THE SECRET OF LOVE IN THE DANDELION

THE SECRET OF LOVE IN THE DANDELION
PERKAMEN YANG HILANG



Semua yang ada di barak terdiam begitu mendengar apa yang Rosalyn katakan.


"Kenapa harus ada sepasang Vinculum Membranis?" tanya Azalea. "Lalu di mana yang satunya lagi sekarang?"


Rosalyn menatap Azalea, kemudian ia berkata. "Agar ayah bisa datang menemuiku, atau agar aku bisa kemari untuk menemui ayah. Namun, sepertinya ada sesuatu yang terjadi padaku saat aku berada di dunia manusia. Entah apa, aku pun tidak tahu, karena aku tidak mengingat siapa diriku sebenarnya, tetapi terkadang aku seperti merasa bahwa aku memang berbeda. Itulah sebabnya aku tidak kembali kemari setelah sekian lama karena aku melupakan segalanya." Rosalyn menghentikan ucapannya, kemudian ia menatap Aidan dan bertanya pada pria itu. "Di mana Panglima Theodor ditugaskan sekarang? Dia tidak pernah datang menemuiku sekalipun selama ini."


Aidan mengehela napas. "Tentu dia tidak bisa menemuimu. Kami pun tidak ada yang tahu di mana dia sekarang."


"Maksudmu?" Rosalyn terlihat pucat sekarang.


"Dia menghilang. Itulah yang kudengar. Saat itu aku masih remaja, tetapi aku mendengar dengan jelas suara ayahku yang panik karena Panglima perang menghilang. Pencarian besar-besaran dilakukan, tetapi dia tetap tidak ditemukan."


Kedua lutut Rosalyn menjadi lemas. Ia jatuh terduduk di lantai yang keras dan detik berikutnya wanita itu menangis.


Azalea berlutut di samping Rosalyn dan meremas pundak Rosalyn dengan lembut. "Jangan menangis."


Rosalyn diam saja. Bagaimana ia tidak menangis jika keberadaan sang ayah yang sangat ia cintai tidak diketahui. Andai saja ayahnya gugur di medan perang, hal itu terdengar lebih baik, setidaknya ia tahu bahwa sang ayah telah kembali ke pangkuan sang pencipta dan hidup dengan tenang di surga. Akan tetapi, sang ayah menghilang dan keberadaannya yang misterius membuat berbagai macam pikiran buruk memenuhi kepalanya. Bagaimana kalau sang ayah sedang menderita di suatu tempat, atau terjebak di gua-gua gelap karena menjadi tawanan perang musuh!


Zein ikut berlutut di samping Azalea. "Kita akan mencarinya. Jika Panglima masih hidup, dia pasti ada di suatu tempat. Tapi sebelumnya, Rosalyn, beritahu kami bagaimana cara menggunakan benda ini. Kami harus mencari teman kami yang melarikan diri dari Floss Terra." Zein melambaikan perkamen di hadapannya Rosalyn.


Wajah Rosalyn seketika menegang saat melihat benda tipis berwarna kecoklatan itu. "Dari mana kalian dapatkan ini?" tanyanya.


"Aidan yang mendapatkannya." Zein mendongak agar dapat menatap Aidan yang masih berdiri di belakangnya.


"Seorang pria berpenampilan seperti pengemis di dalam Hutan Hitam. Aku mendapatkan benda ini darinya," jawab Aidan.


"Di mana sekarang pria itu?" Rosalyn kembali bertanya.


Aidan menggeleng. "Entahlah. Dia menghilang begitu saja seperti hantu."


Rosalyn bangkit berdiri dengan mendadak. "Benda ini milik ayahku, satunya lagi ada di rumahku di dunia manusia."


"Rumahmu?" ujar Aidan.


Rosalyn mengangguk. "Aku cukup lama hidup di sana. Aku memiliki dua orang putri sekarang, Kesya dan Adinda."


"Keysa!" seru Zein. "Serius dia adalah putrimu? Pantas saja dia terlihat begitu cantik."


Dahi Rosalyn mengernyit. "Dari mana kamu tahu kalau Keysa begitu cantik? Apa kamu pernah melihatnya?"


"Dia pernah datang kemari beberapa waktu lalu. Sepertinya dia sering datang kemari karena teman kami, Zayan menyukai gadis itu."


***


Zayan merasakan debar aneh di dadanya yang datang setiap beberapa menit sekali. Debar itu membuatnya merasakan nyeri yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan saat ia tinggal di Floss Terra. Satu-satunya rasa sakit yang bisa ia rasakan saat tinggal di dunianya adalah rasa sakit akibat sabetan pedang, atau anak panah yang mendarat di bagian tubuhnya saat peperangan terjadi.


Saat ini Zayan sedang berada di halaman belakang rumah Keysa. Halaman itu tidak terlalu luas, tetapi cukup indah dan terdapat banyak tanaman yang ditata dengan rapi, sehingga membuat halaman belakang nyaman untuk dijadikan tempat bersantai. Apalagi Zayan memang terbiasa berada di ruang terbuka ketika berada di Floss Terra, membuatnya tinggal di dalam rumah Keysa yang mungil bukanlah pilihan yang tepat.


"Ehem."


Suara seorang pria mengejutkan Zayan. Ia segera membuka mata dan mendapati Keanu tengah berdiri di depannya dengan tangan di pinggang.


Zayan tersenyum miring, kemudian bangkit untuk duduk. "Tingkahmu itu sok sekali," komentar Zayan.


Keanu diam saja. Ia memilih untuk duduk di atas rerumputan, tepat di samping Zayan.


"Kamu terlihat berbeda kali ini? Di mana pakaian normalmu?" tanya Keanu. "Tidak kamu buang lagi, 'kan?"


Zayan memang terlihat berbeda kali ini. Jika biasanya ia mengenakan pakaian yang Keanu berikan, kali ini tidak. Zayan mengenakan tunik berwarna putih dan celana berwarna senada yang biasa ia kenakan saat ia tinggal di dunianya. Terdapat dua pedang panjang yang disarungkan menyilang di punggungnya. Penampilan Zayan yang seperti itu membuatnya sangat luar biasa memesona.


Untuk sesaat bahkan Keanu memahami alasan Keysa menyukai Zayan. Tidak ada gadis normal di dunia ini yang tidak akan terpesona pada kerupawanan Zayan.


"Aku harus bersiaga setiap saat mulai sekarang. Sejak perkamen itu hilang dari tangan Xanteus, jujur saja aku menjadi khawatir."


Keanu mengangguk. "Itulah yang ingin aku bicarakan padamu, Zayan. Aku bukannya tidak menyukaimu, walaupun memang aku tidak terlalu menyukaimu jujur saja, tetapi karena Keysa menyukaimu, aku bisa apa? Aku hanya ingin melihat Keysa selalu tersenyum Dia harus bahagia, hanya itu yang ada di pikiranku."


Zayan tersenyum, kali ini senyum tulus yang membuat udara dingin seketika menghangat, dan beberapa kelopak bunga yang tertutup. seketika bermekaran. "Kamu sangat tulus padanya."


"Itulah cinta." Keanu menjawab singkat, lalu ia melanjutkan. "Jika memang kamu tidak ingin dan tidak bisa kembali, coba pikirkan bagaimana cara untuk menutup jalan agar mereka yang ada di duniamu tidak bisa datang kemari? Jujur saja aku sangat takut saat mengetahui bahwa salah satu dari kalian pernah mencoba untuk membunuh Keysa."


"Aidan tidak sengaja melakukannya. Aku yakin sekali. Dia itu saudaraku, dan dia tidak sejahat itu. Hanya saja kami sudah hidup dalam peperangan beratus tahun lamanya, wajar jika saat melihat pendatang baru, pikiran yang pertama terlintas di benak kami adalah menyerang. Hal itu seolah sudah tertanam di benak kami. Terlebih lagi Aidan adalah seorang putra mahkota. Ia memilik tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga keamanan Floss Terra." Zayan mencoba untuk memberi pengertian pada Keanu.


Keanu menghela napas. "Apa pun yang kamu katakan, tetap saja menusuk seseorang dengan pedang terdengar begitu mengerikan. Dan aku tidak menerima hal itu."


"Ya, aku mengerti bagaimana perasaanmu." Zayan kemudian memijat pelipisnya, ia terlihat sedang berpikir dan mencari solusi untuk permasalahan yang tengah dihadapi. "Vinculum Membranis itu ada sepasang. Aku rasa pasangannya ada di rumah ini, itulah sebabnya Xanteus selalu muncul di rumah ini saat ia keluar dari Floss Terra. Jika tidak, tidak mungkin Xanteus muncul di rumah ini."


"Maksudmu?" Keanu terlihat bingung.


"Apakah mungkin jika orang tua Keysa menyimpan pasangan perkamen ajaib itu? Pernahkah kamu mendengar Keysa membicarakan sesuatu yang aneh tentang apa saja?" Zayan bertanya.


Keanu mengangguk. "Ya, sejak aku tiba di sini Keysa dan Amelia memang sering membicarakan hal aneh, salah satunya tentu saja dirimu. Keysa sering sekali. membicarakan tentang dirimu, tapi beberapa hari lalu aku menemukan sebuah lukisan di gudang, dan Keysa bilang bahwa pemandangan yang ada di lukisan itu sama persis dengan yang ada di duniamu. Jika lukisan itu ada di rumah ini, mungkin saja ada benda lainnnya yang berhubungan dengan Floss Terra juga. Kita hanya harus mencari benda itu ada di mana."


Zayan bangkit berdiri. "Kita sudah memeriksa gudang kemarin, tetapi tidak ada benda aneh lainnya kecuali barang curian Xanteus. Bagaimana kalau kita memeriksa setiap bagian rumah Keysa." Zayan memberi usul.


Keanu mengangguk. "Ide bagus. Aku harap kita segera menemukannya."


Bersambung.