THE SECRET OF LOVE IN THE DANDELION

THE SECRET OF LOVE IN THE DANDELION
BERPINDAH DUNIA



Aidan dan Zein tidak terlalu peduli pada apa yang Ozzi katakan tentang nyawa yang akan hilang karena cinta beda dunia antara Zayan dan Keysa. Bagi Aidan, kembali ke perbatasan adalah hal yang terpenting dan harus mereka lakukan sesegera mungkin daripada harus mendengar ucapan Ozzi yang sebenarnya cukup membuatnya takut.


Zein, yang merupakan kerabat Ozzi meminta kemudahan pada pria tua itu untuk membantunya dan Aidan kembali ke perbatasan. Setidaknya mereka harus tiba di seberang Hutan Neraka tanpa perlu melewati hutan tersebut, karena sungguh melelahkan jika mereka harus kembali ke dalam hutan dan menghadapi segala rintangan yang baru beberapa waktu lalu mereka hadapi.


Dan permintaan Zein itu dikabulkan oleh Ozzi. Hanya dengan mantra sederhana yang hanya diketahui oleh Ozzi, Aidan dan Zein tiba-tiba saja sudah berpindah tempat dan muncul tepat di tepi jurang.


"Astaga!" Zein memekik, begitu juga dengan Aidan yang sedikit saja salah melangkah, maka pria itu akan langsung terjun bebas ke dalam jurang.


"Hampir saja. Apa Kakekmu ingin membunuh kita?" ujar Aidan, sambil perlahan melangkah mundur dari tepi jurang.


"Sudahlah, jangan cerewet. Setidaknya kita tidak harus melewati Hutan Neraka dan kembali menghadapi lebah raksasa yang mengincar bokongku ke sana-kemari," ucap Zein. Ia kemudian bersiul saat kedua kakinya telah berada di tempat yang lebih aman.


Mendengar suara siulan dari Zein, seekor kuda datang dari balik pepohonan yang rindang. Kuda itu adalah kuda milik Zein, dan beberapa saat kemudian kuda milik Aidan menyusul.


"Hebat," komentar Aidan. "Aku tidak bisa melakukan itu. Hanya bersiul, tiba-tiba saja para kuda berdatangan."


Zein terkekeh. "Sudahlah jangan terlalu banyak memuji. Kita harus bergegas sebelum terlambat." Zein kemudian menunggangi kudanya dan mulai menyentak tali kekang agar kuda berlari dengan cepat.


Aidan melakukan hal yang sama. Keduanya lalu berkuda kembali ke perbatasan dengan perasaan puas karena usaha mereka tidak sia-sia.


***


Di dalam tenda yang berada di perbatasan, Rosalyn dan Azalea terlihat semakin gelisah. Azalea bahkan sudah berulang kali mengunjungi Padang Dandelion hanya untuk mencoba apakah ia bisa menyebrangi perbatasan tanpa harus menggunakan Vinculum Membranis.


Akan tetapi, usaha Azalea sia-sia saja. Wanita itu selalu terpental ketika tubuhnya menyentuh garis pembatas yang memisahkan antara Floss Terra dan dunia manusia.


"Azalea, kamu dengar itu?" tanya Rosalyn.


Azalea menajamkan pendengarannya dan sesaat kemudian ia mendengar suara langkah kaki kuda di kejauhan.


"Mungkin itu mereka? Aidan dan Zein," ujar Rosalyn lagi, ia terlihat begitu bersemangat.


Rosalyn berlari keluar dari dalam tenda, diikuti oleh Azalea yang juga terlihat tidak sabar menanti kedatangan Zein dan Aidan.


"Hai, Kalian kenapa lama sekali?" teriak Azalea, begitu ia melihat Zein dan Aidan.


Zein yang baru saja turun dari kudanya segera mengetuk kepala Azalea dengan buku tangannya. "Lain kali lakukan sendiri jika kamu begitu cepat dan hebat."


"Ya, dan saat dia melakukannya sendiri, dia tidak akan pernah kembali ke sini lagi." Aidan menimpali, lalu melompat turun dari kudanya.


"Syukurlah kalian selamat," ujar Rosalyn.


Aidan menarik Rosalyn ke dalam pelukannya dan mendaratkan kecupan di bibir wanita itu "Aku pasti selamat berkat doamu," ujarnya, membuat kedua pipi Rosalyn merona merah.


Zein mendengkus kesal melihat tingkah Aidan yang begitu sok romantis. "Kamu selamat karena aku menyelamatkanmu, Aidan, bukan karena hal lain. Dasar perayu ulung. Jika bukan karena aku menarikmu dari sekumpulan lebah raksasa, bisa jadi wujudmu menyerupai golem sekarang."


Aidan tidak menghiraukan omelan Zein. "Oh, ya, ayo kita masuk. Kami sudah mendapatkan cara agar bisa pergi ke dunia manusia." Aidan menggenggam tangan Rosalyn dan menuntun wanita itu untuk masuk ke dalam tenda.


Sesampainya di dalam tenda, mereka semua segera duduk mengelilingi meja yang berada di tengah ruangan.


Azalea mengeluarkan perkamen ajaib dari dalam tas kulit rusa yang tergantung di dinding dan segera meletakan benda itu di atas meja.


"Nah, sekarang apa?" tanya Azalea.


Aidan mengambil oena bulu yang ada di rak di samping tempatnya berdiri, mencelupkan ujung pena bulu itu pada tinta dan segera menuliskan apa yang Ozzi katakan padanya beberapa waktu lalu.


KEMBALILAH KE PASANGANMU.


Aidan merasakan tubuhnya memanas. "Kalian merasakan yang kurasakan tidak?" tanya Aidan.


"Apa yang kamu rasakan?" tanya Zein.


"Aku merasa tubuhku sangat panas seperti terbakar."


"Lihatlah!" pekik Azalea, sambil menunjuk ke atas perkamen, "tulisannya terbakar."


Benar saja, tulisan yang beberapa saat lalu Aidan tulis di atas Vinculum Membranis tiba-tiba saja berkerut dan mengeluarkan asap. Melihat gak itu, Aida pun menyadari sesuatu. Begitu juga dengan Zein.


"Hanya yang menuliskan kalimat itu yang akan berpindah," gumam Zein, "Kecuali kita ... ayo cepat berpegangan!" seru Zein, tepat ketika seluruh tulisan di atas perkamen hangus terbakar, menyisakan kepulan asap yang terasa begitu hangat.


Aidan menarik pergelangan tangan Rosalyn.


Rosalyn menarik pergelangan tangan Azalea.


Azalea menarik pergelangan tangan Zein.


Dan ... Pop.


Ketiganya menghilang.


***


Keanu mengetuk pintu kamar Keysa, meminta gadis itu untuk bangun dan sarapan.


Keysa yang melangkah dengan malas ke ruang makan bersama dengan Keanu seketika tersenyum saat dilihatnya Zayan ada di ruangan itu. Zayanterlihat sibuk mengangkat piring besar berisi buah-buahan ke halaman belakang rumah.


"Mau dibawa ke mana semua itu?" tanya Keysa.


Xanteus yang asyik mengunyah sepotong semangka di sudut ruangan sembari berjongkok terkejut saat mendengar suara Keysa. Ia buru-buru membuang sedikit semangka yang masih tersisa ke luar jendela karena tidak ingin dituduh sebagai pencuri.


"Kita akan makan di halaman belakang." Zayan menjawab sambil tersenyum.


"Oh, ya, tapi kenapa?" Keysa terlihat bingung.


"Mencari suasana baru. Begitu kata Amelia dan Adinda." Zayan kembali menjawab. "Ayo, kita ke belakang. Di sana sejuk sekali saat pagi hari begini."


Keysa mengibaskan rambut panjangnya dan segera mengekor langkah Zayan, mengabaikan Keanu yang sekarang hanya bisa menghela napas panjang melihat perubahan yang terjadi pada Keysa.


"Tenanglah, Tuan, Anda itu tampan, dan akan mudah sekali bagi Anda untuk mendapatkan gadis baru," ujar Xanteus pada Keanu.


Keanu tersenyum. "Terima kasih, Xanteus. Mendapatkan gadis baru memang mudah, tapi mendapatkan yang kita cinta tidak akan mudah. Ayo kita ke halaman belakang."


Keanu tersenyum ramah. "Jangan bicara begitu. Kita semua sama. Untuk apa memisahkan diri hanya karena merasa berbeda dari yang lain. Ayolah, kue buatan Amelia dan Adinda sangat enak. Kamu pasti akan kehabisan jika tidak segera bergabung dengan kami."


Mendengar ucapan Keanu, Xanteus segera bangkit berdiri. "Aku ingin kuenya."


Keanu tertawa, Xanteus memang bertubuh besar dan wajahnya terlihat tua, tetapi sifatnya seperti anak-anak, polos sekali.


"Ayo kalau begitu."


Suasana di halaman belakang memang begitu nyaman. Udaranya sejuk, ditambah sinar matahari yang belum begitu terik membuat siapa pun pasti akan setuju jika menikmati sarapan di halaman belakang terasa lebih nyaman daripada sarapan di ruang makan.


Zayan mengoles dua potong roti gandum dengan selai kacang, lalu memberi satu potong untuk Keysa.


"Terima kasih," ujar Keysa dengan senyum mengembang.


Zayan mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih kembali," ujar Zayan, yang segera menggigit rotinya sendiri.


Saat semuanya sedang asyik menikmati sarapan, tiba-tiba terdengar suara yang begitu berisik dari dalam gudang yang letaknya memang tidak jauh dari halaman belakang rumah Keysa. Disusul dengan suara kelontang yang begitu memekakan telinga. Tidak diragukan lagi jika suara kelontang itu pastilah berasal dari baju zirah hasil curian Xanteus.


Mendengar keributan yang terjadi di gudang, Xanteus dan Zayan langsung bangkit berdiri. Zayan bahkan segera menarik dua pedang dari balik punggungnya dan melangkah menuju Gudang bersama dengan Xanteus.


"Zayan!" Keysa berteriak, membuat Zayan menghentikan langkahnya dan menoleh untuk menatap Keysa.


"Ya, Key."


Keysa berlari menghampiri Zayan. "Jangan ke sana. Bagaimana kalau yang datang adalah penjahat dan mereka langsung melukaimu."


Zayan tersenyum. Ia terlihat bahagia karena Keysa begitu peduli dan perhatian padanya. "Tenanglah dan diam saja di sini. Aku hanya akan memeriksa sebentar. Tidak akan terjadi apa-apa padaku.


" Tapi, Za--"


"Jika kamu begitu khawatir padanya, biar aku saja yang periksa." Keanu melewati Keysa dan Zayan. Ia melangkah tanpa merasa takut menuju gudang.


"Aku heran hingga saat ini tidak ada wanita dari Floss Terra yang berusaha untuk merebutnya dari dunia manusia. Padahal selain tampan, dia juga begitu baik dan pemberani. Keysa saja tidak ada apa-apanya jika sampai wanita dari Floss Terra mengetahui keberadaan Keanu di dunia ini." Xanteus berkomentar, lalu segera menyusul Keanu yang sudah hampir mendekati gudang.


Mendengar komentar Xanteus, Keysa menjadi tidak enak hati. Keysa sadar jika dirinya terlalu kentara menjauhi dan menjaga jarak dari Keanu, sementara Keanu terlalu kentara memperlihatkan bahwa pria itu menyukai dan mencintai Keysa.


"Aku akan menyusul mereka," ujar Zayan, lalu segera berlari menuju gudang.


Amelia menghampiri Keysa. "Lebih baik kita masuk ke dalam rumah, kalau sampai yang datang adalah orang yang waktu itu kamu ceritakan, maka akan sangat berbahaya buatmu, Key, bagaimana kalau orang itu berusaha untuk menusukmu lagi dengan pedangnya."


"Benar, Kak, ayo kita masuk saja sekarang." Adinda setuju pada apa yang Amelia ucapkan.


Keysa mengangguk. "Ya, lebih baik kita ke kamar mama, Dind, mama sendirian di kamar."


Amelia dan Adinda mengangguk setuju. Baru saja mereka berbalik dan akan melangkah memasuki rumah, Rosalyn tiba-tiba muncul dan berlari keluar dari dalam rumah, wajah wanita itu terlihat khawatir, tetapi begitu melihat Keysa dan Adinda, ia segera memeluk keduanya sembari menangis.


"Mama. Mama sadar!" seru Keysa dan Adinda bersamaan.


"Ya, Sayang. Mama senang melihat kalian baik-baik saja." Rosalyn menjawab sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Adinda dan Keysa. "Mama merindukan kalian, tapi sekarang mama harus menemui seseorang dan memastikan keadaan mereka. Tunggu sebentar, Sayang," ujar Rosalyn lagi, lalu segera berlari menyeberangi halaman dan menuju gudang.


"Ma, jangan ke sana. Di sana berbahaya!" Keysa berteriak, tetapi Rosalyn seperti tidak mendengarkan peringatan yang Keysa berikan.


Sementara itu di dalam gudang sedang terjadi keributan yang luar biasa. Zein, Aidan, dan Azalea yang muncul di udara harus merasakan sakit pada sekujur bagian tubuh mereka karena mereka bertiga melakukan pendaratan yang tidak sempurna.


Aidan terutama harus merasakan sakit yang teramat sangat karena tubuhnya yang lebih dulu jatuh di atas tumpukan baju zirah yang ada di atap gudang, disusul kemudian oleh Zein yang jatuh tepat di atas tubuh Aidan, lalu Azalea yang jatuh di atas tubuh Zein.


"Argh! Kenapa kita jadi seperti ini. Tidak keren sama sekali," keluh Zein.


"Bangunlah cepat! Kenapa kamu masih memikirkan masalah keren atau tidak di saat seperti ini." Aidan berusaha mendorong tubuh Zein dari atas tubuhnya.


"Ah, pelan-pelan kalian berdua. Kalau tidak, aku pasti bisa jatuh." Azalea merintih saat ia merasa akan terjatuh dari atas tubuh Zein.


"Jangan merintih, Lea, pikiranku bisa berkelana ke mana-mana, apalagi kamu menindihku." Zein berujar sambil berusaha membantu Azalea untuk bangun dari posisi berbaringnya.


"Ih, dasar mesum!" Azalea segera turun dari atas tubuh Zein dan berusaha menjejak lantai. Namun, kakinya terpeleset oleh sebuah baju Zirah yang ada di bawahnya dan seketika ia terjatuh.


"Hati-hati!" Keanu yang datang tepat waktu dengan cepat menahan tubuh Azalea agar wanita itu tidak terjatuh.


Tidak lama kemudian Xanteus muncul dan pria itu langsung memekik begitu melihat siapa gerangan yang datang.


"Astaga. Demi Dewa Matahari, apa yang Anda lakukan di sini, Tuan-tuan? Di sini bukan dunia kalian, dan bagaimana caranya kalian bisa sampai di sini? "


Aidan dan Zein menoleh ke asal suara.


"Jangan banyak bicara. Bantu kami dulu," ujar Zein.


Xanteus segera membantu Zein dan Aidan untuk bangkit berdiri. Sementara Azalea yang sejak tadi terpaku menatap Keanu akhirnya kembali mendapat kesadarannya. "Di mana kita?" tanya Azalea.


"Turun saja dulu ke bawah. Aku takut atap ini akan runtuh karena tidak tahan menopang berat tubuh kita semua. Bangunan ini sudah sangat rapuh," ujar Keanu.


Azalea mengangguk. "Pria yang bijaksana," ujarnya, kemudian segera mengekor langkah Keanu menuruni tangga dan terus berjalan. Menuju halaman.


Aidan dan Zein pun melakukan hal yang sama.


"Zayan!" Azalea berteriak dan berlari menghampiri Zayan lalu memeluk pria itu dengan erat saat ia melihat Zayan berada di tengah halaman.


"Lea! Astaga, Lea, bagaimana kamu bisa datang kemari?" Zayan tertawa, ia senang dapat melihat Azalea di tempat yang tidak seharusnya.


"Kami susah payah mencarimu. Dasar kejam." Azalea meninju dada Zayan. Keysa yang kembali tiba di halaman belakang dan melihat kedekatan antara Zayan dan Azalea merasa sedikit kesal, apalagi Azalea terlihat begitu cantik bagai seorang dewi.


"Zayan! Dasar sialan! Kamu menyusahkan kami semua!" Aidan muncul dan segera menarik pedang dari balik punggungnya sambil meneriaki Zayan.


"Hai, Aidan, serius kamu mau bertarung dengannya sekarang?" Zein bertanya dengan malas.


"Kenapa tidak? Dia harus diberi pelajaran! Hiyaaa!"


Bersambung.