
Sudah dua hari semenjak Zayan tiba di gudang penyimpanan yang berada di kediaman Keysa. Sejak hari itu Zayan memutuskan untuk bersikap dan berpenampilan senormal mungkin. Mulai dari cara berpakaian, bicara dan lainnya. Hingga ia pun memaksa untuk meminjam pakaian Keanu. Karena menurutnya Keanu-lah yang terlihat paling normal di antara dirinya dan juga Xanteus.
Tidak seperti Xanteus yang memutuskan untuk tetap bersembunyi di gudang, Zayan lebih memilih untuk terus berada di samping Keysa. Itu artinya ia harus terlihat seperti manusia pada umumnya. Maka tidak terlalu mengherankan jika Zayan terus menghampiri Keanu hanya untuk meminjam pakaian pria itu. Awalnya sepasang, lalu besoknya ia meminjam sepasang lagi, besoknya pun Zayan kembali meminta sepasang. Hal itu membuat Keanu merasa kesal.
"Harusnya kamu tidak bergonta-ganti pakaian seperti itu! Jika yang satunya selesai kamu pakai, maka cucilah pakaian yang lainnya. Apa-apaan kamu ini, dasar aneh!" omel Keanu, saat untuk kesekian kalinya Zayan datang untuk meminjam pakaian miliknya.
"Aku tidak bisa mencuci," jawab Zayan santai, tepat saat Keysa lewat di hadapannya. Maka tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Zayan meraih pergelangan tangan Keysa, membuat gadis itu menghentikan langkahnya. "Key, bisakah kamu mengajariku cara mencuci?" tanya Zayan.
Keysa tersipu karena mendapati tangan Zayan menyentuh pergelangan tangannya. "Tentu, ayo kita ke belakang."
"Tidak perlu, Key, biar aku yang ajari dia nanti. Kamu istirahatlah. Bukankah kamu baru saja membersihkan tubuh ibumu?"
Keysa mengangguk. "Iya, tapi aku tidak lelah, kok--"
"Kalau aku bilang tidak usah, ya, tidak usah." Keanu lalu menarik sebelah tangan Zayan yang bebas kemudian menariknya menuju bagian belakang rumah di mana terdapat ruang cuci.
Namun, Zayan tidak juga urung melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Keysa, membuat gadis itu akhirnya mengekor langkah Zayan dan juga Keanu.
Sesampainya di bagian belakang rumah yang merupakan ruang cuci tanpa atap, Keanu segera menuju tumpukan pakaian yang ada di sebuah keranjang pakaian kotor berukuran besar, lalu mulai mengacak-acak tumpukan pakaian itu. Namun, kemudian ia menghentikan gerakan tangannya dan berbalik untuk menghadap Zayan.
"Pertama-tama yang harus kamu lakukan adalah mencari pakaian kotor yang kemarin kamu kenakan. Sekarang cepat lakukan! Tidak mungkin 'kan aku yang mencarinya. Aku hanya akan memberikan intruksi," ucap Keanu, sambil menjauh dari tumpukan pakaian kotor itu.
Akan tetapi setelah Keanu mundur dari hadapan keranjang pakaian itu, Zayan tidak juga mendekat sama sekali. Ia hanya diam mematung sambil menatap Keanu dan keranjang pakaian secara bergantian. Sementara Keanu sibuk memandang pergelangan tangan Keysa yang masih digenggam oleh Zayan.
"Cepatlah," titah Keanu setelah beberapa saat.
"Tidak akan ketemu." Zayan menjawab dengan ekspresi datar.
"Maksudmu?" tanya Keanu.
"Kak, Ken, aku melihat pakaian-pakaian ini di tempat sampah! Apa Kak Ken sengaja membuangnya?" Adinda berteriak sambil terus berjalan menghampiri Keanu dan Zayan dengan membawa setumpuk pakaian yang beberapa hari lalu pakaian-pakaian itu Keanu berikan kepada Zayan.
Wajah Keanu seketika berubah merah padam, ia benar-benar merasa kesal sekali. Melihat kekesalah di wajah Keanu, Zayan menjadi salah tingkah.
"Di Flos Terra, kami membuang pakaian yang sudah pernah dikenakan. Kecuali baju besi, jadi aku pikir aku harus membuangnya," ujar Zayan membela diri. Setelah mengatakan itu, ia langsung berlari meninggalkan Keanu yang terlihat akan mengeluarkan api dari mulut dan lubang hidungnya beberapa saat lagi.
Keysa tertawa di belakang Zayan. Masih mengikuti langkah pria itu ke mana pun, toh sejak tadi tidak sekali pun Zayan melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Keysa.
"Key, tunjukan padaku jalan menuju perkebunan mawar itu," ucap Zayan, setelah mereka tiba di pekarangan.
Keysa menaikkan sebelah alisnya. "Untuk apa?"
"Aku penasaran saja apakah aku bisa melihat padang dandelion dari sana. Lagi pula kita harus bersembunyi dari Keanu, sepertinya dia marah sekali."
"Bagaimana dia tidak marah jika kamu membuang semua pakaian mahalnya," ujar Keysa sambil tertawa. "Ayo, ikuti aku."
***
Mereka berdua yakin sekali, jika di dalam hutan itu pasti ada portal untuk menuju ke dunia lain. 'Jika padang Dandelion merupakan portal untuk masuk ke Flos Terra, mungkin sesuatu yang berlawanan dengan Dandelion-lah yang merupakan portal untuk keluar dari Flos Terra.' Begitulah pemikiran Aidan dan juga Zein.
"Kenapa kamu berpikir jika portal itu ada di dalam hutan ini, Aidan? Aku rasa bisa di mana saja 'kan?" tanya Zein, sambil menyingkirkan seekor kumbang berukuran besar yang memiliki sengat mematikan.
"Karena di hutan inilah terdapat padang Dandelion rahasia. Selama ini kaum kita meyakini bahwa hanya ada satu padang Dandelion, siapa yang menyangka ternyata ada satu padang Dandelion lagi yang tersembunyi di dalam hutan ini. Hutan ini juga penuh dengan misteri, tidak ada yang pernah datang kemari. Itulah sebabnya aku berpikir mungkin saja portal menuju ke dunia luar ada di dalam hutan ini," jawab Aidan.
"Aku rasa tidak demikian. Apa kamu pernah mendengar Zayan membicarakan tentang Vinculum Membranis? Aku rasa--"
"Ck, hal seperti itu mana ada. Benda itu hanyalah dongeng dari masa lampau yang hingga saat ini tidak juga diketahui kebenarannya." Aidan memotong ucapan Zein.
"Berikan aku waktu untuk mencari tahu kalau begitu. Kita tidak punya banyak waktu. Sudah dua minggu kita menyusuri setiap bagian hutan ini, tetapi tidak juga menemukan sesuatu yang berguna. Aku rasa memang tidak ada apa-apa di hutan ini, Dan."
Aidan tidak mendengarkan perkataan Zein. Ia terus melangkah, bahkan setengah berlari sampai akhirnya ia tiba di lembah yang terdapat portal kedua untuk memasuki Flos Terra. "Kita sisir daerah ini--"
"Lagi? Bukankah kita sudah memeriksa daerah ini lebih dari lima kali dalam dua minggu ini, Dan."
"Itulah sebabnya kamu tidak pernah diturunkan saat terjadi peperangan besar, Zein, kamu itu tidak jeli." Aidan berujar dengan malas.
"Apa maksudmu dengan tidak jeli?"
"Lihatlah. Letak batu itu selalu berpindah-pindah. Aku yakin, ada yang menggunakan portal ini untuk keluar masuk dari Flos Terra." Aidan menunjuk sebuah batu besar yang awalnya berada di tengah padang Dandelion, sekarang batu itu berada jauh lebih ke dalam. Sedangkan beberapa hari yang lalu, Aidan jelas sekali melihat batu itu berada di tepi padang Dandelion. "Aku yakin pasti ada yang menggesernya."
***
Xhanteus merutuki nasibnya yang sial. Semenjak ia menggunakan Vinculum Membranis itu berdua dengan Zayan melalui tepi hutan, tidak sekali pun benda itu bisa ia gunakan di tempat yang sama lagi. Xhanteus sendiri tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi. Saat ia mencoba untuk menggunakan perkamen ajaib itu untuk kembali ke tepi Hutan Hitam, dirinya malah muncul di tengah lembah yang merupakan padang Dandelion tersembunyi dan anehnya lagi ia selalu muncul di bawah sebuah batu. Sehingga membuat dirinya harus kerja dua kali. Pertama ia harus berusaha untuk keluar dari bawah sebuah batu yang sama sekali tidak ringan. Untunglah ia memang memiliki kekuatan yang melebihi kekuatan penghuni Flos Terra kebanyakan. Kedua, letak sungai sangatlah jauh dari lembah itu, sehingga jika ia lupa mengenakan mantel berlapis tubuhnya akan tersiksa karena berusaha menahan rasa panas yang luar biasa.
Seperti saat ini, dirinya kembali berada di bawah batu besar itu. Namun, tidak sedikitpun ia berani menggerakkan tubuhnya. Bagaimana ia bisa bergerak jika telinganya menangkap suara-suara aneh yang berasal dari sekitaran batu itu berada. Suara itu adalah suara dua orang pria yang sejak tadi berdebat tentang 'Perlu atau tidaknnya mereka menginap di lembah itu.'
Xanteus berusaha meringkuk agar bagian tubuhnya tidak ada yang terlihat. Untunglah kali terakhir ia menggeser batu itu ke tengah padang Dandelion, sehingga separuh bagian batu itu tertutup semak yang rimbun. Dengan begitu maka kemungkinan besar tubuhnya akan terlihat oleh orang lain sangatlah kecil.
"Aku akan menginap di sini!" Terdengar suara dari kejauhan.
"Tidak mungkin kita menginap di sini, Dan. Ini hutan. Aku sungguh tidak setuju."
'Ya, ya, jangan setuju,' batin Xanteus.
"Pergilah kalau mau pergi. Aku akan tetap berada di sini. Aku sungguh penasaran bagaimana bisa sebuah batu berpindah dengan sendirinya."
"Argh, Sial!" gumam Xhanteus.
Bersambung ....