
Ting!
Ting!
Suara pedang Zayan dan Aidan yang saling beradu mengudara dan memekakkan telinga.
Gerakan lincah keduanya di atas tanah menerbangkan debu-debu di sekitar mereka, membuat Keysa dan teman-temannya yang berdiri di tepi halaman belakang seketika terbatuk.
Baik Zayan atau pun Aidan tidak ada yang mau mengalah. Tunik keduanya berkibar setiap mereka melesat untuk menghindar dari serangan.
Azalea dan Zein saling bersandar satu sama lain, menonton pertikaian antara Zayan dan Aidan yang mereka tahu tidaklah serius. Zein dan Azalea tahu bagaimana Aidan mengkhawatirkan Zayan, hingga rasanya mustahil sekali jika Aidan tiba-tiba ingin melukai Zayan saat akhirnya mereka berhasil menemukan Zayan dengan susah payah.
Jika Zein dan Azalea terlihat santai dan tidak peduli pada pertarungan yang sedang terjadi, tidak demikian dengan Xanteus. Xanteus berusaha menghentikan Zayan dan Aidan dengan berlari ke tengah-tengah pertikaian, lalu merentangkan tangan agar Aidan dan Zayan berhenti saling menyerang.
"Zein, tolong dia, sepertinya dia tidak bisa berkelahi!" Rosalyn berteriak ke arah Zein yang ada di seberang halaman. Teriakan Rosalyn menbuat Keysa dan Adinda bingung karena ibu mereka yang selama ini tidak sadarkan diri justru mengetahui nama makhluk asing yang baru saja tiba di dunia mereka.
"Apa Mama mengenalnya saat jiwa Mama berada di sana?" tanya Keysa.
Rosalyn mengangguk. "Iya, Sayang. Merekalah yang membantu Mama kembali ke sini."
"Termasuk dia? Pria bertubuh besar yang sedang bertarung dengan Zayan itu?" tanya Keysa, yang memang tidak terlalu suka pada Aidan, karena Aidan pernah menyerangnya saat ia berkunjung ke Floss Terra.
"Benar, Key, namanya Aidan, dan dia juga yang berusaha menemukan cara agak mama bisa kembali ke sini.
Keysa menatap tidak percaya. Saat dirinya ada di Floss Terra, Aidan terlihat kejam sekali, siapa yang menyangka kalau Aidan mau membantu ibunya kembali ke dunia manusia.
Di seberang halaman, Zein melayang sedikit ke udara, lalu menarik tubuh besar Xanteus dari tengah halaman. "Biarkan saja mereka," ujar Zein, sembari kembali bersandar pada Azalea.
"Tapi, Tuan, mereka bisa saling membunuh jika kita tidak menghentikan mereka berdua," ujar Xanteus, yang terlihat sungguh-sungguh khawatir.
Azalea menggeleng. "Hal itu tidak akan terjadi. Zayan bahkan belum menciumku, bagaimana dia bisa mati. Dia tidak boleh mati sebelum menerima cintaku."
Mendengar ucapan Azalea, Zein segera menjauh dari wanita itu, hingga Azalea hampir saja terjatuh. Untunglah Keanu segera menahan tubuh Azalea agar wanita itu tidak terjatuh.
"Ah, terima kasih, Tampan," ucapan Azalea.
Keanu hanya mengangguk sekilas, lalu kembali fokus memperhatikan Zayan dan Aidan. "Apa mereka tidak akan berhenti?" tanya Keanu.
"Tidak akan, kecuali salah satu dari mereka mengalah. Mereka berdua itu keras kepala sekali." Azalea menjawab pertanyaan Keanu.
"Kalau begitu mereka bisa bertarung hingga malam tiba kalau kalian tidak menghentikan mereka. Aku takut jika ada orang lain yang melihat keributan ini." Keanu kembali berkata.
Azalea menoleh dan memandang Keanu dengan kagum. "Kamu memang bijaksana sekali. Tunggu di sini."
Azalea maju selangkah, lalu mengeluarkan pedang berbentuk bulan sabit yang tersembunyi di balik gaun indahnya. Dengan gerakan lincah, Azalea berlari ke tengah pertikaian, lalu mengadang pedang Zayan degan senjatanya, dan kemudian ia menendang wajah Aidan saat pria itu terlihat masih ingin menyerang Zayan.
"Argh, Lea, apa yang kamu lakukan?x Aidan berteriak.
"Aku sedang menghentikan kalian berdua, apa kamu tidak lihat, hah?" Azalea menjawab dengan asal, lalu menurunkan pedang bulan sabitnya dari pedang Zayan. "Inikah sambutanmu untuk kita setelah kita susah payah mencari cara agar bisa datang kemari?"
Zayan terlihat bersalah pada Azalea. Ia tahu pasti sulit sekali bagi Azalea untuk meninggalkan Floss Terra, terlebih lagi wanita itu tidak pernah memiliki keinginan untuk menjelajahi dunia manusia.
"Wajar jika dia menyerangmu dan kesal padamu, Za, kepergianmu membuat kami semua hampir mendapatkan hukuman mati," teriak Zein, berbohong.
"Benarkah?" Zayan terlihat semakin bersalah.
"Ya, itu benar. Jika tidak, mana mungkin kami jauh-jauh mencarimu, dasar sialan." Aidan kembali mengayunkan pedangnya. Kali ini Zein mengeluarkan busur dan menembakkan anak panah ke Aidan, hingga anak panah itu mengenai pedang Aidan yang langsung terjatuh ke tanah.
"Wah, luar biasa, Key. Mereka semua bagai peri yang memiliki kelebihan masing-masing. Aku tidak percaya dapat melihat semua ini. Mustahil sekali." Amelia berkomentar.
"Bagaimana kalau kita masuk ke dalam. Lebih baik bicara di dalam." Rosalyn berteriak ke arah Aidan berdiri.
Aidan mengangguk dan segera menghampiri Rosalyn dan menyentuh pinggang wanita itu.
Apa yang barusan Aidan lakukan membuat Keysa, Adinda, dan Amelia menatap Rosalyn dan Aidan dengan mulut terbuka.
"Sepertinya kita akan punya ayah baru, Kak." Adinda berbisik di telinga Keysa.
Keysa menatap Adinda dengan kesal. Ia tidak suka pada komentar yang Adinda lontarkan. "Tidak mau! Dan tidak setuju!" ujar Keysa, lalu menyusul Rosalyn yang lebih dulu masuk ke dalam rumah bersama dengan Aidan.
Sesampainya di dalam rumah, mereka semua duduk di ruang keluarga yang berukuran tidak terlalu besar. Ditambah lagi dengan senjata yang terpasang di punggung tamu-tamu dari Floss Terra semakin membuat rumah Keysa terlihat kecil.
"Jadi, sebutkan alasan kenapa kalian menyusulku kemari? Selain alasan karena hukuman matinya yang sepertinya hanya karangan kalian saja." Zayan membuka percakapan?"
"Tentu saja untuk menjemputmu? Memangnya untuk apa lagi!" Azalea menjawab dengan nada sengit. Ia kesal karena Zayan terlihat tidak terlalu suka pada kehadiran mereka, padahal perjuangan mereka untuk menemukan Zayan tidaklah mudah.
"Tidak perlu menyusulku, Lea, kan sudah kukatakan saat itu kalau aku memang berencana untuk tetap tinggal di sini. Aku tidak akan kembali ke Floss Terra apa pun yang terjadi." Zayan menjawab.
Aidan dan Zein saling melempar tatapan kesal ke Zayan.
"Ini bukan masalah kamu harus kembali atau tidak, Za, tapi keadaan memang mengharuskan kamu untuk kembali, suka atau tidak suka," ujar Aidan.
"Tapi kenapa? Aku sudah memutuskan jalan hidupku, dan jalan hidupku adalah di sini, bukan di Floss Terra."
Azalea memutar matanya dengan malas. Ia kemudian bertanya, "Untuk alasan apa kamu tidak ingin kembali?"
"Keysa. Karena Keysa ada di sini, maka aku akan tetap di sini."
Kedua pipi Keysa merona merah begitu mendengar jawaban Zayan, tetapi tidak dengan Azalea, ia berasa begitu sedih karena Zayan ternyata sangat mencintai seorang manusia dan lebih memilih manusia itu daripada dirinya yang sudah lama mencintai Zayan dalam diam.
"Sayang sekali, cintamu tidak akan berhasil." Azalea berkomentar.
Zayan mengernyitkan dahi, begitu juga dengan semua orang yang ada di ruangan itu kecuali Rosalyn, Zein, dan Aidan.
"Apa maksudmu?" tanya Zayan.
"Tubuhmu akan menghilang jika kamu tidak segera kembali ke Floss Terra!"
Bersambung.