THE SECRET OF LOVE IN THE DANDELION

THE SECRET OF LOVE IN THE DANDELION
PETUNJUK PERTAMA



Satu hari sebelum kejadian.


Rosalyn menatap tak percaya saat matanya menangkap sosok yang sangat tidak asing baginya. Sosok yang telah menghilang selama lima tahun itu menatapnya tanpa berkedip, sama terkejutnya dengan dirinya.


"Mario?" gumam Rosalyn, sambil melangkah menghampiri sosok yang sangat ia rindukan itu. "Kamukah itu?" tanyanya lagi, kemudian setengah berlari agar lekas tiba di hadapan Mario.


"Benar, ini kamu! Aku sedang tidak bermimpi, 'kan?" lirihnya.


"Kamu bermimpi, Lyn. Ini hanya mimpi!" Mario kemudian berbalik meninggalkannya.


"Tidak! Jangan tinggalkan aku, aku mohon!" Rosalyn memeluk kaki suaminya, tetapi Mario menyentakkan kakinya dari cekalan Rosalyn, hingga wanita itu terjatuh.


Roslyn terbangun dengan napas terengah-engah. Mimpi itu benar-benar seperti kenyataan. Ia melihat Mario tengah berada di sebuah tempat yang sebelumnya tidak pernah ia lihat. Tempat itu merupakan tempat terindah yang pernah dilihatnya. Tanah yang sangat luas dan ditumbuhi dengan bunga dandelion.


Suaminya terlihat berbeda. Mario terlihat bersinar dengan pakaian berwarna kuning cerah, dan ia tidak terlihat menua sedikitpun.


Rosalyn bangkit dari tempat tidurnya, berniat menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajah. Namun, kemudian ada sesuatu yang melintas di benaknya. Pemandangan yang baru saja ia lihat di dalam mimpi sepertinya pernah ia lihat sebelumnya.


Ia berdiri mematung, memejamkan mata dan meremas rambutnya dengan gemas. Berusaha mengingat kembali, dan ....


"Lukisan Mario!" teriak Rosalyn kemudian. Ia lalu berlari menuju gudang tempat di mana ia menyimpan barang-barang milik Mario.


Setelah menghabiskan waktu hampir setegah hari mencari gulungan kanvas itu. Akhirnya Rosalyn menemukannya.


Benar! Sama persis seperti yang baru saja ia lihat di dalam mimpi. Hanya saja di dalam lukisan itu--tepat di tengah padang dandelion--terlihat seorang wanita cantik dengan rambut panjang mencapai pinggul tengah tersenyum.


Wanita itu sangat cantik. Rosalyn terus memandang lukisan wanita itu dengan perasaan cemburu.


...



...


"Dia sekarang milikku! Bukan milikmu! Jangan berani menunjukan rupamu di hadapan Mario!"


Rosalyn menjatuhkan lukisan yang pegang saat terdengar suara bisikan di telinganya. Apa yang baru ia dengar sangat nyata sekali, membuat bulu kuduknya meremang dan hatinya menjadi sakit.


"Apa menurutmu mungkin untuk jatuh cinta kepada sesuatu yang tidak nyata, Lyn?" ucapan Mario terngiang kembali di telinganya. "Lalu, apakah keterlaluan jika memilih menghilang untuk sesuatu yang belum pasti dan meninggalkan mereka yang selama ini selalu ada bersama kita? Padang dandelion itu sangat indah, dan dia pun terlihat sangat indah!"


Saat itu tepat satu hari sebelum Mario menghilang. Rosalyn berpikir Mario tengah membicarakan sebuah ide untuk buku selanjutnya yang akan ia tulis.


Suaminya itu memiliki hobi menulis cerita fantasi, lalu akan memberikannya kepada putri mereka untuk dibaca. Hanya tulisan di atas buku biasa, tetapi dibuatnya semenarik mungkin.


Kedua lututnya seketika terasa lemas. Rosalyn berbalik, memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Tetapi ada sesuatu yang tertangkap oleh sudut matanya.


"Perkamen," desisnya. Ia mengambil gulungan perkamen yang terselip di antara tumpukan barang milik Mario lalu membukanya.


Buk!


Sesuatu yang keras menghantam kepala Rosalyn, membuat wanita itu terjatuh dan akhirnya tidak sadarkan diri.


***


Flos Terra di pimpin oleh seorang raja yang biasa disebut Rex Regum. Rex Regum merupakan Raja terpilih, dan kedudukannya tidak akan tergantikan, kecuali jika Rex Regum meninggal dunia ... dan itu sangat tidak mungkin--kaum mereka memiliki umur yang sangat panjang.


Negeri itu pernah mengalami perang mengerikan yang terjadi selama ratusan tahun. Perang yang membuat negeri itu hancur, bahkan banyak sekali nyawa yang tidak berdosa harus menjadi korban dari perang yang berkepanjangan.


Sehingga tidak terlalu mengherankan, jika sekarang walaupun perang telah usai, masih terdapat tenda-tenda prajurit di wilayah perbatasan lengkap dengan senjata juga puluhan kuda yang siap untuk mengadang jika tiba-tiba daerah mereka diserang. Terutama di daerah pedesaan, yang jaraknya terlalu jauh dari markas besar prajurit di Ibu Kota.


Zayan berjalan dari satu tenda ke tenda lainnya. Mengecek peralatan tempur yang tersimpan di dalam tenda-tenda besar itu.


Belakangan ini banyak sekali yang menghilang dari dalam tenda. Seperti busur dan juga anak panahnya, pelana kuda, dan beberapa hari yang lalu ia pun kehilangan kuda andalannya.


Sungguh mengesalkan saat dirinya harus berpatroli menggunakan kuda lain. Sementara ada seorang pencuri yang telah berhasil mengambil kuda tersayangnya. kuda yang gagah dan tercepat di antara kuda lainnya yang pernah ia lihat, bahkan kuda milik Rex Regum sekali pun tidak secepat kuda miliknya.


Zein memiliki tubuh sedikit lebih pendek dari Zayan dan Aidan. Namun, wajahnya tidak kalah tampan, dan ia jago memanah. Mereka bersaudara, tetapi Zayan tidak sedekat itu dengan Zein.


"Benarkah, Apa yang mereka ambil?" tanya Zayan, dengan kesal.


"Kudengar pencuri itu mencuri selusin baju besi," jawab Zein.


"Selusin?!" kedua mata Zayan membelalak. "Yang benar saja? Baju besi bukan sesuatu yang mudah untuk dibawa ke mana-mana tanpa dilihat oleh siapapun, Zein!"


"Ya, itu juga yang aku pikirkan, tapi pada kenyataannya pencuri itu memang membawa selusin baju besi tanpa izin," ucap Zein mantap. Walaupun ia sependapat dengan Zayan.


"Ayo kita ke sana! Kita lihat, apa benar selusin baju besi itu hilang." Zayan melangkah mendahului Zein menuju lokasi di mana baju-baju besi di simpan.


***


Amelia mengaduk-aduk makanan yang ada di piringnya. Kepalanya tertunduk dan bibirnya cemberut. Bagaimana tidak, jika sedari tadi Keysa terus menatapnya dengan kesal, membuat dirinya menjadi serba salah dan merasa menjadi seorang penjahat.


"Bukankah aku sudah minta maaf, Key? Lagi pula kedatangan kami ke sini berniat untuk membantumu menghadapi kesulitan. kenapa kamu masih marah?" Amelia mendelik ke arah Keysa yang duduk dengan kaku di seberang meja makan.


"Santai saja, Kak Mel. Kak Key memang seperti itu, nyebelin terkadang, tapi walaupun mukanya cemberut begitu, Adinda yakin hatinya pasti tidak sekesal kelihatannya, kok!" ujar Adinda, berusaha menenangkan Amelia yang terlihat bersalah.


Keysa menggebrak meja makan di hadapannya, membuat Adinda dan Amelia terlonjak.


"Tidak kesal bagaimana?! Aku benar-benar kesal, tahu! Kenapa kamu harus datang kemari, sih, Mel, ditambah lagi kamu ajak Keanu tanpa bertanya dulu padaku. Kamu tidak peduli aku keberatan atau tidak! Seharusnya kamu--"


"Seharusnya apa?" Keanu tiba-tiba muncul dan ikut bergabung bersama mereka. Ia menatap bingung ke arah Amelia dan Keysa.


"Ah ... bu-bukan apa-apa, Ken. Aku tadi cuma mau bilang, seharusnya Amelia makan yang banyak. Iya 'kan, Mel?" Keysa memenuhi piring Amelia dengan nasi putih dan ayam goreng. Keysa tahu bahwa sahabatnya itu sedang melakukan diet ketat, maka dengan sengaja ia memenuhi piring Amelia dengan berbagai makanan untuk meluapkan kekesalannya kepada Amelia.


Amelia memonyongkan bibirnya, tetapi tidak berani membantah. Ia sadar bahwa tindakannya salah. Membuat dirinya dan Keanu masuk ke dalam permasalahan yang tengah dihadapi Keysa tanpa izin terlebih dahulu memang sangat lancang, tetapi itu semua ia lakukan karena ia sangat peduli dengan Keysa, dan ... ia melakukannya agar dirinya selalu berada di samping Keanu.


"Oh, ya, Keysa. Aku tadi ke gudang untuk melihat-lihat, dan aku menemukan ini tergeletak begitu saja di lantai." Keanu menyerahkan gulungan kanvas kepada Keysa. "Lukisan yang bagus. siapa yang melukisnya?"


Keysa menerima gulungan itu dan membukanya. Matanya membelalak sempurna. "Ini ... astaga! Lukisan ini ...." Keysa menggantungkan ucapannya. Ia menatap takjub pada lukisan itu. Lukisan itu menggambarkan padang dandelion yang sering ia kunjungi saat ia sedang tertidur.


"Apa ... ada apa?" Amelia yang bingung dengan tingkah Keysa segera bangkit dari kursinya lalu menghampiri Keysa. "Dandelion! Apa ini tempat yang sama, Key?


"Ya ... sama, tempat ini tempat yang sama! Apa mungkin ini sebuah petunjuk?"


"Apa yang kalian bicarakan?" Keanu terlihat bingung.


"Wanita itu. Apa kamu pernah melihatnya juga?" Amelia kembali bertanya.


"Belum. Aku belum pernah melihat wanita ini."


"Kalau begitu lupakan saja. Pasti hanya kebetulan mirip!" sahut Amelia.


"Haaiii! Ini sungguhan, bukan kebetulan. Aku yakin, Mel."


Kemudian kedua sahabat itu kembali saling berdebat. Mereka berdua sama sekali tidak memedulikan pertanyaan yang keluar dari mulut Keanu maupun Adinda. Membuat Keanu dan Adinda menjadi penonton setia perdebatan yang sepertinya tidak kunjung usai itu.


Perdebatan yang tidak mereka mengerti.


Perdebatan aneh yang melibatkan, peri, raja, putri, dan dandelion.


...



...


Bersambung ....