
Zayan bergegas menuju kastil yang berada di ibu kota. Kedatangannya kembali ke kastil itu bukan tanpa alasan. Dirinya memutuskan untuk mencari tahu siapa gerangan sosok yang berhasil merebut Mario dari dunianya.
Sebenarnya sudah sangat lama ia tidak menginjakkan kaki di kastil itu. Semenjak hari itu, hari di mana kekasihnya meninggalkan dirinya dan memutuskan untuk menerima lamaran seorang panglima. Sejak saat itu ia bersumpah tidak akan kembali ke tempat itu lagi.
Kastil itu bernama Solis Kastil. Pusat segala aktivitas para bangsawan Flos Terra. Segala aktivitas yang berhubungan dengan pemerintahan berpusat di tempat itu.
Dulu sekali, ratusan tahun yang lalu, Zayan pernah memegang jabatan penting di Solis Kastil. Mengingat dirinya merupakan putra dari seorang raja tentu saja ia memiliki peranan penting, tetapi kemudian ia mundur dari jabatan itu dikarenakan perselisihannya dengan salah satu petinggi yang mengatakan bahwa anak seorang selir tidak pantas menjabat di Solis Kastil walaupun ada darah raja mengalir di dalam tubuhnya.
Ia menarik diri dan memutuskan untuk menjadi prajurit biasa yang bertugas di pedesaan. Di hari yang sama saat ia mengundurkan diri ternyata Zein dan Aidan pun mengikuti langkahnya. Mereka beralasan, Kastil bukanlah tempat yang istimewa, tidak ada kebebasan dan petualangan di sana.
Sejak bertugas di pedesaan itulah ia menemukan seseorang yang membuat hatinya kembali berdebar.
Seorang gadis dari dunia lain yang ia lihat di perbatasan. Gadis itu merebut hatinya. Perlahan tetapi pasti Zayan sungguh ingin memilikinya. Gadis itu adalah Keysa.
"Hai, Tampan! Apa yang kamu lakukan di sini?"
Sebuah suara mengagetkan Zayan. Zayan menoleh, dan ternyata suara itu adalah suara Azalea, salah satu temannya yang menjabat di Solis Kastil.
Zayan tersenyum. "Hai, Jelek!" sapa Zayan, membuat Azalea cemberut. Sebenarnya Azalea tidaklah jelek, penghuni Flos Terra seluruhnya memiliki paras yang rupawan. begitu pun dengan Azalea, ia cantik, bermata bulat, bibir merah, pipi sangat tirus dan rambut hitam legam sepanjang pinggul.
"Oke, aku jelek. Well, apa yang kamu lakukan di sini. Bukankah seratus tahun lebih sedikit yang lalu kamu mengatakan tidak akan pernah menginjakkan kaki di Kastil ini lagi? Kenapa tiba-tiba berubah pikiran? Apa luka di hatimu sudah sembuh, atau kamu datang untuk mencariku? Memintaku untuk menikah denganmu?"
Zayan melipat tangannya di depan dada, mendengarkan dengan senang hati setiap celotehan Azalea. Gadis itu sama sekali belum berubah, setelah seratus tahun, setelah penolakan yang Zayan berikan kepadanya ia tetap gadis yang periang dan penuh percaya diri.
Azalea memukul lengan Zayan. "Kenapa hanya menatapku? Setidaknya katakan sesuatu."
"Bagaimana aku bisa mengucapkan sesuatu, kamu sejak tadi tidak memberiku kesempatan."
"Ahaaa! Aku sudah memberimu kesempatan selama seratus tahun ini, Za, lalu apa jawabanmu? Keputusanmu untuk pernyataan cintaku?" Azalea menatap Zayan dengan tatapan tajam.
Zayan hanya tertawa, kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
Azalea mengembuskan napas dengan kesal kemudian mengikuti langkah pria itu. "Kamu tidak pernah menganggap serius ucapanku, Za."
"Entahlah, kamu sudah aku anggap sebagai teman dan sulit sekali merubah posisi teman menjadi kekasih di hatiku," jawab Zayan.
"Apa karena kamu masih mencintai Zinnia?" tanya Azalea.
Zayan terkekeh. "Tidak, yang kurasakan padanya sejak saat itu hanyalah rasa sakit hati, tidak ada perasaan apa pun lagi!"
"Benarkah? Lalu kenapa kamu tidak mencoba untuk membuka hatimu. Uum, untukku misalnya?"
Zayan menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Azalea. "Tidak ada getaran di sini, Lea. Maafkan aku," ujarnya sambil menyentuh dada.
"Aah, getaran. Baiklah tidak masalah. Aku bisa terima alasanmu, selama aku masih memiliki getaran itu di sini, aku akan terus mencintaimu." Azalea menyentuh dadanya sendiri sembari tersenyum kepada Zayan yang nenatapnya dengan tatapan iba. "Oh, Ayolaah, Za. Jangan membuatku semakin terlihat menyedihkan dengan tatapan itu!"
Zayan merangkul Azalea. "Maaf. Aku sungguh minta maaf!"
"Ck, lupakan! Sekarang katakan apa alasanmu datang kemari?"
"Apa kamu masih bertugas di bagian arsip yang mengurusi catatan kependudukan?" tanya Zayan. Tiba-tiba saja ia mendapat ide untuk meminta bantuan Azalea, toh hal itu akan lebih mudah daripada ia harus mengendap-endap mencari catatan tentang pendatang baru yang tiba di Flos Terra dalam beberapa tahun terakhir di ruang arsip.
"Ya. Aku masih bertugas di bagian itu. Ada apa?"
"Bantu aku untuk menemukan seseorang, Lea!"
Wajah Zayan terlihat begitu serius, membuat Azalea bertanya-tanya sepenting apa seseorang yang coba Zayan temukan.
"Heem, baiklah, tapi katakan dulu padaku bahwa Dandelion bisa menari!" Azalea tersenyum jahil.
"Ck, ayolaah, jangan bercanda."
"Menarilah bersamaku saat Dandelion itu menari, Zayan, lalu izinkan aku menciummu!" goda Azalea, membuat Zayan tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Kalau tidak mau membantu, ya, sudah!" ucap Zayan, dengan wajah cemberut yang dipaksakan sambil berlalu pergi dari hadapan Azalea.
Gadis itu berlari-lari kecil mengekor langkah Zayan, sambil terus mengucapkan kalimat-kalimat menggoda yang membuat Zayan gemas.
Dari kejauhan terlihat sepasang mata memandang Zayan dan Azalea dengan penuh kecemburuan.
"Kamu kembali, Za. Seharusnya setelah ratusan tahun kamu menemuiku, bukan menemui Azalea!"
***
Aidan tersandung akar pepohonan yang mencuat dari tanah, ia tidak melihatnya tadi karena terlalu fokus membidik rusa besar yang berada jauh di depannya.
"Argh, ****!" Anak panahnya melesat jauh dari target yang ia bidik. Ia melemparkan busurnya ke samping lalu mengacak rambutnya dengan frustrasi.
"Kamu tidak begitu jago memanah, Aidan!" terdengar suara mencemooh dari kejauhan. Aidan mengedarkan pandangannya, berusaha mencari asal suara itu.
"Oh, kamu!" ucapnya, saat netranya menemukan sosok Zein di balik pepohonan. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku sedang melakukan sesuatu. Jangan salah paham, aku tidak sedang berusaha untuk menonton kebodohanmu. Aku benar-benar sedang melakukan pekerjaan penting," ucap Zein, sedikit angkuh.
Aidan menaikkan sebelah alisnya. "Oh, ya! Apa tepatnya yang sedang kamu lakukan?"
"Haruskah aku memberitahumu? Hal ini sangat penting, sehingga merupakan sebuah rahasia. Hanya Zayan yang tahu!"
Aidan menyunggingkan senyum mengejek kepada Zein. "Pasti masalah wanita, tidak salah lagi."
"Bukan! Ini bukan tentang wanita."
"Ck. Kalian keterlaluan. Apa kalian menyembunyikan seorang wanita di hutan ini?" Aidan tidak mendengarkan perkataan Zein, dan tetap beranggapan bahwa Zein sedang menyembunyikan seorang wanita. Hal itu membuat Zein merasa marah, ia menghampiri Aidan dan berkata dengan lantang bahwa tidak ada wanita yang disembunyikannya.
"Kamu pikir, aku dan Zayan serendah itu! Kami tidak begitu, untuk apa kami menyembunyikan wanita di dalam hutan?!"
"Ya, mana aku tahu!" ujar Aidan, cuek.
"Tidak ada wanita di hutan ini. Jika tidak percaya biar aku tunjukkan!" Zein kemudian bersiul, dan menjentikkan ujung jarinya. Tidak berapa lama puluhan atau bahkan ratusan kupu-kupu berdatangan menghampirinya. Ia memang memiliki kemampuan seperti itu, memanggil segerombolan kupu-kupu lalu memerintah hewan bersayap indah itu untuk melakukan apa yang ia inginkan. Kemampuan yang luar biasa menurut Aidan.
"Tunjukan padaku, apakah ada wanita di dalam hutan ini?" ucapnya, lalu tersenyum sinis pada Aidan. Ia yakin sekali kupu-kupu itu tidak akan pergi ke mana pun, karena memang tidak mungkin ada seorang wanita yang berani memasuki hutan ini.
"Woaah, woaah, lihatlah, Zein. Mereka menuju ke mana?" Aidan menunjuk gerombolan kupu-kupu itu yang terlihat mulai berterbang dengan teratur menuju suatu tempat. "Habislah kamu kali ini!" Aidan melirik Zein yang terlihat bingung.
"Ada apa ini? Mau ke mana mereka?" Zein menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, lalu mengikuti ke mana perginya kupu-kupu itu. Sementara Aidan mengekor di belakangnya.
Kupu-kupu itu terbang menuju ke sebuah lembah jauh di dalam hutan. Zein dan Aidan mengikuti ke mana perginya kupu-kupu itu tanpa banyak bicara.
"Bukankah keterlaluan sekali kalian berdua. Kenapa menyembunyikan wanita di dalam hutan yang berbahaya seperti ini?" ucap Aidan kemudian.
"Diamlah. Sudah aku bilang, kami tidak menyembunyikan wanita. Lagi pula untuk apa menyembunyikannya di dalam hutan seperti ini. Memasuki hutan sejauh ini saja aku tidak pernah!" ujar Zein membela diri.
Aidan tidak menjawab. Mereka terus memasuki hutan yang semakin dalam dan semakin gelap dikarenakan intesitas cahaya yang mulai berkurang karena rapatnya pepohonan yang tumbuh.
Zein sesekali menoleh ke arah Aidan, ia terlihat khawatir dan mulai bertanya-tanya, wanita mana yang berani berada di dalam hutan.
Setelah melewati bagian hutan yang paling gelap, akhirnya pepohonan yang tumbuh rapat itu berangsur menghilang. Digantikan dengan tumbuhan berwarna kuning dan putih yang terlihat membentang luas hingga ke lembah yang berada di bawah mereka.
"Ada dua padang Dandelion?" celetuk Zein.
"Wah! Aku baru tahu. Sebelumnya aku tidak tahu tentang tempat ini. Itu berarti negeri kita memiliki dua portal?" Aidan menatap padang Dandelion di hadapannya dengan mata berbinar.
"Hai, Aidan. Lihatlah kupu-kupu itu. Mereka terus terbang ke bawah. Ayo!" Zein menarik tangan Aidan kemudian mereka menuruni bukit menuju lembah yang ada di bawah mereka.
Saat tiba di lembah yang terapit oleh bukit itu, segerombolan kupu-kupu pun berhenti dan berputar-putar di atas sebuah gundukan jerami. Sesekali gundukan itu bergerak pelan.
"Apa itu?" bisik Zein.
"Entahlah. Lebih baik kita bersiap, bisa saja di dalamnya adalah seorang pemberontak yang bersembunyi. Aidan balas berbisik.
Aidan kemudian mengeluarkan pedang yang ia sarungkan di bagian belakang tubuhnya. Sementara Zein mencabut satu buah anak panah dan memasangnya pada busur yang sedari tadi ia pegang.
Mereka berdua berjalan perlahan dengan pedang dan busur menghadap ke gundukan itu.
Zein menarik tali busurnya saat Aidan menyingkirkan tumpukan jerami itu dengan sabetan pedangnya.
"Siapa kamu?"
Bersambung.