
Sahira tidak bisa melupakan wajah malu sang dokter. Tangan Sahira mendorong kursi roda Filio menuju kamar. “Apa dia penghangat ranjangmu?”
Filio menengok ke belakang, “Apa maksudmu.”
“Dokter tadi tempat melampiaskan has’rat se’ksual mu?”
“Namanya Erika. Aku tidak punya banyak waktu untuk memikirkan ga’irah.” Apa yang di katakan Filio adalah sebuah kejujuran. Mengurus perusahaan dan membagi waktu untuk menemani Zeina cukup menguras waktunya.
“Benarkah? Kau tidak berhubungan badan dengan wanita mana pun. Tapi sepertinya dia sudah tidak malu-malu menciummu.”
“Memangnya kau malu-malu berada di bawahku, apa kau tidak lihat wajah bergai’rahmu itu saat bersamaku. Padahal hari itu aku membunuh suamimu!”
Rasanya Sahira ingin menoyor kepala Filio. Pria itu ahli dalam membuatnya kesal.
“Apa Rangga tidak mengajarimu cara berciu’man, ciu’manmu cukup buruk. Bahkan jika di bandingkan dengan Erika barusan ciu’manmu tidak ada apa-apanya.”
Sahira menghentikan langkahnya yang mendorong kursi roda Filio. Ia memutar kursi roda Filio hingga menghadapnya. “Karena sekarang aku istrimu maka ajari aku cara berci'uman yang baik.”
Sahira mencondongkan tubuhnya ke depan, hingga wajahnya berada tepat di depan Filio.
Filio menarik tengkuk Sahira hingga bibir mereka menempel. Filio memiringkan kepalanya, ia mulai melu’mat bibir tipis Sahira.
Sahira terdiam, ia tidak tahu harus melakukan apa. Bukannya mengajari Filio malah menikmati bibirnya, Sahira menarik diri.
“Apa yang harus aku lakukan, kamu belum memberitahu,” ucap Sahira dengan nada kesalnya.
Satu alis Filio terangkat. “Kau harus membalasnya, jangan diam saja.”
“Baiklah akan aku coba.” Sahira lebih dulu melahap bibir Filio.
Filio mulai bermain dengan bibir Sahira, ia menggigit bibir bawah Sahira.
Sahira kembali mendorong tubuh Filio. “Kenapa kau menggigitku.”
“Ah sudahlah aku capek mengajarimu, kau memang bodoh. Antar aku ke kamar!”
Sahira mendorong kursi roda Filio. “Kau memaki-maki aku tapi meminta bantuanku, pria tidak tahu diri.”
Filio mengabaikan omelan Sahira. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa menikah selama lima tahun tapi tidak pandai berci’uman. Dapat Filio pastikan selama berc’inta dengan Sahira Rangga lah yang lebih dominan.
Sahira mendorong kursi roda Filio sampai ke kamar mereka. Sahira dan Filio saling pandang. “Kamu tidak akan menyuruhku memindahkan tubuh kamu ke kasur kan?”
“Justru aku mau minta bantuanmu.”
Sahira tidak ingin pinggangnya encok. “Aku panggil Erik saja ya.”
“Erik tidak boleh masuk ke kamar ini!”
Sahira memilih duduk di pinggiran tempat tidur. “Kenapa, waktu itu Vira boleh masuk?”
Filio menyentil kening Sahira. “Seharusnya kamu yang bersihkan pecahan kaca!”
Sahira mengusap keningnya yang terasa sakit. “Kamu sudah menyiksaku lalu harus aku juga yang bersihkan?”
“Sudah jangan banyak bicara, cepat pindahkan tubuhku.”
Sahira melipat kedua tangannya di depan dada. “Kemarin saja waktu aku tembak kamu baik-baik saja, dan bisa berjalan.”
“Sekarang kamu harus bertanggung jawab, cepat bantu aku.”
“Tapi kamu harus berjanji tidak akan menyiksaku lagi.” Sahira membantu mengangkat tubuh Filio.
“Aku tidak bisa berjanji,” Filio hendak duduk ke tempat tidur, namun tiba-tiba Sahira melepaskan pegangannya. Tubuh Filio terdorong ke belakang hingga jatuh terjengkang.
Filio menjadikan tubuh Sahira sebagai tumpuan, ia berdiri lalu duduk di pinggiran tempat tidur. “Kamu mau membalas dendam?”
“Aku tidak sengaja, lagi pula jika aku balas dendam hanya mendorong tubuhmu tidak bisa di bandingkan dengan remuknya tubuhku.”
Sahira menunjuk keningnya yang memar akibat pukulan piring. “Ini, belum lagi ini,” Sahira menunjukkan lehernya yang di plester.
“Dan aku tidak bisa melupakan punggungku yang habis kau cambuk.”
Filio berdiri dan memeluk tubuh Sahira. “Maaf.”
Entah mengapa Sahira tersentuh mendengar permintaan maaf Filio. Ucapan Filio terdengar sangat tulus.
Sebuah ide brilian muncul begitu saja di kepalanya. “Aku akan memaafkanmu, jika aku di bebaskan untuk menata hidupku kembali.”
Filio melepaskan pelukannya. “Aku hanya meminta maaf. Tapi kamu belum bertanggung jawab atas kematian Zeina. Jika kamu ingin segera pergi, berikanlah aku keturunan.”
Tubuh Sahira luruh ke tempat tidur, keinginan Filio cukup sulit. “Padahal kamu masih muda, tampan, aku yakin masih banyak wanita yang mengantre meskipun kamu sudah menjadi duda sebanyak dua kali.”
“Aku tidak berniat untuk menikah lagi.” Filio merebahkan tubuhnya, ia memejamkan matanya. Sampai kapan pun Filio tidak berniat menikah lagi, luka yang di tinggalkan Razita cukup dalam dan membuatnya tidak mempercayai wanita selain ibu dan adiknya.
Sahira menggeser tubuhnya ke dekat kepala Filio. “Kenapa?”
Filio tidak menjawab, matanya terpejam dengan sangat tenang. Meskipun ia tidak tertidur.
Sahira ikut merebahkan tubuhnya, maniknya tertuju pada foto pernikahan Razita dan Filio yang berada di sebrang tempat tidur. “Kamu tidak menikah karena tidak bisa melupakan Razita?”
“Ternyata nasib kita sama, Razita pergi dan Rangga juga pergi karena kebodohanku," lanjut Sahira.
Filio membuka kelopak matanya, ia memiringkan kepalanya. “Rangga pergi karena kebodohannya!”
Sahira memiringkan tubuhnya menghadap Filio. “Kalau kamu tidak memasang bom, Rangga akan baik-baik saja.”
“Seharusnya kamu tidak menikah dengan Rangga.”
“Kenapa?”
“Dia pembunuh bayaran,” ucap Filio asal.
Sahira tidak setuju dengan ucapan Filio. Ia bangkit dan duduk menatap Filio dengan kesal. “Kamu seenaknya saja berbicara asal.”
“Kami teman di bangku sekolah dasar, jelas aku lebih tahu Rangga.”
Sahira tidak menyangka bahwa Filio teman Rangga. Tapi terasa aneh, mengapa Filio menghabisi Rangga jika mereka berteman. “Kalian tidak terlihat berteman, malah terlihat seperti bermusuhan.”
“Aku yakin dia tidak jujur padamu tentang Ayahnya.”
“Aku tahu ayahnya di rawat di rumah sakit jiwa.”
Filio ikut bangkit, menyandarkan tubuhnya pada dipan. “Tapi kamu tidak tahu penyebab Aditama menjadi gila.”
“Perusahaan Ayahnya Rangga mengalami kebangkrutan.”
Filio mengepalkan tangannya, ia merasa sangat marah pada Rangga yang berbohong pada istrinya sendiri. “Aditama memperkosa ibuku.”
Mulut Sahira ternganga saat Filio berjalan dengan santainya tanpa kursi roda hingga punggungnya menghilang di balik pintu.
“Apa dia sedang membohongiku?”
Sahira meninju angin, “Sial, sepertinya dia sengaja membuat aku kerepotan.”