THE SECRET OF LOVE IN THE DANDELION

THE SECRET OF LOVE IN THE DANDELION
DUNIA YANG BERBEDA



Keysa bangkit dari tidurnya dan memilih untuk duduk di sebuah kursi kayu yang terletak di depan jendela kamarnya. Sejak kembali dari Flos Terra beberapa hari lalu, tidak sekalipun ia dapat tidur dengan nyenyak. Keysa merasa takut jika saat sedang tertidur tiba-tiba saja tubuhnya kembali berada di Flos Terra dan berhadapan dengan pria bertubuh besar yang saat itu mengayunkan pedang ke arahnya.


Keysa menghela napas dengan berat dan membuka jendela kamar. Membiarkan angin malam memasuki ruangan yang terasa pengap. Perlahan Keysa menyentuh bagian dadanya, di mana kemarin sebuah pedang dari dunia lain menancap dan menusuk hingga ke dalam jantungnya. Ya, setidaknya begitulah yang ia rasakan. Tidak mungkin tidak mengenai jantung, karena saat itu ia merasakan sakit yang teramat sangat.


Ia masih ingat bagaimana rasanya dan ia juga masih ingat bagaimana Zayan berusaha melindunginya saat itu.


"Dia terluka. Dia pasti terluka," gumam Keysa, saat bayangan Zayan yang menahan ayunan pedang kembali terlintas di dalam benaknya.


Dengan cepat  Keysa keluar dari dalam kamar lalu berlari menuju pintu belakang. Ia tahu bahwa Keanu pasti sedang tidur di ruang depan, sehingga tidak mudah baginya untuk mengendap-endap keluar. Keanu yang cerewet itu pasti menahannya dan mulai mengajukan banyak pertanyaan. Itulah sebabnya Keysa memilih pintu belakang sebagai jalan agar ia dapat keluar dari rumah saat itu juga. Ia tidak ingin mengambil resiko.


Sesampainya di dapur, Keysa segera membuka pintu belakang dengan perlahan  lalu kemudian berlari dengan cepat menuju jalan setapak yang akan membawanya menuju perkebunan mawar.


 Keysa sendiri tidak tahu apakah yang dilakukannya nanti akan membuahkan hasil, yang ia tahu hannyalah Zayan dapat melihat perkebunan mawar itu dari padang dandelion. Ya, perkebunan mawar itu merupakan portal menuju  dunia Zayan--Flos Terra--walaupun ia tidak tahu bagaimana caranya agar ia dapat kembali ke sana. Keysa hanya berharap semoga Zayan sekarang sedang berada di padang Dandelion sehingga pria itu dapat melihatnya dan mengatakan sesuatu kepadanya. Ia sungguh berharap keadaan Zayan baik-baik saja.


***


Keanu berjaga semalaman di luar rumah begitu para gadis terlelap di dalam rumah mungil itu. Setelah memastikan bahwa Keysa, Amelia dan Adinda telah tertidur, Keanu tidak langsung membaringkan tubuhnya dengan nyaman di kasur lipat yang telah disediakan oleh Amelia di ruang tamu. Pria tampan bermata sendu itu lebih memilih untuk duduk di pekarangan rumah Keysa dan berjaga-jaga barangkali akan ada sesuatu hal buruk yang mungkin terjadi.


Keanu sedang berusaha membuat dirinya senyaman mungkin di atas sebuah kursi yang terbuat dari anyaman rotan ketika ia melihat bayangan seorang gadis dengan cepat melintas dari arah samping rumah.


Untuk sesaat Keanu merasa terkejut dan menebak-nebak siapa gerangan yang berlari dengan begitu cepatnya. Manusia atau bukan?


Lalu kemudian sosok itu melintasi jalan setapak yang disinari lampu dari tiang-tiang tinggi di tepi jalan. Saat itulah Keanu mengenali sosok itu. Sosok berambut lurus dan panjang tengah berlari tanpa mengenakan alas kaki.


“Keysa,” gumam Keanu, sebelum akhirnya ia menyusul gadis itu.


Keanu berusaha agar tidak membuat  banyak suara, oleh karena itu ia pun memilih untuk melepas alas kakinya dan mengikuti Keysa tanpa banyak bicara. Ia bahkan tidak berusaha memanggil-manggil gadis itu.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua tiba di sebuah perkebunan bunga mawar. Keanu memperhatikan Keysa yang terus melangkah memasuki area perkebunan yang sangat rimbun. Gadis itu tidak terlihat ragu sedikit pun. Padahal suasana kebun sangat menyeramkan. Bukan hantu yang Keanu takutkan, tetapi ular.  Bagaimana jika Keysa tidak sengaja menginjak ular?


“Mau ke mana dia?” gumam Keanu. Tanpa banyak berpikir, ia pun segera menyusul Keysa memasuki area perkebunan lebih dalam.


Keysa kemudian berhenti tepat di tengah perkebunan. Gadis itu terlihat bingung. Terkadang ia menghadap ke arah selatan, lalu kemudian merubah arah pandangannya ke arah utara dan beberapa saat kemudian ia kembali berputar menghadap arah yang berlawanan. Hal itu dilakukan Keysa berulang kali sambil melambaikan tangan. Seakan ia sedang memberitahu keberadaannya kepada seseorang yang tidak jelas keberadaannya.


Keanu merasa bingung dan iba akan sikap Keysa. Apalagi ia melihat Keysa melakukannya sambil menangis. Wajah cantik gadis itu basah karena air mata.


Keanu menghela napas degan berat, lalu memutuskan untuk menghampiri Keysa. Namun, kemudian ia menghentikan langkahnya saat mendengar Keysa berteriak menyebutkan sebuah nama.


“Zayan! Zayan, aku di sini. Aku baik-baik saja, Zayan. Bagaimana denganmu? Bagaimana dengan tanganmu? Apa rasanya sakit, hah? Sakitkah, Za?” teriak Keysa sambil melambaikan tangan ke segala arah. Ia tidak tahu dari sudut mana ia akan terlihat oleh Zayan. Itulah sebabnya ia berputar-putar agar Zayan dapat melihatnya dari segala arah.


Seharusnya ia merasa senang, karena dengan demikian tidak ada lagi yang mencoba untuk mengayunkan pedang kepadanya. Namun, aman dari sabetan pedang itu berarti sama saja dengan menjauh dari Zayan.


“Kenapa kamu tidak memanggilku, Zayan. Kenapa kamu tidak memanggilku? Kenapa tidak hadir dalam tidurku?” Keysa jatuh berlutut. Ia merasa putus asa sekali.


Kemudian Keysa merasakan sebuah sentuhan lembut di pundaknya. Gadis cantik itu mendongak untuk menatap siapa gerangan yang berani menyentuhnya. “Keanu.”


Keanu mengangguk, lalu kemudian ia mengusap wajah Keysa yang basah karena air mata. “Mari pulang.”


“Tidak, Ken, kamu pulanglah duluan. Aku—“


Cup!


Keanu mendaratkan bibirnya pada bibir Keysa,  membuat Keysa kehilangan kata-kata.


Lama mereka saling berciuman, walaupun Keysa tidak membalas gerakan bibir Keanu di atas bibirnya tetap saja ia tidak berusaha untuk menjauh. Keysa tidak sekalipun meminta Keanu untuk berhenti. Saat ini dirinya sedang rapuh, jujur saja lembutnya bibir Keanu di atas bibirnya membuat dirinya sedikit lebih nyaman. Apalagi udara di perkebunan itu sangat dingin, sehingga ciuman Keanu itu terasa sangat menghangatkan.


Keysa memejamkan mata. Menikmati setiap sentuhan lembut  Keanu yang mulai merangkul tubuhnya. Tanpa ia ketahui bahwa ada yang terluka melihat semua itu. Ia adalah Zayan.


Zayan baru saja hendak pergi dari padang Dandelion ketika ia melihat seorang gadis tengah berlari memasuki perkebunan mawar. Gadis itu kemudian berteriak memanggil namanya.


“Key!” teriak Zayan saat itu. Namun, tidak ada yang terjadi. Keysa tidak dapat mendengarnya kali ini.


Zayan semakin mendekati garis batas tak kasat yang memisahkan antara dunianya dan dunia Keysa. Di tempat Keysa berdiri suasana telihat gelap, sementara di tempat Zayan berdiri suasana sangat cerah. Zayan terus melangkah. Sedikit lagi, sedikit lagi, sedikit lagi.


“Ouch!” terasa sengatan di sekitar kulitnya. Zayan meringis. Ia mendesah kesal saat menyadari bahwa sampai kapan pun ia tidak akan bisa menghampiri Keysa. “Cobalah tertidur, Key, aku akan menghampirimu. Cobalah tertidur, plis!” pinta Zayan.


Ia terus menatap Keysa yang menangis. Hati Zayan terasa hancur, di satu sisi ia lega karena Keysa-nya masih hidup. Namun, di sisi lain ia merasa sedih melihat Keysa menangis seperti itu.


Lalu kemudian Zayan melihat seorang pria bejalan menghampiri Keysa. Ia terus memperhatikan dari tempatnya berdiri. Pria itu menyentuh bahu Keysa, mengusap wajah cantik pujaan hatinya, lalu ....


“Sialan!” desis Zayan. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pria itu mengecup bibir sang pujaan hati dengan lembut.


Hati Zayan jelas terbakar cemburu. Ingin rasanya ia menghampiri pria itu dan menariknya menjauh dari Keysa. Akan tetapi tidak ada yang bisa dilakukannya. Semakin ia mencoba untuk menerobos batas antara kehidupannya dan kehidupan Keysa, semakin ia merasakan sakit pada sekujur tubuhnya dan tentu saja ia merasa semakin melemah.


“Dunia kita berbeda, Key. Jika keselamatanmu terancam di duniaku, maka tunggulah aku. Aku yang akan datang ke duniamu!”


Bersambung.