
Suasana di Flos Terra sangat menegangkan. Terutama setelah desas-desus tentang kepergian Zayan tersebar hingga ke pelosok negeri.
Zinnia dan Azalea mendapat panggilan mendadak agar datang ke istana saat itu juga oleh Rex Regum--Raja yang berkuasa--untuk dimintai keterangan. Entah dari mana pihak istana tahu tentang kepergian Zayan. Padahal saat itu--saat Zayan mengutarakan niatnya untuk pergi--hanya ada Zinnia dan Azalea, dan mereka berdua tidak sebodoh itu untuk mengatakan kepada siapa pun tentang niat Zayan.
Kedua wanita cantik itu berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruang utama di mana terdapat singgasana raja. Beberapa Domina--dayang istana--terlihat penasaran akan kehadiran kedua wanita bangsawan itu. Sementara Azalea sedaritadi melempar tatapan tidak suka ke arah Zinnia.
"Jangan menatapku begitu. Kamu tidak berhak menatapku dengan cara yang aneh seperti itu," ujar Zinnia dengan sinis.
"Pasti kamu, 'kan? Pasti kamu yang membocorkan semua ini. Kenapa sih kamu itu selalu membuat masalah!" Azalea berkata dengan tidak kalah sinis.
"Kamu pikir aku ini bodoh! Untuk apa aku menyebar niat Zayan yang bodoh itu ke sana-kemari--"
"Untuk mengganggu kehidupan Zayan, tentu saja. Untuk apa lagi memangnya!" Azalea memotong ucapan Zinnia dengan sengit.
"Jaga mulutmu, Azalea, atau--"
"Hai, kalian berdua cepatlah. Raja sudah menunggu!" teriak seorang penjaga istana, membuat Zinnia dan Azalea menghentikan perdebatannya.
"Ikuti aku dan jangan berisik," ucap penjaga istana itu lagi dengan ketus.
Azalea dan Zinnia mengikuti langkah si penjaga istana menuju lorong yang terletak di samping jalan utama. Jelas sekali mereka tidak menuju singgasana Raja, melainkan ke ruangan lain.
Azalea mulai gelisah, terutama saat lorong yang mereka lalui terlihat berbeda dari semua bagian yang ada istana. Lorong yang sedang mereka lalui sekarang berdinding bebatuan kasar, bukan marmer seperti yang terdapat pada bangunan lainnya. Lorongnya pun terlihat gelap, hanya ada beberapa obor yang ditempelkan di dinding sebagai penerangan.
Azalea mendekatkan tubuhnya ke Zinnia. "Hai, Zinni, apa menurutmu kita akan dihukum gantung? Jalan ini ... apakah menurutmu jalan ini menuju ke ruang bawah tanah, tempat biasa tahanan dieksekusi?" bisiknya.
Zinnia tidak menjawab pertanyaan Azalea, bahkan menoleh pun tidak. Membuat Azalea kesal setengah mati. "Dasar sombong. Suatu saat jika kamu membutuhkan bantuanku, maka aku tidak akan menolongmu!" seru Azalea sambil mendengkus dan menjauh dari Zinnia.
Beberapa saat kemudian mereka akhirnya tiba di sebuah pintu melengkung yang terbuat dari kayu. Pintu itu berukiran rumit, sang penjaga istana yang bertugas menjemput mereka menggumamkan sesuatu yang terdengar aneh tepat di depan pintu. Setelah menggumamkan kalimat aneh itu, tiba-tiba ukiran rumit yang terdapat pada pintu terlihat bersinar hingga menyilaukan mata. Azalea dan Zinnia menutup mata mereka, kemudian saat cahaya itu mulai redup mereka berdua kembali membuka mata.
Azalea berdecak kagum, begitu pun dengan Zinnia saat melihat ruangan yang ada di hadapan mereka. Ruangan itu bahkan lebih luas dan lebih indah dari singgasana Raja yang ada di luar sana.
"Masuklah. Rex Regum ada di dalam," ucap si penjaga Istana.
Azalea dan Zinnia kemudian masuk ke dalam ruangan itu. Di hadapan mereka terdapat sebuah kursi berlengan yang berukuran sangat besar berwarna keemasan dengan bantalan berwarna kuning cerah dan putih. Zinnia berjalan menghampiri kursi berlengan tersebut, lalu menunduk penuh hormat kepada pria yang duduk di atasnya. Pria dengan jubah berwarna putih polos. Pria yang sangat tampan dan rupawan. Pria itu adalah Raja, Rex Ragum. Ia adalah Raja Flavian, ayah dari Zayan, Aidan dan juga Zein. Walaupun sudah sangat berumur tetapi tidak sedikitpun ia terlihat menua, wajah yang dimiliki Flavian masih sama seperti beratus-ratus tahun yang lalu, saat ia masih remaja. Muda, tampan, menawan. Luar biasa.
"Selamat datang untuk kalian berdua," gumam Flavian dengan senyum mengembang.
***
Zayan mengamati setiap detil bangunan sederhana milik Keysa. Sementara Keysa dan teman-temannya juga adiknya sejak tadi sibuk mengamati Zayan. Rasanya ia masih tidak percaya jika Zayan benar-benar datang ke dunia nya dan sekarang pria tampan itu sedang berdiri di hadapannya, di rumah sederhananya. Janggal sekali!
"Tuan, apakah kita bisa kembali?" tanya Xanteus, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti mereka.
"Secepat itu?" Refleks Keysa bertanya.
"Tidak sekarang Xanteus. Banyak yang harus kukerjakan di sini."
"Tapi, Tuan, di Flos Terra pasti sedang gaduh sekarang. Saya khawatir jika Rex Regum sampai mendengar kabar bahwa Anda meninggalkan Flos Terra." Xanteus benar-benar terdengar cemas.
"Siapa itu Rex Regum?" tanya Adinda penasaran.
"Dia adalah Raja. Raja Flos Terra, Baginda Raja Flavian, Ayah Tuan Zayan." Rex Regum menjawab sambil membungkukkan tubuhnya di hadapan Zayan.
"Dia putra raja!" pekik Amelia. "Waah. Tidak heran jika dia begitu rupawan!" ucapnya lagi, sambil menatap Zayan dengan kagum, lalu mencubit pinggang Keysia yang duduk tepat di sampingnya. Membuat kedua pipi Keysa mengeluarkan semburat merah muda.
"Aku hanyalah putra selir, jangan berlebihan," ucap Zayan dengan ramah. "Bagaimana keadaanmu, Key, kamu benar baik-baik saja?"
"Apa kamu yang menusuknya dengan pedang?" tanya Keanu tiba-tiba, dengan tatapan sinis.
"Apa aku terlihat akan menusuknya? Zayan menjawab dengan nada tidak suka. "Membayangkan untuk menusuknya saja aku tidak pernah."
"Lalu siapa?"
"Aidan, dia saudaraku. Dia putra mahkota."
***
Aidan memacu kudanya dengan cepat begitu mendengar kabar bahwa Zayan pergi dari Flos Terra, ia segera pergi ke Solis Kastil untuk mengkonfirmasi kabar itu. Namun, di sana ia tidak menemukan baik Zinnia ataupun Azalea, yang menurut desas-desus kedua wanita itulah yang membantu Zayan.
Maka segera ia kembali memacu kudanya menuju istana, ia yakin jika Azalea dan Zinnia pasti berada di istana sekarang. Rex Regum pasti memanggil kedua wanita itu, tidak mungkin tidak!
Aidan merasa sangat kesal karena Zayan memutuskan untuk pergi tanpa berdiskusi dengannya dulu. Akan tetapi ada sesuatu yang lebih membuatnya penasaran. Yaitu tentang bagaimana Zayan bisa keluar dari Flos Terra?
Selama ini belum ada yang pernah melakukan hal itu, bukan karena enggan, tetapi memang karena tidak ada jalan yang dapat membuat mereka bisa keluar dari sana.
Flos Terra memang memiliki portal, tetapi portal itu hanya untuk menarik jiwa manusia untuk masuk ke dalam Flos Terra, sementara raga manusia-manusia itu masih berada di dunia nyata. Portal itu tidak dimaksudkan untuk membuat mereka yang berada di dalam Flos Terra bisa keluar.
Sesampainya Aidan di Istana, ia segera berlari menuju ruang utama di mana singgasana ayahnya berada. Namun, baru saja setengah jalan, ia melihat dua sosok yang paling ingin ditemuinya berlari ke arahnya. Sosok itu adalah Zinnia dan Azelea. Kedua gadis dari Tribus musim semi itu terlihat khawatir.
"Ini gawat, Dan!" ujar Azalea dengan napas tersengal-sengal begitu tiba di hadapan Aidan.
"Apanya yang gawat? Di mana Zayan?" tanya Aidan.
"Dia tidak ada di sini sekarang. Dan jika dia tidak kembali dalam kurun waktu 99 hari, maka tubuhnya ... dia, dia akan ...." Azalea mulai menangis, sehingga wanita itu tidak dapat melanjutkan ucapannya.
"Dia akan menghilang." Zinnia meneruskan ucapan Azalea. "Selamanya."
Bersambung.