
Keysa memejamkan kedua matanya, tanganya menyatu seolah sedang memohon kepada ... siapa? Ia pun tidak tahu. Ia hanya fokus memikirkan Zayan, pria yang telah ia temui berkali-kali saat dirinya sedang tertidur.
"Temui aku!" ucapnya, dengan kedua mata tertutup dan tubuh berbaring di kamarnya. "Aku mohon Zayan, temui aku, plis!"
Sesaat kemudian ia merasa dirinya seperti ditarik, lebih tepatnya seperti disedot menuju ke dunia yang jelas sekali bukan dunianya. Beberapa bagian tubuhnya terasa panas, kemudian seperti menegang, saat merasakan semua sensasi itu ia mulai merasakan mual, kepalanya terasa sakit sekali sehingga membuatnya berkeringat dingin. Namun, hal itu hanya berlangsung sementara. Di detik berikutnya ia merasakan tubuhnya kembali normal, semilir angin yang sangat sejuk terasa berembus membelai wajah dan rambutnya.
Perlahan ia membuka mata, dan tersenyum kikuk saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
"Hai," sapanya, sambil melambaikan tangan dengan ragu. Ia tidak menyangka ternyata usahanya untuk menemui Zayan berhasil.
Zayan menghampirinya. "Rindu?"
"Hah!" Keysa merasa bodoh, karena telah berani meminta Zayan untuk menemuinya, sehingga ia tidak tahu harus menanggapi seperti apa pertanyaan yang terlontar dari bibir pria tampan itu.
"Aku harus berkuda sejauh beberapa kilo meter agar dapat segera tiba di tempat ini. Untunglah aku cepat," ujar Zayan, sedikit menyombongkan diri.
Keysa yang mendengar kata 'kuda' seketika terlihat bersemangat. Ia sangat penasaran bagaimana rasanya menunggangi kuda sambil melihat-lihat pemandangan, apalagi jika itu semua dilakukan dengan pria tampan di dekatnya. Pasti sangat romantis sekali.
Zayan menatap Keysa dengan saksama, dari wajahnya menggambarkan kebingungan, tetapi kemudian ia tersenyum puas dan penuh arti.
"Ingin menungganginya?" tanya Zayan. "Denganku?" lanjutnya.
"Hah?" Lagi-lagi Keysa merasa bodoh dan terlalu bingung dangan apa yang dikatakan oleh Zayan. "Tidak usah," ucapnya, buru-buru.
"Oh, ayolah. Jangan pura-pura." Setelah mengatakan itu, Zayan lalu mengangkat tubuh langsing Keysa ke atas kuda jantan miliknya, lalu ia ikut duduk di belakang Keysa. "Bersiaplah, kita meluncuuur!"
"Aaah ...!" Keysa berteriak karena sentakkan mendadak kuda itu membuatnya terkejut, tetapi kemudian teriakkan terkejut itu berubah menjadi teriakkan kagum.
...
...
Keysa membuka matanya lebar-lebar, ia bahkan enggan untuk berkedip. Bagaimana tidak, jika semua yang ia lihat sangatlah indah. Dirinya pikir keseluruhan tempat ajaib yang sering ia kunjungi di dalam mimpi itu hanyalah padang dandelion saja, tetapi ternyata ia salah, salah besar!
Setelah melewati padang dandelion, ia mendapati perbukitan yang terlihat menghijau dengan puluhan hewan berkaki empat terlihat sedang berjemur di bawah sinar matahari yang menghangatkan. Awalnya ia pikir hewan itu adalah rusa, tetapi lagi-lagi ia salah. Tidak mungkin rusa hanya memiliki satu tanduk runcing tepat di tengah-tengah kepalanya. "Unicorn!" teriak Keysa, sangking terkejutnya.
...
...
Zayan hanya tertawa. Masih terus memegangi tali kekang yang terpasang pada kudanya. Ia sangat bingung dengan sikap Keysa yang terlihat biasa saja, padahal jarak mereka sangatlah dekat. 'Apa dia tidak berdebar? Padahal jantungku saja sudah ingin terlepas rasanya!' batin Zayan.
Setelah melewati perbukitan yang dipenuhi dengan puluhan Unicorn itu, mata Keysa lagi-lagi dimanjakan dengan tanah lapang yang ditumbuhi dengan tumbuhan berwarna merah muda, ia tidak tahu itu apa, tapi jelas sekali semua terlihat sangat indah, dan banyak sekali kupu-kupu berterbangan dari setiap tempat yang mereka lewati.
"Mau ke mana kita?" teriak Keysa, berusaha agar suaranya terdengar oleh Zayan. Walaupun itu sebenarnya tidak perlu, mengingat jarak mereka yang memang sudah sangat dekat.
"Tatap aku jika ingin menyampaikan sesuatu. Begitu jelas lebih sopan," bisik Zayan, membuat Keysa refleks menolehkan kepalanya ke belakang. Tindakan yang salah, jarak mereka terlalu dekat, sehingga nyaris saja bibir mereka saling bertemu.
Keysa buru-buru memalingkan wajahnya, kembali memandang pemandangan yang ada di depannya. Sekarang jantungnya berdegup tak karuan. Argh! Getaran menyebalkan!
Zayan turun dari atas kudanya terlebih dahulu. Lalu membantu Keysa untuk turun dan mendarat dengan mulus di sebelahnya.
"Perjalanan yang melelahkan," ujar Keysa sambil tersenyum kepada Zayan.
"Kamu menyukainya?" tanya Zayan, kemudian.
"Apa?" Keysa terlihat gugup.
"Perjalanannya."
"Oh, ya. Aku sangat suka."
"Air terjunnya?" Zayan kembali bertanya.
Keysa memandang air terjun di hadapannya dengan tatapan kagum. "Tentu aku suka."
"Aku, bagaimana?"
"Aku suk ...." Keysa menutup mulutnya rapat-rapat. Hampir saja ia keceplosan, dirinya pasti akan malu sekali jika sampai sembarangan berucap.
"Aku pun!" Zayan menatap ke dalam mata Keysa.
Keysa hanya tersenyum kikuk. "Ada yang ingin kutanyakan padamu," lanjutnya, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ya, tanyakan saja," ucap Zayan, sedikit penasaran.
"Heem, begini. Aku memiliki sebuah lukisan, aku rasa bukan suatu kebetulan jika lukisan itu sangat mirip dengan padang dandelion tempat kita biasa bertemu. Sayangnya aku tidak bisa membawa lukisan itu ke sini. Kamu tahu, saat aku memasuki tempat ini aku rasa apa yang menempel padaku tiba-tiba saja menghilang. Jam tanganku, misalnya, dan sepatuku!" Keysa menatap kakinya yang telanjang. Padahal sebelum berbaring di kamarnya tadi, ia mengenakan sepatu terlebih dahulu, dan jam tangan juga.
"Aku harap suatu saat pakaianmu juga!" ucap Zayan, dengan seringai jahil menghiasi wajah tampannya.
Wajah Keysa merona mendengar ucapan Zayan. "Jangan sembarangan! Dasar--"
"Teruskan, teruskan ceritamu tadi," Zayan memotong ucapan Keysa.
"Oh, iya. Hem, pada lukisan itu ada sesosok wanita yang aku tidak tahu dia siapa. Rambutnya ikal sepanjang pinggul, tubuhnya tinggi dan langsing, wajahnya cantik sekali, dan dia seperti mengeluarkan cahaya berwarna kuning keemasan. Ya begitulah kira-kira." Keysa terkekeh, entah apakah penjabarannya bisa dipahami oleh Zayan atau tidak, yang penting dirinya sudah berusaha.
"Jika wanita itu mengeluarkan cahaya kekuningan ... bisa jadi dia gadis musim semi." Zayan menyentuh dagunya perlahan, terlihat sedang berpikir.
"Hah!" Keysa sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Zayan.
"Uum, begini, key. Di dunia kami, di Flos Terra terdapat empat tribus, penduduk dari tribus musim semi, musim dingin yang biasa disebut hiems, dan musim panas atau aestas. Setiap dari mereka memiliki ciri-ciri tersendiri. Dari yang kamu jelaskan, pasti wanita itu berasal dari tribus fons." Zayan mengakhiri penjelasannya.
Keysa menatap Zayan dengan mulut terbuka. Ia sama sekali tidak mengerti setiap perkataan yang diucapkan oleh pria itu. "Tunggu dulu. Fons? Tadi kamu hanya menyebutkan hiems dan aestas. Lalu, fons itu apa?"
"Musim semi, maaf aku lupa menyebutkannya. Apa yang membuatmu ingin tahu tentang wanita di lukisan itu?"
"Papaku! Lukisan itu adalah lukisan papaku. Aku mencurigai sesuatu. Sebelum dia menghilang, dia selalu mengatakan bahwa dandelion bisa menari, kelopak mawar juga bisa menari! Apa mungkin, papaku terjebak di tempat ini? Bukankah kalimat seperti itu juga sering terlontar dari bibirmu."
Bersambung.