
Xantheus melemparkan buntelan besar yang ia bawa dengan susah payah dari Floss Terra ke sudut ruangan. Ia kemudian melepas mantel tebal yang ia kenakan. Satu mantel, dua mantel, tiga mantel dan saat mantel keempat terlepas ia segera menghampiri meja di mana terdapat botol air mineral di atasnya lalu meneguk air itu hingga habis.
Xanteus merebahkan diri di satu-satunya sofa yang ada di ruangan itu. Sofa usang berdebu yang sudah lama tidak terpakai.
Ia kemudian mengeluarkan gulungan perkamen yang ia simpan di dalam sepatu bootnya, dan meletakkan di atas meja.
"Argh! Sungguh melelahkan! Berpindah-pindah antara Flos Terra dan dunia ini membuat tubuhku merasakan sakit di mana-mana," keluhnya.
Vinculum Membranis, adalah sebuah benda ajaib yang keberadaannya hanya dianggap dongeng bagi sebagian besar penduduk Flos Terra.
...
...
Benda yang berupa perkamen itu adalah satu-satunya benda yang dapat membuat siapapun berpindah tempat dari Flos Terra ke dunia lain tanpa membuat tubuh harus tertidur terlebih dahulu, dalam hal ini adalah dunia nyata yang ditinggali Keysa dan keluarganya.
Mengapa harus dunia yang sama dengan dunia yang ditempati Keysa?
Itu karena, Vinculum Membranis lainnya ada di dunia itu, tepatnya di gudang penyimpanan kediaman Keysa.
Jika bagi sebagian penduduk Flos Terra mengatakan benda itu tidak pernah ada dan hanya dongeng belaka, tetapi tidak dengan Xantheus. Ia percaya benda itu ada, maka ia mencarinya dengan susah payah selama berpuluh-puluh tahun.
Banyak yang mengatakan bahwa dirinya gila karena percaya pada sesuatu yang tidak ada. Namun, lebih dari itu semua, dirinya pernah melihat bagaimana benda itu bekerja. Ia melihat bagaimana seorang ayah meminta putrinya untuk Pergi dari Floss Terra menggunakan perkamen ajaib itu saat perang sengit tengah terjadi di Flos Terra beratus-ratus tahun yang lalu.
Xantheus memejamkan matanya, tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus yang menandakan bahwa pria itu telah tertidur.
Keysa dan Amelia masih saling membekap mulut mereka sendiri dan bersembunyi di belakang tumpukan baju besi yang terlihat kuno.
Keysa menatap Amelia dengan tatapan tajam, seolah ingin mengatakan, 'Apa kataku! Flos Terra itu benar-benar ada!'
Amelia hanya membalas tatapan Keysa dengan tatapan ketakutan yang tidak bisa disembunyikannya. "Bagaimana caranya kita turun?" Amelia berbisik.
"Kita tunggu dia benar-benar tertidur!" jawab Keysa.
Amelia mengangguk. Kemudian mereka kembali duduk dan berusaha sebisa mungkin agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Bahkan Amelia memegangi dadanya, takut jika suara degup jantungnya terdengar oleh pria asing yang tengah tertidur tidak jauh dari hadapannya.
Keysa menyapu ruangan itu dengan pandangannya. Banyak sekali benda asing yang ada di ruangan itu, ruangan tersembunyi yang terletak di dalam gudang kediamannya.
Keysa dapat melihat busur dan anak panah, tameng, pedang, mahkota dan tentu saja baju besi yang sekarang menjadi tempat persembunyiannya dengan Amelia.
Bahkan di atas meja reyot yang ada di tengah ruangan, ia dapat melihat bermacam-macam buah-buahan yang asing. Sudah jelas buah-buahan itu bukan berada dari dunianya.
"Siapa dia menurutmu? Kenapa dia tiba-tiba muncul di sini?" Amelia kembali berbisik kepada Keysa.
"Entahlah, Mel. Aku pun tidak tahu. Dia bisa siapa saja, tapi yang jelas dia bukan manusia seperti kita. Aku yakin itu. Kamu lihat tadi, dia muncul tiba-tiba, bukankah manusia tidak bisa melakukan semua itu?" Keysa berkata dengan bingung.
"Ck. Kenapa semua hal aneh selalu terjadi di sekitarmu, Key?!" keluh Amelia.
"Itu berarti sekarang kamu percaya padaku, 'kan? Apa yang aku katakan tentang Flos Terra, semua itu benar. Kamu dengar sendiri tadi apa yang dia katakan. Aku yakin, dia itu--"
"Keysa, Meeel! Kalian ada di sini?!"
Terdengar suara seseorang berteriak dari gudang di bawah mereka. Pria asing yang tengah berbaring di sofa segera bangkit berdiri begitu mendengar suara yang berada di ruang bawah, lalu mengambil perkamen yang terletak di atas meja.
"Argh! Kenapa belakangan ini manusia-manusia itu sering sekali datang ke tempat ini. Keterlaluan sekali!" gerutu pria itu, sebelum akhirnya menghilang dalam gumpalan asap tebal.
Keysa dan Amelia segera keluar dari dalam persembunyiannya ketika pria itu sudah tidak ada. Mereka berdua membuka kait pada pintu tingkap yang menuju ruang bawah, lalu segera berebut ingin keluar dari ruangan itu. Hal itu lagi-lagi membuat mereka berdua terjatuh dan saling tindih.
"Hai, hai, apa-apaan kalian?" Keanu terlihat kebingungan melihat tingkah kedua temannya.
"Ken! Ternyata kamu. Ayo, kita harus segera keluar dari ruangan ini!" Keysa segera menarik tangan Keanu dan Amelia.
"Ken, gendong dia!" desis Keysa.
"Hah, aku? Tapi kenapa?"
"Nanti kujelaskan. Ayo, cepat gendong!"
Keanu segera menggendong Amelia yang memang terlihat lemah untuk keluar dari gudang.
***
Zein berlari menghampiri Zayan saat ia melihat Zayan memasuki area barak dengan kudanya.
"Syukurlah kamu tiba!" seru Zein.
"Ada apa? Apa kamu berhasil menangkap pencuri itu?" Zayan melompat turun dari kudanya.
"Bukan itu. Ada se-sesuatu, Za. Anu ... argh! Sulit menjelaskannya. Lihatlah sendiri."
Zayan melangkah memasuki salah satu tenda yang berukuran paling besar, tenda itu adalah tenda tempatnya dan Aidan untuk beristirahat.
"Zayan!" Aidan yang tengah duduk di tepi ranjang segera berdiri saat melihat Zayan datang.
Zayan hanya mengerutkan alisnya melihat kekhawatiran di wajah Aidan. Tidak biasanya Aidan terlihat seperti itu.
Zayan terus melangkah hingga tiba di samping Aidan.
"Kami menemukannya di dalam hutan. Aku rasa dia bukan bangsa kita."
Zayan menatap sosok lemah itu dengan saksama. Terasa tidak asing, sepertinya ia pernah melihat wanita itu, tetapi entah di mana.
"Dia nampak begitu familiar bagiku," ujar Zayan. "Tapi entah aku melihatnya di mana."
"Benarkah? Coba ingat-ingat lagi, Zayan. Aku yakin dia datang ke tempat ini tanpa sengaja. Keluarganya pasti mencarinya." Aidan mendesak.
"Akan kucoba mengingatnya kembali. Kamu tahu 'kan, aku memiliki daya ingat yang buruk.
"Ya, aku tahu. Sampai-sampai kamu lupa berpamitan kepadaku kemana kamu pergi seharian ini, padahal kita harus melakukan latihan memanah." Aidan cemberut.
Zayan terkekeh. "Tubuhmu penuh dengan otot, Aidan. Rasanya tidak pantas sama sekali jika kamu memasang wajah cemberut seperti itu."
"Ya, wajahmu itu akan mencoreng nama baik prajurit lain." Zein menyahut.
"Tidak ada yang memintamu untuk berkomentar. Pergilah! Lagi pula ini bukan kamarmu." Aidan mendelik kepada Zein. Mereka memang tidak memiliki hubungan yang dekat, sehingga Aidan merasa risi karena Zein terus saja berada di sekitarnya seharian ini.
"Biarkan dia di sini. Ada yang harus aku bahas dengannya, Dan." Zayan terlihat serius, lalu ia menghampiri meja bundar yang berada di tengah ruangan.
Zein mengekor tanpa mengatakan apa pun. Zayan duduk di kursi yang terdapat di hadapan meja itu, Zein melakukan hal yang sama, masih menanti Zayan mengatakan sesuatu.
"Kamu mendapatkan petunjuk tentang pencuri itu, Zein?" tanya Zayan kemudian.
"Tidak. Aku mengawasi hutan seharian ini. Aku pikir akan menemukan petunjuk dari sana, tidak mungkin seorang pencuri datang dan pergi dari tempat yang ramai. Maka aku menyimpulkan barangkali dia bersembunyi di hutan itu. Namun, bukannya bertemu dengan pencuri itu aku malah bertemu dengan pemanah yang payah." Zein menjelaskan dengan nada mencemooh di akhir kalimatnya.
Aidan mendengkus kesal menyadari bahwa Zein sedang menyindirnya.
"Kamu benar, tidak mungkin seseorang yang berniat mencuri berkeliaran di tempat yang ramai. Sepertinya aku bertemu dengannya tadi, dan aku juga tahu bagaimana cara dia membawa semua barang curian itu tanpa diketahui oleh penjaga menara sekalipun." Zayan tersenyum penuh kemenangan. Jika tebakannya benar, maka itu artinya ia bisa memecahkan dua masalah sekaligus. Pertama, menangkap pencuri sialan itu. Kedua, ia dapat keluar dari Flos Terra dengan cara yang nyata.
"Benarkah, apa itu?" tanya Zein, terlihat benar-benar penasaran.
"Vinculum Membranis!"
Bersambung.