THE SECRET OF LOVE IN THE DANDELION

THE SECRET OF LOVE IN THE DANDELION
TEKA-TEKI SATU HARI



Aidan membelalak saat kedua matanya melihat sosok yang tengah terbaring tak berdaya di hadapannya. Sosok itu adalah seorang wanita yang tidak pernah ia lihat sebelumnya


Zein mendekat, menghampiri sosok itu kemudian meletakkan tangannya pada pergelangan tangan wanita itu untuk memastikan apakah masih terdapat denyutan di sana.


"Dia masih hidup, hanya saja kondisinya sangat tidak baik!" seru Zein, ia terlihat gugup.


"Kita harus membawanya ke barak. Angkat dia Zein!" Aidan memerintah.


"Kamu berharap aku menggendongnya sejauh itu? Tidak mau, gunakan saja kemampuanmu!" ujar Zein.


"Kamu ini, sungguh tidak memiliki rasa kasihan!" Aidan kemudian mendorong tubuh Zein ke samping, lalu mengangkat tubuh lemah wanita itu ke dalam gendongannya. "Ayo, kita harus bergegas!"


***


"Bukankah kamu harus membawa ibumu ke dokter, Key?" ucap Keanu. Saat ini mereka sedang berada di kamar Rosalyn, saling duduk berdampingan dan menatap tubuh yang berbaring tak berdaya itu. Terkadang Rosalyn membuka matanya, tetapi lebih banyak menutupnya sekarang. Membuat Keysa merasa sangat sedih.


"Haruskah kulakukan? Mama pernah berpesan agar aku tidak membawanya ke rumah sakit, Ken."


Keanu memberanikan diri untuk menyentuh tangan Keysa. "Lakukan yang menurutmu baik, tetapi bukankah tidak baik jika kita hanya membiarkannya seperti ini. Setidaknya dokter bisa memeriksa apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya."


Keysa mengangguk. Bulir menetes dari kedua mata indahnya.


"Jangan menangis. Kamu tidak sendiri!" Keanu mengusap bulir yang membasahi pipi Keysa. Keysa memejamkan mata, merasakan sentuhan lembut Keanu pada kulit wajahnya.


Tok, tok, tok!


Suara ketukan di pintu membuat Keysa membuka matanya lalu menjauh dari jangkauan Keanu. Sesaat kemudian Amelia memasuki kamar sambil membawa air hangat dalam wadah kaca lengkap dengan handuk kecil.


Mata gadis itu sekilas mendelik pada Keanu dan Keysa. Membuat Keysa merasa bersalah dan tidak nyaman.


"Apa itu?" tanya Keysa, memecah keheningan yang hadir di antara mereka.


"Oh, ini air hangat. Bukankah Tante Rosalyn perlu mandi!" seru Amelia. "Aku bisa membasuh wajahnya dengan air ini."


"Kamu benar. Ah, aku merasa buruk, Mel. Sebagai putrinya aku tidak pernah memikirkan hal itu. Justru kamulah yang memikirkan segalanya." Keysa tertunduk, dirinya malu sekali karena tidak memikirkan bahkan detail kecil yang ibunya butuhkan.


Amelia berdecak. "Jangan bilang begitu. Kamu yang lebih tertekan di antara kami semua, itulah sebabnya kamu menjadi sedikit eror."


Keysa tertawa sembari mengusap bulir di kedua pipinya. Keanu kemudian bangkit dari duduknya dan mempersilakan Amelia untuk duduk di hadapan Rosalyn.


"Terima kasih," ujar Amelia, tanpa menatap Keanu sama sekali.


"Biar aku yang lakukan, Mel. Letakkan saja wadahnya di situ," ucap Keysa. Saat hendak menghampiri ibunya, Keanu menahan langkahnya dengan menarik lembut tangan Keysa.


"Aku akan keluar sebentar. Persiapkan saja segala keperluan ibumu, setelah aku mendapatkan rumah sakit terbaik, aku akan kembali ke sini. Oke!" Keanu meremas telapak tangan Keysa yang terasa dingin. "Jangan terlalu tegang. Semua akan baik-baik saja." Setelah mengatakan itu Keanu segera berlalu dari hadapan Keysa.


"Hubungan kalian mengalami kemajuan?" tanya Amelia tiba-tiba, membuat Keysa terkejut.


"Tidak. Kami hanya berteman."


"Masih berteman maksudmu?"


"Tidak ada kata 'masih', Mel. Kami memang berteman dan akan terus berteman!" Keysa berusaha untuk meyakinkan Amelia.


"Biasa saja! Kenapa harus ngotot seperti itu." Amelia menaikan sebelah alisnya.


Keysa berdecak kesal, kemudian menghampiri Amelia dan ikut duduk di sampingnya. Ia mulai membasahi handuk kecil yang Amelia bawa dengan air, lalu mengusapkan handuk itu di wajah dan tangan Rosalyn. Sementara Amelia menggunakan satu handuk lagi untuk membersihkan bagian kaki Rosalyn.


Mereka bekerja dalam diam. Walaupun ada rasa tidak nyaman di hati Keysa, tetapi ia berusaha untuk menyembunyikannya sebaik mungkin. Sama seperti Amelia yang menyembunyikan perasaannya dari Keysa.


Keysa tahu sejak dulu bahwa Amelia sangat menyukai Keanu, tetapi Amalia  tidak pernah membahas hal itu kepada keysa. Amalia hanya diam, bahkan saat melihat Keanu terus-terusan menunjukan perhatiannya kepada Keysa. Hal itu sungguh membuat Keysa merasa bersalah.


Amelia tersenyum kepadanya. "Tentu saja. Akan aku bantu setelah yang ini selesai."


Keysa membalas senyuman tulus yang terlihat dari wajah Keysa. Dalam hati ia bertanya-tanya, bagaimana bisa Keysa menyembunyikan perasaannya sebaik itu.


Setengah jam kemudian, mereka berdua telah berada di dalam gudang yang sangat berdebu. Sesekali kedua gadis itu terbatuk, karena tidak tahan dengan debu yang memasuki rongga hidung mereka.


"Kamu yakin mau ambil koper yang ada di dalam sini? Bagaimana jika kita beli yang baru saja. Aku punya sedikit uang, kita bisa iuran, Key." Amelia berkata dengan sungguh-sungguh sambil menutup hidungnya.


"Tidak perlu. Koperku masih baru. Aku harap hanya gudang ini yang berdebu, kopernya tidak. Seingatku koper itu masih terbungkus plastik," jawab keysa, lalu mulai menghampiri lemari tua besar yang terletak di sudut ruangan.


Amelia mengekor langkah Keysa hingga mereka berdua tiba di depan lemari tua itu. Keysa segera membuka pintu lemari yang gagangnya sudah mulai berkarat.


Bruuuk!


Beberapa benda yang terlihat seperti dipaksa masuk ke dalam lemari itu tiba-tiba saja berjatuhan ke lantai. Menimbulkan suara berisik dan tentu saja menerbangkan debu-debu di bawahnya.


"Argh!" Keysa refleks menjauh dari tumpukan barang-barang itu dan tanpa sengaja menabrak Amelia yang berada tepat di belakangnya. Seketika mereka berdua terjatuh.


Sebelum tubuh mereka berdua menyentuh lantai dengan keras, Amelia sempat berusaha untuk mempertahankan agar tubuhnya tetap berdiri. Ia menangkap sebuah tali yang menggantung dari atas plafon. Namun, percuma saja, tali itu bukannya menahan tubuhnya malah menjatuhkan sebuah tangga yang akhirnya menimpa tubuh mereka berdua.


"Argh, Key. Ini yang dinamakan sudah jatuh tertimpa tangga pula!" keluh Amelia, sambil meringis.


"Aah, pinggangku." Keysa berusaha untuk bangkit, kemudian ia mengulurkan tangan untuk membantu Amelia.


Setelah melewati kekacauan yang terjadi akhirnya mereka berdua kembali berdiri tegak dan menertawakan apa yang baru saja terjadi.


"Tali sialan!" desis Amelia.


Keysa tertawa. "Tapi ngomong-ngomong tangga apa ini?" tanyanya pada Amelia.


Amelia menggeleng. "Mana aku tahu. Ini 'kan rumahmu, yang jelas tangga itu muncul setelah aku menarik tali itu," ujar Amelia. "Lihatlah, Key, tangga ini menuju ke atas plafon!" tambahnya.


Benar saja, tali yang ditarik oleh Amelia tadi semacam tali pengait untuk membuka pintu tersembunyi menuju ke bagian atap rumahnya, dan terdapat tangga yang menempel langsung pada pintu tingkap itu.


Keysa dan Amelia saling berpandangan. "Haruskah kita naik?" ujar mereka berbarengan.


Setelah saling melempar pandang jahil satu sama lain, mereka segera berlomba untuk menaiki tangga itu.


"Woaah!" seru Amelia yang tiba lebih dulu di bagian atap tumah itu.


Keysa bergegas menyusul Amelia, dan saat akhirnya ia tiba di samping sahabatnya itu, matanya membelalak, mulutnya terbuka tanpa mengeluarkan suara.


***


Zayan sedang menuju perjalanan pulang dari Solis Kastil ketika ia menangkap sosok yang terlihat mencurigakan.


Sosok gempal yang ia lihat itu sedang mengendap-endap di balik pepohonan dengan membawa buntelan besar di kedua tangannya.


Zayan menghentikan kudanya, lalu ia melompat dari atas kuda dan mengikuti langkah si pria mencurigakan itu yang bergerak cepat memasuki hutan.


Zayan mempercepat langkahnya. Saat dirinya sudah semakin dekat dengan pria itu tiba-tiba saja pria itu menghilang bersamaan dengan gumpalan asap yang membuatnya terbatuk. Detik berikutnya hanya tinggal ia seorang diri di dalam hutan. Pria tadi benar-benar menghilang tanpa jejak.


"Dari Tribus mana dia sehingga memiliki kemampuan menghilang seperti itu?" gumam Zayan.


Di saat dirinya hendak berbalik pergi, matanya menangkap sesuatu yang aneh di tempat pria tadi menghilang. Terdapat sebuah perkamen di sana, tergeletak di atas tanah dengan banyak huruf di atasnya. Namun, kemudian huruf-huruf itu menghilang seperti ada yang menghapus, dan detik berikutnya perkamen itu pun menghilang.


"Vinculum Membranis! Wah, aku tidak tahu ternyata benda itu benar-benar ada!" Zayan melemparkan tatapan kagum pada tanah kosong di mana perkamen tadi berada. "Bukankah benda itu sepasang. Aku harus mencari pasangan benda itu!"


Bersambung.