The Ruler's Widower

The Ruler's Widower
Putusan



Jadwal sidang sudah di tetapkan, namun tidak ada jalan keluar bagi Filio. Sahira yang mulai khawatir mencoba berbicara dengan Averyl. “Bu kita coba temui Kiren, siapa tahu jika aku yang berbicara dia mau mencabut gugatannya.”


“Ibu akan bicara dulu dengan pihak rumah sakit, semoga kamu di perbolehkan untuk rawat jalan.” Averyl pergi menemui dokter yang menangani Sahira.


Sementara Sahira terdiam dengan pandangan kosong, namun kepalanya terisi banyak pikiran buruk. Dia takut jika Filio akan benar-benar mendekam di penjara. “Tidak Sahira, kamu harus yakin kalau Filio akan segera pulang,” batin Sahira menyemangati dirinya sendiri.


Sahira meraba perut bagian bawahnya. “Kamu harus bantu ibu berdoa, agar Ayah cepat pulang dan kita bisa bersama-sama lagi.”


Averyl kembali dengan bibir tersenyum. “Kamu sudah di perbolehkan untuk pulang.”


Sahira senang mendengarnya, ia memperhatikan Averyl yang membereskan barang-barang.


Sahira di bantu perawat untuk melepaskan selang oksigen. Setelah semua terlepas Sahira di pindahkan ke kursi roda.


Averyl mendorong kursi roda Sahira keluar dari rumah sakit, di ikuti tiga bodyguard yang mengikuti di belakang, dua bodyguard di depan, dan dua bodyguard di samping. Eduard memperketat penjagaan, ia tidak ingin menantu dan istrinya dalam bahaya.


Jalan menuju rumah Kiren melewati gang sempit yang hanya bisa di lalui dua mobil saja. Sahira meringis menahan sakit tanpa suara saat melewati polisi tidur yang membuat mobil berguncang.


Setelah melewati jalanan sempit, kini mobil yang membawa Sahira berhenti tepat di samping rumah Kiren.


Para bodyguard bersiap membantu menurunkan kursi roda Sahira. Averyl mendorong kursi roda Sahira memasuki sebuah halaman yang cukup sempit.


Tangan Averyl mengetuk pintu. Tidak berapa lama pintu terbuka menampilkan wajah Kiren yang tampak tidak bersahabat.


“Halo Kiren, saya Sahira istri dari Filio. Maksud keda-“


“Pergi!” bentak kiren dengan nada yang cukup tinggi.


“Kiren saya mohon, cabut gugatannya. Saya akan berikan apa pun mau kamu.”


Kiren mantap tajam ke arah Sahira. “Saya akan mencabut gugatan saja jika Filio bersedia mencekik kamu hingga mati.” Senyum mengerikan yang di tampilkan Kiren membuat Sahira dan Averyl sedikit ketakutan.


“Kenapa diam saja, apa kalian tidak bisa mengabulkan keinginan saya?”


Averyl memutar kursi roda Sahira pergi dari sana. Sepertinya Kiren hanya wanita tidak waras, dan percuma saja mereka membujuknya jika itu keinginan satu-satunya Kiren.


“Kenapa kita pergi Bu, aku belum selesai bicara. Bahkan kita belum berpamitan,” sergah Sahira.


“Dia gila Sahira, siapa yang akan tega membunuh pasangannya sendiri. Lagian kita tidak perlu berpamitan dengan wanita gila.”


Entah mengapa mendengar penuturan Averyl membuat Sahira mengingat ucapan Filio yang mengatakan bahwa ia membunuh istrinya sendiri. Firasat Sahira mengatakan bahwa semua ini ada hubungannya dengan kematian Razita. Namun yang membuatnya sedikit bingung, mengapa Kiren. Sementara ia mendengar dari perbincangan Averyl dan Eduard mengatakan bahwa Kiren seorang anak yatim piatu sejak satu bulan yang lalu, dan tidak memiliki hubungan apa pun dengan Razita. Sampai saat ini mereka masih mencari alasan mengapa Kiren sangat ambisius terhadap gugatannya pada Filio.


“Bu apakah Filio akan nyaman tinggal di penjara?” tanya Sahira.


“Apa yang kamu katakan sayang? Filio akan segera bebas.”


Sahira sudah mulai bosan mendengar kata-kata itu. Bahkan sampai sekarang Filio masih belum bisa keluar.


Langit pagi ini tampak mendung, matahari bersembunyi di balik awan hitam. Butiran air dengan ukuran yang sangat kecil turun dari langit, membuat suhu di bumi menjadi dingin.


Sahira merapatkan mantel yang di pakai. Kursi rodanya di dorong oleh pengacara Filio, mereka akan bertemu dengan Filio sebelum sidang di mulai.


Dari kejauhan Sahira bisa melihat siluet tubuh Filio. Sampai kursi rodanya berhenti di depan salah satu sel, kini Sahira bisa melihat wajah suaminya.


Melihat kehadiran sang istri wajah Filio tampak gembira, meskipun beberapa jam ke depan ia tidak tahu takdir akan membuatnya keluar atau menetap di dalam sel.


Tangan Filio keluar dari jeruji besi menarik tangan istrinya untuk ia genggam. “Kenapa tubuhmu semakin kurus saja? aku lebih senang melihatmu gemuk.”


Berat badan Sahira memang turun cukup derastis, bahkan dokter kandungannya memberikan vitamin yang banyak untuk menopang kehamilannya. “Tidak apa-apa, nanti aku akan makan banyak lagi setelah trimester pertama ini berakhir.”


“Bekas operasinya masih sakit?”


Sahira membalas genggaman tangan Filio dengan sangat erat. “Masih, tapi tidak sesakit saat pertama.”


Filio menatap bagian perut Sahira. “Bagaimana perkembangannya?”


“Dia tumbuh dengan baik, meskipun berat badanku turun tapi dia tetap normal.”


“Sidang akan di mulai sepuluh menit lagi Tuan,” ucap pengacara Filio.


Filio menarik tangan Sahira hingga masuk ke celah-celah besi hitam, ia mengecup punggung tangan Sahira cukup lama.


Sahira meneteskan air matanya, namun secepat mungkin ia menghapusnya sebelum Filio melihat.


Dengan berat hati Filio melepaskan genggaman tangannya pada Sahira.


Sahira masih ingin bersama dengan Filio, jika bisa ia ingin menolak untuk pergi. Rasa rindunya belum sepenuhnya terobati.


Pengacara Filio membawa kursi roda Sahira keluar dari ruangan sel menuju tempat sidang di adakan.


Di dalam ruang sidang tidak terlalu banyak orang datang. Eduard, Averyl, Simon, Erik serta tiga orang dari pihak Kiren.


Sepanjang sidang berjalan kedua tangan Sahira bertautan meremas satu sama lain, doa terus ia rapalkan di dalam hatinya.


Suara ketukan tiga kali yang di lakukan Hakim menjadi akhir sidang tersebut. Filio dinyatakan bersalah dan mendapat hukuman selama satu tahun penjara beserta denda.


Pria dengan tuksedo rapi, serta memakai kacamata hitam keluar lebih dulu dari ruang sidang. Ia berjalan menuju ruangan jabatan tertinggi di kejaksaan.


Saat pintu terbuka Gilbert tangah duduk bersandar, sepatu mengkilapnya bertengger di atas meja kerja kepala kejaksaan. Sementara pemilik ruangan duduk di sofa yang tersedia untuk tamu, dengan wajah tertunduk.


“Semuanya berjalan dengan lancar Tuan.”