
"Keluarlah, Zein," Zayan berteriak.
"Oh, hai, Zayan. Sedang apa kamu di sini?" tanya Zein dari atas kuda yang ditungganginya.
"Aku hanya sedang berpatroli," jawab Zayan. "Kamu sendiri sedang apa di sini? Tidak biasanya kamu datang ke sini, Zein."
"Oh, itu. Aku sedang mengikuti kupu-kupu ini. Kamu tahu 'kan wanita yang ada di tenda kita. Sejak beberapa hari yang lalu aku menggunakan sihirku untuk mencari keberadaan keluarganya, tetapi tidak sekali pun aku menemukan keluarganya. Seolah wanita itu hidup sebatang kara di sini. Gerombolan kupu-kupu itu tidak bereaksi beberapa hari yang lalu saat aku meminta petunjuk di mana keberadaan keluarga wanita itu, tapi hari ini mereka bergerak menuju padang dandelion ini. Padahal hanya ada kamu seorang di sini." Zein menjelaskan panjang lebar, lalu ia menyipitkan matanya. "Apa jangan-jangan kamu memiliki hubungan dengan wanita itu tetapi kamu tidak mau mengatakannya kepadaku dan Aidan!" tebak Zein.
"Tidak! Aku bahkan tidak mengenal wanita itu," sanggah Zayan.
"Lalu kenapa kupu-kupu ini datang kemari, tidak ada siapa pun di sini--"
"Ada aku di sini." Keysa memutuskan untuk menampakkan dirinya di hadapan Zein. Mendengar percakapan antara Zein dan Zayan membuatnya penasaran, wanita siapa yang dimaksud oleh Zein.
Zein membelalak melihat Keysa. "Kamu manusia!" serunya. "Aha, Sekarang semuanya menjadi masuk akal. Sepertinya wanita itu juga seorang manusia, aku yakin sekali."
"Boleh aku menemuinya?" Keysa tiba-tiba saja memiliki firasat bahwa wanita yang dimaksud Zein adalah ibunya. Memang terdengar tidak masuk akal, tetapi apa yang selama ini ia alami pun tidak ada yang masuk akal. Barangkali ibunya tersesat di tempat ini dan tidak bisa kembali.
"Tentu. Barangkali saja kamu mengenalnya." Zein mengulurkan tangannya ke arah Keysa dan kemudian melirik ke arah Zayan untuk meminta persetujuan agar ia diperbolehkan membawa Keysa bersamanya.
Zayan menepiskan tangan Zein dengan kasar. "Dia akan pergi denganku."
"Ah, sayang sekali. Padahal baru kali ini aku melihat manusia yang sangat cantik," keluh Zein, masih terus menatap Keysa dengan tatapan kagum.
"Dia milikku, kamu jangan berani macam-macam." Zayan kemudian menarik tangan Keysa menuju kudanya. Dengan hati-hati Zayan membantu Keysa naik ke atas pelana kuda yang akan membawa mereka menuju barak. "Kenapa pipimu merah begitu? Apa kamu tersanjung karena dia mengatakan bahwa kamu cantik," tanya Zayan, terlihat sedikit kesal.
"Bukan begitu." Keysa menjawab sambil membuang muka.
"Lalu?"
"Aku tersanjung karena kamu mengatakan bahwa aku adalah milikmu." kali ini ganti wajah Zayan yang terlihat merona.
"Kamu memang milikku. Mau bagaimana lagi," bisik Zayan di telinga Keysa.
Setelah mengatakan itu, mereka langsung berkuda menuju pedesaan, di mana tenda-tenda prajurit terpasang dengan kokoh.
Zein mengikuti mereka dari belakang, sesekali pria itu membuat posisi kuda mereka sejajar. Hal itu ia lakukan agar dapat melihat dan tersenyum kepada keysa.
Setibanya di barak, Zayan segera turun dari kudanya lalu membantu Keysa untuk turun juga. Beberapa prajurit yang ada di luar tenda terlihat penasaran dengan sosok Keysa. Mereka menatapnya penuh selidik, membuat Keysa merasa tidak nyaman dan tidak aman karena beberapa dari mereka jelas sekali terlihat tidak ramah.
"Jangan terlalu ditanggapi. Wajar jika mereka semua terlihat curiga!" ujar Zayan yang melihat ketidaknyamanan di mata keysa.
Zayan menoleh ke Keysa yang berjalan di sebelahnya degan wajah ketakutan. "Ribuan tahun kami berperang, Key, wajar sekali jika mereka bersikap hati-hati dengan orang yang baru mereka temui."
Keysa menutup mulut dengan tangannya. "Ribuan!" serunya, terlihat benar-benar terkejut.
Zayan hanya mengangguk lalu menuntun Keysa untuk masuk ke dalam tenda di mana wanita misterius itu berbaring selama beberapa hari.
Aidan yang sedang duduk di samping wanita itu tersenyum saat melihat kehadiran Zayan dan Zein, tetapi sejurus kemudian ia segera bangkit dan menarik pedang yang ia sarungkan di punggung, lalu mengarahkan pedang itu ke arah Keysa.
"Siapa dia, Zayan?"
***
Sementara itu di dunia nyata terjadi hal yang sangat membuat Keanu, Amelia dan Dinda ketakutan.
Keanu masih mencoba menggosok telapak tangan gadis yang berbaring di hadapannya, sesekali ia menepuk pipi gadis itu, berharap agar gadis itu sadar dan balas menatapnya.
"Bagaimana ini, Kak?" Dinda terisak di samping tubuh saudarinya yang tidak bergerak sama sekali. "Ini sudah dua hari?"
Amelia memeluk Adinda yang terlihat sangat khawatir. Bukan hanya Adinda yang merasa seperti itu, dirinya pun sama, ia merasa sangat khawatir karena Keysa sudah dua hari ini tidak sadarkan diri, tetapi Amelia berusaha menyembunyikan rasa khawatir itu. Ia harus tegar demi Adinda yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
"Tenanglah, Dinda. Kesya pasti sadar!" Amelia berusaha meyakinkan Adinda dan dirinya sendiri. Ia segera mendekat ke arah Keysa, lalu mengoles minyak kayu putih pada hidung gadis itu, benar-benar berharap bahwa Keysa akan sadar kali ini.
"Mel, bagaimana caranya datang ke tempat yang beberapa waktu lalu kamu katakan kepada Keysa. Ba-bagaimana agar aku bisa ke sana, Mel? Ini sudah dua hari Keysa tidak sadarkan diri. Jika begini terus bisa-bisa dia benar-benar tidak akan kembali!" Mata Keanu mulai berkaca-kaca. Sungguh dirinya tidak menyangka jika tempat yang Keysa ceritakan kepadanya beberapa hari yang lalu itu memang ada dan Keysa sering mengunjungi tempat itu saat sedang tertidur.
"Kita tidak bisa datang ke sana begitu saja, Ken. Harus ada yang memanggil kita ke sana. Setidaknya ada yang berharap kita hadir di sana."
Keanu mendekatkan wajahnya pada wajah Keysa dan berbisik di telinga gadis itu. "Kembalilah, Key, plis kembalilah!"
Setelah mengatakan itu Keysa tiba-tiba membuka matanya. Dengan satu tarikan napas yang panjang, Keysa segera bangkit untuk duduk sambil memegang dadanya. Air mata mulai menetes dari sudut mata indahnya.
Melihat Keysa sadar, sontak Adinda dan Amelia menghambur ke dalam pelukan Keysa. Keysa hanya diam saja, masih terus menekan dadanya dengan tangan.
Melihat hal itu Keanu yang juga merasa bahagia akan kesadaran Keysa segera bertanya, "Ada apa, Key? Apa yang terjadi? Kamu baik-baik saja, 'kan?"
"Dia menusukku! Dia menancapkan pedangnya di sini!" Keysa menunjuk bagian dadanya dengan syok. Matanya melotot, terlihat sekali ketakutan dan kebingungan.
Dinda dan Amelia menjauh saat melihat keanehan pada diri Keysa. Namun, tidak demikian dengan Keanu, pria itu mendekat dan menarik Keysa ke dalam pelukannya. "Tidak apa-apa, Key, ada aku di sini. Sungguh, tidak apa-apa. Kamu baik-baik saja sekarang!"
Bersambung.