
Zayan masuk ke dalam rumah bersama dengan Keanu. Beberapa kali pedang yang Zayan sarungkan di belakang punggungnya tersangkut oleh benda-benda yang ada di dalam rumah mungil tersebut. Mulai dari tirai, hingga bingkai-bingkai foto yang terdapat di atas rak-rak dinding, membuat bingkai foto itu berjatuhan dan kacanya pecah menjadi serpihan-serpihan kecil di lantai ubin.
Keysa yang berada di dalam kamar segera keluar dari dalam kamar untuk melihat keributan apa yang terjadi di ruang tamu, begitu juga dengan Amelia dan Adinda yang sejak tadi sibuk membuat kue di dapur.
Melihat Zayan membersihkan kaca, membuat Keysa merasa kasihan pada pria itu. Sejak kejadian di gudang kemarin, Keysa memang memilih untuk mengurung diri di dalam kamar. Ia tidak menemui Zayan, walaupun ia merindukan pria itu dan ingin selalu berada di samping Zayan, mengobrol hingga larut malam dan memandangi wajah tampan Zayan yang begitu menghipnotis. Namun, kenyataan bahwa nyawanya terancam membuatnya takut untuk berada dekat dengan Zayan. Bagaimana jika saudara Zayan yang kejam itu benar-benar datang dan menusuknya dengan pedang seperti beberapa waktu lalu.
"Biar aku saja." Keysa berlutut di hadapan Zayan, dan menahan tangan pria itu agar tidak lagi memunguti serpihan kaca. "Kamu tidak datang jauh-jauh kemari hanya untuk membersihkan kaca yang pecah."
Melihat Keysa muncul di hadapannya dan berbicara dengannya membuat senyum Zayan mengembang. Senyum yang indah, dan membuat Keysa merasa sedih karena sempat membuat senyum indah itu menghilang dari wajah Zayan yang begitu rupawan.
"Key, senang melihatmu," ujar Zayan, terdengar begitu bahagia.
Keysa menatap Zayan, lalu ia tersenyum pada pria itu. "Aku juga. Aku senang melihatmu. Apa kamu akan pergi? Kenapa kamu memakai pakaian seperti itu, dan pedangmu itu--"
"Tidak. Aku tidak akan pergi, aku hanya bersiaga barangkali ada bahaya yang tiba-tiba muncul. Tunik ini bukan tunik biasa. Saat penyerang datang dan menyerangku secara tiba-tiba, akan muncul baju zirah yang melindungiku dari sabetan pedang. Pada tunik ini juga terdapat sarung pengait pedang, hingga lebih mudah bagiku untuk menyiagakan kedua pedangku." Zayan menjelaskan. "Apa kamu tahu kalau aku terbiasa bertarung dengan dua pedang sekaligus, Key?"
Keysa menggeleng. "Tidak, aku tidak tahu. Lain kali aku ingin melihatnya."
Zayan tersenyum. "Lain kali akan kuperlihatkan."
"Bagaimana kalau bertarung dengan Kak Keanu saja. Kak Keanu kan lelaki dewasa, dia pasti bisa menggunakan pedang juga seperti Kak Zayan." Adinda menimpali, gadis kecil itu terlihat bersemangat.
Zayan tertawa. "Tidak mungkin bisa. Aku rasa memegang pedang saja Keanu tidak bisa. Benar, 'kan, Ken?"
Keanu memelototi Zayan. "Jangan meremehkanku, ya, tentu aku bisa. Kalau hanya mengayunkan pedang seperti itu, sih, mudah!" Keanu tidak terima diremehkan oleh Zayan begitu saja di depan Keysa.
"Baiklah, nanti kita bertarung. Sekarang biarkan aku membantu Keysa membereskan kekacauan ini." Zayan kemudian kembali membersihkan serpihan kaca yang masih beserakan di lantai. "Ini lukisan dirimu? Terlihat mirip sekali. Siapa yang melukisnya, Key?" tanya Zayan, saat melihat potret Keysa yang tergeletak di lantai.
Keysa mengangguk. "Ini namanya foto, bukan lukisan. Kami tidak perlu menggunakan kanvas dan cat air serta kuas untuk menghasilkan foto ini."
Zayan mengernyitkan dahi. "Bisa begitu? Bagaimana caranya? Kok, terdengar mustahil sekali, ya," tanya Zayan, ia penasaran sekali bagaimana bisa seseorang menghasilkan gambar yang sama persis dengan aslinya tanpa menggunakan kuas dan cat.
"Kami punya benda yang bernama kamera. Dan dengan benda itulah semua foto ini diambil. Ingin kuperlihatkan?" Keysa bertanya.
Zayan mengangguk. Keysa kemudian bangkit berdiri dan menyentuh pergelangan tangan Zayan agar pria itu berdiri juga.
"Mel, tolong ambilkan ponselku di kamar," pinta Keysa.
Amelia mengangguk, kemudian gadis itu segera berlari ke kamar Keysa dan mengambil ponsel Keysa yang tergeletak di atas tempat tidur.
"Ini." Amelia menyerahkan ponsel Keysa pada Keysa.
"Thanks, Mel." Keysa tersenyum pada Amelia, ia lalu melangkah mundur, mengatur jarak antara dirinya dan Zayan, lalu ....
Cekrek!
Keysa memotret Zayan begitu saja.
"Lihat sini." Keysa melambai pada Zayan dan memperlihatkan hasil jepretannya begitu Zayan tiba di sampingnya. "Lihatlah, kamu tampan sekali."
Zayan menatap layar ponsel Keysa dengan mata melotot. "Astaga, hebat sekali. Luar biasa. Benda ini dapat melukis dengan cepat, apa ini yang namanya kamera?"
Semua yang ada di ruangan itu tertawa begitu mendengar komentar Zayan. Tidak terkecuali Keanu yang merasa bahwa Zayan begitu polos di balik ketangguhannya.
"Ini namanya ponsel. Ponsel juga dilengkapi dengan kamera. Jadi, kamu bebas memotret dirimu di mana saja dan kapan saja sesukamu."
"Hebat sekali. Jangan sampai Xanteus melihat benda ini. Bisa-bisa dia mencuri benda ajaib ini." Zayan kembali berkomentar, yang disambut anggukan setuju dari mereka semua.
Detik berikutnya mereka semua sibuk saling memotret. Adinda bahkan mengeluarkan tongkat potret dari dalam lemarinya agar mereka semua bisa berfoto bersama.
"Kita harus punya kenang-kenangan kan, Kak. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan." Adinda berkomentar sesaat setelah mereka semua menatap hasil foto Selfie yang Adinda lakukan.
Dan komentar Adinda itu begitu terasa tidak nyaman di telinga Keysa. Ya, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Dua makhluk yang saling berbeda alam tidak akan mungkin bisa bersama. Pasti akan ada resiko yang hingga saat ini belum mereka ketahui.
***
Barak Perbatasan-Floss Terra.
Rosalyn mencoba untuk mengingat apa yang harus dilakukannya pada perkamen di hadapannya agar perkamen itu dapat membuatnya berpindah tempat.
Telah berbagai cara Rosalyn coba. Mulai dari menuliskan alamat rumahnya, menggambar bentuk rumahnya, hingga menuliskan nama Keysa dan Adinda di atas perkamen ajaib itu, tetapi usahanya tidak membuahkan hasil. Tidak ada yang terjadi, dan dirinya tetap berada di dalam tenda di perbatasan.
Rosalyn mengusap wajahnya dengan kasar. Ia lalu melirik Zein dan Azalea yang telah tertidur di atas kursi yang terbuat dari kulit binatang buas. Keduanya tidak membantu sama sekali malah tertidur dengan begitu nyenyak.
Beberapa saat kemudian, Rosalyn merasakan udara hangat di depan wajahnya, dan ternyata Aidan yang datang. Pria itu membawa teh hangat yang masih mengepulkan asap.
"Teh. Setidaknya dapat menghangatkan tubuhmu yang kedinginan," ujar Aidan.
Rosalyn memang kedinginan sejak tadi. Tubuh wanita itu gemetar dan bibirnya membiru.
"Terima kasih," ujar Rosalyn, lalu segera meraih gelas yang ada di hadapannya dan menyesap teh hangat yang Aidan berikan.
"Lebih baik?" tanya Aidan lagi.
Rosalyn mengangguk. "Ya, tidak sedingin tadi."
Rosalyn menggeleng. "Tidak ada. Aku sama sekali tidak ingat bagaimana cara menggunakan benda ini." Rosalyn terlihat frustrasi. Ia tidak mengerti bagaimana bisa ia melupakan petunjuk yang telah sang ayah berikan padanya dulu sekali.
"Pelan-pelan saja, nanti juga pasti ingat." Aidan berusaha menghibur Rosalyn agar wanita itu tidak terlalu merasa terbebani.
Rosalyn mengangguk.
Aidan kemudian menyilangkan tangan di depan dada, lalu menatap Rosalyn dengan seksama. "Berapa usiamu, Rosalyn? Aku rasa kita seumuran, 'kan? Hanya saja kamu sudah memiliki seorang putri lebih dulu dibandingkan aku, Zein, dan Azalea."
Rosalyn menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi sepertinya aku memang terlihat lebih tua dari kalian semua." Rosalyn menyentuh wajahnya yang ia yakini pasti sangat keriput sekarang ini.
Aidan tertawa. "Tidak, kamu sama sekali tidak terlihat tua. Kamu cantik. Bukankah kaum kita tidak bisa menua, kecuali usiamu di atas lima ribu tahun."
Kedua pipi Rosalyn merona begitu mendengar ucapan Aidan. Ia memang merasa jika wajahnya tidak pernah terlihat tua, dan hal itu membuatnya khawatir, bagaimana jika kedua putrinya tumbuh semakin dewasa, sementara wajahnya sebagai ibu sama sekali tidak menua sedikit pun. Hal seperti itu akan terlihat aneh jika terjadi di dunia manusia.
"Apa putrimu sekarang ini tinggal dengan ayah mereka?" tanya Aidan lagi.
Rosalyn terlihat terkejut begitu mendengar pertanyaan Aidan. Sejak tiba di Floss Terra dan mendapat kesadarannya kembali, ia tidak mengingat Mario sama sekali. Seolah Mario terhapus begitu saja dari ingatannya.
"Hai, kenapa jadi melamun." Aidan mengibaskan tangan di depan wajah Rosalyn, membuat wanita itu terkejut.
"Tidak. Putriku sendirian di sana. Mereka hanya berdua. Key dan Adinda. Astaga, benar. Seharusnya aku segera kembali. Mereka pasti ketakutan sekarang." Rosalyn terlihat panik, wanita itu bangkit berdiri dan berlari keluar dari tenda dan terus berlari menuju padang dandelion yang merupakan portal antara dunia manusia dan Floss Terra.
Sesampainya di padang Dandelion, Rosalyn menghentikan langkahnya dan segera mengedarkan pandangan, mencari jalan agar dirinya bisa kembali pulang ke dunia manusia.
"Kamu tidak bisa mendekat ke sana, Rosalyn, berbahaya." Aidan berteriak, begitu ia tiba di padang dandelion.
"Aah!" Rosalyn menjerit dan tubuhnya terlempar ke udara begitu ia menyentuh garis batas antara dunia manusia dan Floss Terra.
Aidan bergerak dengan sigap menghampiri Rosalyn dan menangkap tubuh wanita itu sebelum tubuhnya menghantam tanah yang keras.
"Sudah aku bilang kalau di sana berbahaya." Aidan berkata dengan suara yang tidak jelas karena tubuhnya tertindih oleh tubuh Rosalyn.
Rosalyn mengangkat wajahnya yang menempel di dada Aidan. "Maaf dan terima kasih," ujarnya, lalu berusaha untuk bangkit.
Akan tetapi, Aidan tidak membiarkan Rosalyn pergi begitu saja. Ia telah menyukai Rosalyn sejak pertama ia menemukan wanita itu di tengah-tengah padang dandelion yang ada di dalam Hutan Hitam.
"Tunggu." Aidan menarik pergelangan tangan Rosalyn, membuat wanita itu tetap berada di atas tubuhnya.
"Apa?" tanya Rosalyn, gugup. Ia tidak biasa mengalami kejadian seperti ini, bertatapan dan berbaring di atas tubuh pria yang begitu rupawan membuat dadanya berdetak dengan kencang. Apalagi Mario telah lama meninggalkannya, itu berarti sudah lama sekali ia tidak bersentuhan dengan seorang pria.
"Aku rasa aku tidak peduli pada statusmu, Lyn, kamu tahu apa maksudku?"
Rosalyn menggeleng, membuat rambut panjangnya menyentuh wajah Aidan dan menggelitik.
"Terserah saja kalau kamu tidak paham. Tapi yang jelas aku begitu menginginkanmu." Aidan menyentuh kedua pipi Rosalyn dengan tangannya, lalu menarik wajah wanita itu mendekat ke wajahnya, dan dengan gerakan cepat bibir Aidan menyentuh bibir Rosalyn yang begitu lembut dan basah.
Rosalyn terkejut. Ia berusaha melepaskan pelukan Aidan di pinggangnya sekarang, tetapi pria itu malah mengubah posisi mereka, membuat tubuh Rosalyn berada di bawah tubuhnya. Dengan posisi seperti itu, Rosalyn tidak dapat berbuat banyak selain menikmati setiap sentuhan Aidan di tubuhnya. Ia tahu jika semua ini tidak pantas, tetapi tidak ada salahnya jika ia menikmati sedikit kebebasan selagi ia masih berada di Floss Terra.
Rosalyn merintih, saat bibir Aidan mulai turun ke lehernya, kemudian detik berikutnya bibir itu semakin bergerak ke bawah dan terpaku di belahan gaunnya yang rendah.
"Jangan." Rosalyn menahan kecupan Aidan yang semakin menggila. "Aku sudah bersuami."
Aidan menghormati apa yang Rosalyn inginkan. Ia bangkit dan membiarkan Rosalyn menyingkir dari bawah tubuhnya meskipun enggan.
"Maaf," ujar Aidan.
"Tidak masalah."
"Pikirkan saja apa yang kukatakan sekarang. Aku tidak keberatan akan statusmu. Aku tidak keberatan jika harus menjadi ayah untuk kedua putrimu."
Rosalyn tertawa. Ia senang mendengar hal itu keluar dari bibir Aidan. Sebenarnya sejak pertama kali melihat Aidan, ia juga begitu terpesona pada ketampanan pria itu. Tubuh Aidan yang tinggi menjulang juga sangat menggodanya. Hanya saja ia berusaha menahan dorongan gila yang memenuhi dadanya. Mana mungkin dirinya jatuh cinta pada Aidan dan menjalin hubungan dengan pria itu, padahal dirinya telah bersuami. Rasanya tidak pantas saja.
"Terimakasih atas perasaan tulusmu itu, Aidan. Aku begitu senang mendengarnya. Hanya saja untuk sekarang ini aku lebih mementingkan bagaimana caranya agar aku dapat kembali menemui Keysa dan Adinda."
Aidan menyentuh rambut panjang Rosalyn dan membelainya dengan lembut. "Aku tahu. Aku akan membantumu sebisaku. Setelah itu mari kita temui putrimu. Aku rasa aku juga harus meminta maaf pada salah satu dari mereka."
Rosalyn mengernyitkan dahi. "Siapa dan kenapa?"
"Keysa. Aku pernah menyakitinya saat dia datang kemari. Aku pikir dia mata-mata yang dikirim lawan untuk memata-matai kami."
***
Mario melihat segalanya. Ia melihat bagaimana Rosalyn dan seorang pria saling berciuman dengan begitu mesra di padang dandelion. Rosalyn bahkan membiarkan pria itu menggerayangi tubuhnya. Des_ah kenikmatan yang terdengar dari bibir Rosalyn membuat hati Mario menjadi sakit.
Mario membanting barang apa saja yang ada di hadapannya. Ia berteriak dan memaki kebodohannya yang datang ke padang dandelion itu. Seandainya saja ia tidak datang, mungkin kedua matanya tidak akan pernah melihat kejadian yang begitu menyakiti hatinya.
"Sialan! Kenapa rasanya begitu sakit." Mario menekan dadanya. "Seharusnya tidak sesakit ini, karena akulah yang lebih dulu meninggalkan Rosalyn."
Mario membanting tubuhnya di atas ranjang dengan kasar, lalu bayangan Rosalyn yang begitu cantik dan bersinar kembali muncul di dalam kepalanya. Ketika menyadari ada yang berbeda dari penampilan istrinya, ia segera bangkit untuk duduk. "Kenapa Rosalyn terlihat begitu berbeda. Apa dia telah menjadi penghuni Floss Terra juga. Lalu bagaimana dengan Key dan Adinda?" Mario bertanya pada udara di sekitarnya.
"Aku harus memastikan!" Mario melangkah dengan cepat keluar dari dalam kamar dan terus melangkah menuju halaman depan, di mana kudanya terikat dengan aman.
Bersambung.