
Eduard berdiri tegap di hadapan Erik, sementara Rangga terbaring di atas ranjang dengan tangan yang ter borgol pada ranjang.
“Maaf Tuan, rencana kali ini gagal.”
Eduard mengeluarkan roko dan membakarnya. Entah mengapa nikotin berhasil meredam amarah dalam dirinya.
“Lalu bagaimana, apa aku bisa kembali bersama Sahira?” Rangga lebih dulu menyela sebelum Eduard berbicara.
“Kita lihat saja nanti,” sahut Eduard. Ia keluar dari ruangan tersebut di ikuti Erik.
“Kalian tidak boleh ingkar janji, bagaimana pun aku sudah mengikuti keinginan kalian,” cecar Rangga tidak terima. Ia sudah ikut adil dalam rencana Eduard dan Erik. Namun masih belum bisa kembali bersama Sahira.
Erik mengunci pintu kamar Rangga. Mereka berjalan ke bagian depan rumah. “Buat rencana yang lain ... usahakan jangan sampai Filio menghabisi Sahira. Aku tidak ingin anakku menjadi pembunuh lagi.”
Eduard menyesap dalam-dalam rokok yang terselip di antara jarinya. Ia membuangnya, menginjak bara rokok yang menyala hingga padam lalu masuk ke dalam mobil.
Setelah kepergian Eduard, Erik masuk ke dalam mobil, ia membanting pintu mobil cukup keras hingga menimbulkan bunyi. Seharusnya Erik membiarkan Sahira di sentuh oleh pria itu sedikit saja agar Filio murka.
“Dasar bodoh,” maki Erik kala teringat ancaman Rangga yang tidak mau mengikuti rencana mereka jika Sahira di sentuh pria lain.
***
Selama berjalan Sahira bergelayut manja pada lengan Filio.
Bibirnya tidak berhenti tersenyum kala kakinya melangkah menuju private room yang di pilih Filio.
Saat membuka pintu manik Sahira berbinar, ruangan yang tertutup dengan bagian langit yang terbuka. Bintang bertaburan di antara langit yang gelap.
Kaki Sahira menapaki kelopak bunga yang menuntun mereka pada meja yang berbeda di tengah ruangan.
Tangan Sahira menyentuh bucket bunga mawar yang berada di atas meja. “Perutku hanya lapar, kenapa kamu memesan ruangan ini?”
Filio menarik kursi untuk Sahira duduk. Setelah memastikan istrinya duduk dengan tenang Filio duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Sahira.
Sahira sedikit tersipu dengan tema romantis yang di pilih Filio. ‘Ah, kenapa pria gila ini bisa sangat manis.’
Langit gelap yang di hiasi taburan bintang yang gemerlap menemani makan malam Filio dan Sahira.
Meja tersebut sudah terisi penuh dengan pesan Sahira dan Filio.
“Kenapa diam saja, ayo makan. Katanya kamu lapar.”
Sahira mengangguk, kedua tangannya memegang garpu dan pisau. Ia mulai menikmati baked salmon.
Sahira melirik piring berisi steak milik Filio. Ia memotong salmon miliknya dan menyodorkannya pada bibir Filio. “Apa kamu tidak bosan makan daging, cobalah ini enak.”
Filio menerima suapan dari tangan Sahira. Ia mengunyah dengan perlahan.
“Bagaimana, enak?”
“Aku tidak terlalu suka ikan.”
Tangan Filio kembali memotong daging miliknya dan memasukkan pada mulutnya.
“Apa ada hubungannya dengan Razita? Saat itu kamu tidak makan oatmeal karena Razita.”
Filio menghentikan aktivitas makanya, ia menatap Sahira lekat-lekat. “Kenapa, kamu cemburu pada orang yang sudah mati?”
Kepala Sahira mengangguk meskipun seluruh perhatiannya tertuju pada makanan di piringnya. Sahira tidak ingin Filio tahu jika ia sedang berbohong, bagaimana bisa merasa cemburu jika Sahira tidak memiliki perasaan sedikit pun pada Filio. Ia hanya ingin membalas perbuatan Filio, membuatnya jatuh cinta dan mencampakkannya.
Kepala Sahira terangkat saat merasakan sentuhan di pipinya.
Filio membelai pipi Sahira dengan ibu jarinya. “Kamu tidak perlu cemburu, sayang.”
Sahira tidak bisa membedakan antara mimpi dan nyata. Apa yang di ucapkan Filio membuat Sahira kalang kabut, “Bagaimana bisa?” batin Sahira.
Sahira mengambil langkah cepat, ia bangkit dari duduknya. Berjalan menghampiri Filio. Tanpa permisi Sahira duduk di atas paha Filio.
Kedua indra penglihatan mereka saling menatap satu sama lain. Sahira lebih dulu menyambar bibir Filio.
Kedua tangan Filio melingkar di pinggang Sahira. Ia membiarkan bibirnya di lahap Sahira tanpa melawan.
“Aku sedang menilai gaya berci’uman kamu.” Filio menyambar bibir Sahira.
***
Sahira terbangun dari tidurnya, ia mendapati dirinya di ruangan yang tampak asing. Saat tubuh Filio keluar dari kamar mandi Sahira terkejut, ia menarik selimut sampai ke lehernya.
Kini Sahira ingat, semalam setelah acara ciuman. Mereka pergi ke hotel terdekat, memesan kamar beserta minum yang membuatnya mabuk.
Filio berjalan menghampiri Sahira. “Aku harus berangkat sekarang, kamu tidak apa-apa jika aku tinggal sendirian?”
“Aku tidak apa-apa, kamu boleh pergi.”
Sahira memejamkan matanya, saat Filio mengecup keningnya.
“Kalau begitu aku berangkat ya,” pamit Filio.
Sahira merasa ada debaran aneh di dalam dadanya. Namun ia tetap berusaha menampilkan senyum manisnya. “Hati-hati.”
Filio keluar dari kamar hotel, ia segera masuk ke dalam lift. Pagi itu lift cukup sepi, Filio keluar dari dalam lift. Basemen pagi itu cukup dingin Filio merapatkan jas yang di pakainya. Ia masuk ke dalam mobil dan mulai melaju membelah jalanan.
Filio memarkirkan mobilnya di tempat parkir sebuah resto dengan menu sarapan vegan.
Dari kejauhan seorang wanita melambaikan tangannya. Filio berjalan menghampiri dan ikut bergabung.
“Kamu tidak ingin sarapan?”
“Aku tidak bisa berlama-lama, jadi apa yang mau kamu bicarakan.” Filio melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit.
"Bagaimana ciuman kemarin, apa kamu merasakan debaran aneh?"
“Rasanya hambar. Aku sudah bilang beribu-ribu kali, sampai kapan pun kita hanya teman. Tidak lebih ... Dan jangan memaksaku untuk melakukan hal gila seperti kemarin.”
Genggaman Erika pada garpu di tangannya semakin erat. “Lagi-lagi kau menolakku.”
Filio bangkit dari duduknya. “Sampai kapan pun aku akan tetap menolakmu.”
Erika bangkit dari duduknya dan mengejar Filio. “Aku rasa Sahira belum tahu tentang kematian tragis yang di alami Razita.”
Langkah Filio terhenti. Tubuhnya berbalik dan menatap tajam Erika. “Memangnya kau tahu apa tentang kematian Razita?”
Erika berjalan mendekat, dan berbisik di telinga Filio. “Kamu membunuhnya.”
Erika tersenyum simpul. Ia melangkah pergi meninggalkan Filio untuk kembali ke mejanya.
Dari tempatnya Filio menatap sikap tenang Erika yang melanjutkan sarapan paginya.
Sementara di lain tempat Sahira telah selesai membersihkan tubuhnya. Ia harus pergi ke sekolah untuk mengajar, beruntung Filio sudah menyiapkan baju untuk Sahira kerja sehingga ia tidak perlu repot-repot pulang ke rumah. Sahira turun ke lobi untuk mencari kendaraan.
Ada taksi yang mengantar penumpang, Sahira masuk ke dalam setelah penumpang sebelumnya turun.
Saat masuk indra pendengaran Sahira di suguhkan musik kekinian dari radio. Sahira menyebutkan alamat sekolahnya.
Selama di perjalanan Sahira menikmati pemandangan jalan yang sedikit padat.
Lagu dari radio berhenti, di gantikan dengan suara penyiar. “Selamat pagi warga RA, kembali lagi bersama Saya Hadi ingin menyampaikan berita terbaru. Pagi ini seorang dokter cantik bernama Erika yang sukses di usia mudanya meninggal dunia karena henti jantung di sebuah resto.”
Sahira yang terkejut mengeluarkan ponselnya, ia mencari keakuratan berita yang di bawakan penyiar. Seluruh fokus Sahira terarah pada layar ponselnya yang menunjukkan foto Erika, wanita yang beberapa hari lalu berciuman dengan Filio.
Sahira tidak percaya dengan berita tersebut ia mencari sumber berita terpercaya namun hasilnya sama, foto yang terpajang wajah Erika.
Sahira menelepon Filio. Pada dering kedua panggilannya di terima oleh Filio. “Fio, apa benar Erika meninggal?”
“Iya, memangnya kenapa?” jawaban Filio dari telepon terdengar sangat datar.
“Aku ingin ikut bersamamu ke acara pemakamannya.” Sahira merasa ada yang janggal dengan kematian Erika, padahal beberapa hari lalu Erika terlihat sangat sehat.
“Tidak perlu datang, tidak penting.”