
Zayan begitu terkejut saat mendengar ucapan Xanteus. Ia maju mendekat ke Xanteus dan mencengkram bagian depan jubah Xanteus yang telah usang, lalu bertanya pada pria itu. "Katakan padaku siapa yang mengambil perkamen itu? Apa kamu melihatnya?"
Xanteus mengangguk, setelah melihat pergelangan tangan yang muncul di udara begitu saja, sekilas Xanteus memang melihat wajah si pemilik tangan. "Ya, aku melihatnya, Tuan. Yang mengambil perkamen itu adalah Tuan Aidan, saudara Anda," cicit Xanteus, yang terlihat takut.
"Aidan!" Zayan terhuyung. "Kenapa kamu tidak berhati-hati, hah? Seharusnya kamu memperhatikan sekitarmu sebelum kamu kembali menggunakan Vinculum Membranis itu, Xanteus!"
"Maafkan aku, Tuan, aku sungguh tidak menyangka jika Tuan Aidan belum pergi dari Hutan Hitam. Aku tidak mendengar suara kedatangannya sama sekali," ujar Xanteus, lalu ia melanjutkan. "Tapi Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Jika Tuan Aidan tidak tahu cara menggunakan benda itu, dia tidak akan bisa datang kemari." Xanteus berkata dengan gugup.
Zayan semakin kuat meremas kerah jubah Xanteus. "Tidak mungkin dia tidak tahu! Aidan pasti mencari tahu, dan jika Zein membantu Aidan, maka hanya tinggal masalah waktu saja dia pasti akan muncul di rumah ini."
Xanteus meringis. Ia tahu bahwa hal itu pasti akan terjadi. Zein memiliki banyak pengetahuan tentang sihir, dan Vinculum Membranis adalah salah satu benda sihir tertua yang pernah diciptakan di Floss Terra.
Keysa yang sejak nama Aidan disebut terlihat gelisah pun memberanikan diri untuk bertanya pada Xanteus. "Maaf sebelumnya karena ikut campur urusan kalian berdua, apa Aidan adalah pria yang waktu itu menusukku dengan pedang panjangnya saat aku datang ke Floss Terra?"
Zayan mengangguk. "Ya, dia adalah Aidan."
Kedua lutut Keysa mendadak menjadi lemas. Seketika rasa takut menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia ngeri membayangkan jika Aidan sampai datang ke dunia manusia, dan lebih parahnya lagi Aidan sudah pasti akan mendarat di plafon gudangnya.
"Jika dia sampai datang kemari, dia pasti akan menusukku seperti waktu itu," ujar Keysa, dengan suara yang gemetar. Tanpa sadar kedua tangannya menyentuh dada.
Zayan menghampiri Keysa dan menyentuh telapak tangan wanita itu. "Tidak, Key. Aku tidak akan membiarkan Aidan melakukan itu padamu."
Keanu menarik lengan Keysa, menjauhkan Keysa dari Zayan seolah Zayan adalah seekor ular berbisa yang bisa melukai Keysa kapan saja. "Jika kehadiranmu adalah sebuah marabahaya bagi Keysa, maka pergilah. Jangan pernah kembali lagi." Keanu berkata dengan tajam, kemudian menuntun Keysa keluar dari gudang.
Zayan mengusap wajahnya dengan kasar, lalu ia duduk di salah satu kursi reyot yang ada di gudang itu.
Amelia berdeham, kemudian ia berkata. "Jangan terlalu dipikirkan. Apa yang Keanu lakukan hanya demi melindungi Keysa. Ayo kita kembali ke rumah agar kalian bisa istirahat sementara aku dan Adinda menyiapkan makan siang."
Zayan mendongak, lalu tersenyum pada Amelia dan Adinda. "Terima kasih. Ayo." Zayan bangkit berdiri dan keluar dari dalam gudang diikuti oleh Xanteus, Adinda, dan Amelia.
***
Aidan memacu kudanya secepat mungkin membelah gelapnya malam yang berkabut menuju Solis Kastil. Ia berniat untuk menemui Azalea yang mungkin mengetahui informasi tentang benda yang sedang ia pegang, terutama adalah bagaimana cara menggunakan benda tersebut agar ia bisa menghilang seperti pria yang beberapa saat tadi ia lihat di dalam Hutan Hitam.
Di tengah perjalanan, Aidan berpapasan dengan Zein, dan tepat di belakang Zein terlihat Azalea yang menunggangi kuda berwarna putih. Kuda indah dengan surai panjang dengan bulu seputih salju.
"Zein!" seru Aidan. "Lihatlah!" Aidan melambaikan perkamen di tangannya.
Zein yang baru saja menghentikan laju kudanya segera meraih perkamen dari tangan Aidan. "Apakah ini ... wah, serius?!" Zein dapat merasakan adanya kekuatan sihir yang begitu kuat menyelubungi perkamen kosong tersebut.
Azalea merebut perkamen di tangan Zein. Wanita itu meraba dan mengendus perkamen yang sekarang ada di tangannya. "Vinculum Membranis. Ini adalah benda ajaib yang dapat membuat kita berpindah tempat." Azalea terlihat begitu terkesima, ia tidak percaya dapat melihat satu-satunya benda langka yang keberadaannya hampir seperti dongeng.
"Bagaimana benda ini bisa berada di tanganmu, Aidan?" tanya Zein, yang terlihat penasaran.
"Ayo kita ke barak. Akan kuceritakan bagaimana aku mendapatkannya, dan kita harus cari cara bagaimana cara menggunakan benda ini," ajak Aidan.
Zein dan Azalea mengangguk setuju, kemudian mereka bertiga memutar kuda mereka ke sisi timur Floss Tera, menuju barak yang ada di perbatasan.
Perjalanan menuju perbatasan di mana terdapat barak yang ditinggalkan Zein dan Aidan tidaklah terlalu jauh dari tempat mereka bertemu beberapa waktu lalu.
Mereka hanya harus melewati beberapa lembah dan perbukitan yang menghijau sejauh mata memandang. Sekumpulan Unicorn berlarian saat mereka melewati lembah, binatang cantik itu terlihat begitu bersinar di malam yang gelap.
"Astaga! Mengejutkan saja!" Zein berteriak, saat ia melihat seorang wanita tengah duduk di atas ranjang Aidan dengan tatapan kosong.
Aidan yang segera menyusul Zein, seketika mengeluarkan pedang dari balik punggungnya dan mengarahkan pedang itu ke tubuh si wanita yang beberapa hari ini tidak sadarkan diri di dalam tendanya.
"Katakan, sejak kapan kamu bangun?" tanya Aidan.
"Bukan begitu caranya bertanya. Dasar kaku!" Azalea menyingkirkan pedang Aidan dan menghampiri wanita itu.
Zein menyikut pinggang Aidan. "Jangan selalu mengandalkan pedangmu, Jagoan!"
Aidan diam di tempat. Ia tidak mengerti kenapa Zein dan Azalea tidak bersikap siaga seperti dirinya. Padahal siaga itu penting.
"Nyonya, katakan padaku, siapa namamu? Sepertinya kamu bukan berasal dari sini." tanya Azalea dengan lembut.
Wanita berambut panjang yang terlihat pucat menatap Azalea, kedua matanya yang berembun seketika meneteskan air mata. "Aku Rosalyn."
"Rosalyn." Azalea mengulang kalimat yang terlontar dari bibir Rosalyn. "Nama yang cantik."
"Apa aku sungguh telah kembali? Aku benar-benar kembali. Setelah ratusan tahun, aku sungguh kembali ke Floss Terra. Demi sang raja yang terhormat, ini semua seperti mimpi bagiku." Rosalyn bangkit berdiri, kemudian ia menatap ke sekelilingnya, termasuk Aidan dan Zein.
"Apa maksud perkataan Anda? Anda manusia, 'kan? Aku dan Aidan menemukan Anda di Padang Dandelion yang ada di dalam hutan hitam beberapa minggu lalu. Itu adalah Padang Dandelion tersembunyi," ujar Zein.
Rosalyn mondar-mandir di dalam barak, gaun berwarna kuning yang menempel di tubuhnya menyapu permukaan tanah dan meninggalkan jejak yang begitu aneh. Kelopak dandelion berjatuhan dari gaun itu saat Rosalyn melangkah, rambut ikalnya yang sepanjang pinggang juga mengeluarkan aroma yang begitu wangi setiap kali helai kecokelatan itu bergerak karena embusan angin.
"Dia memang buka manusia," bisik Azalea, yang menyadari keanehan pada diri Rosalyn.
Aidan menghampiri Rosalyn, menghentikan kegiatan mondar-mandir yang wanita itu lakukan. "Katakan siapa dirimu?"
Rosalyn menatap langsung ke dalam mata Aidan, membuat Aidan terkesima karena kecantikan Rosalyn yang tak terperikan. "Aku Rosalyn. Putri dari panglima perang, Theodor. Apa dia masih hidup?"
Aidan terkejut, ia tahu siapa itu panglima perang Theodor. Hanya saja ia tidak pernah tahu bahwa pria itu memiliki seorang putri.
"Panglima tidak punya putri," ujar Aidan.
"Saat perang terjadi ratusan tahun lalu, ayah mengeluarkanku dari Floss Terra karena ayah tidak ingin aku menjadi korban peperangan yang sepertinya tidak akan pernah berakhir. Sejak saat itu aku hidup di dunia lain, dunia manusia."
"Sungguh?" Zein, Aidan, dan Azalea begitu terkesima pada apa yang Rosalyn ucapkan.
"Dengan cara apa Panglima mengeluarkanmu?" tanya Aidan.
"Perkamen yang dapat membuat kita berpindah tempat. Ayahku memiliki sisi satunya, sementara sisi satunya lagi ada padaku."
"Maksudmu perkamen itu ada sepasang?" Aidan kembali bertanya.
"Ya, perkamen itu ada sepasang."
Bersambung.