The Ruler's Widower

The Ruler's Widower
Rasa Khawatir Zeina



“Apa kamu menyesal menikah denganku?”


Sahira menatap wajah Filio, lalu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak akan menyesali keputusan yang aku buat.” Ucapan Sahira jelas berbanding terbalik dengan perasaannya, namun untuk saat ini ia tidak ingin memancing kemarahan Filio. Jika Filio bisa melakukan hal seperti ini, itu artinya nyawa Rangga juga akan terancam.


Sahira hanya ingin pria yang dia cintai bisa melanjutkan hidupnya. Kalau pun Sahira membiarkan Rangga mendekam di penjara ia yang akan merasa sangat kesepian dan tidak tega melihat keadaan Rangga. Sahira yakin ada sesuatu yang berhasil membuat Rangga berani menerima suap. Dan Sahira bertekad untuk mencari kebenarannya.


Filio menyimpan mangkuk sup yang kosong ke atas nampan. Ia membantu Sahira berbaring kembali. Entah dorongan dari mana Filio berani memberikan kecupan singkat di kening Sahira.


Sahira menatap manik Filio yang masih menunjukkan wajah datarnya. Padahal barusan suaminya itu dengan lancang mencium kening Sahira.


Saat ini Sahira tidak mau banyak berpikir untuk sikap aneh suami barunya itu. Ia ingin mengistirahatkan tubuh dan hatinya.


Filio menatap Sahira yang memejamkan matanya. Ia membuka jas kerjanya dan ikut berbaring di samping Sahira.


Tubuh Filio menghadap punggung Sahira, sebelah tangannya memeluk tubuh ramping Sahira. Filio meremas tangan Sahira seolah memberi kekuatan.


***


Sahira terbangun dari tidurnya karena mendengar suara Zeina. Kelopak mata Sahira menyipit untuk melihat ke arah pintu, yang terlihat hanya tubuh tegap Filio.


Saat di sekolah Zeina merasa resah saat jam pelajaran Sahira di gantikan oleh orang lain, ternyata setelah sampai di rumah Zeina mendapat kabar bahwa ibunya sakit.


“Papi, Zeina mau melihat keadaan ibu,” ucap Zeina dengan nada khawatir.


“Ibu sedang istirahat, Zeina boleh bertemu saat ibu bangun. Zeina bermain bersama Papi dulu, yuk kita ke taman belakang,” ajak Filio mencoba mengalihkan perhatian Zeina.


“Tapi ibu baik-baik saja kan Pi? ... Zeina takut ibu pergi seperti mami.”


Filio menyejajarkan tubuhnya dengan putri kesayangannya, ia memeluk tubuh Zeina dengan erat.


Zeina terisak di pelukan Filio. Ia takut jika kehilangan Sahira, Zeina merasa senang Sahira menjadi ibunya. Meskipun selama ini Zeina tidak pernah menunjukkan rasa sedihnya karena tidak memiliki ibu, tapi jika malam tiba dan ia merindukan sosok ibu, Zeina sering menangis sendirian sambil memeluk foto Razita.


Hati Sahira tersentuh saat mendengar Zeina menangis karena khawatir. Ia merasa menjadi seorang ibu yang di sayangi anaknya.


Entah kekuatan dari mana Sahira bisa bangun dan berdiri. Ia berjalan dengan tertatih karena bagian pahanya sempat terkena cambukkan Filio.


Mata Zeina berbinar saat melihat tubuh Sahira ada di depannya. Zeina melepaskan pelukannya, dan menghampiri Sahira.


Saat Zeina memeluk kaki Sahira, Filio dapat melihat istrinya menahan rasa sakit.


“Zeina senang melihat ibu baik-baik saja,” ucap Zeina tanpa melepaskan pelukannya.


“Ibu baik-baik saja, hanya kelelahan karena tadi ibu terpeleset jatuh.”


Zeina melepaskan pelukannya. Wajahnya menengadah melihat wajah Sahira. “Kening ibu kenapa?”


“Saat jatuh kepala ibu membentur meja, tapi tidak apa-apa ko. Ibu kan kuat,” Sahira mengangkat kedua tangannya menunjukkan kekuatan otot-otot tangannya yang tidak terlihat.


Sahira terkikik geli. “Tapi ibu tidak punya otot kuat, hanya Papi yang punya. Tunjukan Pi.”


Filio mengangkat tubuh Zeina ke langit-langit. “Papi kuat kan, meskipun berat badan Zeina semakin bertambah.”


“Papi kuat, tapi kalau Papi tidak bisa mengangkat tubuh ibu itu tandanya papi belum pantas di sebut Papi Zeina yang hebat dan kuat.”


“Nanti akan Papi tunjukkan kalau ibu sudah sembuh,” jawab Filio. Ia menurunkan tubuh Zeina.


“Sekarang Zeina ganti pakaian dulu ya, ibu biar istirahat kembali. Agar cepat sembuh dan bisa menemani Zeina bermain.


***


Pria itu masuk ke dalam sebuah rumah yang memiliki dua penjaga di depannya. Penjaga tersebut memeriksa pria tersebut kalau-kalau ada benda tajam yang tersembunyi.


Kedua penjaga tersebut membiarkan pria tersebut masuk ke dalam. Pria yang mengenakan Hoodie hitam naik ke lantai dua. Bau alkohol yang menyengat membuat pria tersebut sedikit terganggu.


“Rangga, kemari!” seorang pria yang duduk dengan santai di temani dua wanita di sisi kanan dan kirinya memanggil pria berhoodie hitam.


Merasa dirinya di panggil pria tersebut duduk di hadapan temannya, ia menatap temannya. “Jack Aku butuh bantuan.”


Pria bernama Jeck menuangkan minuman untuk temannya. “Bantuan apa?”


“Istriku di paksa menikah oleh musuh bebuyutanku, tanpa sepengetahuanku. Aku ingin membawanya kembali padaku.” Rangga menerima segelas alkohol pemberian Jeck.


“Siapa musuhmu?”


“Filio Havelaar,” jawab Rangga. Ia mengeluarkan foto Filio dari dalam saku jaketnya.


Jeck menimbang-nimbang permintaan Rangga. “Dia bukan pria sembarangan, aku tidak bisa membantumu secara cuma-cuma .”


Rangga menyimpan cek di atas meja. “Aku rasa ini cukup.” Jack tersenyum simpul melihat bayaran yang ia dapatkan dari Rangga.


***


Sudah dua hari Sahira tidak masuk mengajar, hari ini ia memutuskan untuk kembali mengajar.


Pagi ini Sahira dan Zeina tidak di antar Filio. Karena semalam Filio melakukan perjalanan ke luar kota bersama Erik. Sebagai gantinya Sahira dan Zeina di antar sopir.


Sahira dan Zeina asyik berceloteh mengenai kegiatan melestarikan hutan yang akan di adakan beberapa hari lagi. “Zeina sudah tidak sabar, Bu.”


“Lusa kita, belanja perlengkapannya ya. Ibu akan minta ijin pada Papi.”


Mobil yang di Kendarai sopir berhenti di pinggir jalan, padahal jarak ke sekolah masih cukup jauh. “Kenapa Pak?”


“Bannya bocor, saya ganti dulu sebentar. Tidak akan lama,” sopir tersebut keluar dan mulai mengeluarkan peralatan untuk mengganti ban.


“Zeina tunggu di sini sebentar ya, Ibu mau ke sana dulu.” Sahira menunjuk supermarket yang tidak jauh dari mobil.


“Jangan lama ya Bu,” pinta Zeina.


Sahira mengangguk, ia keluar meninggalkan Zeina. Sahira berjalan menuju supermarket untuk membeli air mineral, tenggorokannya terasa kering.


Sahira menenteng tas belanja berisi air mineral dan beberapa camilan. Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di sampingnya. Satu orang pria turun dan memaksa Sahira untuk masuk.


Sahira hendak berteriak namun tatapannya bertemu dengan Rangga. Pria yang berada di sampingnya.


Sahira di impit oleh Rangga dan pria tadi yang mendorongnya. Sahira memejamkan matanya saat merasakan ada benda dingin yang menyentuh kulit lehernya.


“Rangga lepaskan, jangan membuat Filio murka,” ucap Sahira dengan nada frustrasi. Bagaimana pun juga Filio bukan tandingan Rangga. Ia takut akan terjadi hal buruk pada dirinya dan Rangga.


“Kamu tidak perlu khawatir sayang, sekarang kita aman. Kita bisa kembali bersama.” Rangga membelai pipi Sahira dengan lembut.


Rangga membekap Sahira dengan obat bius. “Kita ke bandara sekarang juga,” perintah Rangga.