
Keanu menurunkan Amelia dari gendonganya saat mereka telah tiba di teras rumah. Amelia seketika merosot saat kakinya menyentuh lantai papan. keysa menahan tubuh sahabatnya itu tepat waktu, kemudian mendudukan tubuh Amelia pada kursi rotan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Tunggu di sini. Aku akan mengambilkanmu segelas air!" ujar Keysa, kemudian berbalik hendak pergi ke dapur, tetapi Amelia menahan tangannya.
"Jangan pergi ke mana-mana, Key. Ceritakan saja padaku semua yang pernah kamu coba ceritakan ... dulu." Amelia menatap Keysa dengan tajam.
"Sekarang?" tanya Keysa.
Amelia mengangguk. "Iya, sekarang. Entah mengapa aku merasa khawatir sekali."
"Maksudmu?" Keysa balas menatap Amelia.
"Orang tadi, Key. Dia bukan manusia seperti kita. Kamu lihat tadi, dia tiba-tiba menghilang saat mendengar suara Keanu. Me-menghilang begitu saja, sama seperti saat dia muncul tadi." Amelia terlihat sangat tegang, dan ketegangan itu dengan mudah menular kepada Keysa dan Keanu.
"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Keanu.
"Key, terakhir kali aku membangunkanmu, kamu terlihat terkejut karena hari sudah malam. Saat itu kamu memang tidur dengan sangat nyenyak. Sejak siang kamu terus berada di dalam kamar. Apa saat itu kamu ke sana?" Amelia kembali bertanya tanpa memedulikan pertanyaan Keanu.
"Ya. Aku di sana. Aku memang terkejut karena ternyata hari sudah malam, padahal aku di sana tidak lama."
"Itu berarti waktu di sana dan di sini berbeda." Amelia kemudian berdiri dan memegang kedua tangan keysa. "Key, sebelumnya aku memang tidak percaya dengan semua yang kamu ucapkan, aku juga tidak percaya tentang keberadaan tempat yang sering kamu sebutkan itu, tetapi setelah mendengar perkataan orang tadi, aku menjadi percaya. Pokoknya, Key, bagaimana pun caranya kamu harus menghindar dari tempat itu. Berhentilah datang ke sana, ya! Orang tadi terlihat bukan orang baik-baik, itu pun jika memang dia bisa disebut orang."
"Aku tidak bisa mengendalikannya, Mel. Terakhir kali memang aku yang meminta agar dapat tiba di sana. Tetapi sebelum-sebelumnya, aku tiba-tiba sudah berada di sana saat aku memejamkan mata! Dan dia, dia seperti sudah menungguku di sana, seolah dialah yang memanggilku."
Keanu memotong pembicaraan mereka. "Kalian berdua bisa tolong jelaskan padaku apa yang sedang kalian bicarakan? Dan, Key, siapa yang menunggumu di sana?"
***
Xantheus muncul di tempat yang telah ia tuliskan di atas perkamen. Ia tidak mengenakan mantelnya karena terburu-buru. Maka, segera setelah tiba di Flos Terra, ia berlari menuju sungai yang terlihat tidak jauh dari tempatnya berdiri dan kemudian merendam dirinya di sana.
Bukan tanpa alasan ia melakukan semua itu. Saat menggunakan Vinculum Membranis untuk berpindah tempat maka sensasi yang dirasakan oleh tubuh sangatlah luar biasa panas. Itulah sebabnya, Xantheus selalu mengenakan mantel berlapis-lapis dan menyediakan air mineral sebelum ia berpindah tempat. Agar ia dapat segera mengatasi rasa panas terbakar yang mengerikan itu.
Xantheus memutuskan untuk kembali ke tepi sungai ketika rasa panas di tubuhnya mulai berkurang. Namun, ada seseorang yang datang. Ia segera bersembunyi di balik batu besar yang terletak di tepi sungai.
Orang itu adalah Zayan. Ia melangkah dengan hati-hati menuju sungai. Sesampainya di tepi sungai ia membasahi kepalanya dan menggosok wajahnya dengan kasar.
Dirinya masih sangat terkejut dengan kenyataan yang baru saja didengarnya dari Azalea.
Azalea mengirimkannya sebuah surat yang menjelaskan tentang Mario, dan betapa terkejutnya ia bahwa Mario ternyata telah menetap di Flos Terra sejak dua tahun lalu.
Zayan kembali membuka gulungan perkamen itu dan membaca setiap huruf yang dituliskan Azalea di sana.
"Za, aku menemukan catatan tentang orang itu, pria bernama Mario yang kamu cari telah menetap di Flos Terra sejak dua tahun yang lalu, dan apakah kamu tahu siapa yang membawanya? Pasti kali ini kamu akan sangat terkejut. Tarik napasmu, Za, sebelum aku mengatakannya. Eheem, yang berhasil untuk membujuk Mario agar menetap di Flos Terra adalah Yasmin! Dia selir ayahmu, bukan? Dan kalau aku tidak salah ingat, mereka berdua diasingkan di Desa Exsilium. Mereka tidak ada di sini sekarang!"
Zayan meremas perkamen itu. Ia masih ingat kejadian yang sempat menghebohkan Istana saat itu. Rex Regum mengamuk karena salah seorang selirnya berkhianat, dan yang membuat harga diri seorang Rex Regum menjadi semakin tercoreng adalah fakta bahwa Yasmin berkhianat dengan seorang manusia. Sungguh tidak sebanding!
Zayan menunggangi kudanya dengan cepat menuju portal di mana ia dapat bertemu dengan Keysa.
Portal itu adalah padang Dandelion di perbatasan.
***
"Hai! Lama tidak berjumpa." Zayan menghampiri Keysa yang terlihat bingung di tempatnya berdiri.
"Oh, hai, Zayan," sapa Keysa, berusaha tersenyum walaupun dia masih merasa bingung dan merasa sedikit mengantuk.
"Maaf, aku harus memanggilmu. sepertinya di duniamu sudah larut malam." Zayan memandang perkebunan mawar yang jauh di hadapannya, langit di atas perkebunan mawar itu terlihat gelap dan penuh dengan bintang-bintang. Berbeda dengan padang dandelion tempatnya dan Keysa berdiri sekarang yang masih disinari oleh teriknya sinar matahari.
"Ah, tidak apa-apa. Lagi pula, ada yang ingin kukatakan kepadamu, Za."
"Aku pun, Key. Ada hal penting yang harus kusampaikan kepadamu." Zayan semakin mendekatkan tubunya pada tubuh Keysa.
Keysa tidak berusaha untuk mundur, ia hanya menaikan sebelah alisnya. "Oh, ya. Kalau begitu katakan apa yang ingin kamu sampaikan kepadaku."
"Kamu saja yang duluan mengatakan apa yang ingin kamu katakan." Zayan terlihat salah tingkah.
Jarak mereka sudah sangat dekat, sehingga mereka dapat saling merasakan embusan napas satu sama lain.
Lama mereka hanya saling tatap. Sebenarnya mengulur waktu untuk tidak segera mengatakan apa yang ingin mereka katakan hanyalah sebuah alasan agar pertemuan mereka tidak segera berakhir.
Baik Zayan maupun Keysa masing-masing menginginkan waktu yang panjang untuk mereka, mereka ingin bisa bersama lebih lama.Tidak hanya sekadar saling sapa, kemudian berpisah seperti yang sudah-sudah.
Zayan dan keysa memang dua makhluk yang berasal dari dunia yang berbeda, tetapi daya tarik diantara keduanya sangatlah kuat. Seolah mereka memang tercipta untuk saling bersama, untuk saling melengkapi, dan ... saling mencintai!
Segerombolan kupu-kupu yang tiba-tiba muncul entah dari mana mengagetkan mereka berdua. Menyadarkan Zayan dan keysa dari kekaguman yang mengelilingi ruang di antara mereka.
Keysa yang terkejut melihat kedatangan kupu-kupu yang begitu banyak segera berlindung di belakang tubuh besar Zayan.
"Apa itu?" tanya Keysa.
"Zein!"
"Hah?"
"Kupu-kupu ini adalah tanda bahwa Zein ada di sini. Jangan takut, Zein itu saudaraku."
Bersambung.