The Ruler's Widower

The Ruler's Widower
Sisi Gelap Filio



Pagi hari Filio masuk ke dalam ruang makan di suguhkan pandangan tawa riang Zeina dan Sahira.


“Ibu jangan rasa coklat, Papi tidak suka,” protes Zeina saat Sahira memberikan selai coklat pada roti Filio.


“Benarkah Papi tidak suka selai coklat?” Tanya Sahira memastikan.


Zeina menggeleng sambil tersenyum, tangannya asyik mengolesi roti miliknya sendiri.


“Kalau begitu Zeina mau roti coklatnya?” Sahira menawarkannya. Seraya memberikan piringnya.


“Zeina dan Papi tidak suka selai coklat, buat ibu saja.”


Sahira menggigit bibir bawahnya, “Ibu juga tidak suka roti coklat.” Sahira menggelengkan kepalanya.


“Kalau kalian tidak suka coklat kenapa ada selai coklat di sini?”


“Om Erik yang suka selai coklat,” Zeina memakan roti selai miliknya.


“Ya sudah rotinya di simpan buat om Erik saja,” Sahira menyingkirkan piring tersebut dari meja Filio.


Zeina tertawa kecil. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Sahira. “Om Erik jarang ikut sarapan,” ucap Zeina berbisik sambil menahan tawa saat melihat wajah kebingungan milik ibunya.


“Kamu mengerjai ibu ya,” tuduh Sahira dengan tatapan penuh selidik.


Sementara Zeina tersenyum manis, tanpa merasa bersalah. Semua orang di sini tidak ada yang suka coklat, itu hanya pemanis saja di taruh kalau-kalau ada orang yang menginginkannya. Bahkan Erik pun tidak suka selai coklat.


Zeina tertawa saat tangan Sahira menggelitik perutnya. “Aaa ibu hentikan, ini geli.”


Filio berjalan mendekati Sahira dan Zeina. Reflek Sahira menghentikan aksinya. Ia kembali ke tempat duduknya di samping Zeina.


Manik Sahira sesekali mencuri pandang pada Filio. Pria itu Tampak dingin pagi ini, tidak sehangat semalam. Namun sepertinya Zeina terlihat biasa saja, bahkan ia makan dengan tenang seperti biasanya.


Sahira menghabiskan roti selainya lebih dulu. Lalu menuangkan susu untuk Zeina dan Filio.


Setelah selesai sarapan seperti biasanya Filio mengantar Zeina ke sekolah.


Sahira dan Zeina melambaikan tangan saat mobil Filio mulai menjauh. Sahira dan Zeina bergandengan tangan menuju sekolah. Mereka berpisah saat Sahira mengantar Zeina ke dalam kelas, sementara Sahira ke ruang guru.


Sahira merasa beruntung Filio membelikan seragam untuk kerja. Karena saat ini Sahira tidak memegang uang sedikit pun. Semua uangnya ada dalam rekening Rangga.


Sahira membuka tasnya mengeluarkan ponsel yang di berikan Filio pagi tadi. Ia menatap ponsel tipe terbaru yang harganya cukup fantastis bagi Sahira.


Entah mengapa Sahira merasa ada yang aneh, tiba-tiba saja Filio membelikan ponsel baru. Alih-alih mengembalikan ponsel lamanya, padahal di sana ada nomor-nomor penting. Tapi ya sudahlah, Sahira tidak ingin banyak bertanya.


Sebelum masuk ke dalam kelas Sahira membuka materi untuk mengajar. Namun suara ketukan di pintu ruang guru sedikit mengganggu, Sahira melirik sekilas dan terkejut saat mendapati Rangga berdiri di ambang pintu yang terbuka.


“Ibu Sahira bolehkah saya berbicara sebentar?”


Beruntung pagi itu di ruang guru tidak begitu ramai. Sahira berjalan menghampiri Rangga. “Ada perlu apa, aku tidak bisa bertemu denganmu lagi.”


“Sahira kita perlu bicara,” pinta Rangga dengan nada memohon.


Sahira berjalan keluar dari area sekolah. Menurutnya ini masalah pribadi, ia tidak bisa membawanya masuk ke lingkungan sekolah.


Setelah di depan gerbang Sahira berhenti dan menatap Rangga. “Aku tidak punya banyak, waktu.”


Meskipun Sahira bersikap dingin, tapi hatinya merasa tenang melihat mantan suaminya tampak baik-baik saja.


“Kamu harus berpisah dengan Filio. Dia bukan orang baik, dia menikahmu karena ingin membalas dendam padaku.”


Sahira cukup terkejut mendengar penuturan Rangga, namun dengan cepat ia mengubah raut wajah. “Jangan pernah menjelek-jelekkan Filio. Bagaimana pun juga sekarang dia suamiku. Dan aku tidak terima.” Sahira hanya mencoba membentengi dirinya. Semuanya tidak bisa di rubah, ia sudah terikat dengan Filio demi kebebasan Rangga.


“Kamu harus percaya padaku,” pinta Rangga dengan nada frustrasi. Ia tidak menyangka Sahira akan berubah secepat ini.


“Maaf aku tidak punya banyak waktu, apalagi hanya untuk mendengar ocehanmu.” Sahira melangkah untuk masuk ke area sekolah namun tangannya di tarik oleh Rangga.


“Aku belum selesai bicara, kamu harus mendengar semuanya.” Rangga bersikukuh, bagaimana pun juga ia tidak ingin wanita yang ia cintai masuk ke dalam perangkap Filio.


“Lepaskan Rangga,” pinta Sahira. Ia mencoba memberontak menarik tangannya.


Saat Rangga lengah Sahira menarik tangannya dan menghampiri Filio. “Ada barang Zeina yang tertinggal di dalam,” ungkap Filio.


Filio membuka pintu mobil, Sahira masuk di ikuti Filio yang duduk di sampingnya. Tanpa basa-basi Filio menarik pinggang Sahira dan mencium bibir tipis istrinya.


Mendapati perlakuan yang tidak terduga cukup mengejutkan Sahira. Jantungnya berpacu dengan cepat saat bibirnya merasakan isapan Filio. Tubuhnya membeku menerima cium*an tidak terduga dari suami barunya.


Filio melahap bibir Sahira dengan rakusnya, tangannya tidak tinggal diam. Ia meremas bukit kembar Sahira, saat mulut istrinya terbuka Filio mengambil kesempatan untuk memperdalam cium*an mereka.


Pandangan Erik lurus ke depan, ia tidak ingin memusingkan kegiatan Filio dan Sahira. Sementara Rangga yang menyaksikan wanita yang di cintainya bermesraan dengan pria lain membuat dadanya bergemuruh menahan sesak. Bagaimana pun Sahira adalah miliknya, Filio tidak berhak sedikit pun atas tubuh Sahira.


Rangga pergi dengan amarah yang membuncah. Rasanya ia ingin membuka pintu mobil Filio lalu memberikan pukulan pada bajin*gan tersebut. Namun itu bukan ide yang bagus, dirinya baru saja keluar dari penjara. Ia yakin Filio tidak akan tinggal diam jika Rangga pukul, pria itu pasti melapor pada polisi. Untuk saat ini Rangga berusaha mengalah, namun ia tidak akan tinggal diam. Rangga harus mengatur rencana untuk mengambil Sahira kembali.


Filio menarik diri untuk mengakhiri ciuman mereka. “Kembali ke rumah,” perintah Filio pada Erik.


Sahira diam seribu bahasa, kejadian barusan cukup mengejutkannya. Rasanya sangat aneh, berciuman dengan pria lain. Selama ini ia tidak pernah berhubungan intim dengan pria lain. Rangga adalah orang pertama yang berani menciumnya saat mereka berpacaran dulu.


Sahira menunduk, tangannya bertautan meremas satu sama lain. Entah mengapa ciuman yang di berikan Filio seolah bukan gairah, Sahira merasa seperti ada amarah di setiap lum*atan yang dilakukan Filio.


Sahira terheran saat Filio meminta Erik untuk kembali ke rumah, padahal seharusnya Sahira mengajar. Namun Sahira tidak berani bertanya, aura hitam yang di miliki Filio seperti menguar dengan jelas. Bahkan bayangan ancaman Filio yang memegang lehernya berhasil membuat Sahira sangat ketakutan.


Mobil yang di Kendarai Erik sudah sampai di kediaman Filio.


Sahira mengikuti langkah besar Filio menuju kamar, karena tangan Sahira di tarik oleh suaminya.


Filio membawa Sahira masuk ke dalam kamar, ia mengunci pintu kamarnya.


Tatapan yang menghunjam dari Filio membuat Sahira ketakutan, apalagi ia tidak bisa keluar karena pintunya di kunci.


Sahira memejamkan matanya, saat tubuhnya di dorong Filio hingga membentur tembok. Dagu Sahira terangkat ke atas saat tangan Filio menekan lehernya. “Kau tahu apa kesalahanmu?”


Leher Sahira tercekat, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Filio. Kepalanya menggeleng pelan, memberikan jawaban. Seringai iblis yang keluar dari bibir Filio berhasil meluluh lantakkan perasaan Sahira.


Tangan kiri Filio yang terbebas melepaskan dasi yang melingkar di kerah kemeja. Filio mengikat kedua tangannya Sahira dengan kencang.


“Filio apa yang kamu lakukan, lepaskan. Sakit,” rintih Sahira saat Filio mengikat simpul terakhirnya.


Punggungnya masih terasa ngilu, seakan tidak puas melihat penderitaan istrinya Filio mengikat kedua tangan Sahira dengan sangat kencang. Bahkan rintihan kesakitan yang keluar dari bibir tipis Sahira seperti tidak terdengar di telinga Filio.


Sisi gelap dalam tubuh Filio tidak terima mendengar panggilan Sahira yang lancang menyebut namanya.


Filio membanting tubuh Sahira ke marmer kamarnya, tanpa rasa belas kasihan.


Kepala Sahira berdenyut saat seluruh tubuhnya membentur lantai. Tangannya yang di ikat meraba keningnya yang terasa ngilu, Sahira cukup terkejut saat melihat darah pada jarinya setelah meraba keningnya.


“Filio hentikan apa yang kamu lakukan sangat keterlaluan, aku bisa melaporkanmu pada polisi.”


Bukannya takut Filio malah berjongkok menarik dagu Sahira agar menatapnya. “Lakukanlah jika kau bisa.”


Air mata Sahira meluncur, ia tidak menyangka Filio menghukumnya seperti ini. Ia sangat menyesal memilih menikah dengan pria gila seperti Filio.


“Lihat saja, kau akan membusuk di penjara!” Teriak Sahira dengan amarahnya.


Plak!


Pipi Sahira memerah karena tamparan Filio. “Ja*Lang sia*lan!”


Sahira berusaha menghilangkan rasa takut dalam dirinya, ia berusaha memberontak untuk mencari celah agar bisa melarikan diri. “Pria baj*ingan mati saja kau!” bibir Sahira bergetar menahan amarah.


***


Halo semuanya 😊


Gimana ada yang masih bingung sama jalan ceritanya, kalau iya tanyakan di kolom komentar ya.


Terima kasih sudah setia menanti kelanjutan cerita Filio. Sampai jumpa di bab selanjutnya.


Love you 💕💕💕💕