
Zayan memacu kudanya secepat yang ia bisa menuju Solis Kastil. Ia harus mencari cara agar dapat keluar dari Flos Terra, barangkali Azalea tahu bagaimana caranya. Bagaimanapun juga Azalea bekerja di sana, seharusnya sahabatnya itu mengetahui cara agar ia dapat pergi dari Flos Terra.
Setelah beberapa saat akhirnya ia tiba di tempat tujuan. Tanpa banyak membuang-buang waktu lagi, Zayan segera melangkah menuju bangunan menjulang yang ada di hadapannya, langsung menuju tangga yang mengarah ke lantai empat.
...
...
Beberapa pengawas di sana memperhatikan Zayan, tetapi tidak ada yang berani untuk menghentikannya. Mereka semua tahu siapa Zayan, sehingga tidak pantas rasanya jika mereka harus menghentikan langkah Zayan hanya untuk memeriksa dan bertanya tentang keperluannya datang ke Solis Kastil. Ia seorang putra raja, terserah padanya mau berbuat apa!
Zayan berlari melewati banyak anak tangga. Sedikit melelahkan memang. Apalagi ia harus melewatinya satu per satu. Ia mulai berpikir seandainya saja dirinya memiliki kelebihan seperti Zein. Saudaranya itu memiliki kekuatan yang tidak banyak dimiliki oleh penduduk Flos Terra. Saat menaiki tangga terkadang Zein sengaja menyombongkan dirinya dengan cara sedikit melayang di udara.
Setelah tiba di lantai empat, Zayan segera menghampiri ruangan tempat Azalea melakukan tugasnya--mengawasi kedatangan penduduk baru di Flos Terra. Belum lagi tiba di ruangan yang dituju, sebuah tangan menarik pergelangan tangannya. Membuat Zayan menghentikan langkah. Jujur saja ia sangat penasaran, siapa yang berani menyentuhnya.
"Zayan."
Zayan menatap sosok itu. Sosok cantik dengan gaun merah menyala yang dulu pernah mengisi hari-harinya. Secepat kilat, Zayan menyentakkan tangannya dari cekalan Zinnia. Si wanita pengkhianat, lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangan Azalea. Zinnia sendiri tidak menyerah, ia terus mengekor Zayan dengan langkah cepat.
...
...
"Azalea! Lea, Lea!" teriak Zayan sembari membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan sederhana dengan dinding batu yang terlihat biasa saja.
...
...
"Zayan! Ada a--" Azalea menghentikan ucapannya begitu melihat siapa yang ada di belakang Zayan. "Kalian datang berdua?" tanyanya kemudian setelah berhasil mengatasi rasa terkejutnya.
"Katakan padaku, Lea. Bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari sini?" Zayan tidak menghiraukan pertanyaan Azalea tentang sosok Zinnia yang berdiri di belakangnya. Ia fokus pada tujuannya, tidak ingin permasalahan malah melebar ke mana-mana.
"Apa maksudmu dengan keluar dari sini?" Zinnia yang menjawab. Wanita itu terlihat benar-benar terkejut akan pertanyaan Zayan. "Apa yang terjadi, Za?"
Akan tetapi, Zayan sama sekali tidak menghiraukannya. Ia menghampiri Azalea dan mengguncang tubuh wanita dari tribus musim semi itu. Membuat beberapa kelopak bunga berjatuhan dari gelungan rambut panjangnya. "Lea, aku bertanya padamu!" seru Zayan.
"Hah, apa katamu tadi?" Azalea tersadar dari lamunannya.
"Bagaimana caranya agar aku dapat keluar dari Flos Terra?" Zayan mengulang pertanyaannya.
Azalea mundur beberapa langkah. Wanita itu terlihat terkejut akan pertanyaan Zayan, sama seperti Zinnia. "Kamu gila?"
"Tidak! Aku waras. Katakan saja aku harus bagaimana. Ada yang harus kulakukan di luar sana, Lea. Tolong aku."
Seorang Zayan memohon, tentu bukan hal yang biasa. Azalea dan Zinnia saling melempar tatapan bingung.
"Bohong!" teriak Zayan.
"Lagi pula untuk apa kamu ingin pergi dari sini, Za. Apa masalahmu? Apa yang akan kamu lakukan, hah?"
"Ini penting, aku mohon--"
"Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke mana pun!" Azalea memotong ucapan Zayan.
"Baiklah! Baiklah!" desis Zayan, sambil melangkah mundur menuju pintu yang masih terbuka lebar. "Aku akan mencari tahu sendiri. Tidak perlu membatuku! Tidak perlu!" Zayan kemudian berlari menyusuri lorong dan menuruni tangga. Dua anak tangga sekaligus dalam sekali lompatan. Ia merasa kesal sekali karena baik Zinnia maupun Azalea tidak ada yang bersedia untuk membantunya. Maka hanya satu cara yang tersisa, ia harus menemukan pria yang waktu itu dilihatnya di dalam hutan. Pria pemilik Vinculum Membranis. Hanya pria itu yang dapat menolongnya.
***
Xanteus melempar buntelan besar yang ia seret dengan susah payah sepanjang jalan. Buntelan itu berat. Tentu saja, karena buntelan itu berisi segala macam perlengkapan perang yang ia curi dari tenda penyimpanan yang ada di perbatasan.
"Ini melelahkah!" gerutunya, sambil bersandar pada pohon besar yang ada di sampingnya.
"Biar aku bantu kalau begitu!" Zayan keluar dari persembunyiannya dan segera mengarahkan pedang ke arah sosok gempal dengan pakaian lusuh yang sedaritadi dinantinya.
Xanteus diam mematung. Ia menatap Zayan dengan mata melotot. "Tu-tuan!"
"Aku tahu dari mana kamu dapatkan semua barang curian itu, Sialan!" bentak Zayan. "Apa kamu tahu, jika aku mengadukanmu kepada kepala devisi keamanan di Solis Kastil, Kira-kira tindakan apa yang akan mereka ambil untuk menghukummu? Memotong tanganmu atau--"
"Jangan, Tuan. Aku mohon jangan adukan. Aku mohon." Xanteus berlutut di hadapan Zayan dan memohon belas kasihan dari prajurit kebanggaan Flos Terra itu.
Zayan menaikan sebelah alisnya sembari menyingkirkan pedangnya dari hadapan Xanteus. "Siapa namamu?"
"Xanteus, Tuan."
"Dari tribus mana kamu berasal?" tanya Zayan lagi.
"Tribus? Entahlah, aku tidak tahu. Aku ini semacam makhluk buangan." Xanteus menjawab dengan wajah masam.
Zayan berdecak mendengar jawaban Xanteus. "Baiklah, tidak masalah kamu berasal dari tribus mana. Tetap saja kamu itu seorang pencuri."
"Tolong aku, Tuan. Maafkan aku--"
"Ke mana kamu akan membawa barang-barang itu?" Zayan melirik buntelan yang ada di hadapannya.
Xanteus tidak menjawab. Pria itu terlihat gugup.
"Apa ke dunia lain?" tanya Zayan lagi. "aku tahu kamu memiliki Vinculum Membranis, Xanteus. Aku tidak akan mengadukanmu ke Solis Kastil, asal kamu membawaku bersamamu!"
Xanteus membelalak mendengar ucapan Zayan. "Tapi, Tuan, Anda tidak bisa ikut. Anda seorang prajurit dan Anda adalah putra Rex Regum--"
"Aku memang putranya, tetapi aku bukan putra mahkota! Bawa aku, Xanteus, sebelum aku berubah pikiran dan menyeretmu ke Solis Kastil!"
Bersambung.