
Azalea tersentak dan segera membuka mata. Napasnya memburu saat ia kembali mendapat kesadaran. Tubuhnya bahkan berkeringat dan dadanya berdebar dengan sangat kencang. Azalea menyentuh dadanya dan memukul pelan dadanya yang masih berdebar tak keruan.
"Perintah macam apa itu? Hukuman mati, yang benar saja!" gumam Azalea. "Apa mungkin Zinnia berbohong padaku?" Azalea bertanya seorang diri. Apa yang baru saja ia dengar dari Zinnia begitu mengerikan, membuatnya tidak percaya kenapa Rex Regum mengeluarkan perintah seperti itu.
"Hukuman mati untuk siapa?" tanya Keanu yang sejak tadi duduk di kursi tidak jauh dari tempat Azalea berbaring di ruang tamu.
Azalea terkejut. Ia pikir ia sendirian di ruangan itu, tetapi ternyata tidak. Ia segera menatap Keanu dan berkata. "Tidak apa-apa. Oh, ya, Zayan, Zein, dan Aidan di mana?" tanya Azalea.
"Aku rasa mereka ada di perkebunan mawar. Tadi mereka mengatakan ingin pergi ke sana."
"Mereka di sana? Serius? Sial, apa yang mereka lakukan di sana." Azalea segera bangkit berdiri dan berlari keluar dari dalam rumah.
Keanu yang merasa khawatir karena sejak bangun tidur wajah Azalea terlihat begitu pucat segera menyusul Azalea yang berlari menuju perkebunan mawar.
Di dalam perjalanan menuju perkebunan mawar, Azalea menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di desa itu. Tentu saja, karena Azalea terlihat berbeda, mulai dari pakaian hingga tatanan rambut dan juga kecantikannya. Azalea begitu cantik, saat sedang berlari seperti sekarang ini gaunnya yang panjang berkibar tertiup angin, sanada dengan kibaran rambut panjangnya yang menjatuhkan beberapa kelopak bunga di sepanjang perjalanan. Sungguh Azalea terlihat bagai seorang dewi dari dunia lain. Tidak mengherankan jika sekarang orang-orang memperhatikan Azalea.
Azalea menghentikan langkah kakinya begitu ia tiba di tepi perkebunan nawar, dari tepi perkebunan saja Azalea dapat melihat Padang Dandelion di kejauhan. Dari tempatnya berdiri sekarang, Azalea dapat melihat bendera-bendera tinggi yang biasanya dibawa oleh bala tentara yang sedang mengemban tugas penting.
"Ada apa? Kamu terlihat semakin pucat." Keanu bertanya.
"Apa kamu bisa melihat apa yang kulihat sekarang?" tanya Azalea pada Keanu.
"Tidak, memangnya apa yang kamu lihat?" Keanu mengikuti arah pandang Azalea, tetapi ia tidak menemukan keanehan apa pun yang bisa membuat dirinya menjadi pucat dan ketakutan seperti Azalea.
Azalea menarik tubuh Keanu, dan mencium bibir pria itu dengan begitu lembut. Setelah beberapa saat Azalea melepaskan ciumannya dan kembali bertanya. "Apa sekarang kamu lihat?"
Keanu terbelalak saat ia melihat apa yang terpampang di hadapannya. Saat ini ia memang tengah berdiri di perkebunan mawar, semua yang ia lihat berwarna merah dan putih, tetapi di kejauhan ia melihat sesuatu yang berbeda, sesuatu berwarna kuning dan putih yang berada di bawah naungan langit yang gelap, dan kalau tidak salah lihat, ia juga melihat bendera yang jumlahnya cukup banyak.
"Yang kamu lihat sekarang adalah bagian dari Floss Terra, itu adalah Padang Dandelion, salah satu portal bagi kami untuk memperhatikan kalian para manusia. Dan saat kami menyukai salah satu dari kalian, kami akan menghampiri kalian melalui mimpi dan mengajak kalian untuk bertemu dengan kami di Padang Dandelion."
Keanu mendengarkan dengan seksama apa yang Azalea katakan. "Itukah yang terjadi pada Keysa selama ini? Zayan menyukai Keysa dan berusaha membuat Keysa untuk menetap di sana. Bukankah hal itu kejam sekali, kalian memisahkan putri dari ibunya."
"Tidak semua dari kami akan melakukan hal itu. Zayan adalah salah satunya. Mudah baginya untuk menahan Keysa di sana jika dia mau, tetapi dia tidak mau, itulah sebabnya dia yang datang ke sini. Dan karena kedatangannya ke dunia ini nyawa kita semua berada dalam bahaya," ujar Azalea.
Keanu mengernyitkan dahi. "Bahaya bagaimana? Kita semua?"
"Nanti saja kuceritakan, sekarang bantu aku untuk mencari Zayan dan yang lainnya. Mereka harus segera pergi dari perkebunan ini sebelum terlihat oleh mereka yang berada di Floss Terra." Azalea menarik tangan Keanu, dan mereka mulai memasuki perkebunan mawar semakin ke dalam.
"Jangan sampai ada tentara yang melihat mereka di sini, jangan sampai, jangan sampai." Azalea bergumam sepanjang jalan memasuki perkebunan mawar.
***
"Nah lihatlah, Zein, kalau caramu memegang pegang seperti itu, sudah pasti pedangmu akan terlempar begitu ada yang menyerang!" Aidan mengomel.
Ketiga prajurit yang merupakan pangeran sekaligus itu sejak tadi berlatih seperti biasanya ketika mereka berada di Floss Terra.
Saat berada di barak yang ada di perbatasan, Zayan dan Aidan memang selalu menghabiskan waktu untuk berlatih. Biasanya mereka hanya berlatih berdua, tetapi sekarang baik Zayan maupun Aidan bertekad untuk melatih Zein juga agar Zein dapat menggunakan pedang dengan baik.
Sejak tadi Aidan dan Zein dengan sabar melatih Zein cara memegang pedang, walaupun setelah di coba puluhan kali Zein sama sekali tidak kunjung bisa melakukannya. Zein memang paling jago memanah dan menyihir, memegang pedang bukan keahliannya sama sekali.
"Sudahlah. Aku sama sekali tidak berminat pada pedang. Jika peperangan terjadi, aku hanya akan memanah para musuh dari atas pepohonan yang rindang."
"Ya, terserah kamu saja," ujar Zayan yang sudah merasa lelah dan menyerah. Ia kemudian berbaring di tengah-tengah semak mawar yang berduri, menatap langit cerah yang terlihat indah.
"Hai kalian! Sedang apa kalian di situ. Cepat kembali ke rumah Keysa." Azalea berteriak saat ia melihat Zayan dan yang lainnya di tengah perkebunan.
Zayan yang baru saja berbaring segera bangkit untuk duduk saat mendengar suara Adalah.
"Si cerewet. Kenapa lagi dia teriak-teriak?" tanya Zein.
Azalea semakin mempercepat langkahnya hingga ia tiba di depan Zayan, Aidan, dan Zein.
"Ada apa, Lea? Kamu mengganggu kesenangan kami saja." Aidan berkomentar lebih dulu.
"Aku punya berita yang tidak bagus, Dan, ini tentang Rex Regum." Azalea berujar dengan panik
"Rez Regum? Ada apa dengannya?" tanya Zayan.
"Astaga, apa itu!" Zein menunjuk ke seberang perkebunan mawar, di mana Padang Dandelion terlihat.
Bendera-bendera yang terpasang pada ujung bambu yang beberapa waktu lalu dilihat oleh Azalea hanya ujungnya saja sekarang telah terlihat seutuhnya. Bambu-bambu itu dibawa oleh ratusan tentara yang berkuda menuju Padang Dandelion.
"Inilah kabar buruk yang kumaksud," gumam Azalea. Ayo menunduk! Jangan sampai mereka melihat kita berada di dunia manusia." Azalea menarik Keanu dan Aidan untuk meringkuk di tanah. Zein dan Zayan pun melakukan hal yang sama.
"Aku harap kita tidak terlihat," gumam Azalea dengan suara yang gemetar ketakutan.
"Ada apa sebenarnya ini? Apa yang Zinnia katakan padamu, Lea?" desis Zayan.
Azalea menatap Zayan, Aidan, dan Zein bergantian. "Raja memerintahkan Alcender untuk mencari keberadaan kalian bertiga. Kepergian Aidan dan Zein telah membuat raja semakin marah, karena sebelumnya dia telah kehilangan Zayan. Bukan hanya perintah untuk mencari kalian bertiga yang keluar dari bibir raja, tetapi raja juga memerintahkan agar siapa pun yang berada di balik kepergian kalian bertiga harus ditangkap dan dihukum mati di depan seluruh rakyat Floss Terra."
"Maksudmu bagaimana? Memangnya siapa yang terlibat? Kami kan pergi atas kehendak kami sendiri," ujar Zein.
"Ya, memang, tapi bagi raja kepergian kalian adalah karena kalian dipengaruhi. Itu berati bukan hanya aku yang akan dihukum mati, tapi Keysa dan Rosalyn juga. Karena secara tidak langsung alasan kalian pergi adalah karena Keysa dan Rosalyn, lalu aku adalah seseorang yang tahu rencana kalian dan mendukung apa yang kalian rencanakan. Padahal seharusnya sebagai petugas di Solis Kastil, aku menahan kalian dan memberitahu raja." Azalea menjelaskan apa yang akan terjadi jika sampai Alcander menemukan mereka semua.
"Aku tidak akan membiarkan mereka menghukummu." Keanu meremas tangan Azalea dengan kuat. "Aku akan melindungimu."
Azalea terharu mendengar ucapan Keanu. Selama ini dirinya tidak butuh dilindungi dan tidak ada juga pria yang bersusah payah mau melindunginya, sehingga apa yang baru saja Keanu katakan terdengar begitu indah dan membuat Azalea menjadi salah tingkah.
"Terima kasih, Keanu," lirih Azalea.
"Jangan takut, Lea, aku akan menemui raja dan menjelaskan semuanya setelah kita kembali." Aidan berujar, lalu kembali menatap bala tentara yang berkumpul di Padang Dandelion.
"Tidak mudah untuk berbicara dengan raja, Aidan. kamu yang paling tahu sekeras kepala apa raja kita itu."
"Percayalah padaku, aku akan berbicara pada raja nanti, yang penting jangan sampai salah satu dari kita ada yang mengatakan pada raja atau pada siapa pun bagaimana cara kita datang ke sini. Aku takut jika sampai ada yang tahu, mereka akan berdatangan ke dunia ini," ujar Aidan.
Azalea mengangguk, begitu juga dengan Zayan dan Zein.
***
Yasmin masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamar dengan kasar. Ia masih kesal karena ada seorang pelayanan yang memberitahunya bahwa Mario berusaha untuk menemui Rosalyn beberapa waktu lalu. Mario bahkan rela berkuda begitu jauh hanya untuk menemui Rosalyn yang kabarnya berada di perbatasan.
Mario yang sedang berbaring di sofa segera bangkit untuk duduk dan bertanya pada Yasmin yang terlihat kesal. "Ada apa, Yas? Kamu terlihat tidak baik hari ini."
Yasmin melempar tatapan tajam ke Mario. "Aku dengar kamu bertemu dengan Rosalyn kemarin. Kamulah yang menghampirinya tanpa izin dariku. Apa kamu masih mencintainya, Mario, dan ingin terus bersamanya."
Mario menggeleng. "Bukan begitu. Aku hanya ingin mengetahui kabar kedua putriku, karena beberapa malam sebelumnya aku melihat Rosalyn dengan seorang pria yang sepertinya adalah seorang prajurit di perbatasan. Aku hanya ingin memastikan apakah Rosalyn menetap di sini atau tidak."
Yasmin membuang muka, ia tidak percaya pada apa yang Mario ucapkan.
"Aku sungguh tidak ada niatan lain selain mengetahui kabar anak-anakku, Yasmin." Mario masih berusaha menjelaskan.
"Baiklah. Terserah apa katamu. Oh, ya, apa kamu tahu kalau raja sedang melakukan pencarian besar-besaran karena ketiga putranya menghilang."
Mario menggeleng. "Tidak. Aku tidak tahu."
"Ya sekarang kamu akan tahu. Aku dengar raja telah melakukan penyelidikan mendalam tentang awal mula kepergian Zayan dan dua saudaranya. Hasil penyelidikan itu memberi petunjuk bahwa ketiga putra raja pergi ke dunia manusia. Dan sekarang raja sedang mencari cara agar sebagainya tentara bisa ke sana untuk menjemput ketiga putranya itu. Dan yang lebih parah lagi, raja memerintahkan agar para manusia yang telah meracuni pikiran ketiga putranya harus di tangkap dan dihukum mati di depan seluruh rakyat Floss Terra." Yasmin menjelaskan pada Mario.
Mario terlihat tertarik pada informasi yang baru saja Yasmin sampaikan, karena sebelumnya tidak ada yang bisa melewati perbatasan antara dunia manusia dan Floss Terra, kecuali mereka masuk ke dalam mimpi manusia.
"Siapakah manusia yang begitu beruntung karena dapat membuat ketiga putra raja menyeberangi perbatasan," tanya Mario.
Yasmin mengerutkan bibir. "Beruntung apanya, mereka justru ketiban sial sekarang. Jika tidak digantung, mereka pasti akan dipenggal. Seharusnya mereka saja yang datang ke sini dan tinggal di dunia ini, bukannya menggoda para pangeran untuk datang ke dunia mereka yang akhirnya malah membuat kekacauan."
Mario mengangguk. "Ya, selalu ada resiko dalam sebuah tindakan. Apalagi jika menyangkut masalah cinta. Bukankah kita semua sepakat bahwa cinta adalah sesuatu yang paling tidak masuk akal di dunia ini. Karena cinta bisa membuat mata siapa pun menjadi buta dan mengambil langkah yang salah. Tapi ngomong-ngomong siapa gerangan nama manusia-manusia itu? Aku penasaran sekali, mungkin saja aku mengenal mereka."
"Hem, kalau aku tidak salah dengar, salah satunya bernama Keysa, lalu Adinda, Keanu, dan aku tidak ingat lagi." Yasmin mengangkat kedua bahunya.
Mario tidak butuh waktu lama untuk mencerna ucapan Yasmin. Jika ada Keysa dan Adinda, tidak salah lagi, manusia yang akan dihukum mati itu pastilah putrinya.
"Sial! Kenapa bisa?" seru Mario, lalu segera berlari meninggalkan kamar.
Bersambung.