
Waktu antara dunia manusia di mana Keysa tinggal dan waktu yang ada di Floss Terra memang berbeda. Jika di Floss Terra matahari sedang bersinar dengan terik, tidak demikian dengan keadaan di dunia manusia.
Di Floss Terra, Aidan dan Zein tengah berkuda di bawah terik sinar matahari. Peluh membasahi wajah keduanya yang seolah tidak peduli sama sekali dengan sengatan terik dari sang penguasa siang.
Mereka berkuda melewati perbukitan, gurun, hingga sungai hanya untuk menemui seorang tetua dari Tribus Mageía yang Zein dan Aidan yakini pasti mengetahui bagaimana cara untuk menggunakan Vinculum Membranis.
Jarak antara perbatasan dan wilayah tempat tinggal Tribus Mageía memang terbilang cukup jauh. Ada banyak hutan gelap dan berbahaya, juga tebing curam yang harus mereka lewati, termasuk bahaya yang ada di dalamnya. Seperti makhluk-makhluk tak kasat mata dan juga hewan-hewan buas yang tanpa ragu pasti akan menyerang mereka jika mereka memasuki wilayah yang tidak seharusnya mereka masuki.
Seperti saat ini, Zein dan Aidan tengah berada di sebuah tebing yang curam. Berbatuan yang ada di bawah tebing itu sangat runcing dan terlihat berbahaya. Jika sampai salah satu dari mereka jatuh ke dalam tebing itu, sudah dapat dipastikan nyawa mereka akan langsung melayang menuju langit.
"Perhatikan langkahmu, Zein, jangan sampai kudamu terperosok ke dalam jurang," ujar Aidan.
"Tidak akan. Kudaku sudah terlatih melewati tebing-tebing ini. Sepertinya kamu lupa bahwa aku pun berasal dari tempat yang akan kita tuju." Zein menjawab dengan santai. "Aku sudah sering melewati tebing ini. Justru sepertinya aku yang harus memperingatkanmu bahwa terperosok bukanlah ancaman yang serius. Ada yang lebih serius daripada sekadar terperosok ke dalam jurang, Aidan."
Aidan menoleh dan menatap Zein yang berkuda di sebelahnya. "Apa?"
"Imp," jawab Zein.
"Imp? Apa itu Imp?" Aidan terlihat bingung. Ia tidak pernah mendengar tentang Imp sebelumnya.
Zein nyengir. "Sebentar lagi kamu akan tahu."
Aidan terlihat lebih siaga dari sebelumnya. Khas Zein, pria itu memang suka menggantung penjelasan dan membuat seseorang menjadi penasaran dan ketakutan sekaligus.
Tidak lama kemudian, apa yang dikhawatirkan Aidan terjadi. Sekumpulan makhluk aneh berterbangan dari celah-celah tebing, bahkan dari dalam jurang sekalipun. Makhluk itu berbentuk aneh, dengan tubuh seperti manusia tua yang memiliki kulit keriput dan sayap kelelawar, juga tanduk kecil di kepalanya. Imp terlihat seperti separuh iblis, separuh kelelawar.
Imp mulai memutari kuda-kuda Aidan dan Zein, wajah mereka yang menakutkan terlihat menyeringai jahil. Dengan cepat Aidan menarik pedang dari balik punggungnya dan mulai mengayunkan padang itu ke sekumpulan Imp yang terbang dengan lincah.
"Ck, tidak usah gunakan kekerasan, Aidan, mereka itu tidak jahat, mereka hanya jahil. Nanti jika bosan mereka akan terbang menjauh. Lagi pula, mereka tidak akan terbang lebih jauh dari batas tebing ini. Jika kita berkuda sedikit lebih cepat, maka lebih cepat pula kita terhindar dari kejahilan mereka. Ayo!"
Aidan menyarungkan pedangnya kembali mengikuti saran Zein dan mulai fokus melewati permukaan tebing yang tidak rata, sementara Imp masih mengikuti mereka hingga mereka tiba di ujung tebing dan langsung berhadapan dengan hutan yang terlihat begitu gelap.
"Nah, kan, apa kataku. Mereka menjauh." Zein berujar, sembari memandang Imp yang memutar tubuh mereka dan kembali masuk ke dalam celah berbatuan untuk menunggu penunggang kuda selanjutnya yang akan mereka jahili.
Akan tetapi, bukannya terlihat lega, Zein justru terlihat tegang dan mengeluarkan busur serta anak panahnya.
"Mereka sudah pergi, kenapa sekarang kamu malah mengeluarkan panah dan busur?" tanya Aidan.
Zein memutar bola matanya. "Asal kamu tahu saja, Aidan, bahaya di tebing tadi tidak ada apa-apanya jika dibanding dengan bahaya yang akan kita hadapi di dalam hutan. Keluarkan saja pedangmu dan aku ucapkan selamat datang di Hutan Neraka. Perjalanan yang sebenarnya dimulai.
***
Sementara itu di dunia manusia, Keysa yang membungkus tubuhnya dengan jaket tebal karena merasakan hawa dingin yang menusuk berusaha mencari keberadaan Vinculum Membranis yang ia pikir dan yakini pasti ada di dalam tempat penyimpanan rahasia yang ada di kamar sang ibu.
"Masuklah, tempat rahasia yang kuceritakan itu ada di dalam sini." Keysa melambaikan tangan ke Zayan, meminta pria itu untuk masuk ke dalam kamar Rosalyn sesaat setelah ia membuka pintu kamar tersebut.
Zayan mengangguk kemudian mulai melangkah memasuki kamar Rosalyn. Lampu kamar yang redup membuat Zayan tidak melihat ujung permadani yang sedikit terlipat, membuat kaki Zayan tersandung dan hampir saja ia terjatuh.
Beruntung Keysa cepat menahan tubuh Zayan agar pria itu tidak terjatuh. Keysa memeluk pinggang Zayan dan menguatkan pijakan kakinya sendiri untuk menahan beban tubuh mereka berdua.
"Hati-hati," ujar Keysa.
Zayan meletakkan tangannya di pinggang Keysa begitu tubuhnya mulai stabil. "Canggung sekali, baru kali ini aku diselamatkan oleh seorang wanita. Kalau Aidan dan Zein sampai lihat, mereka pasti akan mengejekku."
Keysa mendongak, menatap wajah tampan Zayan yang terlihat tetap bersinar walau dalam keremangan.
"Sesekali tidak masalah kan diselamatkan oleh seorang wanita?" tanya Keysa.
"Tentu. Apalagi wanita secantik dirimu." Zayan menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Keysa dan detik berikutnya bibir keduanya mulai bersentuhan.
Tubuh Keysa sedikit mengejang, saat ia merasakan bibir Zayan menari di atas bibirnya dan lidah pria itu mulai menjelajahi bagian dalam mulut Keysa yang sekarang terbuka pasrah.
"Manis sekali. Aku seperti sedang menyesap madu langsung dari sarangnya dan mengolesnya pada roti bantal yang lembut." Zayan berucap di sela-sela ciuman mereka.
"Kamu menyamakanku dengan sepotong roti? Tega sekali." Keysa berusaha menahan senyum.
"Ya, roti yang aku sukai. Roti bantal lembut dengan olesan madu. Biasnya aku akan memakan roti itu hingga habis, tidak akan kusisakan barang sedikit saja. Seperti ini." Zayang langsung ******* bibir Keysa lagi, mendorong tubuh mungil gadis itu hingga jatuh di atas sofa empuk yang ada di dalam kamar.
Keysa mende_sah saat tubuh Zayan menindih tubuhnya, dan bibir lembut pria itu terus menjelajahi setiap lekuk bibirnya, lalu turun ke leher. Refleks, Keysa mencengkram tunik yang menempel di tubuh Zayan, dan menarik tubuh pria itu agar semakin dekat ke tubuhnya.
"Aku menyukaimu, Keysa, sangat suka." Zayan berbisik di telinga Keysa. "Jika kamu bersedia, hiduplah denganku," pinta Zayan.
Keysa berdebar mendengar apa yang Zayan katakan. "Maksudmu menikah? Aku bahkan masih kuliah." Keysa bukannya menolak tawaran menggiurkan yang datang dari Zayan, tetapi mengingat statusnya yang masih merupakan mahasiswa rasanya menikah masih jauh dari angan-angannya.
"Menikah? Apa itu menikah dan kuliah?" Zayan terlihat bingung.
Keysa tertawa, lalu mendorong tubuh Zayan menjauh dari tubuhnya. Ia tidak ingin kehilangan akal sehat dan malah bergelut dengan Zayan di atas sofa, lalu melupakan niat mereka datang ke kamar sang ibu.
"Aku lupa kalau kamu tidak banyak mengetahui istilah-istilah yang ada di duniaku. Cari tahu sendiri apa artinya menikah dan kuliah. Sekarang ayo kita cari perkamen yang kamu sebutkan di halaman belakang tadi."
Zayan menghela napas berat, lalu bangkit berdiri, memberi ruang pada Keysa untuk berdiri juga.
"Oke, akan cari tahu apa itu artinya menikah. Tapi berjanjilah, setelah aku mengetahui apa artinya, kamu harus bersedia hidup bersama denganku." Zayan mengulurkan tangannya ke Keysa, berniat untuk membantu Keysa bangkit berdiri.
Zayan tersenyum, senyum hangat yang begitu indah. "Senang mendengarnya."
Keysa bangkit berdiri dan mulai memasuki kamar lebih ke dalam, hingga ia tiba di tengah kamar dan berdiri di atas permadani yang di bawahnya terdapat pintu kecil yang terkunci rapat.
Zayan yang mengekor langkah Keysa ikut menghentikan langkah dan berlutut di atas permadani bermotif kupu-kupu tersebut.
Keysa menggulung tepi permadani hingga pintu tersembunyi di bawahnya terlihat. "Ini dia. Aku rasa pastilah sesuatu yang sangat penting jika disimpan di bawah sini."
Zayan mengangguk, kemudian menyentuh permukaan pintu tersebut, di mana terdapat gembok berwarna hitam yang berukuran kecil tetapi terlihat kokoh. Dengan mudah Zayan menarik gembok kecil itu dan membuka pintu di bawahnya.
Seketika cahaya keemasan yang menyilaukan muncul dari dalam ruang tersembunyi yang berada di balik pintu, membuat Keysa terkejut karena sebelumnya ia tidak pernah melihat cahaya yang begitu menyilaukan muncul di dalam rumahnya.
Zayan mengulurkan tangannya ke dalam pintu rahasia begitu cahaya keemasan itu menghilang, dan beberapa saat kemudian Zayan mengeluarkan tangannya yang telah menggenggam sebuah perkamen dan pena bulu yang terlihat begitu indah.
"Apa benda ini yang kita cari?" tanya Keysa.
Zayan mengangguk. "Ya, kurasa inilah yang kita cari. Tidak kusangka jika benda ini teenhata ada di dalam rumah ini."
Keysa begitu terkejut, ia tidak menyangka bahwa ibunya memiliki benda semacam itu di bawah lantai di dalam kamarnya.
"Tidak mungkin milik ibuku. Pasti milik ayahku." Keysa bergumam.
"Masih ada barang lain di bawah sana tadi. Coba kamu yang ambil, karena biar bagaimanapun juga kamar ini adalah kamar ibumu, tidak pantas jika aku yang menggeledah barangnya," ujar Zayan.
Keysa segera memasukan tangannya ke dalam ruang rahasia itu dan seketika ia merasa seauatu yabg lembut dan dingin tersentuh oleh telapak tangannya. Tidak ingin merasa penasaran lebih lama, Keysa segera mengeluarkan benda itu dari dalam ruang rahasia dan ia takjub pada apa yang dilihatnya.
"Gaun," gumam Keysa.
Zayan menarik gaun tersebut dari tangan Keysa dan memperhatikan gaun itu dengan saksama. "Gaun ini sama persis seperti yang dikenakan oleh Azalea. Hanya saja Azalea mengenakan yang berwarna putih, sementara gaun ini berwarna emas." Zayan menjelaskan kepada Keysa.
Ya, gaun yang sekarang berada di tangan Zayan memang berwarna emas, terlihat begitu indah dan berkilau.
"Jadi, apa arti semua ini?" tanya Keysa.
Ting!
Sebuah bros terjatuh dari gaun yang tengah Zayan pegang. Bros berbetuk bunga dandelion yang dikelilingi oleh kupu-kupu kecil itu seketika menarik perhatian Zayan dan perlahan Zayan memahami segalanya.
"Key, di duniaku, bros seperti ini hanya dimiliki oleh putri orang-orang penting. Katakan padaku, di mana ibumu? Aku ingin melihatnya." tanya Zayan.
Keysa menunjuk tempat tidur besar yang ada di seberang ruangan. "Di sana."
Zayan menghampiri tempat tidur tersebut dan seketika wajahnya begitu terkejut saat melihat wajah wanita yang tengah berbaring di atas tempat tidur tanpa bergerak sedikit pun bagai seorang putri tidur.
Wanita itu begitu cantik, rambutnya panjang dan ikal berwarna kecokelatan, kulitnya seputih susu, bulu matanya sangat lentik dan alis tebalnya begitu sempurna membingkai wajah cantiknya yang terlihat pucat.
"Dia ibumu?" Zayan bertanya dengan suara yang begitu pelan, hampir seperti bisikan.
Keysa mengangguk. "Ya, dia ibuku. Ada apa? Kenapa kamu terlihat begitu pucat?"
Zayan beralih menatap Keysa. "Dia ada di Floss Terra sekarang. Aidan dan Zein menemukannya di dalam Hutan Hitam dan membawanya ke tenda di perbatasan, karena saat ditemukan dia tidak sadarkan diri."
Kedua mata Keysa membelalak. Ia begitu terkejut sekaligus lega. Sekarang ia tahu di mana keberadaan jiwa sang ibu yang tidak sadarkan diri hampir satu bulan lamanya.
"Kalau begitu, wanita yang saat itu ingin kulihat di dalam tenda adalah ibuku?" Keysa bertanya pada Zayan dengan air mata yang berlinang.
Zayan mengulurkan tangan untuk mengusap air mata Keysa. "Ya, jiwa ibumu ada di tenda di perbatasan."
"Kita harus menjemputnya, Za, bantu aku untuk menjemput ibuku. Mungkin dia ingin kembali tetapi tidak bisa. Plis, bantu aku." Keysa memohon.
Zayan mengangguk. "Kita akan menjemput ibumu, tapi sebelumnya izinkan aku bertanya sesuatu padamu, Key. Aku ingin tahu Apa ibumu pernah membicarakan sesuatu yang aneh, sesuatu tentang hidupnya sebelum dia menikah dengan ayahmu dan melahirkanmu juga adikmu?
"Sesuatu seperti apa tepatnya. Katakan saja langsung, Za, apa yang ingin kamu katakan padaku."
Zayan menyentuh kedua bahu Keysa, kemudian ia berkata, "Ibumu bukan manusia. Ibumu adalah salah satu dari kami, Key. Ibumu bagian dari Floss Terra."
Keysa mundur selangkah, menghindar dari Zayan yang menurutnya telah bicara melantur. "Bagaimana mungkin ibuku adalah bagian dari Floss Terra? Jangan asal bicara, Za. Ibuku adalah manusia, sama sepertiku dan Adinda."
Zayan mengangkat bros yang tadi ia temukan di gaun keemasan yang sekarang tergeletak di lantai. "Bros ini adalah buktinya. Aku yakin semua barang ini adalah milik ibumu ketika dia pertama kali datang ke dunia manusia."
"Lalu, seandainya saja ibuku bukan manusia seperti yang kamu katakan. Apa artinya? Apa dampaknya untuk kehidupanku dan ibuku."
Zayan menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi jika ia sadar di sana dan menyadari bahwa Floss Terra adalah tempatnya yang sebenarnya, kemungkinan besar dia tidak akan kembali."
"Kenapa?" tanya Keysa, suaranya mulai bergetar sekarang. Ia tidak siap jika harus kehilangan sang ibu. Setelah berusaha agar tetap tegar karena kepergian sang ayah yang mendadak, ia tidak mampu untuk menerima kepergian orang yang disayanginya untuk yang kedua kali.
"Jika sampai ibumu bertemu dengan keluarganya, maka keluarganya di sana akan menahannya dan melarangnya untuk kembali. Aku yakin itu. Karena pantang sekali bagi kami untuk membiarkan anggota keluarga berpindah dunia."
Bersambung.