The Ruler's Widower

The Ruler's Widower
Pertemuan



Tubuh Filio di bawa oleh dua orang polisi untuk keluar dari ruang sirang. Filio tidak memiliki keberanian untuk menatap Sahira sedikit pun.


Sahira menghapus air matanya, semua harapannya sudah hancur. Dia harus merelakan Filio di penjara.


Filio di bawa ke penjara pusat, tempat di mana para penjahat dari berbagai kota berkumpul. Filio turun dari bus, semua orang yang sedang berada di lapangan olah raga memandangi para tahanan yang baru saja turun dari bus.


Filio mendapat sel tahanan yang bergabung dengan lima tahanan lainnya. Ia membawa satu box berisi keperluannya.


Semua orang di dalam sel menatap ke arah Filio. Filio menunduk dan berjalan menuju pojokan untuk menyimpan barang-barang miliknya.


Filio merasa sendirian meskipun kali ini ia di dalam sel tidak sendirian. Pikirannya terus berputar menampilkan wajah sedih Sahira. Dia sangat menyesal harus berpisah dengan Sahira.


Para polisi membuka setiap pintu sel. “Waktunya makan siang!”


Filio mengikuti gerombolan orang-orang, ini hari pertamanya dan ia belum mengenal seluk beluk tahanan.


Semua orang berjajar rapi menunggu giliran untuk mengambil jatah makan siangnya.


Saat gilirannya Filio mengambil piring dan menunggu para petugas mengisi makanannya.


Piring Filio sudah terisi penuh kini ia menatap orang-orang yang duduk dan menikmati makanan mereka. Ada satu tempat duduk yang kosong, Filio asal duduk, orang-orang yang duduk di meja tersebut memandang ke arah Filio dan kembali melanjutkan makannya.


Filio menatap makan siangnya, nasi yang tampak lebih keras dari biasanya. Apalagi penampilan lauk pauknya tidak indah, seperti makanan basi. Filio mencoba mencicipi, rasanya sangat hambar. Filio tidak bisa makan, melihatnya saja membuat Filio jijik. Siang itu Filio hanya makan beberapa potong buah saja, itu pun buahnya terlalu matang dan tidak fresh.


Setelah acara makan siang selesai. Mereka di kumpulkan di lapangan dan di bagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok Filio mendapatkan tugas untuk membersihkan saluran air pembuangan. Mereka di arahkan menuju lorong di bawah tanah, saat memasuki lorong bau menyengat sangat kentara. Filio yang tidak terbiasa dengan baunya merasa mual hingga makanan dalam lambungnya keluar semua.


Filio menutup hidungnya, agar baunya tidak terlalu menyengat. Filio tidak bisa menahan rasa mualnya, ia muntah untuk yang kedua kalinya.


Petugas yang berjaga memandang Filio dengan wajah marahnya. “Lemah!”


Filio terpaksa ikut membantu, bahkan tidak dapat di hitung berapa kali ia muntah.


Malam harinya tubuh Filio sangat lemas, bahkan makan malam pun tidak ada menu yang bisa ia makan. Bayangan cairan kotor yang ia bersihkan menghantuinya, membuat Filio tidak bisa menelan makanan sedikit pun.


Pagi harinya semua para tahanan di kumpulkan di lapang olah raga untuk mengikuti acara olah raga pagi. Filio tidak bersemangat mengikuti pemandu senam. Dia hanya bergerak perlahan mengikuti arahan, dan lebih banyak diam dari pada bergerak.


Sementara sebagian orang menikmati olah raga pagi mereka dengan senyum lebar.


Usai acara senam pagi, kini mereka di panggil untuk sarapan pagi. Filio ikut mengantre, berharap menu pagi ini bisa ia makan. Perutnya sudah sangat kelaparan. Seorang petugas berseragam menyela antrean. “Apa Filio Havelaar ada di sini?”


Filio keluar dari antrean. “Saya.”


Pria itu berbalik dan menatap Filio. “Ikut saya.”


Filio mengikuti langkah petugas tersebut. Mereka berjalan melewati beberapa lorong hingga akhirnya bertemu dengan jalan buntu yang terdapat pintu yang cukup besar.


Petugas tersebut membuka pintu dan mempersilahkan Filio masuk. Filio meneliti ruangan yang cukup luas, terdapat meja biliar, sofa bersantai dan pantry.


Filio berjalan dengan perlahan, dari tempatnya ia melihat pria yang memakai tuksedo tengah menempelkan ponselnya ke telinga. Pria itu tampak mengakhiri teleponnya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.


Filio cukup terkejut saat pria tersebut berbalik, Gilbert Abhivandya.


“Hi Filio.” Gilbert duduk di sofa, ia mengambil es dan menjepitnya lalu memasukkannya ke dalam gelas.


Manik Filio memperhatikan tangan Gilbert yang menuangkan anggur ke dalam gelas.


Filio menatap Gilbert saat pria itu menyodorkan satu gelas anggur. “Aku tidak minum.”


“Ayolah Filio, satu kali saja.”


Filio menerima gelas tersebut, namun ia tidak meminumnya.


Gilbert meminum anggur miliknya, dan menyimpan kembali gelasnya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi kaca yang berdenting.


“Sudah lama kita tidak berjumpa,” ucap Gilbert. Pria itu mengambil paper bag dan menyimpannya di hadapan Filio.


“Itu hadiah untukmu.”


Filio tidak tertarik dengan bingkisan yang di berikan Gilbert.


Gilbert mengisi kembali gelas kosong miliknya. Tangan Gilbert mengangkat gelas tersebut ke udara, “Untuk memperingati hari kematian adikku.”


Bibir Gilbert tersenyum, ia memandangi baju yang di kenakan Filio. “Aku senang melihatmu memakai baju itu, sangat cocok. Hanya saja ada wanita yang menunggumu di rumah.”


Filio tidak banyak membalas ucapan Gilbert, ia malas berurusan dengan keluarga Abhivandya. Apalagi yang Filio dengar mereka masuk ke dalam bisnis ilegal.


“Seleramu terlalu rendah Filio, dia tidak berkelas. Hanya saja wajahnya sangat polos.”


“Jangan ganggu istriku.”


“Jangan ganggu istriku.”


“Santai saja, malah aku yang akan mengantarmu menemui istrimu.”


Filio masih duduk di tempatnya saat Gilbert berdiri. “Ayo jalan Filio, jangan lupakan pemberian dariku.”


Filio mengambil paper bag tersebut, ia berjalan mengikuti langkah tenang Gilbert.


Dua orang petugas mendampingi Gilbert, bahkan mereka membuka pintu gerbang untuk Gilbert. Filio cukup terkejut melihat semua orang patuh bahkan menunduk hormat pada Gilbert.


Gilbert membawa Filio menuju mobil pribadi miliknya. Gilbert duduk di bagian kemudi, sementara Filio duduk di samping Gilbert.


Gilbert dengan santai membawa mobilnya keluar dari gerbang pintu utama penjara. Padahal Filio masih memakai baju tahanan.


Sepanjang perjalanan tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Gilbert.


Gilbert meminggirkan mobilnya di depan gerbang rumah Filio. “Sampai jumpa lagi, aku senang melihatmu memakai baju tahanan. Lain kali, jika kemari aku akan menyapamu lagi.” Gilbert melambaikan tangannya.


Mobil Gilbert melaju pergi, sementara Filio berdiri memandang kepergiannya dengan penuh tanda tanya. Filio membuka bingkisan dari Gilbert. Isinya sebuah kotak beludru, Filio membukanya. Dia cukup terkejut saat melihat isinya sebuah ibu jari tangan yang di awetkan. Pikirannya melayang pada Sahira, namun ia meneliti kembali. Ibu jari tersebut tidak tampak seperti milik wanita, karena bentuknya seukuran dengan ibu jari Filio. Filio akan mencari tahu siapa pemilik jari tersebut.


Filio masuk ke dalam pelataran rumahnya, penjaga pos keamanan menunduk hormat pada Filio.


Filio berjalan dengan langkah tergesa menuju rumah. Ia membuka pintu depan yang tidak di kunci. Filio segera berjalan menuju kamar mereka.


Filio menekan knop pintu kamar. Bibirnya tersenyum saat melihat Sahira sedang duduk di meja rias dengan rambut basahnya. Filio memeluk tubuh Sahira dari belakang. Ia sangat merindukan istrinya.


“Kamu lari dari tahanan?”


Filio menggeleng, ia menyesap aroma rambut Sahira yang sangat wangi.


“Lalu kenapa kamu bisa pulang.” Sahira sedikit risi dengan perlakuan Filio. Ia melepaskan pelukannya Filio dan menatap wajah suaminya.


“Rahasia. Ah aku sangat merindukanmu.” Filio membawa tubuh Sahira ke tempat tidur.


Sahira memandangi wajah suaminya yang tampak pucat. “Sepertinya kamu tidak betah tinggal di sana. Bahkan perutmu berbunyi.”


“Aku memang tidak betah, di sana makanannya menjijikkan.” Filio mulai menciumi ceruk leher Sahira.


“Kalau begitu biar aku masakan makanan dulu.”


“Makannya nanti saja, saat ini aku hanya ingin memakanmu.” Filio menyambar bibir Sahira.


Sahira yang sangat merindukan Filio membalas ciuman Filio, bahkan tangannya membuka kancing kemeja tahanan yang di kenakan Filio.


_-TAMAT-_


Halo semuanya, akhirnya kita jumpa di penghujung acara 😊


Aku sangat berterima kasih untuk kalian semuanya yang mengikuti karyaku sampai akhir, apalagi yang sudah kasih like, komentar dan permintaan update. Itu semua dukungan yang sangat berarti bagi aku. Jangan lupa kasih bintang lima kalau kalian suka.


Hayo siapa yang belum baca ceritanya Fiona, mampir yuk sudah ada dua puluh bab.



Ignazio Demetrios pria tampan dan beriwabawa, juga seorang pebisnis yang sukses di segala bidang. Di Usianya yang menginjak kepala empat masih saja melajang, bahkan ia mendapat julukan perjaka tua dan pria impoten.


Seumur hidupnya ia baru tertarik pada wanita belia yang berumur dua puluh lima tahun bernama Fiona Havelaar.


Satu hal yang tak pernah Fiona bayangkan, menikah dengan pria tua yang seumuran dengan pamannya membuat ia merasa jijik dan menyembunyikan pernikahannya dari teman kampusnya. Menikah dengan pria tua seperti aib yang harus Fiona tutupi rapat-rapat. Mampukah Fiona menyimpan aib yang ia sembunyikan di tengah gempuran Zio yang ingin menunjukkan bahwa dia pria normal? Yuk ikuti kisah Zio & Fiona


Sampai jumpa di karyaku selanjutnya, bye-bye 💕💕💕