
“Kamu tidak boleh mati, tanpa ijin dariku!”
Filio merampas kesek yang di pegang Sahira, saat melihat isinya Filio membuangnya.
Filio menarik tangan Sahira agar ikut berjalan dengannya.
“Lepaskan Filio,” Sahira menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Filio.
“Ayo kita pulang,” ucap Filio dengan nada lembutnya.
Kepala Sahira menggeleng. “Tidak aku sudah lelah dan muak dengan siksaan yang kamu berikan, lebih baik aku mati menyusul Rangga.”
Filio mengeluarkan senjata api, “Ambillah dan tembak kepalamu sendiri.”
Sahira mengambil senjata api milik Filio, lalu menodongkannya pada Filio. Filio mendekatkan ujung senjata api pada kening dirinya sendiri. “Tembak!”
Sahira memang membenci Filio tapi ia tidak bisa mem’bunuh orang. Tapi Sahira merasa harus membalas perbuatan kasar Filio.
Tangan Sahira bergerak cepat menembak paha Filio. Sahira menatap manik Filio, menunggu reaksi suaminya.
Filio menarik tangan Sahira, “Sudah puaskan, ayo kita pulang.”
Sahira tidak menyangka Filio akan setenang ini. Sahira berjalan mengikuti langkah Filio menuju mobil.
Dari kejauhan Erik memperhatikan Filio dan Sahira. Meskipun wajah Filio terlihat tenang tapi Erik bisa melihat Filio menahan rasa sakit.
Erik mengamati tubuh Filio hingga pandangannya menangkap langkah kaki Filio yang sedikit berbeda dari biasanya. “Sial!” umpat Erik. Ia mengeluarkan ponsel dan menelepon bawahannya untuk segera menyiapkan ruang operasi.
Filio dan Sahira masuk ke dalam mobil. Tangan Filio menuntun kepala Sahira ke atas pahanya. Filio senang mendapat sikap penurut Sahira. Ia membelai lembut rambut Sahira yang setengah basah.
Sahira merasa nyaman, belaian Filio membuatnya sedikit mengantuk. Sahira tidak menyadari luka di paha Filio mengeluarkan darah. Bahkan mengenai rambutnya.
Filio menyandarkan kepalanya, matanya terpejam menahan rasa sakit karena timah panas masih bersarang di pahanya.
Erik menginjak pedal gas tanpa ampun, ia harus segera sampai di rumah sakit secepatnya.
Dengan kecepatan tinggi mobil yang di bawa Erik sampai di rumah sakit terdekat hanya memakan waktu selama lima menit.
Sahira cukup terkejut saat beberapa perawat membuka pintu mobil. Dengan sigap Sahira menegakkan tubuhnya.
Tubuh Filio di bawa ke atas brankar menuju IGD. Sahira ikut berjalan cepat menyusul Filio.
“Maaf Anda tidak boleh masuk, silakan tunggu di luar,” perintah perawat.
Sahira duduk di kursi panjang, tempat menunggu pasien. Sahira berdiri saat Erik datang menghampirinya. “Erik, Filio kenapa?”
“Bodoh! Bukannya kau yang mencelakai Tuan Filio. Harusnya kau bersyukur aku tidak membunuhmu!”
Sahira teringat bahwa tadi ia menembak kaki Filio. “Apa dia akan baik-baik saja?”
“Ikuti saya!” Erik berjalan meninggalkan Sahira.
Dengan sedikit berlari akhirnya Sahira bisa menyusul Erik. “Kita mau ke mana?”
Erik mengabaikan pertanyaan Sahira. Lalu membuka pintu untuk Sahira.
Sahira menghentikan langkahnya, nafasnya memburu. “Apa aku harus masuk?”
Erik mengangguk. Sahira masuk, dahinya berkerut saat melihat dokter wanita yang sangat cantik.
“Halo Sahira, masuklah.”
Sahira masuk dan tersenyum kikuk, sementara Erik menutup pintu dan menunggu di luar.
Dokter tersebut mendekati Sahira dan menuntunnya untuk naik ke atas tempat tidur. “Aku periksa ya.”
Sahira memperhatikan dokter tersebut yang mulai memeriksa luka di keningnya. “Seharusnya Filio andal membersihkan luka kecil seperti ini, sayang sekali dia harus masuk IGD. Aku dengar kamu istrinya Filio ya?”
“I-iya,” jawab Sahira gugup.
“Santai saja, aku teman dekat Filio. Kamu beruntung sekali, Filio sampai merelakan dirinya terluka demi kamu. Selama ini tidak ada yang bisa melukai dan mengalahkan Filio. Suamimu terlalu ahli dalam segala hal.”
Sahira cukup terkejut mendengar penuturan dokter yang sedang membalut lukanya. Ia tidak menyangka Filio sekuat itu, tapi kenapa suaminya malah diam saja saat Sahira melukainya. Bukankah seharusnya Filio mengamuk dan menghabisi nyawa Sahira saat itu juga.
“Ah sepertinya kamu belum mengenal Filio luar dan dalam,” tandas dokter. Ia sedikit iri pada Sahira. Sudah hampir sepuluh tahun ia mengejar Filio. Tapi pria yang di cintainya selalu saja menolak. Sementara wanita baru bisa mengambil hati Filio begitu cepat.
Luka di tubuh Sahira hanya sedikit, waktu yang di butuhkan untuk mengobatinya cukup singkat. “Sudah selesai.”
“Terima kasih.”
Sahira keluar dari ruangan tersebut, di sambut tampang datar Erik. “Saya akan mengantar Nona pulang.”
Sahira kebingungan saat Erik akan mengantarnya pulang sementara Filio masih di IGD “Tapi Filio?”
“Operasinya sudah selesai, saya di minta mengantar Nona kembali ke rumah.”
Sahira cukup lega mendengar keadaan Filio baik-baik saja. “Bolehkah aku melihat keadaan Filio?”
“Tuan sedang istirahat, lebih baik Nona menemuinya nanti saja.”
Sahira memilih menyerah dan ikut pulang bersama Erik.
***
Sudah dua hari Sahira tidak berangkat mengajar, dan sudah dua hari juga Filio tidak pulang ke rumah.
Hari ini Sahira memutuskan untuk kembali mengajar. Ada kekosongan di hati Sahira saat mengingat Zeina. Satu tetes air mata yang meluncur segera Sahira hapus. Ia menguatkan dirinya dengan meyakini bahwa Zeina sudah tenang di atas sana.
Selama di sekolah Sahira berusaha menyibukkan diri. Ia tidak ingin menampakkan kesedihannya di depan siapa pun.
Jam belajar sekolah sudah berakhir, suasana sekolah mulai hening karena murid-murid sudah pulang. Sahira pergi ke ruang guru untuk memeriksa buku anak didiknya.
Saat membuka buku yang pertama selembar kertas terjatuh ke lantai. Sahira memungutnya dan membaca isi kertas tersebut. “Giliran kamu selanjutnya,” kening Sahira berkerut. Sepertinya itu kertas milik anak didiknya, ia merasa tidak ada yang aneh. Namun tanpa Sahira sadari ada seorang pria yang mengintip dari balik jendela.
Tumpukan buku di hadapannya sudah menipis, Sahira hanya perlu memberikan nilai pada tiga buku lagi. Dalam waktu satu jam Sahira menyelesaikan semua pekerjaannya. Ia meregangkan otot-otot tangan serta punggungnya yang terasa pegal.
Sahira membereskan meja kerjanya dahulu sebelum memutuskan untuk pulang.
Sahira keluar dari ruang guru, kakinya melangkah menuju tempat parkir. Sahira dapat menangkap siluet Erik yang berdiri di samping mobil Filio.
Sahira berjalan menghampiri Erik. “Erik apa kamu bisa mengantarku ke rumah sakit? aku sangat ingin melihat keadaan Filio.”
Erik membukakan pintu kursi baris kedua untuk Sahira. “Tuan Filio ada di rumah.”
“Kalau begitu ayo kita ke rumah.” Entah mengapa Erik melihat Sahira gembira mendengar kepulangan Filio.
Jika Sahira tidak di ijin kan mati, maka Sahira akan membuat Filio jatuh cinta padanya. “Aku harus membuatnya merasa di cintai, setelah berada dalam genggamanku. Habislah riwayatmu Filio,” batin Sahira. Bibir Sahira tersenyum saat memikirkan ekspresi kesedihan yang akan muncul di wajah Filio.
Mulai sekarang Sahira tidak akan memohon lagi, ia hanya perlu sedikit agresif agar Filio tertarik.
Sahira turun saat mobil yang di Kendarai Erik berhenti di kediaman Filio. Ia keluar dari mobil dan hendak masuk ke rumah. Namun dari tempatnya berdiri sekarang Sahira cukup terkejut melihat wanita yang memakai seragam dokter sedang berciuman di depan pintu utama.
Sahira semakin mematung di tempatnya saat bisa melihat wajah wanita yang berciuman dengan Filio, dokter rumah sakit yang mengobati lukanya. “Ah sepertinya aku harus berusaha lebih keras.”
Sahira berjalan dengan langkah ringan menuju Filio. Dengan lancang Sahira memberi kecupan singkat pada bibir Filio. “Aku tidak sabar menunggumu pulang sayang.”
“Filio, Sahira. Aku pamit dulu.”
Sahira tersenyum penuh arti pada dokter. “Aku kira kamu ingin masuk, aku tidak masalah jika bermain bertiga. Sepertinya lebih seru.”