THE SECRET OF LOVE IN THE DANDELION

THE SECRET OF LOVE IN THE DANDELION
PENCARIAN KETIGA PANGERAN



Zayan membeku di tempat saat ia mendengar apa yang baru saja Azalea ucapkan. Ia tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari bibir Azalea.


"Menghilang bagaimana maksudmu, Lea?" tanya Zayan.


Azalea berdeham, lalu mulai menjelaskan pada Zayan. "Saat kamu menghilang, aku dan Zinnia dipanggil ke istana oleh Rex Regum, ayahmu. Rex Regum bertanya padaku ke mana kamu pergi. Tentu saja aku mengatakan bahwa aku tidak tahu, begitu juga dengan yang Zinnia katakan. Tapi, Rex Regum sepertinya tahu ke mana kamu pergi, karena dia mengatakan padaku dan Zinnia bahwa kamu memiliki waktu yang tidak banyak jika kamu pergi meninggalkan Floss Terra. Karena begitu kamu meninggalkan Floss Terra, ada bagian di dalam dirimu yang perlahan menghilang, aku tidak tahu itu apa karena Rex Regum tidak menjelaskan padaku dan Zinni, tapi satu hal yang pasti, Za, kamu akan musnah untuk selama-lamanya jika kamu tetap berada di sini."


Deg!


Jantung Keysa berdetak cepat begitu ia mendengar penjelasan dari Azalea. Ia tidak ingin Zayan menghilang, sama sekali tidak ingin.


"Waktumu tidak banyak lagi, Za, kita harus segera kembali ke Floss Terra." Zein menimpali.


"Maaf memotong pembicaraan kalian," ujar Keysa, yang memberanikan diri untuk bertanya pada Zein dan Azalea. "Berapa lama waktu yang tersisa untuk Zayan berada di sini?"


Azalea menggeleng. "Tidak tahu. Kamu tidak tahu perincian waktunya, karena waktu di dunia kami dan di dunia ini berbeda. Kita tidak bisa mengambil resiko untuk mengira-ngira kan? Lebih cepat dia kembali, akan lebih baik."


Zayan menatap Keysa yang seketika terlihat sedih. Ia tahu bagaimana perasaan Keysa saat ini, pastilah sama dengan perasaannya sendiri yang kacau balau.


***


Zayan dan Aidan menatap langit yang berangsur-angsur menggelap karena sang surya memilih untuk menyingkir dan memberi kesempatan pada rembulan dan bintang menggantikan tempatnya di langit untuk sementara.


keduanya duduk di perkebunan mawar yang merupakan portal antara Floss Terra dan dunia manusia. Sejak tadi Zayan dan Aidan hanya diam dan sibuk mencabuti rumput yang tumbuh di atas tanah kering, sambil sesekali melemparkan pandang ke arah Padang Dandelion di kejauhan.


"Tidak semua orang yang datang ke sini bisa melihat ke Padang Dandelion, 'kan?" tanya Aidan.


Zayan mengangguk. "Ya, hanya orang-orang pilihan yang bisa melihat ke sana. Tapi siapa pun yang ada di seberang sana bisa melihat ke sini dengan mudah."


Aidan menghela napas. "Tentu saja bisa, karena memang tugas kita untuk merayu para manusia agar mau ikut dan tinggal dengan kita di sana. Kita mengawasi mereka dari Padang Dandelion, selanjutnya kita akan merayu mereka melalui mimpi hingga mereka bersedia ikut dengan kita dan menetap di Floss Terra. Agak kejam menurut pendapatku, karena kebanyakan kaum kita membuat anak dan orang tua terpisah."


Zayan setuju. Ia tahu bahwa apa yang Aidah katakan ada benarnya, tetapi jatuh cinta juga bukanlah suatu kesalahan.


"Jatuh cinta bukan suatu kesalahan apalagi kejahatan. Mereka yang memutuskan untuk ikut dengan kaum kita adalah mereka yang memang telah jatuh cinta pada salah satu dari kita, jika tidak, mana mungkin mereka bersedia ikut dan meninggalkan keluarga mereka. Tapi memang kuakui bahwa menggoda mereka yang telah berkeluarga bisa dikatakan keterlaluan sekali." Zayan berkomentar.


Aidan menaikan sebelah alisnya kemudian berkata, "Bukan hanya mereka yang telah berkeluarga, Za, tetapi mereka yang belum berkeluarga pun tidak sepatutnya menyeberangi perbatasan dan tinggal dengan kita. Coba kamu bayangkan jika Keysamu itu tiba-tiba menghilang dari dunianya, sementara ibu dan adiknya mencarinya ke mana-mana tetapi tidak menemukan Keysa di mana pun. Apa kamu pikir ibu dan adiknya tidak akan menderita karena hal itu."


Zayan diam sejenak, lalu menjawab. "Ya, aku tahu. Itulah sebabnya aku yang datang ke sini, bukannya Keysa yang kuminta untuk datang dan menetap di sana. Tapi ternyata cara ini pun salah, mana aku tahu jika suatu saat tubuhku akan menghilang jika aku terus berada di sini. Aku sama sekali tidak pernah mendengar hal yang seperti itu, Dan. Bukankah ini terlalu kejam menurutmu?"


Aidan menepuk punggung Zayan dan segera bangkit berdiri. "Kita bisa pikirkan caranya nanti bagaimana agar kamu dan Keysa bisa terus bersama tanpa mengorbankan salah satu dari diri kalian sendiri, sekarang yang terpenting adalah kita harus kembali ke Floss Terra sebelum kamu benar-benar musnah, atau lebih parah lagi kita semua yang musnah."


Zayan menghela napas dengan berat, lalu kemudian ia menarik lengan tunik Aidan. "Oh, ya, apa kamu tahu kalau ayah Keysa juga berada di Floss Terra."


Aidan menghentikan langkah, lalu menatap Aidan dengan penasaran. "Tidak, aku tidak tahu."


"Nama ayahnya adalah Mario, dan Mario itu adalah manusia yang membuat hubungan Yasmin dan ayah kita menjadi hancur."


"Maksudmu Yasmin merayu Mario untuk meninggalkan Rosalyn dan anak-anaknya?" tanya Aidan.


Zayan mengangguk. "Benar. Seperti itulah yang terjadi."


***


Jika Zayan dan Aidan sibuk berunding di perkebunan mawar, berbeda dengan yang di lakukan Zein dan Azalea di kediaman Keysa. Sejak tadi Zein sibuk mengajari Amelia bagaimana cara memanah yang benar, sedangkan Keanu sibuk mengajari Azalea cara untuk menggunakan ponsel.


"Aah!" Azalea berteriak begitu ponsel yang dipegangnya mengeluarkan suara yang cukup nyaring.


Keanu tertawa melihat keterkejutan yang jelas tampak di wajah cantik Azalea.


"Kenapa benda ini berbunyi sendiri, padahal aku hanya menyentuhnya sedikit?" tanya Azalea.


"Yang barusan itu namanya nada dering, yang menandakan bahwa ada telepon masuk, tunggu sebentar." Keanu meraih ponsel dari tangan Azalea lalu menerima telepon yang ternyata berasal dari teman kuliahnya di kota.


Saat Keanu pergi untuk menerima telepon, Azalea menghampiri Amelia dan Zein yang masih sibuk berlatih dengan anak panah dan busur.


"Minggirlah kalau tidak mau kupanah," ujar Zein, saat Azalea berdiri di hadapannya.



Azale memonyongkan bibirnya. "Kenapa jadi kejam padaku? Aku ingin bicara dengan Amelia sebentar."


Amalia meletakan busur milik Zein, kemudian menatap Azalea dengan gugup. Ia memang menjadi gugup saat menatap Azalea, karena Azalea begitu cantik tak terperikan. Kulitnya seputih susu, rambutnya memiliki kelopak bunga yang ketika Azalea bergerak maka kelopak-kelopak itu akan berjatuhan. Perempuan mana pun pasti akan merasa insecure begitu berdiri bersisian dengan Azalea.


"Ya, ada apa, Azalea?" tanya Amelia.


Azalea maju menghampiri Amelia. Tatapan mata Azalea yang begitu tajam membuat Amelia menjadi semakin gugup. Ia takut jika tiba-tiba Azalea menyerangnya atau lebih buruk mungkin menyihirnya.


Setelah jarak mereka semakin dekat, Azalea pun bertanya, "Apa artinya ada telepon?"


Amelia mengelus dada. Kegugupan yang sejak tadi dirasakannya berangsur menghilang dan digantikan dengan suara tawa yang tertahan. Amelia tidak pernah mendapatkan pertanyaan seaneh ini sebelumnya.


"Telepon itu adalah ... hem, apa, ya?" Amelia kebingungan bagaimana cara menjelaskan apa itu yang disebut 'ada telepon.'


"Seseorang yang menghubungimu dari jarak jauh melalui ponsel." Keanu muncul di samping Azalea dan menjawab pertanyaan aneh wanita itu.


Azalea menggaruk kepalanya. "Aku sama sekali tidak mengerti," ujar Azalea, kemudian ia menghela napas. "Segala yang ada di dunia ini sangat membingungkan, membuatku seolah tidak mengerti apa pun. Padahal aku bisa melakukan segalanya saat di duniaku, tetapi di sini ... ah, sudahlah, pokoknya aku tidak mau berusaha memahami apa pun."


Azalea menatap langsung ke dalam mata Keanu yang begitu memikat. "Jika aku kembali, aku tidak memerlukan si ponsel itu, karena aku tinggal masuk ke dalam mimpimu dan menarikmu ke dalam duniaku."


Keanu membalas tatapan mata Azalea yang begitu indah. "Kalau begitu aku akan tidur seharian."


"Waah pecaaah! Kalian ini kenapa romantis sekali?" Suara Adinda yang sedikit cempreng mengejutkan Keanu dan Azalea. "Aku setuju jika kakak berdua berpacaran, walaupun kalian berbeda dunia." Adinda nyengir.


Keysa yang berjalan di belakang Adinda mencubit pipi sang adik. "Masih kecil sudah bicara masalah pacaran. Memangnya kamu mengerti apa tentang pacaran?"


Adinda menyentuh pipinya yang sedikit panas karena cubitan Keysa. "Tidak banyak yang Dinda tahu, Kak, tapi Dinda tahu kalau dua orang saling menatap dengan tatapan berapi-api itu berarti mereka saling jatuh cinta dan selanjutnya mereka harus pacaran."


Keanu tertawa. "Tidak semua yang jatuh cinta harus pacaran, Dind--"


"Ya, memang tidak kalau cintanya bertepuk sebelah tangan. Tapi kalau saling jatuh cinta, Dinda rasa mereka harus pacaran. Seperti Kak Ken dan Kak Azalea yang cantik itu." Adinda menaik turunkan alisnya, membuat Keanu menjadi gemas pada gadis kecil itu.


"Jangan bicara sembarangan." Keanu mencubit pipi Adinda. "Mana mau kakak cantik itu sama kak Ken yang jelek ini."


Adinda ingin menjawab, tetapi Keysa segera menutup mulut Adinda dengan tangan. Gadis kecil itu memang banyak bicara kalau tidak dihentikan sesegera mungkin.


"Oh, ya, ngomong-ngomong di mana Aidan dan Zayan?" tanya Keysa.


"Mereka keluar tadi, mungkin sekarang sedang bertarung menggunakan pedang di suatu tempat." Zein menjawab dengan santai.


Keysa yang mendengar jawaban Zein seketika terlihat panik.


"Tidak, tidak, aku hanya bercanda." Zein terkekeh, lalu kembali sibuk dengan Panah dan busurnya.


***


Di Floss Terra keributan sedang terjadi, terutama di perbatasan dan juga di Solis Kastil. Rex Regum telah mendengar bahwa dua putranya yang ditugaskan di perbatasan kembali menghilang. Jika sebelumnya Zayan yang menghilang, kali ini Zein dan Aidan.


Semua penghuni kastil menjadi tegang, apalagi beberapa saat yang lalu raja mereka mengamuk dan membentak siapa saja yang ditemuinya.


"Cari mereka. Aku ingin mereka kembali. Bagaimana bisa mereka pergi dari sini." Rex Regum berteriak, sambil membanting tubuh dengan keras di atas singgasananya yang berkilau. "Mereka pasti dipengaruhi oleh sesuatu yang jahat. Putra-putraku tidak mungkin pergi meninggalkan dunia ini jika mereka tidak dipengaruhi."


Beberapa pengawal kepercayaan Rex Regum membungkuk dan meminta maaf karena mereka tidak dapat mengawasi para pangeran dengan baik, terutama Aidan, sang putra mahkota.


"Maafkan kami, Yang Mulia Raja, karena kami sangat teledor. Kami akan segera menemukan mereka bertiga. Mungkin mereka pergi ke suatu tempat, atau lembah untuk bermain-main." Seorang pria bertubuh tinggi besar, berwajah kejam, dan berambut panjang membungkuk hormat di depan Rex Regum, ia adalah Alcender, yang berarti kuat dalam bahasa Yunani, tidakheran jika pria itu menjadi pengawal kepercayaan raja, karena memang Alcender memiliki tubuh yang kuat dan ditakuti banyak orang.


Rex Regum mengibaskan tangan. "Cepat cari mereka. Aku ingin ketiganya kembali secepatnya. Tidak masalah jika putraku yang lain pergi, tetapi Aidan, Zayan, dan Zein adalah pengecualian. Mereka adalah perpaduan yang sempurna untuk kemajuan Floss Terra di masa mendatang. Dan jika mereka sudah ditemukan, hukum orang-orang yang berada di balik kepergian ketiga putraku. Aku ingin mereka yang berani meracuni pikiran putraku dihukum mati di depan semua rakyat Floss Terra."


"Baik Yang Mulia, kami akan mengirim bala tentara untuk mencari para pangeran dan putra mahkota, Anda tenang saja," ujar Alcender, lalu ia melangkah mundur beberapa langkah dan segera keluar dari Aula utama.


Bum!


Bum!


Bum!


Genderang ditabuh, suaranya yang menggema memenuhi udara, membuat burung-burung yang hinggap di pepohonan seketika beterbangan.


Seluruh bala tentara Floss Terra berkumpul di tanah lapang, mengelilingi sebuah mimbar di mana Alcender berdiri dengan gagah dan berkilau, karena baju zirah yang menempel di tubuhnya tertimpa sinar matahari.


"Kuberitahukan pada seluruh bala tentara bahwa kita memiliki tugas penting dari sang raja. Apa pun yang terjadi dan bagaimana pun caranya, kita harus menemukan tiga pangeran kesayangan Floss Terra. Pangeran Zayan, Pangeran Zein, dan Putra Mahkota Tuan Aidan," teriak Alcender.


Suara riuh dari ribuan bala tentara terdengar menyambut ucapan Alcender, sebelum akhirnya dengan satu aba-aba barisan tentara itu membubarkan diri, kembali ke barak mereka, melakukan persiapan, dan kemudian melakukan pencarian menggunakan kuda-kuda mereka.



***


Azalea memasuki Solis Kastil, terus berjalan menaiki puluhan undakan hingga tiba di ruang berbatu yang berlapis kain berwarna kekuningan dan merah menyala. Terdapat sebuah ranjang berukuran besar yang ada di dalam ruangan tersebut, dan di atas ranjang tengah berbaring seorang wanita cantik bergaun merah yang terlihat tengah tertidur. Ruangan tersebut adalah kamar Zinnia.


Zinnia membuka mata saat Azalea tiba. "Akhirnya aku bisa memanggilmu, Azalea. Ke mana saja kamu pergi dan di mana yang lain? Zayan, Aidan, dan Zein?" Zinnia bertanya dengan raut wajah yang terlihat begitu khawatir.


"Aku berada di dalam mimpi? Kamu yang memanggilku? Waah, begini kah rasanya dipanggil melalui mimpi. Luar biasa." Azalea berkomentar.


"Jangan bercanda, Azalea, cepat katakan kalian ada di mana sekarang? Apa kalian berada di luar FlossTerra?" Zinnia kembali bertanya.


"Ya, kami berhasil menemukan jalan untuk keluar dari Floss Terra, kami sekarang ada di--"


"Dengarkan saja aku. Sekarang Rex Regum telah mengarahkan bala tentaranya untuk mencari keberadaan kalian. Alcender yang memimpin pencarian, dan tahukah kamu apa yang menjadi masalah atas hilangnya ketiga pria kurang ajar itu?"


"Hai, jangan bicara begitu, mereka adalah kesayangan raja." Azalea tidak suka dengan cara Zinnia menyebut Zayan, Aidan, dan Zein dengan sebutan pria kurang ajar.


"Terserahlah, pokoknya yang aku tahu keselamatanmu terancam. Karena kamu dinilai telah menghasut para pangeran untuk keluar dari Floss Terra. Jadi siapa pun yang berada di balik semua peristiwa ini sudah pasti akan mendapat hukuman saat Alcender berhasil menemukan di mana kalian, kecuali si tiga pria kurang ajar itu."


Dahi Azalea berkerut. "Hukuman?"


"Ya, hukuman mati di depan seluruh rakyat Floss Terra."


Bersambung