THE SECRET OF LOVE IN THE DANDELION

THE SECRET OF LOVE IN THE DANDELION
BUKAN KHAYALAN



Zayan tersentak, dan kemudian menatap Keysa dengan tatapan penuh arti. Zayan merasa iba kepada gadis itu, dirinya sama sekali tidak menyangka jika ayah Keysa menghilang secara misterius, karena selama ini ia mengira bahwa ayah Keysa telah meninggal dunia, dan yang membuat Zayan merasa bersalah adalah kenyataan bahwa kemungkinan besar ayah Keysa sekarang berada di Flos Terra. Jelas sekali bahwa salah satu dari penghuni Flos Terra telah merebut ayah Keysa dari Keysa dan juga ibu serta adiknya.


Dandelion yang bisa menari adalah sebuah lelucon di Flos Terra. Lelucon itu diucapkan untuk menyatakan cinta. Aneh bukan? Ada cerita di baliknya, mengapa ucapan itu menjadi sangat populer di Flos Terra.


Sehingga tidak diragukan lagi, jika ayah Keysa mendengar kata-kata itu, pastilah ia mendengarnya dari salah satu penghuni Flos Terra, dan jika kemudian ayah Keysa menghilang secara misterius setelahnya maka bisa jadi ia memutuskan untuk menetap di Flos Terra.


"Zayan?" Keysa menggerakkan telapak tangannya di hadapan Zayan.


"Ah, iya, maaf." Zayan terkejut.


"Bagaimana? Apa kamu tahu sesuatu?" tanya keysa.


"Entahlah. Aku akan mencari tahu, key. Siapa nama ayahmu?"


"Mario. Namanya Mario!"


"Buka kah nama itu adalah nama yang sering kamu sebut ketika kamu berada di perkebunan mawar?"


Keysa mengangguk. "Ya, dia ayahku. Aku bekerja di perkebunan mawar untuk meneruskan profesi ayah dan juga untuk mencari petunjuk, siapa tahu ayah meninggalkan jejak sebelum dia menghilang."


***


"Key, Keysa, bangunlah, Key."


Samar-samar Keysa mendengar suara dari kejauhan memanggil namanya. Detik berikutnya Keysa merasakan sensasi yang sama seperti saat ia berpindah dari dunianya ke Floss Terra, dan tiba-tiba saja kedua matanya terbuka, memperlihatkan langit-langit kamarnya yang berwarna putih bersih.


"Apa yang terjadi? Kamu sulit sekali kubangunkan!" Amelia terlihat khawatir.


Keysa menguap dan merentangkan kedua tangannya ke atas. "Kenapa kamu membangunkanku. Ada yang terjadi?"


"Sudah waktunya makan malam," jawab Amelia, kemudian berbalik hendak meninggalkan Keysa.


"Hah! Makan malam. Jam berapa sekarang?" teriak Keysa, wajahnya terlihat sangat terkejut.


"Jam delapan malam, Key. Kenapa?" jawab Amelia, yang menghentikan langkahnya begitu mendengar teriakan Keysa.


"A-aku, aku tidur selama itu?" ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Arloji itu tidak ada di tangannya saat ia berada di Flos Terra. Tetapi saat dirinya kembali, arloji itu pun kembali melingkar di pergelangan tangannya.


"Iya, kamu tidur seperti orang mati. Cepat bangun sebelum makanannya dingin," ujar Amelia sambil berjalan menuju pintu. Namun, ia kembali menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Keysa. "Oh iya, Key, lepaskan sepatumu saat kamu akan tidur. Sepatu itu kotor."


Keysa mengalihkan pandangan ke arah kakinya. Benar saja, sepatu itu kembali terpasang di kakinya. 'Aneh!' batinnya.


Setelah selesai menyantap makan malam, Keysa dan juga Amelia duduk di teras rumah yang berpenerangan redup. Sementara Adinda berada di kamar untuk menemani Rosalyn.


"Aku tadi mengunjungi dunia itu, Mel," ucap Keysa.


Amelia mengerutkan alisnya. "Dunia itu? Dunia apa tepatnya yang sedang kamu bicarakan?"


"Flos Terra."


"Flos Terra, Mel, Flos Tera!"


"Itu nama apa? Kota? Negara ... atau apa?" Amelia benar-benar terlihat bingung.


"Nama tempat yang sering kukunjungi saat aku sedang tertidur. Ternyata nama tempat itu adalah Flos Terra, dan tempat itu bukanlah bagian dari khayalanku. Tempat itu benar-benar ada dan nyata, Mel. hanya saja tempat itu berada di dunia lain."


"Oh, ayolaah, Key, jangan mulai!" keluh Amelia.


"Mel, aku serius. Bagaimana caranya aku menjelaskan padamu!" Keysa terlihat frustrasi. "Um, begini, biar aku mulai dari ... nama laki-laki yang sering hadir dalam mimpiku adalah Zayan, dan dia bukan peri atau pun pangeran seperti yang selama ini aku kira. Dia lebih mirip prajurit saat aku bertemu dengannya beberapa kali. Aku bisa datang ke tempat itu hanya saat aku tertidur, seperti saat aku tidak sadarkan diri lalu tiba-tiba secara ajaib aku sudah berada di tempat lain, dan tempat itu adalah Flos Terra, portalnya adalah padang dandelion yang terdapat pada lukisan ayahku, dan dari sana aku bisa melihat perkebunan mawar tempatku bekerja. Aku benar-benar bisa melihatnya, Mel."


Amelia semakin mengerutkan alisnya. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menyangga wajah dengan satu tangan sambil memberi tatapan sangsi pada Keysa.


"Kamu tidak percaya?" tanya keysa, melihat kerutan di alis sahabatnya itu.


"Entahlah. Saat kamu menceritakannya terdengar meyakinkan, tetapi mengingat kamu hobi mengarang cerita, aku jadi beranggapan bahwa kamu sedang berfantasi."


Keysa mencubit pinggang Amelia. "Jahat! Apa tidak bisa kamu percaya padaku?! Dasar menyebalkan, keterlaluan."


"Lalu, apa yang diinginkan laki-laki itu sehingga dia terus datang di dalam mimpimu?"


Keysa dan Amelia terperanjat karena suara yang tiba-tiba hadir di tengah mereka.


"Keanu!" Keysa menatap teman lelakinya itu dengan kedua pipi merona. Ia malu sekali, sepertinya Keanu mendengarkan percakapannya dengan Amelia sejak tadi, dan sekarang laki-laki itu pasti berpikir bahwa dirinya tidak waras.


Keanu segera duduk di samping Keysa. "Lanjutkan!" pintanya.


"Apanya?" tanya Keysa, kikuk.


"Tentang Flos Terra tadi. Mau apa si Zayan itu denganmu?" Keanu terlihat serius, mata sendunya menatap tajam langsung ke dalam mata Keysa, membuat hati Keysa berdebar tak keruan.


"Kamu dengar? Um ... lupakan saja, Ken. aku--"


"Bagaimana aku bisa melupakannya jika ada seseorang yang ingin merebutmu dariku." Keanu masih belum mengalihkan pandangannya dari keysa.


"Kamu menganggap serius ucapannya, Ken?" Amelia sungguh tidak percaya, Keanu yang cerdas dan realistis tiba-tiba saja percaya pada cerita Keysa yang lebih terdengar seperti dongeng daripada kisah nyata.


"Apa ada alasan untuk tidak percaya?" Keanu balik bertanya kepada Amelia.


"Dia itu ... Keysa, dia itu suka berkhayal!" Amelia kehabisan kata-kata. tidak tahu harus menjelaskan seperti apa pada Keanu. Berbanding terbalik dengan Keysa yang tiba-tiba saja merasa bersemangat karena keanu percaya kepadanya, maka gadis itu melanjutkan ceritanya tentang Flos Terra dan segala yang telah ia alami.


Keanu mendengarkan dengan saksama, sementara Amelia ... aah, sudahlah, Amelia hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar setiap penuturan tidak masuk akal dari Keysa.



Bersambung.