
Sejak pagi Mario terlihat khawatir. Ia terus saja berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan raut wajah masam. Bagaimana tidak, jika semalam ia secara tidak sengaja bertemu kembali dengan Rosalyn, istrinya yang telah ia tinggalkan selama lima tahun terakhir ini.
Memang selama beberapa hari ini Mario merasa sangat rindu kepada Rosalyn dan juga kedua putrinya, itulah sebabnya malam itu ia berjalan ke padang dandelion, tempat di mana ia dapat melihat dunia yang dulu pernah menjadi dunianya.
Kepergiannya ke padang dandelion itu tentulah tanpa sepengetahuan Yasmin, jika Yasmin tahu, maka matilah ia.
Yasmin sendiri adalah pasangannya selama ia menetap di Flos Terra. Entah sebutan apa yang cocok untuk menggambarkan hubungannya dengan Yasmin, toh mereka tidak menikah. Mereka hanya berjanji untuk selalu bersama ... selamanya, dan akibat dari janji itu ia harus meninggalkan istri dan juga kedua putrinya.
Malam itu, saat ia tengah berdiri di tengah-tengah padang dandelion, tiba-tiba saja Rosalyn muncul di hadapannya, seperti kabut pada awalnya, lalu mulai terlihat nyata secara perlahan, dan ia terkejut sekali saat kemudian sosok yang ia rindukan itu berbicara kepadanya.
Mario menegang. Bukannya ia tidak suka dapat kembali bertatap muka dengan Rosalyn, hanya saja hal itu sungguh berbahaya. Bagaimana jika Rosalyn tidak dapat kembali ke dunianya, bagaimana nasib anak-anak mereka? Dan yang paling membuatnya khawatir adalah bagaimana jika Yasmin melihat Rosalyn? Apa yang akan terjadi kepadanya?
Maka dengan sangat berat hati, Mario menjauh dari sosok yang terlihat rapuh itu. Walaupun kedua tangannya ingin merengkuh tubuh istrinya, tetapi tidak ia lakukan. Dirinya takut jika terjadi hal yang buruk dengan Rosalyn akibat kecerobohannya.
"Ada apa sayangku? Kamu terlihat begitu khawatir." Yasmin memasuki kamar dan merangkul tubuh Mario dari belakang.
"Ah, Cara, aku tidak tahu kamu ada di sini!" Cara adalah kata ganti sayang yang sering digunakan di Flos Terra.
"Um, bagaimana kamu bisa menyadari kehadiranku, jika kamu saja terus melamun. Apa yang sedang kamu pikirkan?" Yasmin membelai lembut punggung Mario, membuat pria itu bergidik.
"Tidak ada."
"Jangan berbohong. Apa kamu memikirkan wanita itu?" tanya Yasmin, dengan nada tidak suka.
"Wa-wanita apa maksudmu?" Mario berlagak bingung.
"Wanita di padang dandelion semalam. Jangan terkejut begitu, aku memang melihat semuanya!" ujar Yasmin, saat merasakan tubuh Mario menegang.
"Yasmin, aku ... aku tidak--"
"Shuut!" Yasmin meletakkan telunjuknya pada bibir Mario, lalu menyentuhnya dengan lembut. "Tidak masalah jika kamu merindukannya. Itulah sebabnya, wanita itu bisa datang kemari, karena kamu merindukannya, Mario, tapi jangan pernah menginginkannya kembali, dan kamu pun jangan pernah berharap untuk kembali ke dalam pelukannya. Toh kamu adalah milikku sekarang! Kita sudah berjanji, bukan?" Yasmin lalu mendekatkan bibirnya pada bibir Mario dan ia melepaskan pesonanya.
Tubuh Yasmin seketika mengeluarkan sinar keemasan, atmosfer di sekitar tubuhnya menghangat, dan ada wangi yang sangat khas menguar dari dalam tubuhnya. Wangi yang memabukkan, membuat Mario seketika melupakan segalanya, dengan penuh semangat ia menyambut bibir wanita cantik itu, dan selanjutnya mereka melakukannya ... menghabiskan waktu selama mungkin di atas tempat tidur. Membuat Mario semakin melupakan keluarganya.
***
Tenda yang biasanya penuh sesak dengan deretan baju besi itu sekarang terlihat merenggang, jelas sekali bahwa telah terjadi kehilangan besar-besaran di tenda itu.
Zayan semakin bingung dan penasaran dengan identitas si pencuri. Tidak mungkin si pencuri dapat membawa keluar baju besi sebanyak itu dari dalam tenda tanpa terlihat oleh siapapun. Bahkan menara pengawas hanya berjarak beberapa meter dari lokasi kejadian.
Zayan dan Zein memutari tenda, mereka bahkan tidak dapat menemukan kerusakan di bagian belakang tenda, yang artinya pencuri itu melewati pintu utama saat membawa pergi baju besi sebanyak itu.
"Kamu sudah menanyai penjaga menara?" tanya Zayan.
"Sudah, tapi satu pun dari mereka tidak ada yang melihat pelaku, dan semalam tidak terjadi hal yang mencurigakan," jawab Zein.
"Benarkah? Apa menurutmu mereka berkata jujur? Um, maksudku ... apa kamu yakin mereka ada di menara saat itu. Sekarang musim semi, kamu tahu 'kan, bayak pesta di mana-mana. Apa mungkin mereka menghadirinya diam-diam?" Zayan terlihat ragu.
Zein menggeleng. "Tidak mungkin mereka melakukan itu. Penjaga yang bertugas saat musim semi seperti ini adalah prajurit dari tribus hiems, mereka tidak menyukai musim semi dan juga pestanya. Jadi aku rasa hal itu tidak mungkin!" jelas Zein.
"Tapi mereka menyukai gadis-gadis musim semi, bukan?"
"Nah, untuk yang satu itu aku tidak tahu."
Zayan menghela napas dengan berat. Ia akan mengalami kerepotan yang luar biasa untuk membuat laporan atas kehilangan-kehilangan yang terjadi, dan yang lebih parah lagi adalah, setelah sekian banyak pencurian dan lamanya penyelidikan yang ia lakukan, hingga sekarang ia masih belum menemukan pelakunya.
"Temani aku untuk berpatroli nanti malam. Semoga malam ini kita beruntung dan dapat menangkap pencuri sialan itu!" ujar Zayan, tegas.
"Baiklah." Zein mengangguk.
Zayan kemudian menunggangi kudanya untuk kembali ke baraknya. Saat sedang menunggangi kuda tiba-tiba saja rasa kantuk menyerangnya. Hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Ia dengan susah payah berusaha agar matanya tetap terbuka.
Kemudian sesuatu terjadi, desiran halus mulai memasuki gendang telinganya. 'Temui aku!' Ia sendiri tidak tahu dari mana asal suara itu, suara lembut itu memohon, terdengar penuh harap dan cemas.
Zayan menggelangkan kepalanya, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa suara itu memang benar-benar nyata, bukan hanya sekadar halusinasinya. Namun, kemudian desiran itu kembali datang. 'Aku mohon Zayan, temui aku, plis!'
"Keysa!" lirihnya.
Bersambung.