
"Zayan!" Keysa menatap pria tampan itu dengan kagum.
Entah semua ini kebetulan atau tidak, tetapi Keysa telah mempelajari dan mengamati polanya selama beberapa hari ini dan hasil dari pengamatannya adalah, saat dirinya tertidur maka dirinya akan langsung terhubung dengan dunia lain, dunia yang tidak ada di dunianya.
Mungkin terdengar tidak masuk di akal, tetapi memang seperti itulah yang terjadi. Jika Amelia mengatakan semua yang dirinya lihat di dalam mimpi adalah sisa dari khayalannya di siang hari, maka itu semua salah!
Bukan seperti itu yang terjadi.
Mimpinya adalah sesuatu yang ajaib, seperti saat seseorang meninggalkan suatu tempat lalu muncul di tempat lain dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah dengan tertidur. Ya, semacam itulah dan itu semua sangat luar biasa.
Awalnya Keysa juga merasa tidak yakin dan tidak percaya akan apa yang tengah ia alami. Namun, setelah berkali-kali mengalaminya, tidak ada keraguan lagi di dalam dirinya bahwa dirinya memang sedang mengalami sesuatu yang ajaib, yang tidak bisa diterima oleh logika.
"Apa yang kamu pikirkan? Kamu terlihat sedih." Zayan bertanya sambil mengusap bulir yang terjatuh di pipi Keysa.
"Mamaku sedang sakit. Aku sedih karena hal itu!" jawab Keysa tanpa ragu.
"Dia pasti akan segera sembuh," ucap Zayan.
"Ya, semoga saja. Hem, terima kasih atas bantuanmu tadi. Jika bukan karena kamu aku pasti tidak akan bisa tiba di rumah," ujar Keysa.
"Santai saja," jawab Zayan. Lalu menggenggam pergelangan tangan Keysa, seolah mereka memang telah lama saling kenal. "Mau melihat-lihat?" tanyanya.
Keysa mengangguk, kemudian mengekor laki-laki tampan itu menyusuri sebuah jalan setapak yang terlihat sangat sepi. Tidak ada satu pun orang lain yang terlihat sejauh mata Keysa memandang.
Hanya ada padang dandelion yang indah, yang bergerak-gerak lembut di bawah sinar matahari. Sedangkan jauh di depannya, lagi-lagi ia melihat padang mawar merah dengan latar langit yang gelap.
"Siapa sebenarnya kamu?" tanya keysa kemudian.
"Apa itu penting?" tanya Zayan
"Tentu saja itu penting. Aku harus tahu kamu itu makhluk macam apa, walaupun kita hanya bertemu di alam mimpi, tapi ada baiknya jika aku mengetahui segalanya tentangmu," ucap Keysa.
"Aku adalah pengagummu, Key. Aku biasa memperhatikanmu dari sini. Saat kamu berlarian dengan adikmu, saat kamu bekerja merawat mawar-mawar itu dan saat kamu menangis di sana sambil meneriakkan nama seseorang. Siapa dia? Kamu selalu menyebut namanya," tanya Zayan.
"Siapa yang kamu maksud?" Keysa terlihat bingung.
"Mario. Siapa Mario? Namanya terdengar tidak begitu asing bagiku."
***
Kriiing ... Kriiing!
Suara jam beker di atas nakas membangunkan Keysa. Menyadarkannya, dan membuatnya kembali berada di dunia nyata. Ia bangkit dan mengerjap. Mendelik kesal pada jam beker kecil yang masih mengeluarkan suara berisik itu.
"Kami bahkan belum puas mengobrol!" desis Keysa.
Pagi menjelang, tetapi tidak ada tanda-tanda kondisi Rosalyn membaik. Keysa yang sudah terjaga sejak subuh terus duduk di samping sang ibu sambil terus menatap wajah cantik itu. Perlahan tangannya menyentuh wajah letih yang telah bekerja keras untuk merawatnya dan sang adik selama ini tanpa kehadiran seorang suami.
Rosalyn adalah seorang wanita yang memiliki wajah sangat cantik. Wajahnya bak seorang bangsawan, dengan tulang pipi yang tinggi dan tatapan mata tajam juga kulit yang pucat, membuat Rosalyn terkadang terlihat seperti seorang dewi dari dunia lain. Rambutnya yang ikal panjang dan berwarna kecoklatan selalu ia biarkan tergerai, tentu menambah kecantikannya yang seakan tak pernah berkurang walaupun ia sudah tak semuda dulu.
Keysa bangkit dari duduknya, berniat menuju kamar mandi yang terletak di sudut kamar. Saat sedang berjalan, tanpa sengaja ia tersandung karpet yang menutupi lantai kayu di kamar itu. Keysa meraba sesuatu yang membuatnya tersandung, seperti ada sesuatu di balik karpet itu, maka ia menyingkirkan karpet tebal itu dan melihat sebuah kait kecil di atas papan. Keysa berusaha menariknya, tetapi tidak bisa. Dirinya sungguh penasaran, apa kira-kira yang di simpan sang ibu di balik papan yang diberi pintu kecil seperti itu.
Eeem ....
Eeem ....
Terdengar gumaman yang berasal dari ranjang Rosalyn. Keysa segera bangkit. Ternyata Rosalyn yang bergumam. Wanita itu telah membuka matanya dan lagi-lagi Keysa menangkap tatapan yang dipenuhi rasa ngeri dari sorot mata tajam itu.
"Ma, Mama bisa bicara? Mama dengar apa yang Key katakan?" tanya Keysa penuh harap. Akan tetapi Rosalyn tidak merespon sama sekali.
"Ada apa, Kak?" Adinda terbangun dan langsung menanyakan apa yang terjadi.
"Tidak ada, Dind. Tidurlah lagi," ujar Keysa, lalu beranjak ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan untuk menangis. Ia perlu mengeluarkan rasa sesak di dadanya yang sejak semalam telah dengan susah payah ia tahan. Hal seperti ini sudah ia takutkan sejak lama, semenjak ayahnya menghilang hanya tinggal ibunyalah yang merawat dirinya dan juga Adinda dan jika sang ibu kemudian harus pergi meninggalkannya, entah apakah ia bisa bertahan hidup.
Keysa menggelengkan kepala, berusaha menghalau pikiran buruk itu. Ia tidak boleh merasa putus asa seperti ini, hanya dirinyalah harapan ibu dan juga adiknya.
***
Keysa duduk di kursi yang terletak di bawah pohon besar di halaman rumahnya. Sejak tadi ia telah berusaha berkali-kali menghubungi sahabatnya, Amelia, untuk memberitahukan bahwa dirinya mungkin tidak akan menghadiri kelas untuk waktu yang lumayan lama.
Seharusnya ia langsung datang ke kampus untuk mengajukan cuti, tetapi jika harus ke sana sekarang itu berarti ia harus meninggalkan sang ibu. Rasanya tidak akan mungkin.
"Selamat siang Keysa."
Seorang pria paruh baya bernama Anton yang merupakan kepala desa di desa tempatnya tinggal menghampiri Keysa dengan membawa kardus besar di tangannya.
"Pak Anton, silakan duduk, Pak," ucap Keysa , menggeser tubuhnya agar pria itu bisa duduk di sampingnya.
"Bagaimana keadaan ibumu, Nak?"
"Mama masih sama, Pak. Key pun bingung harus melakukan apa." Keysa menjawab jujur.
"Ini, ada bantuan dari para warga. Semoga bisa membantumu dan Adinda. Untuk masalah Bu Rosalyn, warga pun siap menyewakan ambulans untuk membawanya ke rumah sakit di kota jika memang dibutuhkan, Nak. Bagaimana?" tanya Anton.
"Terima kasih atas bantuannya, Pak. Warga di sini sangat baik kepada kami. Terima kasih sekali lagi," ucap Keysa penuh rasa haru. "Tapi, untuk membawa mama ke rumah sakit, akan Keysa pikirkan terlebih dahulu."
"Kenapa, Nak? Bukankah lebih cepat lebih baik," tanya Anton.
"Benar, Pak, tapi izinkan saya untuk memikirkannya semalam lagi. Karena mama pernah berpesan bahwa jika ia tiba-tiba jatuh sakit, jangan sekali pun membawanya ke rumah sakit," terang Keysa.
Anton menatap Keysa dengan iba. "Mungkin dia mengatakan itu karena tidak ingin membuatmu khawatir, membuatmu dan Adinda repot. Padahal ada kami yang akan selalu siap membantu kalian, Nak, tapi baiklah, kamu bisa memikirkannya dulu, jika sudah mengambil keputusan jangan ragu untuk mengatakannya kepada saya atau siapa pun, ya."
Keysa mengangguk cepat. "Iya, Pak. Terima kasih!"
Kemudian Anton pergi meninggalkan keysa. Keysa menghela napas. "Aku yakin ada alasan lain yang membuat mama mengatakan itu. Bukan karena hal sepele. Pasti ada sesuatu yang lebih penting, tapi apa?"
Bersambung.