
Mario menyentak kuda yang ia tunggangi, membuat kuda tersebut segera menapakkan kakinya dengan kuat di atas tanah keras yang berbatu, lalu meluncur dengan cepat menuju Solis Kastil. Di dalam perjalanan menuju Solis Kastil, Mario terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi hingga Rosalyn berada di Floss Terra dan terlihat berbeda. Sudah jelas sekali jika sisi manusia yang dimiliki Rosalyn perlahan mulai terkikis, sama seperti dirinya dulu saat pertama kali tiba di Floss Terra.
Jika Rosalyn datang bukan karena panggilan darinya, itu berarti Rosalyn datang atas panggilan pria lain yang tertarik pada Rosalyn.
Memikirkan kenyataan itu membuat Mario kecewa. Bagaimana mungkin istrinya yang begitu penyayang memilih untuk menetap di Floss Terra dan meninggalkan kedua putri mereka begitu saja di dunia manusia.
Setelah berkuda sejak malam hari hingga matahari hampir terbit, Mario akhirnya tiba di Solis Kastil. Ia langsung melompat dari atas kuda dan segera menemui penjaga yang berjaga di gerbang depan untuk memohon izin agar bisa masuk ke dalam kastil dan bertemu dengan petugas yang mencatat kedatangan dan kepergian penduduk Floss Terra.
"Apa maksud Anda, Anda ingin bertemu dengan Azalea?" tanya salah seorang penjaga.
Mario mengangguk. "Ya, aku tidak tahu siapa nama petugas yang bertugas untuk mengawasi data kependudukan di sini, tapi yang jelas aku ingin bertemu dengan petugas tersebut."
"Azalea sedang tidak ada di tempat saat ini. Dia pergi ke perbatasan beberapa hari lalu bersama dengan Tuan Zein," ujar si penjaga lagi.
Mario menghela napas dengan berat. "Kapan dia akan kembali?" tanya Mario.
"Kami tidak tahu."
Jawaban singkat dari si penjaga berwajah ketus memberi petunjuk bagi Mario bahwa obrolan tidak penting itu sudah berakhir. Mario mengangguk, mengucapkan terima kasih dan kembali menunggangi kudanya.
Untuk sesaat Mario bimbang apakah ia harus kembali ke kediamannya ataukah ia harus ke perbatasan agar dapat bertemu dengan Azalea. Jika ia memilih untuk bertemu dengan Azalea, itu berarti ia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk melakukan perjalanan.
"Bagaimana jika Yasmin marah padaku karena aku pergi tanpa izin darinya?" Mario bertanya pada udara di sekitarnya. Keraguan tengah menyelimuti dirinya saat ini. Akan tetapi, keraguannya menghilang begitu ia kembali teringat pada sosok Rosalyn yang beberapa waktu lalu ia lihat. Dan detik berikutnya, Mario telah memacu kudanya menuju perbatasan.
***
Azalea, Rosalyn, Aidan, dan Zein tengah duduk mengelilingi Vinculum Membranis. Mereka berempat masih berusaha untuk menemukan cara agar dapat berpindah dari Floss Terra ke dunia manusia.
"Sepertinya kita harus menemui pimpinan dari Tribus Mageía. Aku rasa hanya mereka yang tahu bagaimana caranya menggunakan benda ini." Zein memberi saran.
Azalea mengangguk. "Aku setuju. Toh, kita hanya membuang-buang waktu sekarang. Setelah segala percobaan kita tidak berhasil, lebih baik kita bertanya langsung ke Tribus yang menciptakan benda ini. Waktu terus berjalan, dan Zayan tidak memiliki banyak waktu. Apa kamu ingat, Aidan, kalau aku pernah berkata bahwa Zayan hanya memiliki waktu 90 hari sebelum akhirnya dirinya akan menghilang." Azalea menatap Aidan dengan khawatir.
Aidan mengangguk. "Ya, aku ingat. Dan aku tidak akan membiarkan Zayan menghilang begitu saja. Tidak akan pernah."
Rosalyn menatap Azalea dan Aidan dengan serius. "Apakah kalian tahu kalau waktu di sini berbeda dengan waktu di sana?"
"Maksudmu?" Azalea terlihat tegang sekarang.
"Waktu di sana lebih cepat. Aku tidak tahu pasti, tapi aku rasa 90 hari sini, tidak sampai 90 hari di sana."
Aidan segera bangkit berdiri. Ia lalu meraih pedangnya yang tergantung di dinding dan menyarungkan pedang panjang itu di belakang punggung. "Kalau begitu kita tidak punya waktu lagi. Zein, ayo, kita harus segera pergi ke distrik tempat para Mageía tinggal. Dan kalian berdua tetaplah di sini. Jangan pergi ke mana pun tanpa kami." Aidan berkata pada Azalea dan Rosalyn.
Azalea dan Rosalyn mengangguk. Sebelum keluar dari tenda, Aidan menyempatkan diri untuk memeluk dan mengecup bibir Rosalyn dengan lembut. "Sampai berjumpa nanti."
"Astaga, Aidan, tidak kusangka jika kamu akan berubah status menjadi ayah mertua Zayan." Zein tertawa, suara tawanya masih terdengar hingga kedua pria itu berada di luar tenda.
Sementara di dalam tenda, Azalea hanya bisa menatap Rosalyn dengan kedua mata yang melotot.
"Ada apa?" tanya Rosalyn, setelah beberapa saat.
"Tidak. Aku hanya memikirkan bagaimana jika suamimu tahu."
Rosalyn tersenyum masam. "Suamiku tidak akan marah, toh dia telah meninggalkanku dan kedua putriku sejak lima tahun lalu."
"Maafkan aku, Rosalyn, aku tidak tahu. Aku turut berduka." Azalea terlihat begitu menyesal karena membahas tentang suami Rosalyn.
"Jangan minta maaf, toh dia pergi atas kemauannya sendiri."
Azalea terlihat bingung. "Maksudmu?"
"Dia ada di sini sekarang. Dia memilih untuk tinggal di sini bersama dengan seorang wanita yang telah berhasil menggodanya."
"Benarkah?" tanya Azalea, dengan kedua mata yang membelalak dan hampir keluar dari rongganya. "Siapa nama suamimu, barangkali saja aku tahu, karena aku bertugas untuk mencatat pendatang yang tiba di Floss Terra."
"Namanya Mario. Dia menghilang lima tahun lalu di perkebunan bunga mawar saat sedang bekerja."
***
Malam merangkak naik, langit yang gelap terlihat indah dengan munculnya bulan kekuningan yang menggelantung di langit.
Kesya dan Zayan duduk berdampingan di halaman belakang rumah mungil Keysa sembari memandangi layar ponsel Keysa yang saat ini memperlihatkan hasil foto mereka tadi siang.
"Lucu sekali," ujar Keysa.
"Ya, lucu sekali." Zayan berkomentar. "Oh, ya, Key, ada yang ingin kutanyakan padamu. Apa kamu pernah melihat benda seperti perkamen di dalam rumahmu. Jika, ya, bisa jadi perkamen itu adalah pasangan Vinculum Membranis yang satunya ada di duniaku."
Keysa terlihat berpikir sejenak. "Aku belum pernah melihat benda seperti itu."
"Sebenarnya siang tadi aku dan Keanu ingin mencari benda itu di dalam rumahmu, karena aku yakin sekali jika benda itu pasti ada di sekitar sini. Jika tidak, tidak mungkin Xanteus terus-terusan muncul di sini saat ia berpindah dunia. Hanya saja karena kita asyik menciptakan foto-foto dengan ponselmu, aku dan Keanu jadi lupa."
Keysa mengangguk. "Coba kuingat-ingat sebentar, mungkin saja aku pernah melihatnya tetapi aku lupa." Keysa kembali berujar, kemudian gadis itu menjentikkan jarinya. "Zay, di kamar ibuku terdapat tempat rahasia yang tersembunyi di bawah permadani. Aku tidak sengaja menemukan tempat rahasia itu beberapa minggu lalu, hanya saja aku belum memeriksanya hingga saat ini. Bagaimana kalau kita periksa tempat rahasia itu?"
Zayan terlihat berbinar. "Ayo kita lakukan."
Bersambung.