THE SECRET OF LOVE IN THE DANDELION

THE SECRET OF LOVE IN THE DANDELION
HUTAN NERAKA



Apa yang dikatakan Zayan terlalu masuk akal bagi Keysa. Jika memang ibunya berasal dari Floss Terra, maka tidak mengherankan jikalau ibunya kembali ke sana, ibunya pasti akan ditahan oleh keluarganya untuk kembali ke dunia manusia. Apalagi setelah lama berpisah.


Kedua lutut Keysa seketika melemas begitu ia menyadari kemungkinan itu. Jika memang ibunya tidak akan kembali ke dunia manusia itu berarti hanya tinggal dirinya dan Adinda di dunia ini. Mereka berdua akan menjadi anak yatim piatu yang hidup sebatang kara tanpa memiliki keluarga sama sekali.


"Adikku masih membutuhkan ibuku. Dia tidak akan bisa menerima bahwa setelah kehilangan seorang ayah, kami kembali kehilangan seorang ibu," lirih Keysa. "Adinda masih terlalu kecil untuk dapat menerima kenyataan menyedihkan ini."


Zayan menatap Keysa dengan tatapan iba. Ia tahu bagaimana perasaan Keysa saat ini. Bukan hal mudah menyadari bahwa perlahan diri ditinggalkan oleh orang-orang terkasih. Setelah ayah, kemudian ibu. Hati anak mana yang tidak hancur jika mengalami hal yang demikian.


Setelah terlihat begitu sedih dan terpukul, Keysa mendadak terlihat seribu kali lebih tegar. Cahaya yang sempat redup di kedua mata indahnya mendadak kembali terlihat berbinar. Seolah gadis itu baru saja melewati dua masa yang berbeda dan kembali menjadi manusia yang baru dari sebelum.


"Ada apa, Key? Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Zayan, yang terlihat bingung melihat perubahan pada diri Keysa.


"Jika ibuku tidak bisa kembali, maka aku yang akan ke sana," ujar Keysa. "Kita punya benda ajaib ini, dan kita bisa ke sana kan?" Keysa berkata dengan penuh semangat.


Zayan mengangguk. "Ya, kita bisa lakukan itu," ujar Zayan. "Jika memang diperlukan."


"Sudah pasti diperlukan, Za, tidak mungkin tidak. Aku harus mencari ibuku bagaimanapun caranya. Demi Adinda, semua demi Adinda." Senyum Keysa perlahan mengembang. Tidak ada lagi yang perlu ia khawatirkan sekarang, karena sejauh apa pun ibunya pergi, ia tetap akan mengejar dan mendapatkan ibunya kembali.


Keysa duduk di samping Rosalyn, lalu menyentuh punggung tangan Rosalyn yang terasa hangat. "Sampai jumpa di sana, Ma."


***


Aidan menghela napas panjang begitu mulai memasuki Hutan Neraka. Tidak heran kenapa hutan itu disebut Hutan Neraka. Hawa panas seolah menyelimuti seluruh bagian hutan itu, padahal pohon tumbuh dengan rindang sehingga menimbulkan kesan sejuk yang seharusnya memang dimiliki hutan dengan pepohonan yang tumbuh subur dan rapat. Namun, ternyata semua itu tidak berlaku di Hutan Neraka, baru berada di tepinya saja tubuh Zein dan Aidan sudah mulai mengeluarkan keringat hingga tunik mereka basah.


Kuda-kuda pun terlihat gelisah. Jika kuda milik Zein saja mulai enggan melangkah maju, apalagi kuda milik Aidan yang memang belum pernah memasuki Hutan Neraka sebelumnya.


"Kuda-kuda ini sepertinya tidak mau bekerja sama," ujar Aidan, berusaha menahan kudanya yang ingin berbalik pergi.


"Ya, sepertinya begitu." Zein sebdiri terlihat kualahan dengan kudanya. "Apa kamu tidak keberatan jika berjalan kaki sedikit?" tanya Zein pada Aidan.


Aidan mengangguk. "Apa kamu biasnya berjalan kaki jika melewati hutan ini?"


"Tidak, aku biasanya terbang. Hanya saja karena sekarang aku sedang bersama denganmu, tidak mungkin aku membawamu terbang, 'kan? Tubuhmu begitu berat," ujar Zein, lalu turun dari kudanya dan mengelus surai kuda tersebut. "Tunggu kami di dekat tebing, oke!" bisik Zein di telinga kudanya, lalu melepas tali kekang kuda itu dan membiarkan kudanya pergi meninggalkan hutan.


Aidan melakukan hal yang sama, ia turun dari kudanya dan membiarkan kuda itu pergi meninggalkannya.


"Aku tidak tahu kalau kamu bisa terbang," ujar Aidan, setelah hanya tinggal mereka berdua.


"Sesekali aku melakukannya jika memang harus. Terbang tidak semudah yang terlihat, aku harus mengerahkan seluruh energi yang ada pada tubuhku, dan itu rasanya sulit sekali. lebih baik berjalan kaki, ayo!"


Zein dan Aidan mulai memasuki hutan jauh lebih ke dalam. Suara kicau burung yang terdengar aneh saling bersahutan di atas dahan-dahan pohon yang gelap. Zein memasang anak panah pada busurnya, terlihat lebih siaga daripada saat masih berada di tepi hutan.


Aidan sendiri sejak tadi terus mengedarkan pandangan, ia memperhatikan segala yang ada di depan matanya; lumut yang bisa bergerak dan berpindah tempat, tanaman rambat yang merayap dengan cepat, dan batang-batang pohon besar yang seolah memiliki mata dan mengikuti arah langkah kakinya. Aidan bergidik melihat semua keanehan itu. Seolah dirinya sedang berada di dunia lain saja.


"Argh!" Aidan tiba-tiba memekik, dan detik berikutnya kedua kaki pria itu telah terikat oleh tanaman rambat yang bergerak cepat menuju dahan pohon, sehingga tubuh Aidan sekarang tergantung dalam posisi terbalik di sebuah batang pohon berukuran besar.


Zein meraih pedang Aidan dan memotong tanaman rambat itu dari kaki Aidan. Bunyi gedebuk keras menandakan bahwa tubuh Aidan telah terbebas dari jerat tanaman rambat yang mengikatnya.


"Argh, punggungku." Aidan merintih, sambil menyentuh punggungnya yang terasa sakit sekali.


"Ck, beruntung bukan kepalamu. Ayo cepat bangun." Zein menyerahkan kembali pedang Aidan.


"Apa itu tadi?" tanya Aidan, setelah ia berdiri dan menerima pedangnya dari tangan Zein.


"Tanaman rambat biasa, hanya saja semua yang ada di sini memang sedikit ajaib. Maka dari itu perhatikan langkahmu, jangan sampai kembali menjadi korban. Memalukan sekali jika seorang jagoan dikalahkan oleh sebuah tanaman." Zein menggelengkan kepalanya, lalu kembali melangkah.


Aidan mendengkus kesal. "Mana aku tahu kalau mereka bisa bergerak dan menyakiti. Hal seperti ini tidak masuk akal dan terlalu tidak mungkin. Seumur hidupku, aku belum pernah melihat tanaman yang bisa bergerak dan menangkap kaki seseorang yang sedang melintas."


Zein tertawa mendengar ucapan Aidan. "Tidak ada yang tidak mungkin selama kita masih hidup. Keajaiban ada di mana-mana, misalnya saja ... awas kepalamu!" Zein berteriak, lalu melepaskan anak panahnya tepat waktu sesaat setelah Aidan menunduk.


Seekor kumbang berukuran besar terjatuh di atas dedaunan kering, menimbulkan suara debam keras yang membuat tanah di sekitarnya bergetar hebat.


Aidan menggeser tubuhnya menjauh dari hewan aneh tersebut sambil bergidik.


"Apa itu?" tanya Aidan.


"Itu lebah, masa tidak tahu!"


"Tidak ada lebah yang ukurannya sebesar itu!"


"Tentu ada, dan bersiaplah sebentar lagi kawanannya pasti akan muncul." Zein kembali memasang anak panah di busurnya.


Melihat apa yang Zein lakukan, Aidan pun mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, bersiap untuk melakukan perlawanan jika memang dibutuhkan. Detik berikutnya, suara dengungan seketika memenuhi udara di sekitar Aidan dan Zein. Puluhan atau bahkan ratusan lebah dengan ukuran yang luar biasa besar beterbangan menghampiri mereka.


"Sial, mereka terlalu banyak." Aidan mengeluh.


"Terus ayunkan pedangmu sambil melangkah maju, mereka tidak akan berani memasuki wilayah yang bukan wilayah mereka. Semakin cepat kita bergerak, semakin cepat kita terhindar dari mereka. Dan jangan sampai tersengat jika bisa." Zein memberi perintah.


"Apa yang terjadi jika kita tersengat? Apa kita akan mati?" tanya Aidan.


"Mati masih lebih baik. Jika terkena sengatannya, tubuh akan menjadi lumpuh dan muncul bintik-bintik merah bernanah yang menjijikan. Jadi, jangan sampai tersengat, oke."


Aidan mengangguk dan mulai mengayunkan pedangnya. "Hiya!"


Satu persatu anak panah Zein terlepas, menembus udara dengan cepat dan mendarat di tubuh lebah-lebah yang terus menyerang. Sementara Aidan terus mengayunkan pedang, memutar tubuh dan tangannya dengan anggun dan lincah. Gerakan Aidan itu mampu membunuh tiga sampai empat lebah sekaligus. Namun, keberhasilannya membunuh lebah-lebah itu tidak ada artinya. Semakin banyak lebah yang mati, semakin banyak yang datang.


Udara panas dan kelelahan membuat tubuh Aidan dan Zein semakin basah oleh keringat.


"Siapa juga yang akan pingsan." Aidan menjawab asal.


Zein hanya nyengir, lalu kemudian dengan satu gerakan cepat Zein menarik tubuh Aidan beberapa senti dari tanah untuk melewati sebongkah batu besar yang menjadi batas wilayah kekuasaan sekumpulan lebah raksasa.


Zein dan Aidan jatuh di atas tanah yang keras dan bebatu, membuat beberapa bagian tubuh keduanya terluka.


"Apa yang kamu lakukan?" Aidan mengeluh, karena ia merasakan sakit di sekujur bagian tubuhnya sekarang.


"Tadinya aku ingin membawamu terbang, tapi ternyata tidak bisa." Zein terkekeh.


Aidan menggelengkan kepala, lalu bangkit berdiri dengan perlahan. "Syukurlah mereka telah pergi," gumam Aidan, sambil menatap seekor lebah yang terbang di sekitar batu besar, seolah lebah itu enggan melepaskan Aidan dan ingin menyusul Aidan saat itu juga.


"Bukan waktu yang tepat untuk bersyukur. Perjalanan masih panjang. Setidaknya masih ada empat wilayah berbahaya di dalam hutan ini yang belum kita lewati." Zein berkata di belakang Aidan.


"Empat?"


"Ya, seluruhnya ada lima. Tanaman yang hidup, lebah raksasa, dan selanjutnya adalah Golem." Zein menghitung dengan jari.


"Lalu yang dua?" Aidan bertanya dengan raut ketakutan yang tergambar jelas di wajahnya.


Tidak mengherankan jika Aidan terlihat ketakutan. Aidan selama ini tidak pernah mengetahui bahwa semua keanehan yang tengah ia hadapi benar-benar ada dan nyata. Selama ini Aidan hanya berperang dengan makhluk yang sama dengan dirinya, makhluk yang sama-sama hanya bisa menggunakan pedang, busur, atau tombak. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa suatu saat ia akan bertemu dengan tanaman yang bisa bergerak, lebah raksasa yang mengejar dan siap menyengat tubuhnya, dan sekarang Golem.


"Yang dua lagi biar kurahasiakan terlebih dahulu. Aku takut kamu akan mati berdiri saat mengetahuinya." Zein merenggangkan tubuhnya dan menyimpan busur di punggungnya.


"Selalu saja seperti itu. Membuat orang penasaran dan ketakutan adalah salah satu keahlianmu, ya, Zein?!" Aidan mengeluh.


"Bukannya aku ingin membuatmu penasaran, tapi aku hanya ingin kamu fokus pada satu masalah dulu. Dan sekarang ini menghadapi Golem jauh lebih penting ketimbang memikirkan dua rintangan selanjutnya yang belum terjadi." Zein berujar dengan tenang.


"Benarkah? Jika memang menghadap Golem lebih penting, kenapa kamu menyimpan busurmu, Zein? Bukankah kita akan menghadapi Golem. Apa makhluk itu tidak berbahaya sehingga tidak membutuhkan anak panah untuk menyerang? Apa kita hanya perlu menggelitik perutnya saja, hah?"


Zein tersenyum masam. "Golem tidak bisa dipanah atau ditusuk dengan pedang, Aidan. Kali ini kita harus mengandalkan kekuatan tangan kita."


"Maksudmu?"


"Kita harus meninjunya hingga dia pingsan."


***


Rosalyn dan Azalea mondar-mandir dengan gelisah di dalam tenda di perbatasan. Sudah cukup lama keduanya menunggu kedatangan Aidan dan Zein, tetapi kedua pria itu belum juga datang.


Azalea bahkan sejak tadi terus menggerutu, dan menyalahkan Zein dan Aidan yang menurutnya sangat lamban. "Bagaimana bisa mereka pergi selama ini? Apa mereka tidak bisa lebih cepat? Bagaimana kalau kita terlambat menolong Zayan? Aku sungguh tidak ingin jika Zayan musnah dan tidak akan pernah kembali ke sini."


Rosalyn diam saja. Ia tahu bagaimana rasa khawatir yang dirasakan oleh Azalea, karena ia pun merasakan hal yang sama sekarang bahkan lebih.


Jika Azalea hanya mengkhawatirkan Zayan, Rosalyn justru mengkhawatirkan beberapa orang sekaligus. ia mengkhawatirkan Keysa, Adinda, Theodor, dan Aidan juga.


Aidan, Aidan, Aidan, wajah pria itu tidak pernah benar-benar menghilang dari benak Rosalyn. Padahal Rosalyn telah mencoba untuk menyingkirkan wajah pria itu dari dalam. pikirannya. Bagaiman pun juga ia harus tahu diri, bagaimana bisa seorang wanita yang telah memiliki dua putri kembali jatuh cinta pada pria yang belum menikah, dan lebih parah lagi pria yang dicintainya adalah seorang putra mahkota.


"Biarkan aku masuk! Katakan di mana wanita itu? Di mana petugas yang bernama Azalea itu?"


Terdengar suara seorang pria yang berteriak-teriak di luar tenda. Teriakan pria itu menarik perhatian Azalea dan Rosalyn. Apalagi Azalea mendengar namanya disebut oleh pria tidak dikenal itu.


"Tunggu di sini, Rosalyn, aku akan melihat apa yang terjadi di luar sana." Azalea memutar tubuhnya menuju pintu keluar tenda dan segera melangkah dengan cepat menuju tempat terjadinya keributan.


"Ada apa ini?" tanya Azalea pada sekumpulan penjaga menara yang terlihat tengah menghalangi jalan seorang pria berwajah tampan.


"Dia memaksa untuk bertemu dengan Anda, Nona." Salah seorang penjaga menara menjawab.


Azalea kemudian menatap pria di hadapannya dengan penasaran. "Ada keperluan apa hingga Anda jauh-jauh datang kemari untuk menemuiku, Tuan?"


"Ah, ya, apa Anda benar Nona Azalea?" tanya pria itu.


Azalea mengangguk. "Ya, aku Azalea."


"Aku Mario, Nona. Aku ingin menanyakan sesuatu pada Anda. Bisakah Anda membantuku untuk mencari tahu tentang wanita bernama Rosalyn? Aku rasa dia adalah seorang manusia yang baru saja tiba di sini. Aku ingin menemuinya dan--"


"Apa Anda mengenalnya?" tanya Azalea, memotong ucapan Mario.


Mario mengangguk. "Ya, aku mengenalnya. Dia adalah--"


"Mario. Kamukah itu?"


Mario terkejut begitu melihat sosok yang berdiri di hadapannya. Ia tidak mungkin salah melihat, wanita itu memang Rosalyn, istrinya.


Mario maju selangkah, berusaha mendekat ke Rosalyn. Namun, langkahnya dihentikan oleh penjaga yang menariknya menjauh dari Rosalyn dan Azalea.


"Lepaskan aku. Aku ingin bicara padanya. Aku mohon biarkan aku bicara!" Mario menyentak pegangan para penjaga dari lengannya.


"Lepaskan dia. Aku mengenalnya," ujar Rosalyn, yang langsung dituruti oleh para penjaga yang bertugas.


"Baik, Nona." Para penjaga mundur menjauh.


"Masuklah, Mario, aku ingin mendengar semua yang bisa kudengar!"


Bersambung.