
Mario mengekor langkah Rosalyn yang menuju salah satu tenda berukuran besar. Di antara semua tenda yang ada di sana, tenda yang dimasuki Rosalyn adalah tenda yang paling besar dan terlihat paling mewah dari yang lainnya.
Setibanya di dalam tenda, Rosalyn segera duduk di salah satu kursi yang ada di tenda itu, dan Mario duduk di seberangnya.
Keduanya saling bertatapan untuk beberapa saat. Jika Mario terlihat begitu takjub dan juga merindukan Rosalyn, tidak demikian dengan yang Rosalyn rasakan. Rosalyn membenci Mario, sangat benci hingga rasanya ia ingin menghilangkan Mario dari muka bumi saat ini juga.
Bukan tanpa alasan Rosalyn tiba-tiba membenci Mario, padahal beberapa minggu lalu ia masih sangat mencintai Mario, dan merindukan Mario. Ia bahkan mengkhawatirkan keadaan Mario yang kabarnya tidak pernah terdengar selama lima tahun.
Akan tetapi, saat Rosalyn tahu bahwa Mario menetap di Floss Terra dan hidup dengan nyaman bersama wanita yang telah memanggil Mario ke dunia itu, membuat rasa benci Rosalyn seketika muncul untuk Mario. Ia sakit hati, tentu saja, karena saat Mario hidup dengan nyaman, dirinya justru menderita di dunia manusia dengan kedua putrinya.
"Kamu terlihat baik, Mario." Rosalyn memulai obrolan. "Apa kamu sangat bahagia tinggal di sini?" tanyanya lagi, nada suaranya begitu datar, bahkan terkesan malas serta tidak ada binar bahagia di matanya.
Mario terdiam sejenak, terlihat sedang memikirkan apa yang harus dikatakannya pada Rosalyn.
"Ya, aku baik-baik saja, Rosie."
Rosie adalah panggilan sayang yang Mario berikan untuk Rosalyn saat mereka masih menjadi sepasang suami dan istri.
Rosalyn tersenyum sinis, tetapi ia tidak mengatakan apa pun untuk menanggapi pernyataan Mario.
Melihat sikap tidak ramah yang Rosalyn tunjukan padanya, membuat Mario menjadi penasaran, karena beberapa minggu lalu Rosalyn masih terlihat begitu merindukan dan juga mencintainya. Ia ingin tahu kenapa Rosalyn berubah dengan begitu cepat.
"Siapa yang memanggilmu kemari, Rosalyn? Apa kamu sangat mencintai pria itu sehingga kamu datang kemari dan tega meninggalkan kedua putri kita? Kamu melupakan statusmu sebagai seorang ibu."
Dada Rosalyn bergemuruh mendengar apa yang Mario katakan padanya. Enak saja Mario berkata demikian, membuat dirinya menjadi begitu buruk di mata siapa pun yang mendengar ucapan Mario. Padahal Mario lebih buruk darinya. Seribu kali lebih buruk!
"Sebenarnya aku ingin menanyakan hal itu juga padamu, Mario. Bagaimana perasaanmu saat kamu meninggalkanku dan juga anak-anak? Apa kamu tidak sekali pun memikirkan keadaan kami? Aku dan juga anak-anak mengkhawatirkan keadaanmu selama beberapa tahun ini. Kami tidak pernah tahu di mana kamu berada, dan begitu aku tahu bahwa kamu berada di sini dan hidup dengan nyaman tanpa merasa bersalah pada Keysa dan Adinda, ingin rasanya aku melenyapkanmu dari dunia ini. Kamu sama sekali tidak berperasaan! Binatang bahkan lebih baik daripada dirimu!"
Mario terdiam. Ia sadar jika ia pantas mendapatkan semua ucapan kejam itu dari Rosalyn, bahkan ia juga pantas menghilang dari dunia karena dirinya bukanlah pria yang baik. Ayah mana yang tega meninggalkan kedua putrinya yang pasti masih sangat membutuhkannya.
"Aku minta maaf, Rosie--"
"Tidak perlu!" Rosalyn memotong ucapan Mario yang terdengar seperti suara troll di telinganya. "Sekarang pergilah, Mario. Aku pun akan pergi jika urusanku di sini sudah selesai. Saat kembali nanti, aku tidak akan mengatakan pada Keysa dan Adinda bahwa ayahnya berada di dunia lain dan hidup bahagia bersama dengan seorang wanita murahan." Rosalyn bangkit berdiri. Gerakannya yang menyentak kasar membuat beberapa kelopak bunga berjatuhan dari rambut panjangnya yang tergerai indah.
Mario yang sudah lama menetap di Floss Terra tahu bahwa manusia yang datang dan menetap di Floss Terra tidak akan memiliki kelopak bunga di kepalanya. Hanya wanita yang memang terlahir di Floss Terra-lah yang memiliki ciri khas demikian, seperti Yasmin misalnya. Kelopak-kelopak itu menandakan bahwa yang memilikinya adalah keturunan murni, atau lebih tepatnya mereka adalah wanita yang memang lahir dan besar di Floss Terra, bukan pendatang yang berhasil diculik dari dunia manusia.
"Rosie, ada yang ingin kutanyakan padamu. Ini tentang penampilanmu. Sudah berapa lama kamu di sini hingga kamu memiliki kelopak bunga di rambutmu."
Rosalyn menyibak rambut panjangnya, tatapan matanya yang tajam terarah ke Mario, membuat Mario merasa tidak nyaman. Tatapan Rosalyn seakan mampu menembus pikiran Mario.
"Kamu akan terkejut jika kuberitahu, Mario, tapi lebih baik kamu tahu. Ya, aku pikir kamu harus tahu bahwa aku adalah putri dari Panglima Theodor, Panglima perang yang ada di Floss Terra! Maka dari itu berhati-hatilah. Jika aku sampai menemukan siapa wanita yang telah merebutmu dari Key dan Adinda, aku tidak akan segan-segan untuk melenyapkan nyawa wanita sialan itu!"
***
Golem. Makhluk mengerikan yang keseluruhan tubuhnya terbuat dari batu itu tidaklah terlalu berbahaya seperti yang Aidan bayangkan. Tanpa pedang pun Aidan telah berhasil menjatuhkan sedikitnya enam Golem, sedangkan Zein berhasil menjatuhkan lima Golem.
"Tidak terlalu buruk," komentar Aidan, saat ia dan Zein sudah berada lebih jauh ke dalam hutan dan berhasil melewati kawasan teritori kekuasaan Golem.
"Ya, tidak sulit melawan mereka, bukan? Gerakan mereka yang lamban dan kaku adalah kelemahan mereka." Zein tersenyum.
Aidan mengangguk. "Benar. Sekarang apalagi yang harus kita hadapi di dalam hutan yang aneh ini?"
"Tidak ada." Zein menjawab dengan santainya.
"Tidak ada? Tapi katamu tadi ada lima--"
Aidan cemberut dan segera menyusul langkah Zein sambil menggerutu. "Dasar penipu. Tunggu saja pembalasanku."
Setelah berlari cukup jauh, akhirnya Aidan dan Zein tiba di tepi hutan. Keduanya disambut oleh pemandangan yang begitu indah. Terdapat hamparan rerumputan hijau sejauh mata memandang. Kelinci, rusa dan domba terlihat asyik menyantap rerumputan yang tumbuh subur.
Pondok-pondok kecil yang terbuat dari jerami terlihat seperti tumbuhan jamur raksasa yang bertebaran di mana-mana.
"Luar biasa. Aku belum pernah kemari sebelumnya," ujar Aidan. "Tempat ini indah sekali."
"Tentu tidak pernah. Kami para Tribus Mageía memang hidup terpisah dari kalian. Ibarat pembagian kasta, kami ini kasta terendah di mata para Tribus lainnya." Zein berujar dengan wajah masam.
"Jangan bicara begitu. Aku tidak pernah menganggapmu dan para Mageía lainnya lebih rendah dibanding tribus mana pun," ujar Aidan, yang mendadak sangat menyukai Zein, karena ternyata Zein tidak terlalu menyebalkan seperti yang ia kira. Apalagi Zein terlihat tulus ingin membantu agar Zayan dapat kembali sesegera mungkin ke Floss Terra, padahal sebelumnya Zein dan Zayan tidak memiliki hubungan baik sebagaimana hubungan Zayan dengan Aidan.
"Benarkah? Baguslah. Ayo kita ke temui tetua kalau begitu." Zein melangkah lebih dulu melewati padang rumput hijau menuju sebuah pondok yang berukuran paling besar di antara pondok lainnya.
Sesampainya di pondok itu, Zein dan Aidan disambut oleh seorang pria tua yang memiliki rambut sepanjang bahu. Pria tua itu adalah pemimpin Tribus Mageía yang telah berusia hampir 10,000 tahun. Pria itu bernama Ozzi Veniam, yang berarti kekuatan anak dari utara, dalam bahasa Yunani, meskipun Ozzi bukan lagi anak-anak.
Ozzi mempersilakan Aidan dan Zein untuk masuk dan duduk di atas tikar anyam yang digelar di atas tanah.
"Jadi, akhirnya kami kedatangan tamu terhormat. Putra Mahkota Floss Terra." Ozzi terkekeh pelan.
Aidan membungkuk, memberi hormat pada pria tua di depannya. Bagaimana pun juga
Ozzi telah berusia jauh lebih tua darinya, sehingga tidak pantas jika Ozzi yang membungkuk hormat padanya.
Ozzi kembali terkekeh. "Aku senang mengetahui bahwa Putra Mahkota kami adalah pria yang rendah hati. Tidak seperti Rex Regum yang sombong itu. Saking sombongnya, dia melupakan putriku dengan mudah. Dasar raja sialan."
Zein menelan saliva mendengar perkataan Ozzi yang begitu kasar.
"Hem, Kakek, bisakah kamu memberitahu kami bagaimana cara menggunakan--"
"Ya, ya, aku tahu apa yang membuat kalian berdua susah payah datang kemari."
Aidan melirik ke tempat Zein yang duduk dengan kaku. Ia baru tahu kalau Ozzi, si tetua dari Tribus Mageía adalah kakek Zein. Aidan juga begitu takjub karena Ozzi telah mengetahui alasan kedatangan mereka padahal baik dirinya atau pun Zein belum ada yang mengatakan apa pun.
"Kalian berdua memang bodoh, karena tidak mengetahui bagaimana cara menggunakan benda itu. Padahal kan sudah jelas, jika sesuatu yang berpasngan pasti ingin kembali ke pasangannya saat mereka dipisahkan!" ujar Ozzi dengan gemas. "Tidak kusangka jika aku memiliki cucu yang begitu bodoh." Ozzi mengetuk kepala Zein.
"Kalau begitu kami hanya perlu menuliskan ..."
"Kembalilah ke pasanganmu, atau bawa aku ke pasanganmu." Ozzi memotog ucapan Aidan.
"Hanya itu?" tanya Zein dan Aidan bersamaan.
"Ya, hanya itu. Akulah yang menciptakan Vinculum Membranis ribuan tahun lalu saat aku mengenal Verona, pasanganku. Kami kerap menggunakan benda itu untuk bertemu dan kemudian memadu kasih di tempat yang indah dan tersembunyi. Tapi, semenjak kematiannya karena perang, aku tidak lagi membutuhkan benda itu. Aku membuangnya begitu saja, dan beberapa tahun kemudian barulah aku tahu kalau benda itu jatuh ke tangan keluarga seorang pria yang turun menurun menjabat kedudukan penting di Floss Terra." Ozzi bercerita, tatapannya menerawang mengingat masa yang telah lalu saat ia masih cukup muda untuk menggunakan Vinculum Membranis.
"Kalau begitu kita harus kembali ke barak sekarang juga," ujar Aidan pada Zein.
"Ya, pergilah, Nak, saudaramu tidak memiliki banyak waktu karena 90 hari di sini tidak secepat 90 hari di sana," timpal Ozzi.
"Kamu mengetahui segalanya, Tuan." Aidan membungkuk kembali pada Ozzi.
"Ya, aku mengetahui segalanya. Bahkan apa yang akan terjadi di hari berikutnya. Aku mengetahuinya, dan aku tahu bahwa ada satu nyawa yang harus kembali ke sang pencipta karena cinta beda dunia ini."
Bersambung.