
Keysa bergelung di dalam selimut sejak semalam. Tidak sekalipun gadis itu keluar dari dalam kamar. Bahkan ketika Adinda dan Amelia membangunkannya untuk sarapan, hingga makan siang. Keysa masih berusaha untuk tertidur. Tertidur dan kembali ke sana. Ke tempat di mana Zayan berada.
Semalam setelah Keanu menciumnya, ia merasa sangat menyesal. Bagaimana jika Zayan melihat semua itu. Mungkin Zayan marah kepadanya, itulah sebabnya seberapa keras usahanya untuk dapat kembali ke Flos Terra, tidak juga membuahkan hasil. Padahal sejak semalam ia terus menggumamkan nama Zayan, berharap Zayan menjemputnya melalaui mimpi. Seperti waktu itu, tetapi tidak ada yang terjadi. Ia masih tetap berada di kamarnya seorang diri dalam perasaan bersalah dan rindu.
"Key." Terdengar suara ketukan dari luar kamar. Kali ini bukan Adinda atau Amelia, melainkan Keanu. Keysa menggigit bibir bawahnya saat mendengar suara Keanu. Ia masih merasa malu untuk bertemu dengan pria itu. Bagaimana jika Keanu menggangap serius ciuman semalam?
"Key, keluar atau aku yang masuk!"
Kali ini Keysa segera bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu, takut jika Keanu benar-benar menerobos masuk ke dalam kamarnya. "Yap," ucapnya saat pintu telah terbuka.
"Apa yang kamu lakukan di kamar seharian? Kamu bahkan belum sarapan dan makan siang, Key. Ayo, keluar!" Keanu menarik tangan Keysa, menuntun gadis itu ke ruang makan.
"Halo," ucap Keysa, saat melihat Adinda dan Amelia duduk sambil menatapnya dengan kesal.
"Kamu mau mati kelaparan di dalam sana! Iya?" Amelia membentaknya dan menariknya untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Sementara Keanu mulai menyiapkan piring dan berbagai macam makanan untuk Keysa.
"Makanlah. Jangan sampai sakit. Ingat, ada ibumu yang harus kamu rawat, Key," ujar Keanu, lalu duduk di seberang meja sambil menatap lurus ke arah Keysa. Sepertinya ia ingin memastikan Keysa menghabiskan makanannya sebelum gadis itu kembali ke dalam kamar.
"Mama," lirih Keysa. Ia begitu menyesal mendengar perkataan Keanu, dan detik berikutnya ia sudah menangis tersedu-sedu. Membuat Adinda menggelangkan kepala. "Maaf, karena beberapa hari ini aku bahkan tidak memikirkan mama sama sekali. Bagaimana keadannya, Dind?"
"Kak Keanu memutuskan mama harus dirawat di rumah sakit, Kak. Tidak bisa tidak. Ini sudah berapa hari dan tidak ada perubahan sama sekali." Adinda menjelaskan.
"Aku rasa aku tahu di mana mama," jawab Keysa sambil melamun. Entah kenapa ia memiliki firasat bahwa wanita yang dikatakan Zein saat itu adalah ibunya. Ia yakin sekali.
Adinda menatap Keysa dengan tatapan aneh, tetapi tidak dengan Amelia dan Keanu. Kedua sahabatnya itu terlihat serius.
"Di mana?" tanya Keanu.
"Flos Terra!"
"Flos ... apa?" tanya Adinda bingung. "Maksudnya bagaimana? Mama ada di kamar, Kak. Kenapa Kak Key bilang kalau mama ada di Flos itu--"
"Yang ada di kamar hanya tubuh mama, Dind, hanya raga. Sementara jiwa mama ada di tempat lain. Seharusnya saat itu aku melihatnya, jika saja pedang itu tidak menusuk jantungku!" Keysa memotong ucapan Adinda.
"Kakak jangan bercanda. Tidak ada pedang saat Kak Key terbangun kemarin! Dan Flos itu, Flos yang Kak Key maksud, itu semua tidak ada. Mana ada hal semacam itu di dunia ini!"
Tepat saat mengatakan itu terdengar suara gaduh yang sangat nyaring berasal dari gudang. Keysa segera berdiri, tetapi Keanu menahan tangannya.
"Jangan ke sana, Key," pinta Keanu.
"Ah, bodohnya aku!" jerit Keysa.
Ia terus berlari, masih mengenakan piyama berwarna putih yang dikenakannya semalam. Rambutnya bahkan terlihat berantakan. Akan tetapi, ia tetap terlihat cantik dan menawan walau wajahnya terlihat pucat.
Amelia, Adinda dan Keanu mengekor Keysa menuju gudang. Keanu bahkan berkali-kali. Menarik tangan Keysa agar gadis itu mengurungkan niatnya, tetapi selalu berhasil ditepis oleh Keysa.
"Apa-apaan itu tadi? Kenapa pendaratannya tidak berjalan mulus! Kenapa pula kita tiba di tempat sempit seperti tadi. Sangat tidak keren, Xanteus! Dan di mana kita?"
Keysa menghentikan langkahnya dan terkejut setengah mati saat melihat sosok yang sangat ia rindukan berjalan keluar dari gudang sambil mengomel. Sosok itu bahkan belum menyadari kehadirannya, karena ia terlihat sibuk membersihkan pakaian yang ia kenakan dari debu.
"Di rumahku, Zayan. Kamu baru saja keluar dari gudang rumahku." Keysa mengucapkan kalimat itu dengan susah payah. Bagaimana tidak, ia masih merasa takjub melihat sosok Zayan berdiri di tangga menuju gudang dengan seorang pria yang sebelumnya pernah dilihatnya.
"Key. Kamu benar-benar Keysa?" Zayan melangkah perlahan menghampiri Keysa.
Keysa melakukan hal yang sama. Ia melangkah perlahan menghampiri Zayan. Di belakangnya terlihat Amelia dan Adinda yang terlihat takjub.
Zayan memang terlihat sangat memesona. Dengan pakaian serba putih yang terlihat seperti tunik. Kali ini tidak ada baju besi yang biasa ia kenakan menempel pada tubuhnya. Rambutnya yang sepanjang leher dan ikal terlihat sedikit berantakan, belum lagi matanya yang sendu menatap Keysa dengan tajam. Membuatnya luar biasa sempurna. Tak terperikan!
Detik berikutnya, Zayan menarik Keysa ke dalam pelukan. Keysa terisak, ia sungguh bahagia mendapati Zayan berada di dunianya dan dirinya pun lega karena Zayan terlihat baik-baik saja.
"Aku berulang kali memanggilmu, Za, tetapi kamu tidak datang. Aku khawatir sekali. Aku pikir dia melukaimu juga." Keysa semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Zayan.
"Kami memang berkelahi setelah itu, tetapi Zein berusaha menghentikan kami berdua. Syukurlah kamu tidak apa-apa, Key. Maafkan aku karena telah membuatmu dalam bahaya. Aku sungguh tidak menyangka jika Aidan akan bertingkah seperti itu. Entah apa yang terjadi kepadanya. Maaf!" Zayan mengeratkan pelukannya pada tubuh langsing Keysa. Ia sungguh tidak menyangka akan menemukan Keysa secepat ini.
Setelah puas mengutarakan perasaan masing-masing, Zayan melepaskan rangkulannya pada tubuh Keysa lalu beralih menatap Xanteus. "Kenapa kita muncul di tempat ini, Xanteus? Pasti ada alasannya, 'kan?"
"Ya, Tuan. Aku rasa aku tahu kenapa kita, bahkan aku sendiri selalu muncul di tempat ini begitu menggunakan Vinculum Membranis. Benda ini ada sepasang. Aku rasa Vinculum Membranis yang satunya lagi ada di bangunan ini," ucap Xanteus.
Zayan terlihat berpikir sejenak, lalu suara Keanu mengejutkannya. "Ayo masuk. Lebih baik bicara di dalam daripada di tempat terbuka seperti ini!"
Zayan menatap Keanu, lalu senyum miring tersungging di bibirnya. "Kamu yang semalam!"
Keysa meringis mendengar perkataan Zayan. Sepertinya Zayan melihat semua yang dilakukan Keanu dan dirinya di perkebunan mawar semalam.
"Ada apa? Kamu menyesal?" tanya Zayan begitu mendengar keluhan yang keluar dari bibir Keysa. "Tenang saja, cantik. Dandelion itu bisa menari. Kamu akan membayarnya padaku!"
Bersambung.