
Buat kalian yang memilih berhenti untuk membaca karya ini aku ucapkan terima kasih atas dukungannya, dan sampai juga di karyaku yang lainnya. Love u đź’•đź’•đź’•
***
Filio mendapat kabar bahwa Zeina jatuh ke sungai dan terbawa arus. Ia mengerahkan tim SAR sebanyak seribu orang untuk mencari keberadaan Zeina. Tidak tanggung-tanggung Filio akan memberikan uang sebanyak lima miliar pada siapa saja yang berhasil menemukan Zeina dalam keadaan hidup.
Filio segera mendatangi lokasi kejadian. Hujan deras pun tak menghalangi langkah tegas Filio.
Semua orang berburu untuk mendapat hadiah yang di berikan Filio. Namun mereka semua mulai kehilangan semangat setelah lima jam tidak menemukan keberadaan Zeina.
Beberapa orang berjalan dengan tergesa menuju tempat Filio berdiri.
“Maaf tuan, kami tidak bisa menyelamatkan Zeina.”
Gigi Filio bergemeletuk mendengar penjelasan orang suruhannya. Tangannya mengepal saat melihat putrinya terbujur kaku di atas tandu.
Filio mendekat ke arah tandu, wajah pucat Zeina membuat hatinya teriris. Pandangannya menelusuri setiap jengkal tubuh Zeina dengan beberapa bagian yang terluka.
Sahira masih terdiam di tenda sampai Tina memberi kabar bahwa Zeina sudah di temukan. Ia berjalan menghampiri orang-orang yang berkerumun.
Tubuh Sahira membeku saat melihat tubuh Zeina di atas tandu. Sahira berlari dan memeluk tubuh kecil Zeina. Tangisnya semakin menjadi saat merasakan tubuh Zeina yang kaku.
Tina mengusap punggung Sahira. “Kamu yang sabar ya, ini sudah kehendak Tuhan.”
Filio melirik ke arah Erik, “Siapkan pemakannya.”
Filio menarik tangan Sahira untuk turun.
Beberapa kali Sahira tergelincir karena Filio jalan dengan sangat cepat. Sementara jalan yang mereka lalui, gelap dan berlumpur.
“Filio berhenti,” pinta Sahira dengan nada memohon.
Bukannya berhenti Filio semakin mempercepat langkahnya, hingga akhirnya Sahira kembali jatuh karena menginjak jalanan yang di selimuti tanah. “Aaaw," pekik Sahira. ia memegang tumitnya yang terasa sakit.
Filio tidak melepaskan tangannya, ia terus menarik Sahira. Sahira berjalan dengan susah payah, berusaha mengabaikan rasa sakit di kakinya.
Dengan tidak sabaran Filio mendorong tubuh Sahira ke dalam mobil. Ia duduk di balik kemudi.
Mobil Filio melaju dengan sangat kencang, menyalip tanpa ragu. Sementara Sahira duduk di samping Filio dengan perasaan campur aduk. Di tambah kakinya yang keseleo dan di paksa untuk berjalan.
Sahira melirik Filio, wajah suaminya terlihat sangat tenang. Namun Sahira bisa merasakan aura gelap dalam manik hitam Filio. Pria itu seperti menyimpan kemarahan yang cukup besar, hingga mengabaikan rasa sakit Sahira. Padahal tadi pagi suaminya itu berhasil membuat Sahira merasa memiliki suami yang romantis.
Mobil Filio terparkir asal. Filio kembali menarik tangan Sahira untuk masuk ke dalam rumah. Filio melepaskan cengkeramannya pada Sahira setelah sampai di kamar. Ia membuka dasi yang di kenakannya.
Sahira berlutut untuk melihat keadaan kakinya, namun tangannya di tarik oleh Filio. Sahira berusaha melepaskan tangannya, “Filio jangan, lepaskan, aku mohon.” Namun ucapan Sahira tidak di gubris Filio, pria itu fokus mengikat kedua tangan Sahira.
Filio melepaskan ikat pinggangnya, untuk mengikat kedua kaki Sahira. Sahira tidak bisa melawan karena kakinya bengkak dan sulit di gerakan. “Filio apa yang kamu lakukan?”
Bukannya menjawab Filio malah pergi meninggalkan Sahira dan kembali dengan satu golong lakban hitam di tangannya.
Dengan keadaan kaki dan tangan yang di ikat Sahira berusaha menjauh saat Filio mendekat. Namun gerakan cepat Filio berhasil menangkap istrinya. Ia membuka lakban tersebut dan menempelkan pada mulut Sahira.
Sahira sudah tidak bisa berkutik, ia menangis tanpa suara. Dari tempatnya Sahira melihat Filio yang keluar dari kamar dan mengunci pintu.
Sahira ingin menghadiri pemakaman Zeina. Ia mencoba menyeret tubuhnya, ke dekat jendela. Dengan susah payah ia mencoba bangkit, dan berdiri.
Harapan Sahira satu-satunya membuat ia kecewa, jendela kamar Filio di lindungi tralis besi. “Maaf sayang ibu tidak bisa mengantarmu,” batin Sahira.
***
Filio tidak sempat mengingat siapa saja yang datang pada acara pemakaman Zeina. Pemakaman Zeina di lakukan pagi hari, hingga matahari mulai meninggi akhirnya tubuh Zeina telah selesai di kebumikan.
Averyl tidak berhenti menangis, di sampingnya ada Eduard yang menguatkan istrinya.
Fiona menangis dalam diam, selama proses pemakaman. Ia menyesal tidak menyisihkan waktu yang cukup banyak untuk bermain bersama keponakannya, andai saja ia tahu Zeina akan pergi secepat ini ia akan banyak meluangkan waktu untuk keponakannya.
Semua urusan pemakaman Zeina sudah usai. Untuk kedua kalinya Filio mengantarkan orang-orang yang berarti baginya. Namun kali ini terasa lebih berat saat meninggalkan tubuh Zeina sendirian.
Erik membukakan pintu mobil untuk Filio. Sepanjang perjalanan Erik melirik kaca spion tengah, Erik dapat membaca raut wajah Filio. Tuannya sedang merasakan kesedihan sekaligus menyimpan amarah yang cukup besar.
Erik hanya berharap bahwa Filio tidak akan mencabut nyawa Sahira begitu saja, seperti kejadian enam tahun yang lalu.
Erik yang melakukan rekayasa bunuh diri Razita, ia juga yang membuat surat yang di tulis tangan Razita sehingga semua orang percaya bahwa Razita bunuh diri.
Erik merasa beruntung karena Filio tidak berbuat kasar, apalagi jika sampai meninggalkan bekas luka. Erik akan kesulitan menjalankan tugasnya.
Mobil yang di Kendarai Erik sampai di kediaman Filio. Ia membuka pintu mobil untuk tuannya.
Dua mobil muncul dan berhenti di halaman Filio. Mobil tersebut milik Eduard dan Zio, suami Fiona.
“Kenapa kalian kemari?”
Averyl mengusap dadanya mendengar pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut anaknya.
“Makanya cari istri biar enggak bego terus,” sindir Fiona. Ia menarik Zio untuk masuk ke dalam rumah.
Hanya Eduard dan Erik yang tahu bahwa Filio sedang menahan amarah. Eduard merapatkan tubuhnya pada Filio, tangannya merangkul pundak Filio. “Ayo kita masuk, Ayah tidak bisa membiarkanmu sendirian.”
Meskipun sudah tak muda lagi namun Averyl memberengut marah, melihat Eduard meninggalkannya sendirian. “Lihat saja, aku tidak akan membiarkannya tidur di kamar!” Batin Averyl. Ia berjalan mengikuti langkah suami dan anaknya.
Fiona mengambil beberapa botol minuman dingin dari kulkas, lalu membawanya ke ruang tamu.
Meskipun ucapannya selalu pedas tapi Fiona sangat menyayangi Kakanya. Ia berjalan menuju kamar Filio untuk membawa mantel, Filio pasti sangat kedinginan. Semalam memakai baju basah, bahkan Fiona agak jijik melihat sepatu Filio yang berlumur tanah.
Fiona menekan hendel pintu, namun terkunci. Padahal ia berniat membawakan sandal dan mantel untuk Filio.
“Vira,” panggil Fiona saat melihat pengasuh Zeina.
Karena mendapat panggilan, Vira berjalan menghampiri adik tuannya. “Ada yang bisa saya bantu Nona?”
“Tolong ambilkan kunci cadangan kamar Filio.”
Vira menunduk, “Maaf Nona, tidak boleh ada yang masuk ke dalam kamar Tuan. Hanya tuan Filio yang memegang kuncinya.”
Fiona sedikit terkejut mendengar penuturan Vira. “Lalu siapa yang semala ini membersihkan kamar Filio?”
“Tidak ada yang boleh masuk ke dalam tanpa ijin dari tuan.” Selama ini pun Vira cukup heran dan bertanya-tanya bagaimana keadaan kamar Filio. Ia kira kamarnya akan sangat berantakan, namun saat pertama kali di perintahkan untuk masuk kamar Filio semuanya terjaga dengan rapi dan bersih hanya saja ada beberapa serpihan kaca dan darah di lantai.
Vira ingin menceritakan kejadian tempo hari pada Fiona, tapi ia merasa sangat lancang jika menceritakan masalah itu pada adik tuannya. Dan ia juga takut di pecat oleh Filio.
“Kenapa tidak boleh ada yang masuk ke kamar Filio, apa dia mengunci wanita simpanannya di dalam?”