THE SECRET OF LOVE IN THE DANDELION

THE SECRET OF LOVE IN THE DANDELION
PENCARIAN



Zein menggerutu saat memasang pelana pada kudanya sebelum mulai menunggangi kuda itu menuju Solis Kastil. Setelah perdebatan panjangnya dengan Aidan tentang perlu tidaknya mereka mengawasi padang Dandelion yang berada di dalam hutan, akhirnya mereka memutuskan bahwa Aidan akan terus berada di sana hingga batas waktu yang tidak ditentukan, sementara Zein yang pergi untuk mencari tahu tentang Vinculum Membranis.


Zein sudah mengatur rencana untuk penyelidikannya. Ia akan mulai bertanya pada para petugas yang mengawasi bagian barang bersejarah yang ada di Solis Kastil juga mengecek daftar barang-barang yang pernah dibuat oleh Tribus Mageía. Karena jelas sekali cara kerja Vinculum Membranis sangatlah tidak masuk akal. Sesuatu yang tidak masuk akal seperti itu biasanya hanya dibuat oleh penduduk dari daerah asalnya yang kebanyakan merupakan seorang penyihir.


Setelah memastikan pelana kudanya terpasang dengan baik, segera ia menunggangi kuda tersebut dan memacunya dengan cepat menuju pusat pemerintahan Flos Terra--Solis Kastil.


Perjalanan menuju Solis Kastil dari Hutan Hitam lumayan memakan waktu. Zein harus melewati lembah Vallis Amoris yang ditumbuhi dengan tanaman rambat berwarna merah muda. Lembah itu merupakan tempat paling terkenal kedua setelah padang Dandelion. Bukan karena keindahannya, tetapi karena cerita di balik lembah itu. Lalu Zein juga harus melewati perkampungan yang diduduki oleh penduduk dari Tribus Hiems, yang jumlahnya sudah tidak banyak lagi di Flos Terra, mungkin karena penduduk dari Tribus Hiems sangatlah menjaga kemurnian suku mereka, sehingga banyak dari mereka yang tidak menikah dan akhirnya jumlah kelahiran pun jarang sekali terjadi pada suku itu. Maklum saja, pada Tribus Hiems jumlah wanita sangat sedikit.


Setelah hampir setengah hari Zein memacu kudanya, akhirnya ia tiba di Solis Kastil. Pria itu segera meregangkan tubuhnya begitu turun dari kuda. Sebenarnya ia bisa saja menggunakan sihir agar lekas tiba di Kastil tersebut, tetapi ia memilih untuk tiba dengan cara yang normal. Toh, sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kaki di kastil itu. Sehingga kedatangan secara normal dianggapnya sebagai bentuk penghormatan kepada seluruh penghuni Kastil suci itu.


Dua orang penjaga berpakaian besi dan memegang masing-masing sebilah pedang ditangan datang menghampiri Zein. Dengan tatapan tajam kedua penjaga itu memindai tubuh Zein dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Ada keperluan apa?" tanya salah seorang penjaga.


"Aku akan masuk--"


"Prajurit biasa dari perbatasan dilarang untuk menginjakkan kaki di sini," ucap penjaga itu lagi, memotong perkataan Zein.


Zein tertawa mendengar pernyataan penjaga itu. "Kalian baru bertugas di sini atau bagaimana? Kenapa kalian tidak ada yang kenal denganku."


Dahi kedua penjaga itu terlihat berkerut, sepertinya mereka berdua sedang berpikir apakah Zein termasuk prajurit yang penting sehingga mereka harus mengenalnya.


"Tidak apa-apa jika kalian tidak mengenaliku. Izinkan saja aku masuk, oke!" Zein kemudian melangkah menuju gerbang melengkung yang merupakan pintu masuk Kastil tersebut.


Namun, Lagi-lagi kedua penjaga itu menghalanginya. "Tunjukkan identitasmu kalau begitu."


"Ayolah, aku tidak ingin pamer!" ujar Zein. Sebenarnya mudah saja bagi Zein untuk memberi tahu siapa dirinya sebenarnya, akan tetapi Zein tidak ingin melakukan hal itu. Sudah sejak lama ia berusaha membuang gelar 'Putra Raja' dari dirinya. Tidak ada alasan khusus sebenarnya selain fakta bahwa sang ayah tidak terlalu peduli pada ibunya. Walaupun sang Raja memang memiliki hak untuk itu, karena raja memiliki banyak selir. Akan tetapi, Zein merasa sedih setiap kali mengingat sosok ibu yang merindukan kehadiran seorang suami.


"Ada apa ini?" Seorang wanita cantik dengan gaun berwarna putih dan pada rambutnya terdapat beberapa kelopak bunga datang menghampiri Zein dan beberapa prajurit  yang berjaga.


"Hai Azalea." Zein menyapa wanita Bergaun putih tersebut.


Melihat Zein berada si Solis Kastil sungguh membuat Azalea terkejut. Ia segera menghampiri pria itu dan membungkuk serendah mungkin sebagai bentuk penghormatan pada Zein. Walaupun mereka berteman, tetapi Zein merupakan putra raja.


"Ah, jangan lakukan itu, Azalea." Zein berdesis.


"Senang mengetahui bahwa kamu masi Zein yang dulu. Zein yang rendah hati dan sederhana." Azalea terseyum, ia lalu menatap kedua penjaga yang berdiri di samping kanan dan kiri Zein. "Apa yang kalian lakukan. Beri hormat! Dia adalah Zein, putra dari Rex Regum."


Mendengar perkataan Azalea, kedua penjaga itu terkejut, dan wajah mereka berdua seketika menjadi begitu pucat.


"Maafkan kami, Tuan, maafkan kami yang bodoh ini karena tidak mengenali Anda!" Keduanya lantas membungkuk serendah mungkin.


Zein menepuk kedua punggung penjaga itu yang berlapis baju besi. "Sudahlah, jangan berlebihan. Kalian bekerja dengan sangat baik karena tidak mengizinkan sembarang orang masuk ke dalam kastil. Memang seharusnya seperti itu, 'kan?" Zein terkekeh.


"Terima kasih, Tuan," ujar kedua penjaga, lalu memberi jalan agar Zein dapat memasuki kastil.


Zein melewati kedua penjaga dan bergabung dengan Azalea, kemudian keduanya berjalan menyusuri lorong-lorong panjang menuju ruangan tempat Azalea bekerja.


"Apa yang membawamu ke sini setelah ratusan tahun, Zein? Tidak mungkin kedatanganmu kemari untuk menjenguk ayahmu, 'kan?"


Zein menggeleng. "Ya, tentu bukan untuk itu alasanku datang kemari. Untuk apa juga aku menemui seorang ayah yang tidak pernah mencari keberadaan putranya yang melarikan diri dari Kastil. Aku datang untuk alasan lain, Lea, Apa kamu tahu kabar tentang hilangnya Zayan?"


Azalea mengangguk. "Ya, aku tahu. Apa kamu menemukan petunjuk di mana pria sialan itu sekarang berada?"


Zein mengerutkan dahi mendengar Azalea menyebut Zayan dengan sebutan pria sialan.


"Maaf, aku kelepasan." Azalea menanggapi ekspresi tidak setuju di wajah Zein, bagaimana pun juga Azalea tahu jika Zein memang sangat menghormati Zayan. "Tapi dia memang sialan menurutku. Sehari sebelum dia dikabarkan menghilang, dia datang menghampiriku dan bertanya bagaimana caranya agar dirinya dapat keluar dari Floss Terra."


"Benarkah?"


"Ya, benar."


"Lalu, apakah kamu memberitahu bagaimana caranya?" Zein bertanya.


"Tentu tidak. Memangnya ada caranya? Jika ada, mungkin para rakyat di Floss Terra akan berhamburan ke dunia luar karena merasa bosan. Kamu tahu kan beberapa manusia terlihat sangat rupawan di luar sana, alih-alih memanggil manusia-manusia itu ke dunia kita, menculiknya langsung dari dunia manusia akan lebih mudah, bukan? Aku yakin jika ada jalan untuk keluar dari sini, pasti banyak pria dan wanita yang pergi ke dunia manusia untuk mencari kekasih."


Zein tersenyum pahit. "Kamu benar. Jadi, memang tidak ada caranya, tapi bagaimana bisa Zayan keluar dari sini?"


Azalea mengangkat bahunya dengan ragu. "Jujur saja aku masih berpikir bahwa dia tidak keluar dari sini. Mungkin dia sedang bersembunyi di suatu tempat karena merajuk, tapi jika memang dia pergi dari sini, hanya ada satu cara ... ah, tapi mustahil sekali." Azalea terlihat bimbang.


"Cara apa? Tidak ada yang mustahil, Lea, katakan saja padaku." Zein terlihat begitu bersemangat.


"Perkamen ajaib itu. Perkamen yang dapat membuat seseorang berpindah tempat."


"Vinculum Membranis," desis Zein.


Azalea menjentikkan jari. "Ya, itu dia. Aku tidak tahu apakah benda itu memang ada, tapi jika pernah ada berita yang beredar tentang benda itu, aku yakin jika benda itu pastilah pernah ada jauh sebelum kita lahir, atau mungkin saat kita semua masih kecil, entahlah."


Zein terlihat semakin bersemangat, karena ia menemukan seseorang yang sependapat dengan dirinya. "Zayan pasti ke dunia manusia dengan benda itu. Sebelum Zayan memutuskan untuk pergi, sebenarnya dia bertengkar dengan Aidan karena seorang gadis manusia."


Azalea mengernyitkan dahi. "Gadis manusia?"


Azalea menyentuh pelipisnya, ia terlihat sedang berpikir keras. setelah beberapa saat ia kemudian berkata, "Aku akan mencari tahu tentang benda itu. Para tetua dari tribus Mageía pasti tahu tentang benda itu, tidak mungkin tidak kalau memang benda itu pernah dibuat."


Zein mengangguk. "Ya, bantu aku Azalea."


***


Matahari mulai tenggelam. Membuat langit biru berubah menjadi kemerahan dengan guratan-guratan gelap yang terlihat indah.


Aidan masih berada di Padang Dandelion yang terletak di dalam Hutan Hitam. Memanjat salah satu dahan pohon tertinggi dan mengawasi batu besar yang sejak tadi tidak bergerak.


Aidan mulai merasa bodoh dan memikirkan perkataan Zein bahwa tidak ada gunanya mengawasi batu itu karena hanya membuang-buang waktu.


Sambil mendengkus kesal, Aidan turun dari pohon yang sejak tadi menjadi tempatnya untuk beristirahat dan mengawasi, kemudian ia mulai mencari jalan keluar dari Hutan Hitam.


Sementara itu, Xanteus yang sejak siang hari sudah meringkuk di bawah batu besar, segera keluar dari dalam batu begitu mendengar suara langkah kaki Aidan yang menjauh. Xanteus memang memiliki pendengaran yang tajam jika ia sedang dalam mode siaga.


Xanteus meregangkan tubuhnya yang lelah sejenak, sebelum ia kembali meletakan Vinculum Membranis di atas tanah dan menuliskan kalimat, ad socium tuum, yang artinya kembalilah ke pasanganmu.


Detik berikutnya tulisan di atas perkamen itu menyala dan menghisap tubuh Xanteus yang berdiri di depan perkamen hingga tubuh Xanteus tidak lagi terlihat di padang dandelion.


Tulisan di atas perkamen perlahan mulai menghitam, seperti terbakar dan perlahan menghilang tak berbekas. Seharusnya saat tulisannya menghilang, perkamen itu juga menghilang, menyusul si empunya yang tadi menuliskan kalimat di atas perkamen ajaib itu. Namun, kali ini hal itu tidak terjadi. Tangan Aidan lebih cepat, ia meraih perkamen itu dari atas rerumputan dan meremasnya.


"Inikah Vinculum Membranis." Aidan berguman.


***


Xanteus tiba di atap gudang seperti biasanya. Tubuhnya yang besar jatuh begitu saja dari udara kosong dan menghantam dasar plafon dengan keras. Ia meringis, lalu bangkit berdiri dengan perlahan dan menunggu Vinculum membranis muncul. Tetapi setelah beberapa ssaat menunggu enda itu tidak muncul, Xanteus malah melihat sebelah tangan muncul di udara, dan saat itulah Xanteus tahu bahwa ada seseorang di Floss Terra yang mengambil Vinculum Membranis.


Adinda, Amelia, Keanu, Zayan, dan Keysa yang saat itu sedang bersama-sama membersihkan gudang terkejut begitu mendengar bunyi debam yang begitu keras dari atas mereka.


"Itu pasti Xanteus." Zayan bergumam.


Tidak lama kemudian Xanteus turun melalui pintu tingkap yang terbuka.


"Tuan." Xanteus membungkuk hormat pada Zayan. "Ada yang ingin kukatakan pada Anda."


"Apalagi sekarang? Apa kamu kembali mencuri dari gudang penyimpanan senjata? Atau kamu mencuri dari tenda di perbatasan?" tanya Zayan.


Xanteus segera menggelengkan kepala. "Bukan, Tuan, bukan itu. Aku sudah berhenti mencuri. Mana mungkin aku melakukannya lagi sedangkan Anda ada di sini."


"Jadi, kalau Kak Zayan tidak ada di sini, Kak Xanteus pasti akan mencuri lagi. Benar, 'kan?" Adinda menimpali ucapan Xanteus.


"Tidak. Mana mungkin aku begitu." Xanteus terus mengelak.


Amelia dan Keysa sama-sama menyikut pinggang Adinda.


"Diamlah. Jangan pernah ikut campur urusan mereka," bisik Amelia.


"Benar, kalau mereka kesal, bisa-bisa kamu akan diubah menjadi katak." Keysa ikut berbisik di telinganya Adinda.


Adinda diam saja. Gadis kecil itu hanya mengerucutkan bibir, tanda bahwa ia tidak setuju dengan perkataan Keysa dan Amelia.


"Jangan takut-takuti dia. Ucapan anak kecil itu benar. Jika aku tidak ada, Xanteus pasti akan kembali mencuri." Zayan tertawa melihat ekspresi lucu di wajah Adinda. "Jadi, apa yang ingin kamu katakan?" Zayan beralih memandang Xanteus yang terlihat gelisah.


"Saudara Anda, Tuan Zein dan Tuan Aidan sedang mencari keberadaan Anda. Dari percakapan yang kudengar, saat ini sedang terjadi kehebohan di Solis Kastil. Kabar tentang kepergian Anda sudah tersebar luas, Tuan."


"Kalau begitu, pulang sajalah kalian berdua. Kembalilah ke dunia kalian sebelum mereka yang datang ke sini dan mengacau." Keanu yang sejak tadi fokus membersihkan lemari dari debu menimpali ucapan Xanteus.


Zayan tersenyum miring, ia tahu jika Keanu tidak menyukainya, itulah sebabnya Keanu memintanya untuk pergi. "Tenang saja, Ken, mereka yang tinggal di Floss Terra tidak akan bisa datang kemari, karena hanya Xanteus yang memiliki benda itu, benda yang dapat membuat kami berpindah tempat."


Xanteus terlihat gugup sekarang. Wajahnya menjadi pucat pasi dan tangannya gemetar.


"Sepertinya tidak lagi. Lihatlah, dia gemeteran." Keanu memandang Xanteus dengan tatapan tajam.


Zayan mengikuti arah pandang Keanu, dan benar saja, Xanteus terlihat gemetaran sekarang.


"Ada apa, Xanteus?"


"Tuan, begini. Saat aku kembali dari Floss Terra, Vinculum Membranis tidak ikut bersamaku. Maksudku adalah, benda itu tidak muncul di atas mejaku seperti biasanya."


Zayan mengernyitkan dahi. "Itu artinya?"


Xanteus diam sejenak, ia lalu memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya pada Zayan. "Benda itu ada yang mengambil."


"Lalu?"


"Itu artinya kita tidak bisa kembali ke Floss Terra, dan siapa pun yang mengambil benda itu, bisa datang kemari kapan saja."


Bersambung.