
Rex Regum sudah mendengar segala detail yang tidak diketahuinya dari seorang tetua yang ia minta untuk mencari tahu apa yang terjadi pada ketiga putranya. Tidak mungkin ketiga putranya itu mendadak menghilang dan tidak bisa ditemukan di mana pun.
Tetua itu adalah Marcus, seorang tetua yang tinggal seorang diri jauh di dalam Hutan Hitam. Marcus memiliki banyak pengetahuan yang tidak dimiliki kebanyakan orang. Bahkan tidak sedikit orang yang mengatakan bahwa Marcus bisa melihat masa depan.
Sebenarnya Marcus adalah sosok yang sangat dihormati, tetapi Marcus bukanlah seseorang yang gila hormat hingga ia memilih untuk hidup sendiri jauh dari yang keramaian dan juga kemewahan.
"Putra Yang Mulia, Zayan, pergi ke dunia manusia karena dia jatuh cinta pada seorang gadis, sementara kedua saudaranya pergi menyusul untuk membujuk agar Zayan mau kembali. Aku rasa bukan pekerjaan yang mudah karena pada akhirnya baik Aidan ataupun Zein akan jatuh cinta juga pada seorang manusia di sana." Marcus berkata sambil mengelus jenggot panjangnya yang berwarna kelabu.
"Kenapa mereka semua itu?! Seperti di sini kekurangan wanita cantik saja." Rex Regum mendengkus kesal. Apa yang baru saja didengarnya dari Marcus membuatnya marah.
Di dunianya, yaitu Floss Terra tidak ada wanita yang tidak cantik. Mereka semua memang ditakdirkan untuk tercipta dengan wajah yang sangat sempurna. Tidak ada keburukan yang terlahir di atas tanah Floss Terra. Dengan segala kesempurnaan yang dimiliki wanita-wanita Floss Terra, tidak masuk akal jika banyak rakyatnya termasuk putra-putranya menjadi tertarik oleh manusia yang baginya terlihat biasa saja.
"Ini bukan hanya soal rupa, tapi perasaan dan perhatian. Mungkin Yang Mulia tidak menyadari bahwa kaum kita terlalu sempurna. Banyak dari kita yang merasa tidak membutuhkan sosok lain sebagai pelindung, karena kita semua bisa melindungi diri sendiri. Kaum kita, baik itu pria atau wanita, sama-sama saling mendominasi, padahal kita juga memiliki sifat ingin merasa dibutuhkan. Namun, wanita di sini terlalu kuat dan sempurna, tidak pernah ada yang mengeluh dan mengadu pada pasangannya bahwa mereka membutuhkan ini, itu atau mengeluh karena sesuatu hal. Karena hal itu banyak pria yang merasa jika mereka tidak berguna."
Rex Regum tertawa. Ia merasa bahwa penjelasan dari Marcus sama sekali tidak masuk akal.
"Anda belum mengenal satu manusia pun, Yang Mulia. Mereka itu unik. Para pria begitu mendominasi, seorang pria memiliki kewajiban untuk melindungi wanitanya, sementara para wanita seolah menggantungkan hidup mereka di tangan para pria. Memang tidak semua, tapi kebanyakan seperti itu. Dan hal itu membuat pria merasa dibutuhkan, saat mereka dibutuhkan maka mereka akan menganggap bahwa mereka itu istimewa. Hal seperti itu tidak terjadi di dunia kita."
"Jadi, menurutmu tidak masalah jika ketiga putraku itu tetap berada di sana? Aku harus membiarkannya bergaul dengan para manusia di dunia manusia?" tanya Rex Regum.
Marcus menggeleng. "Tidak. Aku tidak mengatakan bahwa mereka boleh berada di sana, karena bagaimana pun juga dunia kita punya aturan dan sihir yang membuat siapa pun yang berasal dari Floss Terra tidak akan bisa menetap di tempat lain. Putramu akan musnah dan berbaur bersama dengan udara ketika mereka terlalu lama berada di sana. Hanya saja aku menyarankan satu hal pada Anda Yang Mulia, jika Anda ingin ketiga putra Anda kembali."
Rex Regum menautkan alis. "Saran apa itu, Marcus?"
"Cabut perintah Anda untuk menghukum mati para manusia yang menjadi alasan ketiga putra Anda untuk pergi dari sini. Manusia itu tidak tahu menahu, justru ketiga putra Anda akan semakin memberontak begitu mereka tahu apa yang akan terjadi pada orang-orang yang mereka cintai." Marcus memberi saran. Ia lalu bangkit berdiri dan membungkuk di hadapan Rex Regum. "Aku permisi, Yang Mulia.
***
Rosalyn duduk duduk di teras belakang sambil menyilangkan kaki di kursi yang terletak tepat di bawah pohon akasia yang rindang. Wanita itu terlihat sedang memikirkan sesuatu dengan serius.
Kesya datang menghampiri Rosalyn dan ikut duduk di samping Rosalyn. " Sedang memikirkan sesuatu, Ma?" tanya Keysa.
Rosalyn terkejut, karena ia tidak menyadari kehadiran Keysa di sampingnya. "Tidak ada, Nak."
"Katakan saja, Ma, aku sudah dewasa dan aku bisa menjadi tempat curhat yang paling baik untuk Mama." Keysa meremas telapak tangan Rosalyn yang terasa begitu dingin.
Rosalyn tersenyum. "Benar, kamu memang sudah dewasa sekarang, Nak."
Keysa mengangguk dan membalas senyum Rosalyn. "Jadi, ingin membicarakan sesuatu denganku?" tanya Keysa lagi.
Rosalyn terlihat ragu, tetapi beberapa saat kemudian wanita itu mengangguk. "Ya, Mama ingin mengatakan sesuatu padamu, Key, bukankah sebelumnya kamu sudah sering datang ke Floss Terra untuk menemui Zayan, benar?"
Keysa mengangguk. "Benar, Ma."
"Semalam saat aku tertidur, ada seseorang yang terus memanggilku dan memintaku untuk datang ke sana. Orang itu bahkan memohon dan mengatakan bahwa ada yang ingin dia katakan padaku. Namun, aku memilih untuk tidak datang. Apa kamu mendapatkan panggilan demikian juga, Key?"
Keysa menggeleng. "Tidak, Ma, lagi pula orang yang memanggil Mama belum tentu kenal denganku, sehingga orang itu tidak mungkin memanggilku ke dunianya saat dia tidak berhasil memanggil Mama."
Rosalyn terlihat semakin gelisah sekarang. Ia lalu menatap Keysa lekat-lekat. "Orang itu mengenalmu, Key, dia kenal padamu dan Adinda juga."
Keysa mengerutkan dahi, ia tidak mengerti apa yang maksud ibunya.
Melihat Keysa diam saja, Rosalyn pun berkata, "Orang itu adalah ayahmu, Key, orang itu adalah Mario."
Tubuh Keysa menegang saat mendengar apa yang Rosalyn katakan. Selama ini ia bersusah payah mencari keberadaan ayahnya, dan tanpa disangka ibunya mengatakan bahwa ayahnya berada di Floss Terra, tentu saja ia terkejut. Ia tidak pernah mengira bahwa ternyata ayahnya berpindah ke dunia lain. Pantas saja jika ayahnya tidak pernah ditemukan.
"Ayah? Ayah ada di sana? Mama tidak bohong?" tanya Keysa.
"Tidak, Nak, mana mungkin aku berbohong. Ayahmu memang ada di sana. Kami bertemu dan berbincang selama beberapa waktu sebelum aku kembali ke sini."
"Benarkah? Lalu, kenapa Mama tidak membawa ayah kembali kemari. Kenapa Mama hanya datang seorang diri, apa Mama tidak mengajak ayah sekalian?" Keysa yang terlihat begitu bahagia menyerang Rosalyn dengan setumpuk pertanyaan.
"Mama tidak bisa membawa ayahmu kembali ke sini, Key."
"Kenapa? Apa karena Aidan? Mama dan Aidan memiliki hubungan yang tidak biasa, aku tahu itu, Ma, tapi bukan berarti Mama melupakan Ayah dan meninggalkan Ayah di sana. Kenapa Mama tega sekali." Keysa bangkit berdiri dengan mendadak. "Aku akan ke sana dan menjemput Ayah. Aku akan menggunakan Vinculum Membranis itu dan membawa Ayah pulang kemari."
"Percuma saja kamu melakukan itu, Key, hanya akan membuang-buang waktu dan tenagamu saja," ujar Azalea yang baru memasuki halaman belakang.
Keysa diam, ia memperhatikan Azalea yang melintasi halaman dan duduk di kursi yang tadi ia duduki. "Apa tidak pernah terpikir olehmu jika kepergian ayahmu ke sana adalah atas sendiri? Tidak ada paksaan, Key, karena kami tidak bisa memaksa seseorang untuk datang ke dunia kami."
Keysa tahu apa yang dikatakan Azalea ada benarnya. Memang tidak ada paksaan bagi siapa pun. Sama seperti yang dialami Keysa sebelumnya. Ia hanya akan datang jika memang ia ingin datang. Zayan tidak pernah memaksanya.
Azalea mengangguk. "Pernahkah barang sekali saja ayahmu datang untuk memanggilmu, Key? Pernahkah ayahmu datang di dalam mimpimu setelah dia menghilang lima tahun lalu?"
Keysa menggeleng. "Tidak pernah."
Azalea menghela napas. "Padahal dia bisa jika dia ingin, tapi dia tidak ingin. Aku tidak tahu apa yang membuat ayahmu tidak kunjung menemuimu padahal dia tahu caranya, tapi aku menebak kalau dia begitu mencintai pasangan barunya di sana dan--"
"Azalea." Rosalyn menyebut nama Azalea sambil menggelengkan sedikit kepalanya, seolah meminta Azalea untuk berhenti mengoceh.
"Apa maksudnya pasangan, apa ayahku menikah lagi di sana?"
"Tidak, Nak, ayahmu hanya--"
"Ya, Keysa, ayahmu memiliki hubungan baru di sana dengan seorang wanita bernama Yasmin, dan Yasmin adalah salah satu wanita tercantik di dunia kami. Dulunya Yasmin adalah selir ayah Zayan, tetapi kemudian dia berkhianat dan memilih untuk hidup bersama dengan Mario. Sekarang ayahmu dan Yasmin hidup di tempat pengasingan, bukan di pusat kota Floss Terra." Azalea menjelaskan.
Rosalyn terlihat kecewa akan tindakan Azalea, tetapi Azalea memiliki alasannya sendiri. Ia tidak ingin jika Keysa salah paham dan malah membenci ibunya, padahal ayahnyalah yang lebih dulu meninggalkan ibunya dan hidup dengan wanita lain di dunia lain.
Setelah mendengar penjelasan dari Azalea, Keysa segera berbalik pergi dan berlari masuk ke dalam rumah.
Rosalyn bangkit dan hendak menyusul Keysa, tetapi Azalea menahannya. "Biarkan saja dia. Dia butuh waktu untuk sendiri. Dia sudah dewasa dan dia harus tahu yang sebenarnya terjadi. Jika tidak, dia akan terus menanti ayahnya untuk kembali. Lagi pula, ada hal penting yang ingin kukatakan padamu, Rosalyn, ini tentang Yang Mulia Raja Floss Terra."
Wajah Azalea yang terlihat serius membuat Rosalyn melupakan sejenak permasalahannya dan Keysa. "Ada apa?" tanya Rosalyn.
"Yang Mulia Raja memerintahkan bala tentara untuk mencari keberadaan Zayan, Aidan, dan Zein."
Rosalyn berdecak. "Seharusnya mereka memang sudah kembali. Untuk apa mereka berlama-lama di sini. Kalian lebih baik kembalilah dan hiduplah dengan tenang di sana."
"Tidak sesederhana itu sekarang, karena Raja menganggap bahwa kepergian Zayan dan Aidan adalah karena mendapat pengaruh dari kita, sehingga Raja menurunkan perintah untuk menangkap kita semua dan menjatuhkan kita hukuman mati di depan seluruh rakyat Floss Terra." Azalea menjelaskan dengan wajah yang ketakutan.
"Bagaimana bisa raja berpikiran seperti itu?" tanya Rosalyn uang begitu terkejut atas ucapan Azalea.
Azalea menggeleng. "Aku tidak tahu, tapi sekarang keselamatan kita semua terancam. Aku haya berharap agar mereka tidak menemukan cara untuk datang ke dunia manusia."
Rosalyn menyentuh pundak Azalea dan berkata, "tenang saja, tidak akan ada yang tahu cara untuk datang kemari, karena Vinculum Membranis hanya ada sepasang dan keduanya ada bersama dengan kita."
"Ya, semoga saja."
***
Malam kembali tiba di dunia manusia, yang berarti pagi hari di Floss Terra.
Keysa yang sejak sore tadi meringkuk di atas ranjang dan menangis segera keluar dari kamar begitu dilihatnya langit sudah gelap. Ia mengendap-endap keluar melalui pintu belakang dan langsung berlari menuju jalan setapak saat dilihatnya tidak ada siapa pun di halaman belakang.
Keysa terus berlari hingga tiba di perkebunan bunga mawar, lalu ia menatap apa yang ada di seberang perkebunan mawar--Padang Dandelion. Keysa menutup mata, dan berharap agar ayahnya berkenan muncul ke dalam tidurnya barang sekali saja. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan pada sang Ayah, dan yang paling penting adalah ia ingin memastikan keadaan sang ayah dengan mata kepalanya sendiri. Rasanya ia masih belum percaya jika ayahnya pergi dan hidup bahagia dengan wanita lain di Floss Terra, sementara ia dan ibunya menderita karena perasaan rindu dan khawatir di dunia.
PADANG DANDELION-FLOSS TERRA
Mario putus asa. Ia telah mencoba berulang kali untuk meminta agar Rosalyn datang dan bersedia untuk menemuinya. Ada sesuatu yang Bingin ia katakan pada wanita itu tentang keselamatan Rosalyn dan Keysa, bahkan Adinda, tetapi Rosalyn seolah tidak peduli dan mengacuhkan panggilan darinya.
Sekarang matahari telah terbit, Padang Dandelion yang rimbun dan gelap tidak lagi dapat menyembunyikan tubuhnya dari para bala tentara yang berkeliaran di sekitar Padang Dandelion.
"Hai, siapa di sana?" seorang prajurit meneriaki Mario saat Mario mencoba mengendap-endap untuk keluar dari sana.
Mario terkejut, dan tidak sempat untuk melarikan diri.
"Katakan untuk kepentingan apa kamu datang ke sini? Bukankah sudah ada perintah dari Alcender agar penduduk sipil dilarang datang kemari hingga batas waktu yang tidak ditentukan." Seorang prajurit membentak Mario dan menarik tubuh Mario yang meringkuk di tanah.
"Apa kamu mata-mata, atau mungkin penyamun yang menyamar, hah?" Seorang prajurit mengarahkan pedangnya ke leher Mario.
"Tidak. Aku bukan mata-mata. Aku tidak tahu kalau kami dilarang datang ke sini sekarang. Aku sungguh tidak tahu ... argh!" Mario berteriak, saat seorang prajurit menendang wajahnya.
Teriakan Mario yang begitu keras, tanpa disangka-sangka terdengar oleh Keysa. Keysa memfokuskan pandangannya agar dapat melihat dengan jelas sosok yang ada di Padang Dandelion. Keysa melakukannya dengan cara yang begitu alami karena ia tahu ada beberapa prajurit yang memperhatikannya.
Keysa melangkah perlahan menuju garis batas antara perkebunan mawar dan Padang Dandelion hingga jaraknya begitu dekat dengan Padang Dandelion. Dan di saat itulah ia melihat sosok yang selama ini ia rindukan. Sosok yang selama lima tahun belakangan selalu ia harap kedatangannya.
"Ayah," gumam Keysa, tepat saat Mario di naikkan ke atas seekor kuda dan dibawa oleh seorang prajurit keluar dari Padang Dandelion.
"Ayah, ayah, ayah," gumam Keysa. Ia tidak berani meneriaki sang ayah, karena takut jika kehadirannya akan menarik perhatian, tetapi satu hal yang saat ini muncul di pikiran Keysa, ia akan menyusul dan menyelamatkan ayahnya apa pun yang terjadi.
Bersambung.