi belanja?”
Aku tersenyum dengan bujukan suamiku itu. Manis, romantis. Aku menyukainya.
“baiklah..”
Aku tahu, dia merasa sangat khawatir dengan keadaanku selama beberapa hari ini. Tapi aku juga tidak bisa menyembunyikan kesedihanku.
Di saat itu juga aku dan Mas Hari bergegas untuk pergi berbelanja bahan makanan di supermarket terdekat.