The Ruler's Widower

The Ruler's Widower
Anak Tidak Tahu Diri



Sahira memotret hasil USG, lalu membuangnya ke tempat sampah bersama paper bag berisi alat tes kehamilan serta buku untuk periksa kandungan.


Sahira masuk ke dalam mobil. “Ayo pak kita pulang.”


Seharian Sahira hanya duduk di atas tempat tidur, dengan pandangan kosong. Hati kecilnya merasa sangat bahagia dengan kehadiran makhluk kecil di dalam perutnya. Namun ia sangat yakin bahwa janin yang di kandungannya anak Filio, Sahira resah memikirkan perasaan Rangga jika tahu ia hamil anak Filio.


Sahira meraba perut datarnya, entah mengapa sakit yang mendera hilang begitu saja saat pemeriksaan USG. “Apa kamu ingin memberi tahu ibu, jika kamu sudah hadir Nak?” Sahira bermonolog sendiri.


“Kamu harus baik-baik saja, kamu juga harus kuat. Jangan pernah tinggalkan ibu ya, tapi maaf ibu tidak bisa bilang pada Ayah bahwa kamu telah hadir dalam diri ibu.”


Sahira keluar dari kamar. Ia masuk ke dalam kamar pink milik Zeina.


Sahira merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Zeina, ia menarik boneka beruang yang biasa menemani Zeina tidur.


“Zeina sekarang kamu punya adik sayang, seperti keinginanmu. Apa kamu bahagia?” Air mata Sahira menetes.


Rasa bersalah itu selalu muncul, Sahira sangat menyesal membiarkan Zeina berjalan sendirian. “Maafkan ibu. Ibu tidak bisa menjaga kamu sayang,” tangis Sahira pecah. Air matanya terus mengalir membanjiri pipi putih Sahira.


Sahira mengeratkan pelukannya pada beruang milik Zeina. Ia meredam tangisnya dengan menenggelamkan wajahnya pada kepala beruang yang berada di dalam pelukannya.


Pintu kamar Zeina di buka dari luar dengan tidak sabar sehingga menimbulkan bunyi yang cukup gaduh.


Sahira mengangkat wajahnya. Wajah suaminya mengeras dengan gigi bergemeletuk.


Sahira bangkit dan duduk di atas tempat tidur saat Filio menghampiri. “Ada apa sayang?”


Bukannya menjawab pertanyaan Sahira tangan Filio malah mencengkeram rahang Sahira. “Jangan berpura-pura merasa sedih atas kematian Zeina, percuma. Saat ia dalam bahaya kau hanya diam saja. Dasar wanita tidak berguna.” Filio menarik tangannya. Melayangkan satu tamparan pada pipi Sahira.


Kepala Sahira tertunduk, pipinya perih. Hatinya sakit mendengar ucapan Filio. Sahira berusaha mati-matian menahan air matanya, karena ia tahu Filio tidak suka melihat lawannya terlihat lemah dan membuat drama.


Sahira turun dari tempat tidur dan berdiri tepat di hadapan Filio. Tangan Sahira hendak menampar Filio namun pria itu berhasil menahannya.


“Lepaskan, kamu tidak berhak menghakimi aku seperti ini!” Sahira berusaha menarik tangannya yang di tahan Filio.


Filio bergerak ke belakang Sahira, sementara lengan panjang Filio melingkar di leher Sahira.


Sahira kesulitan bernafas karena lehernya di tekan Filio. Sahira hanya bisa mengikuti gerakan Filio yang membawanya kembali ke area kolam.


“Filio lepaskan!” Teriak Sahira. Kedua tangannya berusaha melepaskan tangan Filio yang ada di lehernya.


Filio amat kesal saat mendapat sebuah video saat detik-detik Zeina jatuh sementara Sahira hanya diam saja dan tidak berusaha untuk menolong sedikit pun.


Sahira menginjak sepatu Filio cukup keras hingga lehernya terbebas dari jerat Filio.


Tampang bengis Filio membuat Sahira ketakutan. Bagaimana pun juga sekarang ia tidak sendirian, dalam tubuhnya ada janin yang harus ia jaga.


Sahira berlari ke arah ruang depan untuk melarikan diri dari amukan Filio.


Filio mengejar Sahira. Langkah lebarnya dengan mudah menangkap Sahira. Ia membanting tubuh Sahira ke lantai.


Filio berjongkok di depan tubuh Sahira yang meringkuk di lantai. “Kau sudah tidak tahu diri, masih berani melawanku.”


Sahira menendang tubuh Filio. Ia bangkit dan berlari keluar.


Tubuh lelah Sahira sampai ke depan pintu gerbang. “Pak tolong buka pintunya.”


Penjaga gerbang iba melihat wajah ketakutan Sahira. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa jika Filio memerintahkannya agar tidak membiarkan Sahira pergi.


Belum lagi wajah Filio yang penuh amarah membuat penjaga tersebut memilih untuk diam dan tidak menggubris ucapan Sahira.


Kedua tangan Sahira mengatup di depan dada, “Saya mohon pak.”


Belum berhasil merayu penjaga gerbang, rambut Sahira di tarik ke belakang. Sahira menahan rambutnya yang di tarik Filio. Kulit kepalanya terasa mau copot jika Sahira tidak mengikuti langkah Filio.


Tepat di depan pintu utama, Filio mendorong tubuh Sahira hingga membentur dinding. Tangannya mencekik leher Sahira.


Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan. Dering ponsel pengemudi menggema. Tangannya mengambil earphone dan memasukkannya pada lubang telinga.


“Ada apa?”


[Lapor tuan. Filio sedang menyakiti Sahira lagi.]


Kakinya menginjak pedal gas lebih dalam lagi, tangannya memegang setir dengan erat. Pandangannya fokus pada jalan di depannya.


“Ada apa sayang? Kenapa ngebut, aku takut. Harusnya kamu itu sadar diri sudah tua masih saja ugal-ugalan.” Cecar Averyl pada suaminya.


Eduard tidak memiliki waktu untuk membalas ucapan istrinya, saat ini yang lebih penting bagiannya adalah masa depan Filio.


Mobil Eduard masuk ke dalam kediaman Filio. Ia keluar dari mobil dengan langkah tergesa.


“Sayang tunggu aku, kamu kenapa sih.”


Tubuh Averyl membeku saat melihat di depan pintu utama, Filio tampak mencekik seorang wanita.


“Fio lepaskan!” teriak Eduard. Ia menghampiri anaknya yang tidak menuruti ucapannya.


Eduard memukul wajah Filio dari samping. Tangan Filio terlepas dari leher Sahira. Sahira yang hampir kehabisan nafas, menghirup udara sebanyak mungkin.


Filio mengeluarkan pistol dan menodongkannya pada Sahira.


Sahira yang tidak ingin mati konyol segera melompat ke arah pria yang tidak ia kenal untuk bersembunyi di balik tubuh tegapnya. Namun Sahira merasa tidak asing dengan wajah pria tua yang berusaha menghentikan tindakan gila Filio.


Averyl sadar jika nyawa perempuan tersebut terancam. Ia melangkah menghampiri Filio. Tas yang di tentengnya ia gunakan untuk memukul putranya. “Ibu kecewa padamu Fio!”


Averyl meluapkan amarahnya dengan memukul tubuh Filio menggunakan tasnya berkali-kali. “Kamu bukan anak ibu lagi!”


Filio menangkap tas Averyl dan membuangnya. Filio menodongkan pistolnya pada Averyl. “Ibu terlalu banyak bicara!”