THE SECRET OF LOVE IN THE DANDELION

THE SECRET OF LOVE IN THE DANDELION
PERTARUNGAN ZAYAN DAN AIDAN



Zayan menahan pedang milik Aidan. Ia bahkan tidak peduli dengan tangannya yang mulai mengeluarkan darah. Bagaimana pun ia harus melindungi Keysa dari serangan mematikan  Aidan.


"Jangan lakukan, Aidan, jangan!" desis Zayan, dengan sorot mata memohon.


"Jangan lakukan apa tepatnya? Aku sudah melakukannya!"


Mendengar perkataan Aidan, sontak Zayan menoleh ke belakang, di mana Keysa tadi masih berdiri dengan wajah tegang saat melihat Aidan menarik pedang panjang dari balik punggungnya. Saat Zayan mendapati Keysa sudah tidak ada di belakangnya dan ujung pedang Zayan terlihat berlumuran darah, seketika itu juga kemarahan merayapi dada Zayan.


"Kenapa kamu lakukan!" Zayan berteriak, di saat bersamaan mencabut pedang yang ia sarungkan dipunggungnya dan menyerang Aidan tanpa peringatan.


Zein yang berdiri di antara mereka menahan serangan Zayan dengan pedangnya sendiri tepat waktu, sebelum sabetan pedang itu mengenai Aidan.


"Jangan lakukan, Zayan. Bagaimana pun dia Putra Mahkota!" ujar Zein dengan suara pelan.


"Persetan dengan Putra Mahkota. Sialan kamu Aidan. Keysa sungguh bukan orang jahat!" Zayan kembali mengayunkan pedangnya ke arah Aidan. Kali ini Aidan telah bersiap untuk melawan serangan dari Zayan.


Mereka berdua kemudian bertarung, saling menyerang satu sama lain hingga keluar dari dalam tenda. Beberapa prajurit yang berada di luar tenda segera menyingkir untuk menyelamatkan diri mereka sekaligus memberikan ruang bagi Zayan dan Aidan


Siapa yang tidak tahu tentang ketangguhan kedua saudara itu. Zayan dan Aidan merupakan yang terhebat di antara mereka semua. Tidak terlalu mengherankan mengingat bagaimana latar belakang kedua prajurit itu. Namun, kejadian yang sedang tersuguh di hadapan mereka inilah yang membuat seluruh prajurit terheran-heran. Bagaimana bisa Zayan dan Aidan yang selalu kompak tiba-tiba saja saling menyerang dengan brutal?


Tidak ada satu prajurit pun yang berani untuk menghentikan pertarungan antara Zayan dan Aidan, kecuali Zein. Sesekali Zein melibatkan diri untuk melindungi  jikalau salah satu dari mereka terlihat akan terkena serangan. Terkadang ia menahan pedang Aidan yang hampir saja mengenai Zayan dan begitu juga sebaliknya.


"Mari sudahi ini!" Zein kali ini menahan pedang Zayan yang hampir saja menebas tangan Aidan.


"Jangan halangi aku!" Zayan berteriak kepada Zein, sebelum akhirnya ia kembali mengayunkan pedangnya ke arah Aidan.


Aidan tersenyum sinis dan balas megayunkan pedangnya ke Arah Zayan.


"Tidak ada cara lain," desis Zein. Kemudian  pria itu menutup matanya dan mulai berkonsentrasi untuk melakukan sesuatu yang ia harap dapat menghentikan pertarungan antara Zayan dan Aidan.


Zein memang tidak terlalu pandai bertarung. Pria itu hanya pandai memanah dan tentu saja melakukan sihir. Sihir Zein sangatlah kuat dan tidak ada yang bisa menandinginya. Terlebih lagi ia terlahir dari seorang ibu yang merupakan wanita dari suku mageía yang terkenal akan kekuatan sihirnya. Sehingga tidak sulit bagi Zein untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan prajurit lain.


Zayan dan Aidan masih saling mengayunkan pedang. Ketika tiba-tiba saja langit terlihat menghitam. Bukan dikarenakan oleh awan mendung atau pun tenggelamnya matahari, tetapi ada ribuan atau bahkan puluhan ribu kupu-kupu yang berterbangan di atas mereka. Tidak lama kemudian ribuan kupu-kupu itu terbang semakin rendah dan mulai memenuhi udara kosong di sekitar Zayan dan Aidan.


Di Flos Terra, kupu-kupu bukan hanya sekadar kupu-kupu. Kupu-kupu sangat dihormati dan tidak ada satu pun yang berani untuk melukai binatang bersayap indah itu.


Zayan dan Aidan sontak menghentikan pertarungan mereka. Mereka takut jika pedang mereka akan melukai kupu-kupu yang beterbangan begitu anggun di hadapan mereka.


"Pasti ulahmu!" Aidan mendelik kesal kepada Zein, begitu juga dengan Zayan. Zayan bahkan berusaha melayangkan tinjunya ke arah Zein, tetapi Zein terlihat santai. Pria itu malah tertawa sambil menyatukan kedua tangan sebagai bentuk  permintaan maaf.


***


Serangan manis dari kupu-kupu itu terjadi hampir setengah jam. Waktu yang cukup untuk mendinginkan kepala Zayan dan Aidan.


Setelah Zein merasa kedua saudaranya itu tidak lagi saling dikuasai amarah, maka dengan cepat Zein memerintahkan ribuan kupu-kupu itu untuk pergi dari hadapannya.


Secepat datangnya, kupu-kupu itu pun segera menghilang dari pandangan.


"Mari bicarakan baik-baik!" Zein segera menahan tangan Zayan dan Aidan yang terlihat akan kembali mengayunkan pedang.


Melihat kesungguhan di mata Zein yang tidak menginginkan pertarungan kembali terjadi, Zayan segera menyarungkan pedangnya dan melempar tatapan sinis ke arah Aidan.


"Tidak perlu, Zein. Aku harus ke padang Dandelion sekarang!" ujar Zayan, lalu ia segera berlari menuju kudanya dan menunggangi kuda itu dengan cepat.


"Berhati-hatilah, Zayan!" teriak Zein.


Aidan berdecak melihat tingkah Zein yang menurutnya sangat berlebihan. "Dasar penjilat!" gumamnya sambil kembali berjalan menuju tenda.


Zein yang mendengar gumaman Aidan segera mengambil busur dan anak panah dari punggungnya dan kemudian mengarahkan anak panah itu ke arah Aidan. Beberapa prajurit yang melihat aksi Zein segera saja menjadi berisik. Mereka pikir Zein akan memanah sang Putra Mahkota itu, padahal tidak.


Aidan  menghentikan langkahnya begitu  sebuah anak panah meluncur melewatinya dan berhenti tepat di depan kakinya. Ia mencabut anak panah yang tertancap di atas tanah lalu menoleh ke belakang.


"Apa maumu?!" tanyanya pada Zein yang masih memegang busur di tangannya.


"Mari kita bicara mengenai Keysa!"


"Keysa?" Aidan terlihat bingung.


"Ya, Keysa. Gadis tidak bersalah yang kamu lenyapkan tadi!"


***


Zayan menunggangi kudanya dengan sangat cepat menuju portal di mana ia biasa bertemu dengan Keysa. Pria tampan itu bahkan tidak peduli dengan darah yang terus keluar dari telapak tangannya, membuat tali kekang kuda yang ia tunggangi menjadi basah bersimbah darah.


Zayan tidak peduli akan rasa sakitnya sendiri, karena ia tahu bahwa Keysa sekarang pasti sedang kesakitan juga. Berbagai macam pertanyaan muncul di dalam kepalanya. Bagaimana keadaan Keysa? Seberapa parah lukanya? Apakah gadis itu mampu bertahan? Dan yang paling membuat Zayan merasa sangat terpukul adalah pertanyaan 'Apakah Keysa masih hidup sekarang?'


Zayan tahu betul bagaimana kekuatan Aidan saat menyabet atau pun menusuk lawannya dengan pedang. Tidak ada yang bisa lolos dari maut  begitu saudaranya itu mengayunkan pedangnya.


Ia hanya berharap bahwa tejadi sebuah keajaiban. Ia sungguh berharap tusukan pedang itu hanya membuat Keysa kembali ke alamnya, bukannya mati seperti korban pedang Aidan lainnya.


Ya, semoga begitu!


Sesampainya di padang Dandelion, Zayan segera turun dari kudanya dan berlari menuju batas tak kasat mata antara dunianya dan dunia Keysa. Ia melangkah sedekat mungkin dengan perkebunan bunga mawar yang terlihat dari dunianya. Hanya perkebunan itulah yang dapat ia lihat, tidak ada tempat lain.


Seandainya ia dapat melihat kediaman Keysa dari tempatnya berdiri. Seandainya saja begitu. Seandainya!


Bersambung.